Bagian 34

Selamat pagi ...
Kemarin ada yang komen dan katanya ada nama peran yang salah. terimakasih sudah memberitahuku ya. Aku sudah benerin dan nunggu balasam dari editor. Kalau ada kesalahan lagi bisa komen ya. Thanks.
###
Bab 34
Clara sampai di kamar ketika Noah sedang membuka kemejanya. Di ambang pintu, saat Noah tidak tahu keberadaan Clara, diam-diam Clara mengamati sejenak bagaimana Noah kerepotan saat membuka kancing baju.
Clara ingin tanya pada ibu mertuanya kenapa hal sepele seperti membuka kancing baju saja tidak bisa Noah lakukan. Sekalipun bisa, itu akan membutuhkan beberapa waktu.
"Butuh bantuan?" tawar Clara kemudian.
Clara rasanya ingin tertawa saat mendengar Noah sempat berdesis, tapi kalau tawa itu sampai menyembur keluar, bisa-bisa Clara kena omel.
"Kalau mau bantu, cepatlah! Kenapa masih diam di situ?"
Lihat! Baru saja Clara membatin, Noah sudah marah-marah. Apalagi kalau samlau Clara tertawa, pasti akan lebih ramai lagi keadaan kamar.
Clara menepikan rasa kesalnya karena seharian ini sudah beberapa kali mendapat salakan dari Noah. Clara meletakkan lebih dulu segelas air hangat di atas meja lalu baru kemudian membantu Noah melepas kancing kemejanya.
"Noah," panggil Clara sambil mulai membuka kancing urutan yang ke dua.
"Hem."
"Apa aku boleh tanya?"
"Apa?"
"Kenapa kau tidak bisa membuka kancing baju?"
Noah diam saja. Clara mulai merasa kalau saat ini wajah Noah sudah merubah raut wajah menjadi singa. Untung saja Clara terus menunduk sibuk dengab kancing baju, jadi tidak harus melihat wajah Noah.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Noah akhirnya.
Kalau sudah begitu, Clara tidak akan berani bertanya lagi.
"Sudah." Clara mundur saat seluruh kancing kemeja sudah terbuka.
Karena tidak mau terlalu lama berdiri di hadapan Noah yang menampilkan dada bidangnya, Clara segera buang muka.
"Aku mau mandi," kata Clara.
Clara menjambret handuknya lalu menghilang masuk ke dalam kamar mandi. Begitu Noah hendak melepas celana, ponselnya tiba-tiba berdering. Noah lantas menaikkan kembali resleting celananya.
"Siapa yang malam-malam menelpon," gumam Noah.
Noah meraih ponselnya lalu menatap layarnya.
"Chloe?" celetuk Noah. "Untuk apa dia menelponku lagi."
Noah memasukkan ponselnya ke dalam laci lalu menutupnya dengan cepat. "Berhentilah menggangguku!"
Noah melenggak begitu saja ke arah kamar mandi. Ia sampai lupa kalau di dalam kamar mandi ada Clara.
"Aaaa!" Seketika Clara menjerit dengan lantang saat tiba-tiba Noah nyelonong masuk.
Clara yanf terkejut bukan main, segera menjambret handuk yang menggantung lalu menutup tubuhnya dengan cepat. Noah yang tidak terlalu terkejut, justru terlihat santai dengan memicingkan mata.
"Kenapa kau masuk?" salak Clara. Tubuh Clara masih dipenuhi busa, tapi karena tidak mau terlihat, handuk pun jadi korban.
"Tentu saja aku mau mandi. Memang mau apa?" Sahut Noah enteng.
Clara masih tersudut di dinding dekat dengan wastafel. "Kau kan bisa menungguku selesai."
"Aku lupa. Kupikir kau tidak ada di dalam sini."
"Apa …"
Sama sekali tidak peduli, Noah berjalan ke arah bak mandi dan menyalakan airnya. Setelah itu, Noah bersandar sambil kembali menatap Clara.
"Jangan menatapku begitu!" hardik Clara. Cengkeraman pada handuk semakin kuat.
Perlahan-lahan, bibir Noah nampak tersenyum. Senyuman mengerikan dan terlihat penug arti. Kembali berdiri tegak, kedua kaki Noah melangkah maju ke arah Clara.
"Kau mau apa?" Clara sudah tidak bisa menghindar karena posisinya sudah berada di sudut dinding. "Kumohon berhenti!" Clara mengatupkan kedua matanya rapat-rapat karena takut.
Saat Clara masih menutup mata, Noah berdiri melipat kedua tangan sembari mengamat wajah Clara. Pelan, Noah menurunkan wajah hingga sejajar dengan wajah Clara. Saaat itu juga, mata Clara tiba-tiba terbuka.
Satu kecupan berhasil mendarat sempurna, membuat mata terbuka itu berubah membelalak. Clara terpaku diam. Sentuhan bibir Noah seperti sengatan listrik berdaya tinggi. Jika tidak kuat, mungkin akan meleleh dan mati.
Secepat mungkin Clara berkedip. Ia sadarkan diri dari lamunan tidak jelas ini. Clara mendorong dada Noah lalu segera mengelap bibirnya.
"Kenapa?" tanya Noah.
Sial! Suara serak itu terdengar menggoda. Wajah Noah sayu, seolah meminta Clara untuk mendekat.
"Tidak, aku hanya terkejut," kata Clara kemudian.
Noah kembali maju dan kini meraih cepat tengkuk Clara hingga posisi kepala miring ke kiri. Yang Noah lakukan kali ini bujan lagi sebuah kecupan, melainkan lumattan. Serasa tidak ada tenaga untuk melawan, perlahan Clara merasa apa yang Noah lakukan membuatnya enggan lepas.
"Tu-tunggu," kata Clara tiba-tiba sambil mendorong dada Noah lagi. Terlihat, bibir Clara sudah basah dan napasnya terengah-engah.
"Ada apa?" tanya Noah.
"Aku kehabisan napas," lirih Clara.
Noah tidak peduli kalimat itu. Noah justru kembali menghujani Clara dengan ciuman yang lebig buas. Clara yang hanya berbalut handuk, kini merasakan ada sentuhan yang pelan-pelan merayap ke bagian tertentu.
Kenapa ini? Kenapa aku tidak bisa berkutik? Sentuhan ini … astaga! Apakah aku menikmatinya?
Clara mulai berpikiran kemana-mana, sementara Noah tengah menikmati apa yang saat ini sedang ada dalam genggaman.
Di mana handuk? Bukankah aku harusnya memakai handuk?
Jangan tanya di mana, kain berbulu itu sudah terinjak-injak oleh buasnya perlakuan Noah. Tidak berhenti di situ, tangan kekar milik Noah semakin berani. Clara tidak sanggup jika harus menahannya lagi.
Satu desahan kecil pun lolos begitu saja, membuat hasrat Noah semakin meninggi. Tidak sabar lagi, Noah memutar badan dan mencondongkan badan Clara. Tidak mau kehilangan keseimbangan, Clara dengan cepat mencengkeram bibir wastafel.
Saat Noah akan memulai, tiba-tiba semuanya terasa berhenti. Birahi yang memuncak mendadak hilang seolah baru saja ada angin yang mengempas. Noah termenung, di hadapannya dalam posisi memunggungi, Clara pun merasa heran.
"Aku tidak bisa. Aku tidak bisa."
Noah menaikkan resleting celananya lalu keluar begitu saja meninggalkan Clara. Clara yang bingung, perlahan memungut handuk lalu kembali melilitkan pads tubuhnya yang sempat berkeringat.
"Ada apa dengannya?" tanya Clara heran. "Apa yang salah?"
Meski sempat takut dengan tingkah Noah, tapi kini rasa itu berubah menjadi kecewa. Clara sudah siap melakukannya, tapi mendadak Noah berhenti dan pergi begitu saja.
"Apa ada yang salah dengan tubuhku?" Clara bertanya pada dirinya sendiri dari pantulan cermin.
Noah sudah memakai jubah tidur dan tidak lagi terpikirkan untuk mandi. Noah berjalan cepat menuju ruang baca tidak jauh dari kamarnya.
"Kenapa aku harus berhenti?" Noah meraup wajah lalu berdecak kesal.
Sambil berkacak pinggang, kini Noah mondar-mandir untuk beberapa detik sebelum kemudian terduduk di kursi kayu.
"Aku bahkan begitu menikmatinya. Sial! Kenapa mendadak wajah Chloe muncul?"
Noah terus menggerutu dan tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya tengah dirasakannya saat ini.
Noah bukan mengingat Chloe karena masih menyimpan rasa, melainkan karena rasa takut. Noah mendadak berpikir kalau-kalau Clara akan mengecewakannya seperti yang Chloe lakukan.
"Sungguh aku selalu tergoda, tapi rasa takut ini … ah! Aku tidak bisa!" Noah mengacak-acak rambutnya sendiri.
Wajah tampannya nampak frustrasi dan menggeram beberapa kali diikuti hentakkan kaki.
"Sialan! Kenapa kau harus terlihat menggoda!"

Komentar Buku (554)

  • avatar
    Widya

    cerita menarik jngan pernah bosen untuk trus update y kk stiap hari ceritanya habis smpai tamat biar tdk penasaran endinya 😊

    20/01/2022

      2
  • avatar
    SayaBukan

    keren kak ceritanya, gk ngebosenin & bikin penasaran untuk baca setiap bab nya..sukses terus kak😊 ditunggu lanjutan ny ya kak SEMANGATTT😀

    17/01/2022

      0
  • avatar
    renatasariatin

    Kali pertama membaca langsung tertarik dgn sosok Noah.Sosok yg memiliki karakter kuat.kebanyakan wanita mmg menyukai karakter ini.apalgi tampan dan kaya raya.msh penasaran dengan kelanjutannya.Akan ku luangkan waktu disela kesibukan utk melanjutkan membaca novel ini.demi Noah...😀

    16/01/2022

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru