Saat akhirnya Ibaz sekeluarga pamit pulang, Jingga yang merasa harus segera menyampaikan pembicaraan di teras tadi kepada ayah ibunya dibuat shock dengan kalimat sang ibu yang mendahului, "Ngga, tadi Pak Hilman bilang mau datang melamar hari sabtu depan." "Whattt? Melamar apa, Bu?" tanpa sadar, Jingga berseru saking kagetnya. "Ish, kok melamar apa. Ya melamar kamu untuk jadi istrinya Ibaz dong, pake tanya lagi." Bu Setyowati menjawab cepat. "Bentar, deh. Bu, Pak. Ini kayaknya ada yang mesti dilurusin, deh. Jangan sampai rencana ini kalian lanjutin tanpa tahu satu hal penting ini." Jingga berkata dengan nada serius sambil duduk kembali di sofa ruang tamu. Pak Hariadi dan Bu Setyowati saling berpandangan heran, tetapi kemudian ikut duduk lagi di hadapan anak gadisnya itu. "Ada apa, Ngga?" Ibunya bertanya penasaran. "Ibu dan Bapak harus tahu. Tadi pas kami ngobrol di luar, Ibaz ada ngaku kalau dia ternyata bohong sama orangtuanya soal belum punya pacar." Spontan kedua orangtuanya terbelalak kaget, "Apa?!" seru mereka hampir bersamaan. Jingga yang sudah menyangka ekspresi mereka setidaknya memang kurang lebih akan seperti itu, hanya mengangguk-anggukkan kepalanya prihatin. "Kamu yang bener, Ngga? Jangan mengada-ada lho kamu, ya?" Bu Setyowati akhirnya malah mencurigai Jingga sedang merencanakan konspirasi untuk menggagalkan rencana perjodohan mereka. Soalnya dari awal Jingga sudah tidak berkenan dengan hal itu. "Bu! Nggak mungkin lah Jingga mengada-ada masalah sepenting ini," sergah Pak Suhariadi menegur istrinya. Ia sangat mengenal watak anak-anaknya. Jingga memasang wajah cemberut karena kesal atas tuduhan ibunya barusan. Bu Setyowati yang langsung sadar bahwa ia sudah keterlaluan pun segera menganulir kalimatnya, "Maksud ibu, kamu nggak sedang main-main, kan, Nak?" "Nggak, Bu. Jingga tahu ini masalah serius. Nggak mungkin lah Jingga mainin. Emang beneran kok, Ibaz semalem bilang gitu sama Jingga." "Terus maksud keluarga mereka apa? Mau mempermainkan keluarga kita atau gimana, sih, Pak?" Bu Setyowati mulai tersulut emosinya. "Nggak, bukan gitu kayaknya, Bu. Papa mamanya itu dibohongin sama Ibaz. Jadi mereka nggak tahu menahu kalau kenyataannya Ibaz udah punya pacar. Sudahlah maksudku tuh alhamdulillah kita udah tahu dari sekarang. Jadi nggak sampai berkelanjutan masalahnya. Iya, kan, Pak?" Jingga mengungkapkan argumennya sembari menatap kepada sang ayah untuk menunggu keputusan dari pria yang selalu sabar dan bersahaja itu. Sejenak Pak Suhariadi terdiam, tampak tengah memikirkan sesuatu. Alisnya berkerut sampai hampir tertaut. Jingga sangat jarang melihat sang ayah berekspresi semacam itu. Ia sedang benar-benar marah sepertinya, pikir Jingga sedikit seram. "Sudah, nggak usah dibahas lagi. Itu masalah intern keluarga mereka. Bapak nanti yang akan berbicara dengan Hilman untuk pembatalan rencana perjodohan ini. Sudah selesai urusan kita dengan mereka. Silaturahim biarlah cukup hanya sebatas dua keluarga rekan kerja saja." Akhirnya kalimat itu meluncur lancar dari bibir Pak Suhariadi. Jingga merasa lega dan bersyukur tidak ada konfrontasi dalam hal ini. Tadinya ia mengira akan bersitegang dengan ayahnya. Ternyata kekhawatirannya sama sekali tak terbukti. * * * "Tragis banget kan, Ndy, hidupku? Bahkan dijodohin aja sama orang yang udah punya pilihan hatinya sendiri. Mengenaskan." Jingga akhirnya menceritakan semuanya kepada Nindy saat jam istirahat siang. Nindy memasang wajah prihatin dan mencoba menghibur Jingga sebisanya. "Kan orangtua kamu awalnya nggak tahu, Ngga. Masih bersyukur cowok itu jujur ya sama kamu, kalau nggak kan bisa berabe." Jingga menerawang ke hadapan. Melihat mesin-mesin pres yang tampak lengang dan tanpa suara mendengung yang selalu terdengar bila mesin tersebut sedang dioperasikan. " Palingan saking nggak sukanya sama aku, makanya dia langsung aja ngaku punya pacar. Dengan gitu kan aku auto nolak. Jadi dia nggak usah repot-repot mikir gimana cara menghindar dari perjodohan itu." "Ah, apapun alasannya, kita sama-sama nggak tahu, Ngga. Jangan mikir sampe ke situ ah, rugi kamu. Yang penting kan udah batal," Nindy mencoba menghalau Jingga yang arah pemikirannya menuju kepada keminderan pribadi. Ia sedikit kasihan dengan sahabatnya itu. Pengalaman buruknya dalam berhubungan dengan pria beberapa kali di masa lalu sangat menyedihkan sehingga membuatnya kini mengalami trauma dan juga rasa minder yang lumayan akut. "Aduuuuh. Kesel aku, tuh. Kenapa coba semua orang nggak ada yang membiarkan aku single aja. Nanti kalau sudah datang jodohnya juga pasti menikah sendiri, kan. Nggak Nila, nggak Bapak, Ibuk, semuanya sama aja ...," "Mereka cuma terlalu sayang sama kamu, Ngga. Makanya mereka ikut mikirin gimana kebahagiaan kamu. Itu saja pasti alasannya," sahut Nindy menimpali. "Tapi tindakan maupun ucapan mereka tuh justru lebih membuatku makin nggak nyaman, Ndy." Nindy merangkul sahabatnya itu seraya menggumamkan sebaris kalimat penghiburan meskipun bagi Jingga hanya masuk telinga kanan dan keluar lagi dari telinga kiri. Sama sekali belum membuatnya merasa baikan. Tapi demi memuaskan hati Nindy, Jingga mengucapkan terima kasih. Paling tidak dia mau mendengarkan keluh kesahnya saja itu sudah banyak sekali mengurangi beban di hatinya. * * * "Iya, Mbak. Jadi kapan, nih, Jingga lamarannya?" Suara Mbak Aida tetangga sebelah yang terkenal cerewet sekali itu terdengar di telinga Jingga. Tembok pembatas toko dengan ruang tengah memang terdapat pintu masuk yang hanya terbuat dari triplek untuk memudahkan akses keluar masuk, sehingga suara perbincangan pembeli yang bersuara agak tinggi pastilah terdengar sampai ke situ. Nyuuuuut, terasa nyeri kembali menusuk ulu hati Jingga. Ia menajamkan telinga untuk mendengarkan lebih jelas, apakah benar itu yang Mbak Aida katakan, ataukah ia hanya salah dengar. Bu Setyowati terdengar menanggapi hanya dengan tawa renyah, "Belum tahu, Dek Aida. Anak itu sukanya kerja dan kerja saja. Sepertinya belum mau kawin, dia." "Loh, Mbak. Tapi kan sudah berapa usianya? Seusianya Ani dan Nita, bukan? Wah, mereka berdua sudah pada punya anak, loh." Ini sahutan dari Bu Sarti yang sudah punya banyak cucu padahal usianya sama dengan Bu Setyowati. "Iya, tapi kan memang beda-beda waktu datangnya jodoh, Mbak Sarti. Jingga belum ketemu jodohnya, nih. Mohon doanya saja, nggih." Bu Setyowati menimpali kembali dengan senyum terpatri. Meskipun Jingga tahu pasti bahwa dalam hati ibunya juga pasti merasakan perih yang sama dengan yang dirasakannya. Putri sulungnya belum menikah di usianya yang keduapuluhlima sudah termasuk aib bagi keluarga, karena di lingkungan mereka masih banyak yang menikah muda. Lulus sekolah langsung menikah adalah hal yang sudah biasa di sana. Oleh sebab itu, banyak teman sekolah Jingga yang memang kini sudah memiliki anak. Jingga yang awalnya akan keluar duduk-duduk di teras pun membatalkan niatnya dan berbalik masuk kamar. Matanya sudah memanas dan titik air telah mulai lolos bersamaan dengan isakan tertahan. * * *
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (176)
MardianaRina
Ketika kita mengalami trauma yang sangat terpenting adalah menyendiri untuk memberikan waktu dan mengendalikan diri, juga ketenangan dan kepercayaan dalam dirinya untuk bangkit.
Ketika kita mengalami trauma yang sangat terpenting adalah menyendiri untuk memberikan waktu dan mengendalikan diri, juga ketenangan dan kepercayaan dalam dirinya untuk bangkit.
03/02/2022
11bagus
26/11
0efesdd
25/11
0Lihat Semua