"Ibu!!" Raga dan Kayla menatap Nyonya Monika dengan tatapan terkejutnya. Baru saja Wanita paruh baya itu merampas hasil tes DNA yang berada ditangan Raga lalu merobeknya begitu saja. Sebuah senyum kepuasan tampak terpancar jelas diwajah Nyonya Monika begitu Wanita itu berhasil menghancurkan kertas sialan yang sejak kemarin mengganggu pikirannya. "Kenapa? Kamu mau marah dengan Ibumu hanya karena Ibu merobek kertas itu?" Tanyanya pada Raga. "Kenapa Ibu merobeknya? Hanya itu yang bisa membuktikan jika anak itu adalah anakku atau bukan," Ujar Raga marah. Pria itu tidak menyangka jika Ibunya akan bertindak sejauh itu. Sudah hampir 24 Jam Raga tidak bisa tenang menunggu hasil tes DNA anaknya, saat tes itu sudah keluar dengan seenaknya Ibunya merobeknya sebelum Ia sempat membacanya. "Harus berapa kali Ibu katakan padamu? Anak itu adalah anak kandungmu, darah dagingmu Raga!! Kenapa Kamu masih keras kepala ingin melakukan tes DNA?!" Teriak Nyonya Monika sambil menangis. "Bagaimana Ibu bisa yakin jika itu adalah Anak kandungku? Bukankah Ibu juga melihat foto waktu Wanita itu tidur dengan Pria lain kan? Bisa saja anak itu adalah anaknya. Anak itu adalah anak kotor hasil perselinhkuhannua!!" "Raga stop!!" Tamparan yang cukup keras berhasil mendarat sempurna dipipi Raga. Nyonya Monika yang sudah tidak bisa menahan amarahnya itu dengan keras melayangkan tamparannya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Kayla tampak sudah menangis hebat. Wanita itu merasa sangat sakit hati saat suaminya sendiri mengatakan anak kandungnya adalah anak kotor. Dengan langkah pelan Nyonya Monika mendekati Raga, Wanita paruh baya itu memukul dada sang anak. Melampiaskan betapa kecewanya Ia terhadap anak satu-satunya itu. "Hiks Ibu sangat kecewa padamu. Kenapa Kamu sejahat ini pada anak dan Istrimu, Hiks." Raga mendongak, Menatap keatas atap kamar inap Kayla sambil berusaha menahan tangisan nya. Jika boleh jujur, Pria itu juga tidak ingin semua ini terjadi. Tapi apa daya, semua bukti penghianatan Kayla sudah sangat jelas dan Dia tidak bisa menerima itu. Dengan cepat Raga melepas tangan sang Ibu dari dadanya sebelum kemudian melangkahkan kakinya pergi dari kamar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. ✨ "Argghh!!" Raga meninju tembok yang berada ditangannya dengan cukup keras, membuat punggung tangan Pria itu terluka dan mengeluarkan darah. Saat ini Pria itu sedang berada dilorong rumah sakit yang cukup sepi. Pria itu menangis, Menangisi takdir hidupnya yang seperti ini. Dengan pelan Raga mendudukkan dirinya diatas lantai, Darah yang mengalir dari tangannya sama sekali tidak ia hiraukan. "Hiks, Maafkan Raga, Bu. Maafkan Raga." Sebuah tangan yang menepuk bahunya membuat Pria itu mendongak. Seorang Pria paruh baya yang kini berdiri didepannya menatapnya sambil tersenyum "Bangunlah, Apa yang Kamu lakukan disini?" "Ayah, Hiks." Raga langsung berdiri dan memeluk Ayahnya erat. Ini adalah pertama kalinya Pria itu menangis dipelukan sang Ayah setelah sekian lamanya. Tuan Brama hanya bisa diam sambil menepuk pelan punggung sang anak. Untuk saat ini yang dibutuhkan Raga hanyalah sebuah sandaran, Tuan Brama tidak akan mengatakan apapun untuk saat ini agar anaknya bisa sedikit lebih tenang. ✨ ✨ Jam dinding hampir menunjukkan pukul 11 malam dan Kayla terlihat masih terjaga. Saat ini Wanita itu hanya sendirian di kamar nya karena Nyonya Monika tiba-tiba mengatakan kepalanya pusing jadi Ia meminta Mertuanya itu untuk pulang. Dengan tatapan sendunya Leona menatap wajah teduh sang anak yang saat ini terlelap disampingnya. Seketika air matanya menetes, hatinya kembali merasakan sakit mengingat ucapan Raga beberapa saat yang lalu. "Apa yang harus Mama lakukan sekarang, Nak? Haruskah Mama membawamu kabur sekarang?" Tanyanya sambil mengusap pelan pipi mungil sang anak. Kayla tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada anaknya nanti. Jika Dia dan Raga benar-benar berpisah dan Anaknya ikut dengan Raga, Kayla takut jika Raga tidak akan bisa menerima anaknya. Kayla takut Raga akan memperlakukan anaknya dengan tidak baik. "Apapun yang terjadi nanti, Mama tidak akan pernah membiarkanmu menderita, Nak. Mama akan membuatmu bahagia. Mama janji." ✨ "Mas Raga, Bagaimana hasil tes DNA nya? Pasti anak itu bukan anakmu kan?" Tanya Celine pada Raga yang baru saja pulang kerumah nya. Tanpa menjawab pertanyaan Istri pertamanya itu, Raga terus berjalan menuju kamar mandi dan langsung mengunci pintu kamar mandi. Menghiraukan ketukan dan teriakan Celine yang memanggil namanya. Menyalakan shower lalu duduk dibawah aliran air shower, Raga menangis. Entah apa yang membuat Pria itu menangis yang jelas saat ini yang ia rasakan hanyalah rasa sesak didadanya. Air shower yang tadinya berwarna bening berubah menjadi merah begitu mengenai tangannya yang terluka. "Apa yang harus Aku lakukan? Hiks, Apa Aku harus menerima anak itu ? Tapi bagaimana jika Anak itu benar bukan Anak kandungku? Ya tuhan ini benar-benar membuatku sangat pusing!!" Diluar kamar mandi, Celine tampak penasaran dengan hasil tes DNA itu. Beberapa saat yang lalu Ia berhasil menukar hasil tes DNA nya. Wanita itu sangat yakin pasti raga membaca hasil tes yang salah, namun Celine belum bisa merasa puas sebelum Raga sendiri yang mengatakan jika Anak Kayla bukanlah Anak kandungnya. "Tapi dilihat dari wajah Mas Raga, Sepertinya Dia membaca hasil tes yang sudah Aku tukar. Jika itu benar, maka cepat atau lambat Kayla benar-benar akan ditendang dari rumah ini." "Ahh rasanya Aku sudah sangat tidak sabar menunggu semua itu terjadi. Begitu Kayla pergi, Maka Akulah satu-satu nya Nyonya Muda disini." Gumam Celine dengan senyum smirknya. Suara dering ponselnya berhasil membuat Celine langsung menoleh kearah ranjang, Tempat ponselnya berada. Dengan langkah pelan Wanita itu berjalan menuju ranjang guna mengambil ponselnya. Terdapat sebuah pesan masuk dari kontak bernama Doni. Seketika helaan nafas kasar itu keluar dari bibirnya. "Ckk ngapain sih Dia menghubungiku lagi!" Doni : "Halo Nona Cantik, Bagaimana ? Apa semua rencana kita berjalan lancar? Aku dengar kemarin Kayla melahirkan. Jangan lupa komisi yang sudah Kamu janjikan dulu." "Ckk, Di pikiran nya hanyalah uang-uang dan uang saja!! Dia pikir Aku mesin Atm apa?!" "Siapa yang Kamu bicarakan ?" Tanya Raga. Entah sejak kapan Pria itu sudah keluar dari kamar mandi. Dengan wajah gugupnya Celine menyimpan ponselnya kedalam saku bajunya sebelum kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Raga. "Mas Raga sudah selesai? Mau Aku ambilkan baju ganti?" Tanpa mengatakan apapun Raga langsung berjalan menuju lemari pakaianmya. Mengambil setelan piyama sebelum kemudian kembali ke kamar mandi. "Untung saja mas Raga tidak mendengar semuanya. kalau iya bisa tamat riwayatku" Batin Celine.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Laila bilang dia anak yatim piatu
7d
0bagusss
11/07
0bagusss bgt, lanjutin dong kak please gantung bgt ceritanya. pngen gimana lihat penyesalan raga 😔
23/05
0Lihat Semua