logo text

Bab 55 | Kenyataan

“So, jadi pilih apa, Bro?”
Gianira membawa ibuku masuk ke kamar, saat aku ingin mengikutinya, lagi-lagi ibu melarangnya. Sungguh besar pengorbanan yang harus kulakukan untuk mendapatkan seorang sespesial Gianira.
“Gue tau lu bohong, kan? Ngaku! Lu cemburu gue deketin Gianira, hah?” cecar Dhanis, saat ibuku dan Gianira sudah masuk ke dalam, menyisakan hanya kami berdua.
“Buat apa gue bohong? Lu tau sendiri gue enggak akan melakukan hal yang membuat ibu gue kecewa,” elakku.
“Terus apa yang lu lakuin ini, hah? Tol*l!!”
“Menurut lu, cowok mana yang enggak akan tergoda kalau mendapat serangan dari cewek, hah?”
“Brengs3k!!” lagi-lagi Dhanis menyerangku dengan bogemnya, ah, sakit sekali!
“Pukul gue terus, Bro, sampai lu puas, tapi hal itu enggak akan merubah apapun yang sudah terjadi!”
“Mas Dhanis! Tolong ibu, Mas!” Astaga, ada apa ini?
=====================================================
Aku dan Dhanis berlari menuju sumber suara yang berasal dari teriakan Gianira, namun karena tidak hati-hati kakiku terpeleset seonggok kulit pisang bekas kami makan tadi, dan tiba-tiba saja aku tersungkur mengenai jalan setapak menuju dalam cottage.
Bugh!!
“Woii, Bro, kenapa lu? Mikir jorok, ya?” suara ledekan dari Dhanis menarikku kembali dari kenyataan buruk yang baru saja menimpaku.
Aku mengusap kepala bagian belakangku yang rasanya sangat sakit, setelah kesadaranku penuh, aku baru sadar jika si jomblo tua Bangka Dhanis lah yang sudah menimpukku dengan botol minuman bersoda kosong, minta dihajar memang si pria jawa ini.
“Mas Riza ngapain, sih? Di suruh jawab malahan ngelamun, ngantuk?” kali ini suara Rima yang terdengar melengking di gendang telingaku.
“Alhamdulilla ya Allah, ternyata ini semua hanya khayalan liarku saja, tidak sungguhan terjadi, ahh bodoh kali kau, Za, kalau sampai berani melakukan strategi kotor macam yang ada di otakmu tadi.”
Aku kembali mengusap-usap kepalaku yang masih sedikit terasa nyut-nyutan, kemudian aku mengarahkan pandanganku ke arah Gianira, dia tersenyum seperti kebingungan, tapi itu bukan pandangan membunuh seperti yang dia tunjukan tadi, oh dan, ibuku sehat, dia masih duduk manis di kursi pantai sebrangku berdiri, ya, aku hanya berkhayal, kau Cuma berkhayal, Za!!
Aku berlonjak kegirangan, menghampiri ibuku kemudian menciumi wajah tuanya, tidak kuperdulikan ekspresi bingung dari mereka semua yang mungkin merasa aneh dengan sikapku, namun, aku tidak peduli, yang penting semua hal buruk tadi bukanlah kenyataan! Terima kasih Allah.
“Kenapa kamu, Za? Sehat otakmu?” pertanyaan ibuku memicu tawa semua orang, membuatku malu setengah mati.
“Ayah! Cepat dong!! Ayah belum jawab niih, Tiara sudah ngantuk mau bobok ditemanin tante Gia, Langit sama Bumi,” rengek anakku yang kulihat sudah menguap beberapa kali.
“Iya, Sayang! Sebentar ya, Cantik,” sahutku untuk menanggapi keluan putri kecilku.
Aku kembali ke tengah lingkaran, memandang sekilas Gianira sebelum akhirnya aku menjawab pertanyaan ibuku terkasih.
“Jadi malam itu Riza terbangun karena kelaparan, kemudian memutuskan ke dapur untuk mencari makanan, namun tidak ada, kebetulan sekali saat itu Gianira juga masuk ke dapur, jadi saya memutuskan untuk minta tolong sekalian dibuatkan mie instan dan juga minuman hangat.
Setelah Gianira selesai membuatkan makanan, saya juga minta Gianira untuk menemani saya makan, selain enggak mau makan sendirian, saya juga bermaksud minta maaf sama Gia soal ucapan kasar saya saat makan siang, tapi mungkin karena terlalu mengantuk, jadi Gianira tertidur di kursi makan,” aku menjeda kalimatku seraya memandang lagi ke arah wanita yang membuatku gila beberapa hari ini.
“Saya berniat membangunkan Gianira, namun melihatnya tidur begitu nyenyak membuat saya mengurungkannya, kemudian berinisiatif untuk mengambilkannya selimut dari kamr, kemudian memakaikannya ke tubu Gia.
Saat mau saya tinggal sendiri di ruang makan, kok rasanya kasihan, Gianira dia tertidur karena membantu saya membuatkan makanan dan minuman, jadi yaudah saya nemanin Gia tidur di meja makan juga, kami ketiduran sampai alarm ponsel saya berbunyi di pukul tiga pagi, baru setelah itu saya membangunkan Gianira untuk masak bubur,” kataku menutup kalimat dari serangkaian jawaban yang sudah kupersiapkan.
Lega rasanya ketika aku sudah selesai memberikan jawaban mengenai kemana aku dan Gianira malam itu, yang membuat mereka semua penasaran dan bertanya-tanya.
“Jadi ayah sama ibu tidur bareng, ya? Memangnya boleh?” pertanyaan polos Tiara membuatku kelimpungan. Dasar anak kecil.
“Ayah sama tante Gia memang tidur bareng, tapi kami enggak ngapa-ngapain kok, Nak,” sahutku mencoba menjelaskan.
“Memang kalau lagi tidur bisa ngapa-ngapain, Yah?” astaga, aku salah jawab. Bod0h!!
“Nahloh!!” celetuk adikku Rima.
“Eh- hemm . . . ja-jadi, eh, gimana, ya, gini, Nak, maksudnya, ayah sama tante Gia sama-sama tidur di meja makan, tante Gia di satu kursi, ayah juga di satu kursi yang lain, kami tidur aja,” bingun bingun haduuhh, kenapa baru sadar kalau anakku kritis sekali pertanyaannya.
“Tapi kalau lagi tidur bisa ngapa-ngapain?”
“Enggak bisa, Nak, enggak bisaaa, yang namanya tidur ya tidur aja, enggak ngapa-ngapain,” aku mulai frustasi kali ini untuk menemukan jawaban yang pas untuk masuk ke nalar anak kecil seperti Tiara.
“Tapi kok tadi ayah bilang kalau enggak ngapa-ngapain sama tante Gia?” Tuhaaan tolong aku!
“Tiara sayang, tadi ayah salah ucap, ayah tadi mau bilang, kalau ayah sama tante Gia ketiduran di meja makan, sudah, gitu aja, kok, yah, Nak!”
“Oh gitu, Yah?”
“Iya, Sayang!!” sahutku dengan senyum dipaksakan, alamak! Nasib, nasib!!
“Kamu beneran enggak ngapa-ngapain Gia kan, Za?” Oh sh*t, ibuku! Apa-apaan ini?
“Astaghfirullah, sumpah demi Allah Riza sama Gia Cuma tidur aja, Bu, coba ibu tanya Gia, ada yang aneh enggak sama badannya?”
“Maksud, kamu?” astagaaa, bod0hnya kau, Za! Jaga moncongmu itu dengan baik!!
“Maksud Riza, beneran, Bu, kami cuma tidur, iyakan, Gi?” Ayo dong, Gi, bantu saya, pliss!!
“I-iya, Bu, kami hanya ketiduran, saya sangat mengantuk malam itu, tapi karena haus saya putusin untuk ambil minum ke dapur, lalu ketemu Mas Riza yang minta dibuatkan mie instan dan air jeruk hangat, lalu kami ngobrol sebentar dan enggak lama sepertinya saya ketiduran,” nah, gitu maksudku.
“Gitu, Za?” tanya ibu untuk mengkonfirmasiku kembali.
“Ya, begitu itu, Bu, benar,” sahutku membenarkan.
“Oke, yuk lanjut! Atau sudahan aja, ya? Ibu sudah ngantuk!” oh Tuhan, benar-benar kelakuan ibuku ini, setengah mati aku dibuat pusing oleh anak semata wayangku Tiara, sekarang dia hanya bilang, oke, oh oh oh! Luar biasa sekali.
Semua bubar meninggalkanku yang masih terpesona dengan perlakuan yang ibuku lakukan barusan, rasa tegang dan putus asa akibat pertanyaan-pertanyaan kritis dari putriku masih terasa sangat kuat, belum lagi, bayangan akan khayalanku yang ingin memfitnah Gianira tiba-tiba kembali muncul.
“Mas, maksud mas Riza, nyuruh kita tanya mbak Gianira ada yang aneh sama tubuhnya itu, apa? Memangnya mas mikirnya apaan?” aku tersentak kaget saat mendengar suara pelan dari adikku yang ternyata masih berdiri di belakangku.
“Hah? Ngapain kamu di sini?” teriaku kaget.
“Lho, kan aku kebagian tugas beresin semua ini karena enggak mau nelpon nelpon cowok yang aku suka,” sahutnya seraya memasukan sampah-sampah sisa makanan ke dalam plastik besar.
“Ooh, gitu, yaudah, yang cepatlah! Sudah malam, setelah itu langsung masuk!” kataku seraya berjalan meninggalkannya.
“Mas!!” teriaknya.
“Apa?”
“Mas mikir apa? Jorok ya pasti? Ha ha ha!!” kurang asem!
“Tau, ah!” sahutku kesal.
“Ciee . . . ngebayangin jorok sama mbak Gia, tuh!! Ha ha haa”
“Shuuutt!! Rima, ngaco kamu,” aku berlari ke arahnya kemudian membekap mulutnya dengan tanganku, namun sialnya anak rese ini malah menggigit telapak tanganku.
“Arrggh!!”
=====================================================
POV Gianira
Pantai memanglah tempat yang paling cocok untuk kita menyaksikan terbitnya mentari di ufuk timur. Sungguh, bukan hanya alamnya yang indah, namun pantai juga menampilakn pemandangan sosial ekonomi yang unik pada pagi hari. Seperti melihat para nelayang yang mencari ikan di tengah laut. Dari sini kita bisa lihat, beratnya perjuangan para nelayan yang berjuang untuk bertahan melawan arus globalisasi. Mereka rela berada di dalam air hingga berjam lamanya di tengah lautan hanya untuk melemparkan jalanya.
Semburat merah yang berpadu dengan warna kekuning-kuningan saat mentari mulai menampakan dirinya, sungguhi akan membuat kita berdecak kagum akan keindahan pantai di pagi hari. Deburan ombak yang bertabrakan dengan jejeran batu karang, seolang membentuk irama musik nan syahdu.
Aku terbangun dalam keadaan menggigil, saat meyadari jika mentari bahkan belum memunculkan ujung sinarnya. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, kemudian melaksanakan kewajiban dua rokaatku. Selepas sholat, aku sempatkan untuk membuka kaca balkon yang yang terletak antara kamarku dan kamar yang ditempati mas Riza dan mas Adhanis.
Tiupan angin dengan lembut menerpa wajahku tatkala aku baru saja menggeser kedua pintu balkon ke arah depan. Dingin, namun penuh kesegaran. Udara di pagi hari seperti ini sangat bagus jika dihirup oleh paru-paru, hingga aku dengan sengaja berlama-lama untuk menghirupnya hingga batas kemampuanku.
Di balkon terdapat sebuah meja bundar kecil dengan dua buah kursi di masing-masing sisinya. Ku tarik sebuah kursi kemudian duduk menghadap ke lautan lepas di depanku. Begitu luas, indah, serta membawa kenangan.
Teringat kala itu aku masih berusia enam tahun, saat dengan semangatnya aku menunggui kakekku pulang dari menjala ikan di laut. Aku kecil berlari-lari penuh kegirangan menuju dermaga pantai, berarap kakekku sudah kembali dari tengah lautan.
Berjam aku menunggu, hingga dari jarak sepuluh meter aku dapat meliat sebuah bendera merah putih yang terpasang di tiang perahu. Aku segera bangkit dari dudukku, kemudian berlari mendekati perahu yang dua hari lalu dinaiki oleh kakekku dan para nelayan lain.
Satu persatu teman nelayan kakek turun dari perau, hingga orang terakhir yang turun, namun tidak kutemui sama sekali sosok yang kutunggu sejak tadi. Kemana kakekku? Mengapa dia tidak ikut pulang bersama nelayan lainnya?
Aku bertanya-tanya kepada semua teman-teman kakek, namun tidak ada yang menjawab, mereka semua hanya mengusap kepalaku sambil berkata ‘sabar ya, Nduk, ikhlasin’. Sungguh aku tidak paham dengan apa maksud dari perkataan mereka, hingga saat terakhir kalinya aku meliat pakde Suwito turun dari perahu.
“Pakde! Kakekku, mana?” teriakku ketika melihat sosok pakde Suwito.
“Gianira! Kakek kamu sudah tidak ada,” sahutnya lirih kala itu.
“Maksud pakde, apa?”
“Sabar ya, Nduk! Kakekmu sudah meninggal, dia tewas tenggelam saat tidak sengaja terpeleset dari atas perahu ke tengah laut,” seketika kakiku lemas, membayangkan hidup sebatang kara di usiaku yang bahkan belum genap enam tahun.
Saat itu aku memang hanya tinggal berdua dengan kakek, karena nenekku sudah lebih dahulu pergi menghadap ke Allah setahun yang lalu, karena sakit liver. Hingga akhirnya aku dibawa ke sebuah panti asuhan dan tinggal hingga dewasa di sana.
“Nih,” sebuah suara menyadarkan lamunanku, Mas Riza, dia memberikan sebuah sapu tangan ke arahku.
“Pakai aja!” katanya lagi,
“Terima kasih,” aku mengambil sapu tangan yang Mas Riza julurkan, kemudian menghapus butiran bening yang lolos begitu saja dari mataku.
Berrsambung ….
Yuk … nantikan kelanjutan ceritanya ya kakak!
Jangan lupa like, komen dan kasih bintang lima di cerita Kami Bisa Tanpamu Mas, ya!
Dan jangan lupa follow akun author juga
Happy Reading semua 💚💚

Komentar Buku (113)

  • avatar
    UtamaRansum

    seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe

    03/08

      0
  • avatar
    AjiWisnu

    bgus

    16/04

      0
  • avatar
    NailaSinta

    bagus

    14/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru