“Tapi apa?” “Tapi cintaaaaa banget!” ucapnya kalem, seraya tersenyum menghadap luasnya pantai yang gelap di malam hari. Jangan tanya bagaimana perasaanku kali ini saat mendengarnya, sungguh, rasanya aku benar – benar ingin mengangkat tubuh Gianira, untuk ku gendong dan ku bawa lari ke rumah penghulu terdekat sekarang juga. ============================= “Bu kayaknya ada yang sudah enggak waras deh!” celetuk adikku Rima, di tengah – tengah perjalanan kami pulang menuju rumah. “Enggak waras apa sih, Rim?” “Itu lho, Bu, lihat aja dari tadi Mas Riza senyam senyum enggak jelas, Rima jadi ngeri duduk di sampingnya gini, ih menyeramkan banget!” “Jangan gitu mulutmu, Rim, nanti ditiru anak – anak, gimana?” tegur ibuku. “Tau nih, sirik aja kamu sama Mas, Rim,” sahutku menanggapi sindiran Rima. “Dih, sirik sama orang enggak waras, enggak banget, deh! Mbak Gia, saran Rima, mbak fikirin ulang deh buat nikah sama mas Riza, makin hari kelakuannya makin aneh, dulu dia sehat lho, enggak aneh kayak gini, coba difikirin dulu! Masih ada satu pekan kalau mau dibatalin,” “Bah! Bicara apa kamu, Rim, enak saja nyuruh Gianira batalin pernikahan kami, kamu kalau iri bilang dong! Nanti aku bantuin cari calon suami buat kamu!” “Siapa juga yang iri?” “Ya kamu, lah!” “Enak aja, enggak!” “Iya!” “Enggak!!” “Sudah! Kalian berdua apa – apaan sih? makin ke sini kok makin suka ribut? Ibu pusing dengarnya. Memang kalian enggak malu dilihat anak – anak? Kamu jjuga, Za, enggak usah dihiraukan adikmu itu, malu sama anakumu nih!” tegur ibuku menengahi, ah benar juga, kenapa aku mesti terpancing sama mulut tak berahlaqnya Rima, membuang –buang energy saja. Aku melirik Gianira yang duduk di kursi tengah bersama ibuku melalui kaca dalam, entah kebetulan atau tidak, pandangan kami bertemu di sana, saling memandang beberapa detik dengan saling melemparkan senyuman, sebelum akhirnya aku kembali berkonstrasi kepada stir di depanku. Aku bersyukur pada kondisiku saat ini, memiliki calon istri yang bisa membawa perubahan baik dalam keseharianku. Selama ini ku fikir, setelah kepergian istri pertamaku, aku tidak akan pernah merasakan lagi yang namanya jatuh cinta, namun aku salah, nyatanya, saat ini aku tengah berkali –kali jatuh cinta ada seorang wanita, yang sebentar lagi akan aku nikahi. ============================= POV Author Riza dan keluarganya sudah sampai di Ballroom hotel tempat pernikahan Adhanis dan Tiara akan digelar, dekorasi pernikahan yang kental dengan nuansa adat Jawa ini dipadukan dengan konsep modern di dalamnya. Riza menghampiri Dhanis yang masih bersiap di kamar hotel, memeluk sahabatnya yang sudah sangat membantunya selama ini. Jangan tanya bagaimana bahagianya Riza melihat sahabatnya, akhirnya akan melepas masa lajangnya, terlebih, Dhanis melepas masa lajangnya bukan bersama wanita yang dia cintai, Gianira. Banyak doa yang Riza ucapkan untuk Dhanis, berharap sahabatnya itu bisa menjadi pemimpin yang bertanggung jawab dan penuh kasih untuk keluarganya kelak. “Serius, Bro, gue senang banget lu akhirnya nikah, akhirnya gelar bujang lapuk bisa lu tanggalkan sebentar lagi,” “Ha . . . ha . . . ha, si4lan lu, Bro! tapi thanks, ya! Makasih selama ini lu mau nemenin gue di masa – masa membutuhkan belaian wanita,” “Hasemm! Kalau ada yang dengar kita bisa dibilang pasangan hombreng, Bro!” “Ha . . . ha . . . ha” “Gimana, Dhan? Sudah hafal kalimat ijab qabulnya? Jangan sampai malu – maluin gue sebagai sahabat lu nih, kalau sampai salah, gue bisa dihajar sama Tiara nanti,” “Aman, Bro, lu tenang aja, buat malam pertama juga sudah gue pastiin lancar tanpa gangguan datang bulan, Tiara baru dua minggu lalu selesai period katanya,” ungkap Dhanis, meladeni candaan Riza. ============================= Tepat pukul sembilan pagi, acara akad nikah pernikahan antara Adhanis dan Tiara akan segera dimulai, Riza menemani Dhanis keluar dari kamar hotel menuju ballroom, kemudian mengantarnya hingga Dhanis duduk di atas kursi panas. Suasana yang awalnya riuh ramai oleh tamu undangan, mendadak hening, saat kehadiran Tiara, yang melangkah anggun menggunakan kebaya putih, berpadu kain batik yang membebat sebagai bawahannya, berjalan dengan wajah penuh senyuman di temani seorang sahabat wanitanya, Safeea. “Mbak Tiara cantik banget ya, Mas?” ucap Gianira saat Riza telah duduk di sampingnya. “Cantikan kamu kok, Sayang,” sahut Riza, menatap lembut wajah Gianira, membuatnya tersipu malu. ============================= POV Riza Akad nikah Dhanis dan Tiara berjalan lancar dan penuh khidmat, aku tidak menyangka, jika Dhanis akhirnya menikah juga hari ini. Dia benar – benar melepas masa lajangnya dan menyandang gelar baru sebagai suami sekarang, benar – benar membuatku terharu. Aku sungguh sangat bahagia, melihat senyum Dhanis yang terus mengembang dari bibirnya, aku tau bagaimana mereka akhirnya bisa saling mencintai, perjuangan Dhanis untuk melupakan Gianira dan akhirnya meyakinkan Tiara untuk mau menjadi kekasihnya kala itu. Aku ingat, ketika kami sama – sama menghadiri acara di kampus tempat kami menuntut ilmu, Dhanis tidak sengaja bertemu lagi dengan Tiara, wanita yang sejak kuliah selalu dijodoh – jodohkan dengannya. Siapa yang menyangka jika pertemuan itu menjadi awal mula benih – benih cinta diantara mereka akhirnya tumbuh dan bermekaran. Aku mengajak keluargaku untuk naik ke atas pelaminan, untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai yang sedang berbahagia hari ini. Aku memeluk erat tubuh Dhanis, membisikan banyak doa baik untuk kesejahteraan keluarganya, begitupun Gianiara, dirinya yang sudah cukup akrab dengan Tiara, membuatnya tidak canggung untuk memeluk dan memberikan ucapan selamat. “Selamat lho Mas, Mbak, semoga jadi keluarga Sakinah, mawaddah, waramah, semoga segera dikaruniai momongan, ya!” tutur Gianira memberikan ucapan tulus untuk Dhanis dan Tiara. “Aamiin . . . terima kasih ya, Gi, sudah mau datang ke nikahan kami berdua, padahal aku tau banget lho, bagaimana sibuknya calon penganten kayak apa, nih, iya enggak, Sayang?” sahut Dhanis, menggoda Gianira. “Hilih . . bisa aja, Mas, sibuk apanya? Wong semua sudah diurus tuntas sama tuan Riza,” “Iya, dong, mana mungkin aku ngebiarin calon istriku tercinta ini capek – capek, memang kamu, sudah mau nikah aja, Tiara masih disuruh kerja, jahat dasar!!” “Weitss sembarangan nih tuan muda kalau ngomong suka sekata – kata! Tiara itu pekerja keras, loyalitasnya tinggi, wajar dia selesaikan pekerjaannya dulu sebelum kita indehoy, iya enggak, Sayang?” “Apaan sih, Mas! Sudah, ah, kamu kalau ketemu Mas Riza kapan akurnya, sih? capek deh lihatnya. Mbak Gia, kita bagi tugas ya, mbak jewer mas Riza, aku jewer mas Dhanis, biar tahu rasa!” seloroh Tiara menanggapi candaan Riza dan Dhanis. “Sayang kamu kok gitu sama aku? Ha ha ha,” “Makanya yang akur gitu. Lho! Aneh banget sudah tua pada ribut aja!” tegur Tiara, yang justru membuat Dhanis memeluknya dengan gemas. Sungguh membuatku iri, ingin juga melakukannya kepada Gianira, namun sayangnya kami belum halal untuk melakukannya. Selesai memberikan selamat dan berfoto bersama, aku mengajak keluargaku untuk menikmati sajian yang tersedia, aku membantu Langit dan Bumi untuk mengambil makanan dan menyuapinya, sedangkan Gianira membantu Tiara. Rima dan Ibu sudah lebih dahulu mengambil makanan dan duduk di salah satu meja bundar yang tersedia. Saat akan mengambil minuman, aku bertemu dengan Adriyan Mahessa, salah seorang rekanku di kampus dahulu, bedanya dia dari Fakultas Kedokteran, sedangkanku di Fakultas Hukum. Setauku kini dia sudah menjadi dokter spesialis jantung. “Riza?” “Iya, Siapa lagi? Riza, lah!” “Wah tambah keren aja bapak pengacara ini, eh dengar – dengar dari Dhanis, katanya mau nikah juga, nih?” “Ah iya nih, pekan depan gue menikah, kalau sempat datang ya! Di Garut tapi, tempat nyokap,” “Oh gitu, ya semoga enggak ada jadwal dinas darurat, ya! Biar bisa hadir dipernikahan lu dan calon istri. Eh by the way, gue penasaran sama wanita yang berhasil meluluhkan dinginnya hati mas duda keren kita ini, nih! Ha ha ha,” “Bisa aja, Yan! Itu, yang pakai baju warna mocca nude, lagi nyuapin anak gue,” seruku, menunjuk Gianira yang duduk di salah satu meja bundar, sedang menyuapi Tiara anakku. “Wah, pantas aja, bisa bikin hati lu mencair, cantik dan perhatian banget sih sama anak lu, ha ha ha,” “Bukan cuma perhatian, Bro, dia juga sayang banget sama keluarga gue, makanya gue cinta banget sama dia, doain ya, acara gue lancar!” sautku tenang, menanggapi pujian Adriyan untuk Gianira. “Aamiin, semoga lancar dan bahagia, Bro, doain gue juga biar cepetan nyusul kalian berdua, ha ha ha,” “Lah iya, dong! Harus! Masa bapak dokter spesialis enggak punya istri, bisa gawat itu dua perlelakiannya, jadi sama siapa nih sekarang emangnya? Masih sama yang dulu, kan?” “Doain aja, bro, semoga sama dia, sudah ya, dia nungguin tuh, entar keburu lumutan dia nungguin gue ngobrol sama lu,” tandasnya mengakhiri obrolan kami. Bisa dibilang pernikahan Dhanis dan Tiara menjadi ajang reuni bagi alumni kampus tempat kami kuliah dulu, banyak sekali alumni – alumni kampus, terutama dari fakultas hukum yang menghadiri pernikahan duo lawyer ini. Walaupun ada beberapa dari fakultas lain, tapi lebih dominan dari fakultas hukum dan juga para klien mereka. Begitu acara selesai, aku langsung berpamitan kepada Dhanis dan Tiara untuk segera pulang ke rumah, karena selain ibuku yang sudah kelelahan, Bumi juga suda terlihat rewel karena mengantuk. Sambil menggendong Bumi, sekali lagi aku mengucapkan selamat kepada Dhanis, sambil berpesan untuk tidak lupa hadir diacaraku dan Gianira pekan depan. ============================= POV Gianira Ini malam kedua aku menginap di rumah Mas Riza yang di Jakarta, menempati kamarnya yang beraroma khas dari parfume yang biasa digunakannya. Aku duduk di pinggir ranjang, melihat ke arah meja kerjanya yang terdapat sebuah pas foto kecil di atasnya. Aku tidak memperhatikan jika ada foto ini kemarin, mungkin karena sudah terlalu larut malam saat kami pulang dari makan malam kemarin, jadi tidak sempat melihat – lihat dengan detail isi kamarnya. Foto yang menampakan wajahku yang tengah tertawa lepas, dengan latar pantai santolo, aku tidak menyadari jika saat itu mas Riza memotretku, saat kami sekeluarga berlibur ke pantai untuk pertama kalinya. Ada sebuah tulisan tangan di bawah fotonya, yang membuat hatiku tersipu, “Calon bidadariku dan malaikat bagi anak – anakku.” Bersambung . . . Yuk … nantikan kelanjutan ceritanya ya kakak! Jangan lupa like, komen dan kasih bintang lima di cerita Kami Bisa Tanpamu Mas, ya! Dan jangan lupa follow akun author juga Happy Reading semua 💚💚
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (113)
UtamaRansum
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
03/08
0bgus
16/04
0bagus
14/10
0Lihat Semua