“Pokoknya nanti pas mbak Gia sudah resmi bercerai, Rima mau ajak dia ke salon untuk merawat dirinya, biar nyesel tuh Jazirah berokokok!” “Anak kecil sok tau dasar!!” godaku, membuat bibir Rima mengkrucut, lucu sekali. “Awas aja kalau nanti mbak Gia sudah perawatan dan kecantikannya yang selama ini tertutupi beneran bersinar, jangan nyesel lho! Rima mau jodohin mbak Gia sama dosen Rima yang masih muda, bye!!” Rima beranjak meninggalkanku yang masih mencerna ucapan terakhirnya. Apa katanya tadi? Dia mau menjodohkan Gianira dengan dosennya? Alamak!! Mengapa feelingku mendadak tidak enak, ya?! ===================================================== Aku mengejar Rima hingga ke dalam kamarnya, entah mengapa sepertinya aku kemakan candaan satu-satunya adik yang kumiliki tersebut. Bukan, bukan karena aku cemburu, hanya saja … aku juga tidak mengerti dengan yang tengah kurasakan. Aku sangat mencintai almarhum istriku, ibunya Tiara, hanya dialah wanita yang mampu mengisi ruang kosong dihatiku, hingga saat ini dan akan selamanya. Jadi sungguh ini bukanlah cemburu, aku tidak mungkin menggantikan istriku dengan ibunya Langit dan Bumi. Tidak akan mungkin. “Mas Riza ngapain?” tanya adikku saat aku menerobos masuk ke dalam kamarnya. “Eh, e.. anu, enggak, enggak ngapa-ngapain,” mengapa aku jadi salah tingkah begini sih, enggak asik!! “La, kok ke kamar Rima? Hayoo takut ya kalau Rima mau jodohin sama dosen Rima? Haa haa haa,” “Enggak, siapa juga yang cemburu!” elaku “Rima cuma bilang takut lho bukan bilang Mas Riza cemburu,” astaga lagi-lagi awak salah ucap. “Ah sudahlah, ngobrol sama kamu enggak ada habisnya,” kataku, berbalik untuk keluar dari kamar Rima, “Mas Riza enggak mau tau aku mau jodohin mbak Gia sama dosenku yang mana?” pertanyaan Rima membuatku menghentikan langkah, dan memutar arah kembali untuk menatapnya. “Siapa? Mas kenal?” “Kenal banget, banget, bangeeett!!” “Siapa cepetan!?” aku mulai tidak sabar dengan adik perempuanku ini. “Dih maksa! Ha ha ha,” Astaga, aku benar-benar suda tidak sabar lagi. “Rima cepetan! Mas mau lanjutin kerjaan nih!!” “Transfer 5 juta ya tapi ke rekeningku!” ucapnya sambil senyum-senyum enggak jelas. Anak ini benar-benar menguji kesabaran kakaknya. Aku berniat meninggalkan adikku dengan segala kejailannya saat tiba-tiba dia merubah tawarannya menjadi minta dibelikan sepatu baru. “Hatopma otik!!” kesalku. “Rencananya sih aku mau jodohin mba Gia sama Mas Adhanis Pria Wisesa, S.H., M.H.” ucap Rima lancar. Bagai disambar petir di siang bolong, siapa yang tidak mengenal Adhanis Pria Wisesa, seorang putra jawa tulen yang sukses menjadi seorang lawyer, diatara lautan lawyer berdarah batak sepertiku. Adhanis merupakan teman seangkatan denganku dulu ketika kuliah di S1, dan kini menduduki jabatan sebagai wakil rektor 1 di Fakultas Hukum Universitas Pelita Jaya tempat Rima menepuh program sarjananya kini. Benar-benar adik tidak ada ahlak, bisa-bisanya dia ingin menjodohkan seorang Dhanis kepada janda muda beranak dua seperti Gianira. Bukan aku ingin menghina Gianira, namun, jika dilihat dari track Record seorang Dhanis yang mapan, memiliki wajah tampan, dan memiliki pesona luar biasa sehingga menjadi incaran para gadis bahkan tante-tante girang di luar sana. Rasa-rasanya akan sangat sulit bagi seornag Gianira untuk menembus pertahanan brigade yang telah ditanam di dalam hatinya. Ya, aku sangat mengenal Adhanis, aku biasa memanggilnya Dhanis. Kami cukup mengenal dekat, persamaan sifat yang pendiam, membuat kami akrab saat itu. Itulah sebabnya aku meminta Adhanis untuk membantuku mengurus proses perceraian Gianira dengan Jazirah. Awalnya Dhanis memang menolak untuk menangani kasus yang dia anggap remeh temeh ini, karena kesibukannya sebagai dosen dan pengacara di Firma Hukum yang dia dirikan beberapa tahun belakangan ini. Bukan tanpa sebab aku memintanya membantuku. Salah-satu Firma hukum miliknya terletak di kabupaten ini sehingga membuatkan akan sering bolak balik antara Bandung dan Garut. Selain itu, kesibukannya sebagai dosen dan wakil rektor hanya memerlukan dirinya hadir di kampus sebanyak dua hari saja dalam sepekan, sehingga akan membuat mobilitasnya lebih mudah dibandingkan denganku dan barusan adikku baru saja mengatakan jika dia akan menjodohkannya dengan Gianira. Ngelawak!! “Mas! Kok melamun? Kaget, ya?” suara cempreng Rima membuatku tersadar dari lamunan. “Kamu pikir orang kayak Adhanis mau dijodohin sama Gianira? Secara yang naksir dia banyak banget dan jauh lebih cantik dan kaya dari Gianira, dan terpenting masih single!” sahutku ketus. “Dih, bolehnya sensi.. kita lihat aja ya nanti!” balas Rima tidak kalah ketus. Aku memutuskan keluar dari kamar adik reseku tersebut, rasanya kepalaku nyut-nyutan setelah ngobrol sama dia. Haduh, segera aku menuju keluar untuk menuntaskan acara minum kopiku yang tadi sempat terganggu oleh kehadiran dan ocehan Rima marima hai-hai. Jujur saja aku kepikiran dengan yang Rima katakana, namun hati kecilku yakin jika seorang Adhanis pasti tidak akan sudi untuk dijodokan, walaupun usianya sudah matang, selera seorang Adhanis tidaklah pernah turun kelas. Itulah yang menyebabkannya susah mendapatkan pendamping, terlalu banyak kriteria yang dia inginkan ada pada calon pendamping hidupnya tersebut. ===================================================== Setelah dikerjakan selama kurang lebih dua ari, gerobak untuk Gianira berjualan bubur akhirnya selesai. Aku melihat ekspresi puas dari wajah perempuan beranak dua tersebut. Membuatku merasa bak seorang pahlawan hebat saat dirinya berkali-kali mengucapkan rasa terima kasihnya. Belum lagi saat melihat kedua anaknya dan juga putriku Tiara melompat-lompat kegirangan, berkali-kali mereka bertiga memeluk pinggangku, baru kali ini aku melihat anakku Tiara begitu bahagia, ya sejak kehadiran Gianira dan anak-anaknya, Tiara banyak berubah, menjadi ceria, doyan makan tanpa pilih-pilih lauk, dan yang terpenting, dia seperti tidak takut lagi jika melihatku. Dahulu, Tiara seorang anak pendiam dan jarang berinteraksi kepada orang lain selain ibu dan adikku. Dia juga suka pilih-pilih makanan membuatku sering kali naik pitam dibuatnya. Pernah suatu hari aku memarahi Tiara yang merengek minta disuapi dan ditemani main, namun sungguh, aku enggan sekalin berlama-lama dengannya, wajahnya yang sangat menyerupai wajah almarhumah istriku membuatku menjaga jarak dari anakku sendiri. Sejak peristiwa aku memarahinya malam itu, Tiara enggan berbicara kepadaku, hanya sesekali dia menyapa dan meminta ini itu, namun selalu dengan pandangan ketakutan. Tiap kali dia sedang bercanda dengan Rima, lalu melihatku datang, Tiara akan langsung diam bahkan langsung masuk ke dalam kamarnya. Namun kini berbeda, Tiara berubah, aku menyukai perubahan yang ada pada dirinya, senyumnya kembali merekah, membuatku semakin merindukan sosok ibunya. “Berarti kita besok sudah mulai bisa jualan ya, Bu?” tanya Langit setelah berhenti melompat. Dia begitu bersemangat. “Iya, Nak, Insya Allah, besok kita sudah bisa mulai jualan, nanti temani ibu belanja bahan-bahan untuk besok, ya!” jawab Gianira tidak kalah semangatnya. Ahh aku suka melihatnya senyum seperti itu. Eh apa-apaan sih, Za!! Aku dibantu Gianira dan anak-anak membereskan halaman depan dari sampah sisa-sisa pembuatan gerobak, semua kami bersihkan hingga tidak ada satu sampahpun yang terlihat. Kemudian kami bersama-sama mendorong gerobak untuk diposisikan di halaman samping agar tidak menghalangi parkiran mobil. “Assalamu’alaikum, hoy, Bro!!” sebuah suara yang sangat familiar tiba-tiba tertangkap pada pendengaranku. “Wa’alaikumusalam. Eh, Bro, sudah datang lo?” sambutku seraya menghampiri si empunya suara, yang ternyata adalah Adhanis. “Waduh sibuk banget nih kayaknya, Bro?” “Enggak, Dhan, ini baru selesai bikin gerobak buat jualan besok,” “Oh yang lo ceritain kemarin, gerobak dagang buat klien yang kasusnya bakal gue tanganin?” “Yoii, eh sini masuk, yuk!” ajakku kepada Dhanis. “Tiara, tolong bilangin tante Gia, ayah minta dibuatin minum untuk tamu ayah gitu yah, sama kalau ada cemilan juga boleh,” kataku saat melihat Tiara melewati ruang tamu. “Itu Tiara anak lo yang dulu masih bayi?” “Iyalah yang mana lagi, sekarnag udah gede, Bro, sudah makin tua ini gue!” gurauku, ya karena cukup akrab dengan Dhanis, sehingga dia cukup tau keidupan rumah tanggaku dulu. “Eh ada Pak Dosen, apa kabar, Mas?” tiba-tiba Rima sudah duduk di kursi tepat di sampingku. “Saya baik, Rim, kok kamu masih di sini? Bentar lagi masuk kuliah, kan?” “Iya, Mas, akhir pekan ini juga balik ke Bandung bareng Mas Riza,” ucap Rima, yang disambut anggukan oleh Dhanis. Rima dan Dhanis cukup akrab, karena dulu saat kuliah aku sering mengajak Dhanis ke rumahku jika sedang libur semesteran, itulah mengapa Rima tidak sungkan memanggil Mas kepada dosennya tersebut. “Oia, Mas. Mas Dhanis sudah punya pacar?” Bah, apa-apaan pertanyaan adik gemblungku ini. “Belum nih, kenapa gitu?” balas Dhanis, sepertinya mulai terpancing oleh Rima. “Aku ada kandidat calon istri yang high quality buat Mas Adhanis kalau mau, orangnya baik, sholehah, pintar masak, sayang anak-anak, keren deh, mau gak?” astaga Rima, dia membuat dadaku sakit. “Masa sih? Memang siapa? Teman sekelas mu?” “Bukan, orangnya ada di sini, nanti aku kenalin, tapi kalau Mas Dhanis mau sama dia, mas harus sabar, nunggu masa dia resmi cerai sama suaminya dan masa iddahnya selesai,” Rima benar-benar membuat ulah, pusing kepala awak kalau begini Tuhan. “Maksud kamu dia janda?” tanya Dhanis berbisik, ekspresinya menggambarkan jika dia agak keberatan dengan calon yang Rima bilang high quality tersebut. Yes!! Rasain kau anak kecil sok tau tidak ada ahlak!! Kamu fikir seornag Adhanis mau sama janda, anak dua lagi. “Hu’um,” “Jangan-jangan yang kasusnya mau saya tangani lagi, karena kakak mu ini enggak bisa karena harus kembali ke Bandung,” “Benar, 100 buat Mas Dhanis, bentar ya, orangnya lagi di dapur buat minuman,” ucap Rima, masih kepedean aja rupanya kau. “Nah itu dia, Mas” bisik Rima, saat melihat kedatangan Gianira dari dapur. Aku memperhatikan pandangan mata Adhanis yang tidak terlepas dari memandang Gianira yang sedang meletakan minuman dan kudapan di atas meja depan kami. Dari sekali lihat aku tau jika si pria berhati kutub ini sepertinya tertarik dengan wanita beranak dua ini. Terliat cara Dhanis melihat Gianira yang tidak berkedip. Membuat Rima tersenyum cengengesan. Menyebalkan anak ini. “Gi, ini Adhanis Pria Wisesa, dia teman saya yang kemarin saya ceritain akan menggantikan saya untuk mengurus proses perceraianmu dengan ayahnya Langit dan Bumi,” sengaja aku menekan kata Langit dan Bumi, ingin membuat pria di sampingku ini sadar jika wanita yang dia pandangi sudah memiliki dua anak. “O, iya, Mas, saya Gianira, mohon bantuannya untuk membantu kelancaran proses cerai saya ya, Pak,” ujar Gianira formal. Bagus. Emang enak kau Dhan, dipanggil pak kau sama dia. “Saya, Adhanis, jangan panggil pak, saya seumuran dengan Riza, panggil Mas aja juga enggak apa-apa,” tutur Dhanis seraya menjulurkan tangannya hendak bersalaman dengan Gianira. Namun dengan sopan Gianira langsung menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada, membuat Dhanis kembali menarik tangannya dan mengikuti gerakan yang Gianira lakukan. Ha ha ha… rasakan kau, baru kenal sudah mau pegang-pegang. Modus. “Sini mbak duduk dulu, ngobrol dulu!” ucap Rima menyuruh Gianira bergabung dengan kami. Kepalaku tiba-tiba berputar, sepertinya aku tidak enak badan. Kami ngobrol membicarakan kronologi mengenai berakhrinya hubungan Gianira dan suaminya sehingga memutuskan untuk bercerai. Sepanjang pembicaran, aku terus memperhatikan Dhanis yang memandang intens wajah Gianira yang menunduk untuk menjaga pandangan. Juga wajah menyebalkan Rima yang tidak berhenti tersenyum ke arahku, sepertinya dia kesambet deh. Setelah dirasa pembicaraan selesai, Gianira memutuskan untuk undur diri dari kami, membuat hatiku sedikit tenang karena dia tidak akan jadi pusat perhatian lagi bagi Dhanis. Namun baru saja aku bernafas lega, tiba-tiba suara yang keluar dari mulut Dhanis membuatku mendadak ingin pingsan. “Rim, saya setuju di jodohkan dengan Gianira!” ucap Adhanis yang disambut senyuman lebar dari mulut adikku. Bersambung …. Huaa.. 1800an kata lebih untuk bab hari ini sebagai permintaan maaf karena kemarin tidak up. Yuk … nantikan kelanjutan ceritanya ya kakak! Jangan lupa like, komen dan kasih bintang lima di cerita Kami Bisa Tanpamu Mas, ya! Dan jangan lupa follow akun author juga Happy Reading semua ❤️
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (113)
UtamaRansum
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
03/08
0bgus
16/04
0bagus
14/10
0Lihat Semua