logo text

Bab 27 Nayra kangen Om, Ma!

"Tidak ada apa-apa, Bang. Kata Bunda, kalau Abang cuti nanti, keluarga kita akan mengadakan pertemuan keluarga yang membahas perjodohan kita," ucap Nana.
Mendadak kepala Khairul menjadi semakin berdenyut.
"Kamu mau menerima perjodohan itu, Dek? Adek kan belum mengenal Abang." Khairul mengingatkan gadis itu.
"Kata Bunda, Abang itu orangnya baik dan saleh. Cocok buat jadi imam Nana kelak."
"Abang tidaklah sebaik seperti yang bunda ceritakan itu, Dek." Khairul menghela nafas.
"Abang ini penuh dengan kekurangan apalagi kerjaan Abang sering kali berpindah tempat," ucapnya.
"Tidak apa-apa, Bang. Yang penting dimanapun Abang berada, ada Allah yang selalu mengawasi Abang. Nana percaya itu," tutur Nana.
Khairul terdiam. Dia berusaha mencerna kata-kata Nana
"Apakah Nana suka dengan Abang?" tanya Khairul.
"Entahlah, Bang. Nana juga tidak tahu. Kata Bunda, Nana harus kenal dulu dengan Abang," sahut gadis itu
"Ohh gitu ya? Terima kasih ya, Dek. Adek tidak usah berharap banyak dengan Abang, karena sebenarnya Abang tidak sebaik yang Kamu kira."
"Abang ini kerjanya berpindah tempat dari satu ke tempat yang lain. Abang bertemu dengan banyak orang. Tidak menutup kemungkinan suatu saat Abang khilaf." Khairul berusaha mencari alasan yang tepat agar gadis itu berhenti mendekatinya.
"Tidak apa-apa, Bang. Manusia itu memang tempatnya salah dan khilaf."
"Nana," desahnya.
Khairul termangu menatap layar ponsel yang masih menyala. Panggilan Nana sudah beberapa saat berlalu. Tak ada percakapan penting yang mesti dibicarakan secara panjang lebar. Hanya sekedar menanyakan kapan dia cuti untuk membicarakan tentang perjodohan mereka.
Dia tidak tahu, apakah ia bisa mengelak dari perjodohan itu. Atau terpaksa menuruti kehendak dari kedua orang tuanya. Meskipun kalau boleh memilih, ia akan menikahi seorang wanita yang dipilihnya sendiri.
Untuk sesaat bayangan wajah wanita berwajah manis nan sederhana itu memenuhi benaknya.
Khairul menatap layar ponselnya yang masih menyala.  Lantas mengklik aplikasi kalender dan memperhatikan angka-angka.  Menghitung hari untuk mengambil cuti pulang ke Pekanbaru.
Laki-laki itu menghela napas panjang. Kurang dari dua bulan lagi ia bisa pulang ke Pekanbaru dan itulah batas waktunya untuk mendekati Nayra dan juga mamanya yang memiliki hati yang begitu sulit untuk di sentuh.
*****
Hari ini Naila pulang lebih cepat dari biasanya. Dia bahkan membawa uang lebih dari biasanya. Biasanya sehari dia hanya di bayar dengan memakai lembaran uang berwarna biru. Sekarang ibu Diana memberikan satu lembar uang berwarna merah untuknya. Ini berarti gajinya hari ini naik dua kali lipat.
Naiia tidak tahu, sesungguhnya itu adalah uang Ammad yang dititipkan kepada ibu Diana. Ibu Diana sengaja tidak memberikan sekaligus, tetapi melewati cara menaikkan gaji Naila. Sehingga Naila tidak menyadari bahwa Ammad lah yang selama ini membantunya.
Naila mengayuh sepedanya dengan hati riang. Di stang sepeda nya tergantung bungkusan  lauk ikan goreng dan sayur tahu tempe, sisa dari dagangan yang tak terjual hari ini.
"Assalamu alaikum ...." Dia mengucap salam ketika sepasang kakinya berpijak di teras rumah.
"Mama ...!" teriak gadis kecilnya. Nayra menghambur ke dalam pelukannya.
"Wa alaikum salam," sahut ibu. Wanita tua itu  menerima bungkusan yang dia sodorkan.
"Ada lauk dari ibu Diana, Ma. Lumayan buat kita makan malam."
"Terima kasih, Nak. Baik sekali Diana padamu," kata ibu. Bibirnya mengurai sebuah senyuman.
"Ibu Diana memang selalu baik dengan kita, Ma," sahut Naila.
Naila menggendong putrinya masuk ke dalam rumah.
"Mama mandi dulu ya, Nak." Naila mendudukkan gadis kecil itu di atas kasur.
"Nayra tunggu Mama disini ya. Mama tidak akan lama mandinya."
Kepala mungil itu mengangguk. Naila segera mengambil handuk dan segera melangkah keluar kamar menuju kamar mandi.
*****
Selesai mandi, Naila segera kembali ke dalam kamarnya. Setelah mengeringkan rambutnya, ia pun mulai berpakaian. Baju berlengan panjang di padu dengan celana panjang yang agak lebar. Sementara rambutnya di biarkannya tergerai di pundaknya.
"Sayang," panggil Naila. Dia mendapati putrinya berbaring di tempat tidurnya dengan wajah pucat dan tubuh menggigil.
"Astagfirullah ...." Naila terkesiap saat meraba dahi putrinya. Ada hawa panas terasa di telapak tangannya.
"Sayang, kamu kenapa? Badan kamu panas, Nak."
"Sakit kepala, Mama," keluhnya.
Naila bergegas keluar kamar dan melangkah menuju dapur. Sesampainya di dapur, dia mengambil saputangan yang masih bersih dan sebuah baskom. Naila menuangkan air hangat di baskom itu. Kemudian kembali ke kamar dengan membawa kedua benda itu.
"Mama kompres dulu ya, Nak." Naila mencelupkan kain itu ke dalam baskom kemudian memerahnya.
"Kenapa sampai gini sih, Sayang? Apa Nayra kecapekan?" Ia mengelus kepala mungil itu.
Nayra menggelengkan kepala. "Nayra kangen Om, Ma."
Lidahnya selalu terasa kelu di saat putri kecilnya mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang sudah ratusan kali di ucapkan putrinya. Kata-kata yang mewakili keinginan polosnya untuk menjadikan om Ammad sebagai ayahnya.
Naila menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan tetes-tetes air yang diam-diam membasahi pipinya.
"Sabar, Nak. Om Ammad pasti akan datang menemui Nayra. Nayra berdoa ya," bisik Naila. Gadis kecil itu mengangguk lemah.
"Gadis pintar," puji Naila. 
"Putri Mama adalah anak shalehah, pasti di sayang Allah. Allah sungguh mengabulkan doamu, Nak," hibur Naila.
"Amin..." Lirih gadis kecil itu.
*****
Suara azan magrib baru saja menghilang, berganti dengan suasana sunyi dan disertai angin yang merekam gema takbiratul ihram dan memulai sebuah ritual penyembahan.
Ammad khusyu dengan shalatnya. Dia memasrahkan semuanya kepada Allah. Hidup dan matinya, gerak dan diamnya, semua dalam kehendakNya. Gerakan shalat dia lakukan dengan sebaik-baiknya, agar semua amal ibadahnya diterima di sisi Allah.
Selesai shalat Ammad bergegas keluar dari masjid itu. Dia berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman masjid. Hari ini terasa begitu melelahkan baginya. Lelah fisik dan juga hati, karena mengendalikan rasa cemburu bukan perkara mudah baginya.
Sembari terus melangkah, ia menatap sekeliling langit malam yang gelap dan hanya dipenuhi oleh titik-titik bintang yang gemerlapan. Sementara sang rembulan justru tak terlihat dalam pandangannya.

Komentar Buku (110)

  • avatar
    PurnawanHari

    cerita yg simple tp menarik 👍😊 kisah cinta yg penuh haru 😍

    27/01/2022

      0
  • avatar
    Jumani Ani Katenne

    best👍

    19/07

      0
  • avatar
    FrizkaSyahkila amelia

    seru

    18/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru