Ya Robb, berikan kesehatan kepada bu Rosmalia beserta keluarganya, jauhkan mereka dari marabahaya, lancarkan segala hajat mereka jika itu dalam kebaikan. Lembutkanlah hati mas Riza agar mau menerima kehadiran Tiara, mau menyayangi anaknya sendiri, ya Robb.” Lirih aku mendengar suara Gianira memanjatkan doa-doanya, membuat hatiku tersentuh, karena dirinya mau repot-repot mendoakan keluargaku. Lagi-lagi benar yang Rima katakan, semua yang Gianira lakukan terhadap keluargaku adalah sebuah ketulusan dari hatinya. Sekali lagi, aku yakin jika Jazirah akan amat sangat menyesal telah melepaskan wanita terbaik dalam hidupnya. ===================================================== POV Gianira Aku terkejut saat masuk ke dalam dapur, karena melihat Mas Riza sedang duduk di kursi makan seraya memainkan gawainya. Segera ku hampiri dirinya dan bertanya apa ada keperluan yang dia butuhkan, bukankah tadi dia bilang akan melanjutkan tidurnya? Tapi kenapa sekarang balik lagi ke dapur? Aneh benar putra sulng bu Rosmalia ini. “Mas Riza ngapain di dapur?” tanyaku ragu, khawatir membuatnya tersinggung. “Mau bantuin kamu, Gi,” Alisku berkerut saat mendengar jawabannya, ingin membantuku katanya?. “Tidak usah, Mas, terima kasih, Mas Riza istirahat saja, lagi pula saya sudah biasa melakukan apapun sendiri,” tolakku hati-hati. “Tidak apa-apa, saya kan sudah janji. Seorang pria yang dipegang ucapannya, kalau ucapannya saja tidak bisa dipercaya, lalu apa dia pantas disebut laki-laki?” ujarnya skeptis, membuatku menahan senyum. “Kenapa kamu senyum-senyum?” selidiknya. “Mas Riza juga jangan lupa, laki-laki tidak boleh menyakiti perempuan, baik melalui sikap, perilaku maupun lisannya, karena hati perempuan itu seperti kaca, jika sudah rusak tidak akan bisa kembali utuh seperti sedia kala,” kataku menyindir. “Kamu nyindir saya masalah kemarin, Gi?” “Hmm, ya enggak juga sih, tapi kalau Mas Riza merasa tersindir ya bagus deh,” kataku lugas, seraya menakar beras yang akan ku jadikan bubur ayam pagi ini. “Oke oke, saya minta maaf ya ibunya Langit dan Bumi, saya tau kemarin saya kelewatan, sudah nyakitin hati kamu yang notabene seorang perempuan yang hatinya bisa pecah, tapi dengan sangat kerendahan hati saya, saya minta maaf,” ujarnya panjang lebar, membuatku cukup terkejut karena dia berani meminta maaf kepadaku. Aku bahkan dapat melihat ketulusan dari binar matanya yang tajam, Mas Riza sedang tidak main-main, dia tulus meminta maaf kepadaku walaupun dalam kalimatnya terdapat sarkasme yang dia tujukan untukku, namun aku patut menghargainya. Tidak mudah bagi seseorang yang memiliki sifat egosentris yang tinggi untuk meminta maaf kepada orang lain, karena dia akan merasa jika apa yang dia lakukan akan selamanya benar, sekalipun dia tau jika itu salah. “Kok kamu diam aja, Gi? Kamu mau kan maafin saya?” “Jika Allah saja yang berulang kali didurhakai hamba-Nya mau menerima taubat dan memberikan ampun, apa berhak saya yang hanya seorang mahluk lemah dan hina ini tidak mau memberikan maaf?” “Jadi?” “Jadi Mas Riza saya maafkan, asal berjanji tidak akan mengulanginya lagi, bukan hanya kepada saya, namun kepada siapapun, tahan emosi dan ego Mas agar tidak melukai orang lain,” “Siap, laksanakan!!” ucapnya seraya melakukan gerakan hormat kepada ku, membuatku tertawa. “Satu lagi …,” kataku menjeda kalimat karena melihat reaksinya yang langsung menegang. “Apa?” “Minta maaf jugalah kepada Tiara! Anak itu sangat amat berhak mendapat perhatian dan kasih sayang ayahnya, bukan hanya diberikan fasilitas saja,” ujarku hati-hati. “Gi, sa-saya …” “Mas Riza ayah yang baik, anak-anak saya saja mengatakan jika Mas orang yang baik, mereka selalu menganggap jika Tiara pasti sangat bahagia memiliki ayah seperti Mas, tidak seperti mereka yang ayahnya bahkan memutuskan untuk tidak menganggap mereka anak-anaknya lagi,” ucapanku tersekat karena nyeri yang menusuk hatiku, membayangkan wajah polos anak-anakku. “Sudah, Gi, tidak perlu kamu ingat hal-hal yang membuatku sakit, lupakan! Saya tidak tau kapan bisa bersikap normal layaknya ayah dan anak terhadap Tiara, namun saya janji akan berusaha untuk melakukannya,” tekadnya, aku tersenyum kemudian mengangguk untuk meresponnya, semoga apa yang dia katakana bisa terealisasi, aku menginginkan Tiara mendapat kasih sayang dari ayahnya, yaitu Mas Riza. “Mas pasti bisa, semangat!!” ucapku tulus. “Terima kasih, ya, yaudah saya harus bantu apa?” Aku menjelaskan kepada Mas Riza mengenai apa saja yang bisa dia kerjakan, mulai dari memotong-motong labu kuning dan sayuran untuk campuran di bubur tinutuan, sementara itu aku merebus beras dan juga butir-butiran mutiara yang sudah kucuci bersih, setelah itu ku papas jagung manis kemudian mencucinya bersih. Kami bekerja sambil sesekali mengobrol ringan, aku hanya akan menjawab jika Mas Riza melontarkan pertanyaan. Rasanya aku masih cukup canggung untuk memulai pembicaraan dengan pria yang sedang mencuci sayuran di sampingku ini. Tepat saat adzan subuh berkumandang, tiga menu bubur buatanku suda selesai kami masak, hanya tinggal menunggu bubur sumsum yang sebentar lagi matang. Bu Rosmalia dan Rima bersamaan masuk ke dapur, mereka cukup tercenung saat melihatku dan Mas Riza bekerja sama untuk membersihkan meja dapur yang berantakan karena memasak bubur. “Eheemm … eh kayaknya kita ganggu mereka nih ya, Bu?” celetuk Rima membuat kami secara bersamaan menghentikan kegiatan bersih-bersih. “Enggak jugasih kayaknya Rim, justru kita bagus datang ke sini, jadi tidak aka nada setan yang menggoda mereka,” ungkap ibu, matanya memandang dengan pandangan jenaka. “Oh iya sih, Bu, untung aja kita datang, ya?” “Kalian berdua ngomong apa, sih? Yaudah Gi, saya mau sholat subuh dulu.” Mas Riza beranjak meninggalkan kami di dapur, menuju ke arah kamar mandi. “Gimana persiapan buburnya, Gi?” tanya ibu saat mas Riza sudah tidak terlihat sosoknya. “Alhamdulillah sudah sampir selesai, Bu, tinggal nunggu sumsum jadi, sama siapin suwiran ayam aja yang belum,” sahutku menjelaskan. “Syukurlah kalau begitu, kamu kerjain dari jam berapa tadi?” “Sekitar jam tiga lewat, Bu, tadi dibantu Mas Riza, makanya cepat selesai,” “”Ee ciiiee …, mas Dhanis punya saingan berat nih,” celetuk Rima membuatku bingung. “Rim …” tegur ibu. “Mbak sama mas ku itu sudah baikan, ya?” bisik Rima saat berada di sampingku yang kujawab dengan anggukan kepala. “Ciiee, senyum-senyum gitu mbak jawabnya,” goda Rima masih dengan berbisik-bisik. “Apa deh, Mbak, sudah ah, saya mau bangunin anak-anak untuk subuhan dulu,” kataku seraya meninggalkan Rima yang masih senyum-senyum sendiri, dasar, kakak adik sama-sama aneh. Aku beranjak ke dalam kamar, kemudian membangunkan anak-anakku dan juga Tiara, ya sudah menjadi kebiasaan, jika aku tidur di rumah ini maka Tiara akan meminta tidur bareng bersama kami, begitupun dengan malam ini. Kami melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan Mas Riza sebagai imamnya, selesai sholat dan berdoa, aku melihat Mas Riza mengarahkan tangannya untuk mengambil tangan Bu Rosmalia dan menciumnya dengan takzim, kemudian dia beranjak ke arah adiknya dan anak-anak yang bergantian untuk mencium tangan mereka. Saat Tiara tiba Tiara mencium tangannya, Mas Riza mengarahkan pandangannya ke arahku, segera ku sambut dengan senyuman dan sedikit menganggukan kepala. Mas Riza menarik Tiara ke dalam pelukannya, lirih dia mengucapkan permintaan maaf berulang kali kepada anak perempuan yang sedang dipeluknya dengan erat. Kami semua terharu melihatnya, Rima bahkan sampai memeluk ibunya untuk meredakan tangis harunya karena melihat ayah dan anak tersebut bisa berpelukan. Air mataku pun reflek keluar, hatiku membucah dipenuhi rasa bahagia dan syukur bersamaan. “Tiara mau kan maafin ayah?” “Mau, Ayah, Tiara maafin ayah, Tiara sayang ayah,” tangis Tiara pecah, namun ku tau, kini tangisnya bukan karena kecewa, melainkan karena bahagia. Selesai menangis kami beranjak untuk membereskan bekas sholat masing-masing, aku kembali ke dapur untuk menuntaskan semua pekerjaanku yang belum selesai. Mas Riza memilih untuk menata gerobakku di depan pagai rumahnya. Aku tersenyum saat melihat Mas Riza sedang X-Banner bertuliskan “Bubur Gianira, Rasa selangit, harga membumi” beserta daftar menu-menu bubur yang ku jual. Ini adalah ide Rima untuk membuat X-Banner, katanya biar terliat ekslusif walaupun dijual di kampung. Tepat pukul enam pagi, semua persiapan selesai, semua bubur sudah selesai ku masak dan aku masukkan ke dalam dandang-dandang berukuran sedang yang dibawahnya ada kompor gas empat tungku yang menyala kecil, hal ini di lakukan agar bubur-bubur yang kujual tetap hangat. “Kok enggak ada yang bangunin aku, sih?” tiba-tiba terdengar suara Mas Dhanis dari arah belakang kami. Membuat kami reflek menengok ke arahnya. “Mas Dhanis kemana aja sih? Kok baru bangun? Katanya mau bantuin Mbak Gia masak bubur?” Rima bertanya dengan ekspresi bingung. “Iya nih, Rim, padahal Mas sudah pasang alarm jam 03.10 WIB, tapi kok enggak bunyi, dan malah bunyi barusan, pas pukul enam teng,” sahut Mas Dhanis bingung, tangannya menggaruk kepala yang sepertinya tidak gatal. “Ah yang bener lu, Bro, pasang alarm jam berapa sebenarnya?” kali ini Mas Riza yang menanggapi, tapi seperti ada yang aneh, dia seperti menahan senyum. “Bener, Bro, mas ague salah. Eh buy the way, lu semalam tidur di mana? Kok pas gue kebangun lu enggak ada di kamar?” pertanyaan Mas Dhanis sontak membuat Mas Riza tersedak liurnya sendiri. “Iya, ibu juga semalam tidur di mana? Langit cari di kamar kok enggak ada?” astaga, kali ini aku yang tersedak karena pertanyaan Langit. Semua mata mengarah kepadaku dan Mas Riza bersamaan, membuatku juga Mas Riza seperti merasa sedang di hakimi. Bersambung …. Yuk … nantikan kelanjutan ceritanya ya kakak! Jangan lupa like, komen dan kasih bintang lima di cerita Kami Bisa Tanpamu Mas, ya! Dan jangan lupa follow akun author juga Happy Reading semua 💚💚
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (113)
UtamaRansum
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
03/08
0bgus
16/04
0bagus
14/10/2025
0Lihat Semua