logo text

Bab 104 | Mulai Nyaman

Aku mengucap istighfar sebagai upaya untuk menetralkan isi kepalaku. Isi chat Niryala sungguh di luar batas logika. Bagaimana dia bisa menuliskan isi chat semacam itu terhadap pria yang baru saja ditemuinya?
Namun, aku tidak dapat berbohong, jjka jiwa kelaki-lakianku bergejolak tatkala membacanya. Aku membayangkan kembali saat-saat aku memadu kasih bersama Nirmala, dirinya yang romantis dan seringkali meminta lebih dulu membuatku merasa dilayani dengan baik dan sempurna.
Berbeda sekali dengan Gianira yang harus kupancing terlebih dahulu baru akan terpengaruh. Ya, tidak adil memang rasanya jika aku membandingkan mereka berdua. Masing-masing wanita berbeda, bukan? Mereka memiliki batasan dari keliaran mereka masing-masing. Akupun tidak boleh memukul rata semuanya.
Gianira yang manis dengan sisi manja dan lembutnya, tapi juga selalu membuatku terbang melayang ke Nirwana. Tapi tidak dapat kupungkiri, terkadang aku memikirkan Nirmala kala sedang mencumbu Gianira.
Keraguan yang kembali merasuki jiwa membuatku mengabaikan pesan dari Niryala. Aku perlu sendiri, jadi kuputuskan untuk keluar Villa dan tidak jadi menemui Gianira. Aku takut salah bicara ataupun mengambil keputusan jika dalam kondisi sulit seperti ini.
Berjalan keluar, aku meminjam sepeda motor milik seorang pegawai Villa. Ku arahkan sepeda motor dengan arah yang tidak pasti, aku hanya perlu mencari udara segar agar membuat fikiranku kembali jernih.
Lelah berputar-putar tidak ada tujuan akhirnya kuputuskan untuk mencari tempat wisata yang rekomendasi untuk dikunjungi wisatawan yang berlibur ke Bali.
Berbekal map aku akhirnya aku tiba di salah satu pemandian air panas Toya Devasya. Segera masuk dan membayar tiketnya kemudian mengambil handuk dan perlengkapan lain.
Tidak lupa aku membeli celana renang pendek mirip boxer yang di jual di sana, karena sebelumnya aku memang tidak berencana untuk datang ke sini sehingga tidak membawa pakaian ganti. Setelah berganti pakaian, aku segera menuju kolam pemandian, menceburkan diriku di sana kolam yang berisi air hangat.
Pemandangan di sini sangat mengagumkan, terdapat beberapa kolam berisi air hangat. Kolam dengan luas dan kedalaman yang berbeda-beda ini berbatasan langsung dengan laut, sehingga jika mengambil foto dengan angel yang tepat, hasilnya akan memperlihatkan kolam yang menyatu dengan lautan.
Cukup lama waktu yang kuhabiskan untuk berendam sekaligus berenang. Air hangat yang membasahi seluruh tubuh nyatanya memang ampuh membuat tubuhku kembali rileks.
Rasa lapar membuatku memutuskan untuk beranjak dari kolam, memesan makanan di Café yang memang berada di dalam area pemandian air panas. Membersihkan diri di kamar mandi dan kembali berganti pakaian dengan pakaian yang kupakai saat datang ke sini.
Setelah itu aku memesan pisang goreng gula aren yang katanya terkenal favorite di tempat ini, selain itu aku juga memesan nasi ayam betutu, sebotol air mineral dan segelas kopi hitam dengan sedikit gula.
Kunikmati makanan dan minuman yang tersaji di atas meja, menyeruput kopi hangat yang langsung mengalirkan kenikmatan di indera pengecapku. Aku jadi teringat kopi buatan Gianira, dirinya tidak pernah gagal dalam menyajikan kopi yang enak untuk kuminum setiap harinya.
Ting
[Mengapa kamu tidak merespon pesanku? Apa kamu ragu?], sebuah pesan masuk ke dalam ponselku, segera kulihat, ternyata Niryala yang mengirimiku pesan.
Drttt … drrtt … drrt
Panggilan video dari Niryala masuk, membuatku mau tidak mau langsung menjawabnya.
“Hai, Mas, kok kamu online tapi enggak balas chat aku? Kamu lagi di mana, nih?” tuturnya sesaat setelah panggilan tersambung.
“Maaf, Nir, belum sempat balas,” sahutku berdusta, bukan tidak sempat tapi karena tidak tau harus membalas apa.
“Gimana? Aku bolehkan besok ke Villa tempat kamu menginap? Atau kita mau ketemuan di luar aja? Tapi si lebih baik kalau kita segera bicara sama istrimu, Mas,”
“Aku rasa nanti saja, Nir. Aku tidak ingin membuat istriku terluka dengan pembahasan kita,”
“Bukankah lebih cepat justru lebih baik? Aku bisa segera menjalankan wasiat Nirmala, Tiara juga akan bertemu denganku jadi dia bisa melihat wajah ibu kandungnya dengan melihat wajahku, Mas,”
“Kita bicarakan lagi nanti, Nir, tolong beri aku waktu untuk berfikir!” cetusku, tidak nyaman mendapat tekanan darinya.
“Hmmm … baiklah kalau begitu, aku tunggu kabar darimu secepatnya ya, Mas. Sepertinya kamu sedang di luar, kamu lagi mana?”
“Aku lagi makan, baru saja selesai berendam di Toya Devasya.” Sahutku, sesaat setelah meneguk air mineral terlebih dahulu.
“Kamu lagi di Bangli, Mas? Kenapa enggak bilang kalau mau ke sana? Kan tadi bisa kutemani. Aku kenal sama yang punya pemandiannya, kebetulan dia temanku,”
“Oh, ya? aku juga tidak sengaja datang ke sini, Nir. Lagi muter-muter pakai motor terus berhenti di sini,”
“Benarkah? Kamu sendirian? Istrimu enggak ikut?”
“Tidak, aku sendiri aja,”
“Sayang sekali, seharusnya aku nemenin kamu ke sana, Mas. Sekalian kita bisa ngobrol-ngobrol,”
“Ya, lain kali mungkin kita bisa ke sini Nir,”
“Benar, ya? awas kalau kamu bohong, Mas! Aku aduin kamu di makamnya Nirmala, ha ha ha,” tawanya menguar hingga membuatku ikut tertawa bersamanya.
Niryala menemaniku makan siang dengan panggilan videonya, sepanjang berkomunikasi kami saling bertukar cerita mengenai berbagai hal. Menurutku Niryala sangat enak dijadikan teman ngobrol, cara berfikirnya yang luas membuatku tidak sungkan untuk bertukar fikiran dengannya.
Hingga tidak terasa makananku sudah habis dan hanya meninggalkan sepotong kecil pisang goreng gula aren saja. Kuakhiri video call dengan Niryala karena aku harus segera pulang ke Villa dan berjanji untuk kembali bertemu esok hari.
==============
Dari dalam jendela kamar aku dapat melihat Mas Riza pergi menggunakan motor salah satu pegawai Villa. Dalam hati aku bertanya-tanya, hendak ke mana Mas Riza pergi? Mengapa tidak pamit terlebuih dahulu kepadaku? Apa memang sudah tidak seberarti itu aku di matanya? Hingga tidak ada usaha darinya untuk menjelaskan persoalan yang terjadi diantara kami.
Memikirkan berbagai kemungkinan dari hubunganku dengan mas Riza nyatanya membuatku semakin sesak karena luka ini. Mataku sudah cukup lelah karena terlalu lama menangis dan akhirnya tertidur.
Sekitar pukul dua belas siang aku terbangun saat samar-samar mendengar suara ketukan dari pintu kamarku. Kutajamkan pendengaran, mencoba mengembalikan kesadaranku yang belum begitu pulih sepenuhnya.
Rupanya suara Langit yang memanggilku untuk melakukan sholat dzuhur bersama. Kemana mas Riza? Apa dirinya belum juga kembali ke sini?
Menghapus air mata, kemudian merapikan jilbabku yang cukup berantakan karena dipakai tidur. Setelah dirasa cukup aku segera membuka pintu kamar untuk menemui Langitku.
Ekspresi khawatir terpahat jelas di wajah putra sulungku ini, dirinya pasti takut karena sejak pulang dari pantai aku tidak keluar kamar dan tidak cepat menyahut ketika dia memanggil-manggilku barusan.
“Ibu, ibu kok lama buka pintunya? Langit mau ajak ibu sholat bareng, setelah itu kita makan siang. Tadi ada om-om Villa yang nganterin makanan ke sini,” ucapnya polos.
Kusejajarkan tinggiku dengannya, kemudian kutarik sedikit bibirku hingga membentuk sebaris senyuman agar Langit melihatku baik-baik saja.
“Maaf ya, Nak, tadi ibu ketiduran, jadi tidak mendengar kalau Langit panggil-panggil ibu. Langit mau sholat? Adek Bumi sama yang lainnya mana?” tanyaku, mencoba mentralkan suaraku yang sedang menahan tangis.
“Adek sama yang lain sudah nungguin ibu di ruang ruang tengah untuk sholat,”
“Oh gitu, yaudah ibu ambil wudhu sebentar, ya! Langit mau nunggu ibu di sini atau mau duluan ke ruang tengah?”
“Langit tungguin ibu aja di sini, takut ibu ketiduran lagi,” sahutnya memberikan keputusan.
“Baiklah, sini masuk, ibu ambil wudhu dulu,” kataku lagi seraya menggandeng tangan Langit untuk masuk ke dalam kamarku.
Aku beranjak ke kamar mandi, mengosongkan kantung kemih yang terasa penuh, kemudian mencuci wajahku dan selanjutnya mengambil air wudhu. Air mataku kembali menetes, tapi buru-buru kuhapus agar tidak terlihat oleh Langit dan yang lainnya.
Setelah menggunakan mukena, kuajak Langit keluar kamar menuju ruang tengah Villa di mana yang lainnya sudah menunggu. Hatiku berdegup cepat, khawatir jika ada mas Riza di sana yang bersiap menjadi imam sholat.
Namun, dugaanku salah. Tidak ada mas Riza di sini, hanya ada Ibu, Rima dan anak-anak saja. Jadi benar mas Riza belum kembali ke sini?
Hatiku ingin sekali bertanya kepada Ibu maupun Rima mengenai kemana mas Riza pergi, tetapi lidahku terlalu kelu untuk mengatakannya.
Kutangkap raut sedih dan khawatir dari wajah Ibu dan Rima, mereka berdua pasti paham dengan yang tengah kurasakan.
“Kita sholat dulu, Gi!” ucap Ibu pelan, kemudian berdiri di sampingku mempersilahkan aku untuk menjadi imam dalam sholat jamaah kali ini.
Tidak mungkin menolak, aku pun mengambil mandat sebagai imam sholat berjamaah. Pada takbiratul ikram pertama, suaraku bergetar mengucapkannya, air mata menetes begitu saja, kuyakin mereka tadi menyadarinyan walaupun hanya mendengar suaraku sebentar saja.
Perjuangan menyelesaikan sholat kali ini terasa begitu berat bagiku, bayang-bayang mas Riza menyebut nama Nirmala di tidurnya, juga saat dirinya memeluk wanita lain berputar begitu saja.
Aku malu, malu pada Robb-ku karena tidak konsentrasi menghamba pada-Nya hanya karena urusan dunia. Aku malu pada Tuhanku, karena terlalu fokus pada masalahku yang belum jelas tapi alfa terhadap nikmat-nikmat-Nya.
Selesai salam Ibu mendekatiku, memberikan pelukan erat yang begitu hangat. Kurasakan mukenaku basah karena terkena air matanya. Kami menangis bersama, menyalurkan emosi dan kecewa yang dirasa.
Tidak kupedulikan rengekan ketiga anakku yang bertanya mengapa kami menangis. Aku hanya ingin melampiaskan kesedihanku pada wanita yang sudah begitu baik kepadaku ini.
“Menangislah kalau itu bisa membuatmu tenang, Gi!” ucap Ibu pelan, tangan tuanya mengusap-usap punggungku.
“Maafin Gia, Bu, maafkan Gia yang menorah luka di hati ibu. Gia mohon maaf,” lirihku dalam tangis. Karena bagaimanapun kesedihan Ibu juga karena ulahku.
“Kamu enggak salah, Gi. Maafkan anak ibu, ya!” bisiknya pelan, mungkin enggan bila terdengar anak-anak, karena ini merupakan aib ayah mereka.
Setelah puas menangis, kupeluk dan kuciumi ketiga anak-anakku, mencoba mengukir senyum terbaik walaupun kutau mereka pasti paam jika ibunya sedang tidak baik-baik saja.
Untuk mengalihkan kesedihan, Rima mengajak kami untuk segera makan siang. Berkumpul di meja makan, rasanya ada sedikit kekurangan. Tidak ada mas Riza di sini, biasanya kami akan makan bersama kecuali saat dia sedang bekerja. Kuambil ponsel berniat untuk menghubunginya, tapi kuurungkan.
Statusnya online tetapi tidak satupun pesan dia kirimkan kepadaku. Tidak seperti biasanya yang hampir setiap saat mas Riza akan mengirimkan pesan singkat ke dalam ponselku.
“Kamu ke mana, Mas?” lirihku dalam hati.

Komentar Buku (113)

  • avatar
    UtamaRansum

    seru banget ceritanya sering bikin naik darah jadi ikutan esmosi hehehe

    03/08

      0
  • avatar
    AjiWisnu

    bgus

    16/04

      0
  • avatar
    NailaSinta

    bagus

    14/10

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru