“Kata dokter kondisi ustad Faiz cukup serius, menurut diagnosa dokter, pemukulan yang dialami ustad menyebabkan livernya pecah hingga harus menjalani operasi besar, selain itu hidungnya patah, ya mungkin nanti agak bengkok, huft!” tutur Mas Riza menjelaskan kondisi ustad Faiz, membuatku beristigfar berkali-kali saking ngerinya. “Saya sudah hubungi keluarganya, mungkin sebentar lagi akan datang,” sambungnya lagi. Belum sempat aku membalas ucapan Mas Riza, dari arah belakang kami terdengar suara langkah dan teriakan. Membuatku, MaS Riza dan anak-anak spontan mengarahkan pandangan ke sumber suara. “Sudah saya bilang jangan dekat-dekat dengan anak saya! Tidak paham juga kamu??” aku kaget saat sebuah tamparan mendarat ke pipiku. Tes. Air mataku keluar tanpa dikomandoi. ===================================================== “Ibuuu….” Teriak Langit dan Bumi bersamaan, berambur menghampiriku. “Abah! Astaghfirullah!!” suara Umi Aisyah melengking seraya menarik tubuh suaminya. “Jangan main kekerasan, Pak, saya bisa perkarakan anda ke polisi dengan pasal penganiayaan!!” ku dengar Mas Riza berkata lancang, kemudian menarikku untuk pindah ke belakangnya. Aku merasakan panas dan sakit sekaligus pada kulit pipiku, namun, ada yang lebih sakit dari sekedar pipi, hatiku, sungguh hatiku berkali kali lipat sakit mendapatkan perlakuan tidak manusiawi dari seorang yang dibilang sebagai figure panutan. Bagaimana bisa seorang berilmu tinggi seperti Kyai Rahmad memukul seorang wanita sepertiku, bahkan tanpa dia mencari tau dulu keberannya. Aku masih mendengar saat Mas Riza dan Kyai Rahmad saling membalas teriakan, selain itu aku juga mendengar tangisan Umi Aisyah, entahlah beliau menangisi anaknya atau perilaku suaminya, aku masih saja bergeming, berusaha meredam amarah yang minta dimuntahkan. Berulang kali aku mengucap istighfar, berharap Allah mau memberikan sedikit lagi kesabaran pada diri yang hina ini. Agar aku tidak menyakiti siapapun dengan lisanku yang sudah gatal ingin membalas perbuatannya. “Ibu…” suara Bumi memecah lamunanku, aku membungkuk kemudian membawa Bumi ke dalam gendonganku, dia pasti shock menyaksikan kejadian hari ini, ayahnya memukul ustadnya mengaji, sekarang melihat ibunya di tampar oleh ayah ustadnya. “Ayo, Gi, kita pergi! Percuma menolong orang tidak tau terima kasih seperti mereka,” ujar Mas Riza tegas, matanya penuh amarah memandang Kyai Rahmad. Aku mengikuti langkah Mas Riza yang sudah lebih dulu meninggalkan ruang tunggu dengan Langit dan Tiara di dalam genggamannya, sementara aku mengekor di belakang sambil menggendong Bumi yang masih terisak. Jika tidak sala lihat, aku melihat Umi Aisyah berucap maaf saat aku melewatinya tadi. Ku fikir Mas Riza akan langsung menuju parkiran di mana mobilnya terarkir, namun dia menghampiri meja pendaftaran yang di jaga oleh dua petugas wanita. Aku melihat Mas Riza bercakap serius dengan petugas rumah sakit tersebut, kemudian setelah itu seorang perawat datang menghampiri kami, membimbing kami untuk mengikuti langkahnya. Kami melewati lorong-lorong rumah sakit, hingga akhirnya tiba di depan pintu yang bertuliskan Ruang Centra Visum dan Medikolegal Rumah Sakit Citra. Mas Riza ternyata serius dengan ucapannya tadi, bahwa dia akan melaporkan kyai Rahmad karena telah menamparku. Aku menjalani proses visum selama hampir tiga puluh menit, kemudian kami menunggu hasilnya, setelah hasilnya keluar, Mas Riza mengajak kami untuk segera meninggalkan rumah sakit. Sepanjang perjalanan Mas Riza hanya diam, pandangannya asih mengisyaratkan jika dirinya tengah dikuasai amarah. Mobil yang dikendarai Mas Riza berhenti di depan Kantor Polisi, kami semua turun dari mobil dan mengikuti langkah Mas Riza yang tergesa-gesa. Di dalam kantor polisi, Mas Riza segera membuat laporan atas oemukulan yang aku alami. Polisi memberikan beberapa pertanyaan kepadaku, jujur saja aku gugup sekali, namun Mas Riza meyakinkanku jika semua akan baik-baik saja. Dia pun beberapa kali menjawab pertanyaan polisi dengan retoris. Bagaimanapun, dia akan menjadi saksi dari kasus ini. Setelah selesai memasukan laporan di kepolisian, Mas Riza kembali melajukan mobilnya, setelah memastikan keadaanku baik-baik saja, Mas Riza melajukan mobilnya ke arah supermarket yang sejak awal menjadi tujuan kami pergi dari rumah. Sesampainya di supermarket, Mas Riza membawa kami ke gerai makanan terlebih dahulu, katanya dia mendadak lapar karena kejadian beruntun tadi. Anak-anak mulai terlihat rileks, tidak semurung tadi, masing-masing mereka memesan makanan khas anak-anak dan minuman dingin, sementara aku yang merasa tidak cukup nafsu untuk makan, memustuskan hanya memesan teh manis dingin. Selesai membayar makanan, akhirnya kami segera masuk ke dalam supermarket untuk berbelanja kebutuhan di rumah bu Rosmalia. Aku memilih barang-barang yang diperlukan, dibantu oleh Tiara dan Langit, sementara Bumi duduk manis di atas troli yang didorong Mas Riza. Sesuai dengan daftar belanjaan yang panjang, membuat isi troli kami penuh, setelah memastikaan semua sudah sesuai catatan, Mas Riza segera mendorong troli ke arah kasir, aku, Tiara dan Langit masih memilih beberapa cemilan yang Tiara inginkan, setelah itu langsung menyusul Mas Riza dan Bumi yang sudah lebih dulu mengantri di depan kasir. “Nih ambil!,” ucap Mas Riza, menyerahkan sebuah kartu tipis seperti KTP. “Kok bengong? Ambil!” perintahnya lagi. Aku masih tidak paham apa maksud dari perintahnya. “Astaga Gianira!! Ini kartunya buat bayar belanjaan, memangnya kamu bawa uang buat bayar semua ini?” Mas Riza sepertinya mulai kehilangan kesabaran, menungguku terkoneksi dengan perintahnya. Akhirnya aku menerima kartu yang dia berikan, kemudian menyimpannya di dalam dompet ku yang sudah usang. “Pinnya 121287,” ujarnya pelan. Setelah memberikan ku kartu ATM dan memberitahu pinnya, Mas Riza mengajak anak-anak untuk ikut dengannya, sementara aku ditinggal sendiri mengantri di depan kasir. Karena banyaknya antrian membuatku cukup lama hingga akhirnya selesai membayar belanjaan. Aku mengarahkan pandangan ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Mas Riza dan anak-anak, kemana mereka? Mengapa tidak ada di depan supermarket?. Karena tidak kunjung menemukan tanda-tanda kehadiran mereka, aku memutuskan untuk menunggu di depan. Ku dorong troli berisi tumpukan plastik belanjaan, sangat berat karena isinya penuh sekali. Cukup lama aku menunggu kedatangan mereka, hingga aku mendengar suara teriak anak-anak yang memanggil namaku, kemudian berlari-lari menghampiriku yang sedang duduk di kursi depan supermarket. “Kalian darimana? Kok kelihatannya senang sekali?” tanyaku begitu mereka sudah mendekat. “Tadi kita habis main mobil-bilan di atas, Bu, Om Riza membelikan kami koin untuk bermain di atas, terus ini lho, kami dibelikan baju kembaran,” ujar Langit antusias, wajahnya merona cerah, menandakan jika dia bahagia, begitupun dengan Tiara dan Bumi, masing-masing mereka memegang tas belanja dengan gembira. “Wah Alhamdulillah, Langit sama Bumi sudah bilang terima kasih ke Om Riza belum?” “Sudah dong, Bu, iyakan, Om?” ucap Bumi sambil cengengesan, lucu sekali. “Iya, Jagoan!” sahut Mas Riza, tidak kalah jenaka wajahnya. “Terima kasih ya, Mas, sudah membuat anak-anak gembira, terima kasih juga sudah membelanjakan baju untuk Langit dan Bumi,” tutur sopan. “Ya, sama-sama, yuk kita pulang, anak-anak!!” sahutnya, seraya menggantikanku mendorong troli. Sepanjang perjalanan anak-anak bercerita dengan antusias tentang permainan mobil-mobilan di supermarket tadi, mereka terlihat sangat antusia, hingga tiba-tiba suasana mendadak sepi, rupanya mereka tertidur karena kelelahan, aku tersenyum melihatnya, bersyukur sekali karena mereka tertidur dengan perasaan bahagia. “Gi, nanti di rumah tidak usah cerita kalau bapaknya Faiz mukul kamu ke ibu, ya! Khawatir nanti ibu kepikiran. Anak-anak juga sudah saya briefing untuk menjaga rahasia ini, semoga saja mereka tidak keceplosan,” tuturnya disela-sela perjalanan kami. “Baik, Mas,” sahutku cepat. Setelah itu tidak ada percakapan apapun lagi. Tiba di depan rumah, kami dikejutkan dengan kehadiran Mas Jazirah yang berteriak-teriak di depan rumah, membuat orang-orang berkumpul di depan rumah bu Rosmalia. Mas Riza segera turun dari mobil dan terlihat berdebat dengan Mas Jazirah. Mau apalagi orang tidak tau malu itu? Bersambung …. Yuk … nantikan kelanjutan ceritanya ya kakak! Jangan lupa like, komen dan kasih bintang lima di cerita Kami Bisa Tanpamu Mas, ya! Dan jangan lupa follow akun author juga Happy Reading semua ❤️
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (113)
UtamaRansum
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe
03/08
0bgus
16/04
0bagus
14/10
0Lihat Semua