logo text

Bab 17 Tentang hawa nafsu

Tiba-tiba ia teringat kembali perkataan Imam Busyiri di dalam syair Burdah.
Nafsu seseorang itu seperti anak kecil (bayi), bila engkau membiarkannya (menyusu terus) niscaya ia sampai besar akan tetap suka menyusu. Tetapi bila engkau pisah (sapih), niscaya ia terpisah.
Maka palingkanlah kehendak hawa nafsumu dan berhati-hatilah. Jangan sampai engkau memberi kekuasaan. Karena hawa nafsu apabila berkuasa ia akan dapat membunuh atau mendatangkan aib, karena ia senantiasa mengajak kepada perbuatan jahat.
Dia menghela nafasnya dalam-dalam kemudian segera bangkit berdiri dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku bajunya.
*****
Ammad tengah menyusuri jalan menuju lokasi proyek. Antara mess atau tempat tinggalnya dengan lokasi proyek tidak jauh. Hanya berjarak sekitar 50 meter. Laki-laki itu hanya menghela nafas ketika bayangan Naila tiba-tiba kembali melintas di kepalanya.
"Pak." Tiba-tiba sebuah suara memanggilnya. Ia menoleh ke sebelah kiri. Tampak seorang laki-laki menghampirinya dengan langkah tergesa.
"Ya, Man. Ada apa?" tanya Ammad sesudah laki-laki itu berada di sisinya.
Laki-laki itu menata nafasnya sebentar sebelum memulai pembicaraan.
"Pak, boleh nggak saya bertanya?" tanyanya
Laki-laki itu mengangguk. "Boleh. Kamu mau tanya apa, Man?"
"Pak, Saya cuma mau tahu sebenarnya sudah sejauh apa hubungan Bapak dengan Naila?"
Laki-laki itu hanya menghembuskan nafasnya. Dia menatap tajam bawahannya yang satu itu. Terlihat jelas ia tengah menahan emosinya.
"Kalau saya katakan Naila itu adalah calon istri saya, kamu percaya nggak?" tanya Ammad.
Laki-laki itu tertawa terpingkal-pingkal
"Tidak mungkin, Pak. Naila tidak mau menikah dengan suami orang." kata Rahman.
"Iya. Naila memang tidak mau menikah dengan suami orang, tetapi Naila butuh Ayah sambung untuk putrinya." Laki-laki itu tersenyum penuh arti
"Masa sih, Pak?"
"Kamu tidak percaya? Kalau kamu tidak percaya, ya sudah."
Laki-laki itu kembali menatap tajam bawahannya.
"Begini ya, Man. Sebaiknya kamu tidak usah  mencampuri urusan pribadi saya atau barangkali kamu sudah tidak sayang dengan pekerjaanmu?" desisnya. Matanya berkilat menahan amarah.
Dia sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Selama ini ia sudah banyak bersabar menghadapi Rahman. Bahkan kemarin malam Khairul pun mempertanyakan hal yang sama. Entah kenapa mereka suka sekali mengorek-ngorek tentang kehidupan pribadi atasan mereka!
Laki-laki itu terkesiap mendengar ucapan dari bosnya
"Ja ... jangan, Pak. Saya masih sayang dengan pekerjaan saya. Jangan berhentikan saya, Pak. Saya janji saya tidak akan lagi mempertanyakan masalah Naila dengan Bapak." Wajahnya mendadak berubah pucat.
"Bagus." Ammad tersenyum puas. "Sekarang kembalilah mengawasi pekerjaan tukang-tukang itu," perintah Ammad.
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi." Lelaki itu segera menjauh dari hadapan Ammad.
Sementara itu, Ammad meneruskan langkahnya berkeliling mengawasi proses pengerjaan proyek.
*****
Heran, di mana-mana selalu saja orang-orang mempertanyakan hubungannya dengan Naila. Rahman, Khairul, bahkan ibu Diana pun selalu bertanya masalah yang satu itu.
"Tumben mukamu kusut, Mad. Ada apa?" tanya ibu Diana ketika Ammad baru saja memasuki warung makan itu.
Ahmad menghela nafas panjang. Dia tersenyum kecut.
"Gimana nggak kusut, Bu? Orang-orang di proyek pada membicarakan saya dengan Naila," keluhnya.
Wanita separuh baya itu tertawa terpingkal-pingkal. Suaranya bahkan menarik perhatian orang-orang yang sedang asyik menikmati makanan siang ini.
"Kamu sih terlalu malu-malu. Coba dong agresif sedikit. Dekatilah Naila, jujur dengan perasaan sendiri. Jangan bikin diri kamu menyesal di kemudian hari, kalau akhirnya Naila menjalin hubungan dengan laki-laki lain," tutur ibu Diana.
"Kalau Naila menjalin hubungan dengan laki-laki lain, apakah saya berhak untuk melarangnya? Bahkan sampai saat ini saya hanya mampu memberikan dia status sebagai seorang adik, tidak lebih," ucapnya.
Perempuan setengah baya itu menatap Ammad dengan iba. Ia mengerti perasaan laki-laki di hadapannya itu.
"Ibu tidak pernah berniat buruk pada kalian. Aku hanya ingin melihat kalian bersatu, walaupun status kamu sekarang adalah laki-laki yang beristri."
"Naila itu sudah kuanggap seperti keponakan sendiri. Selama ini dia begitu keras berjuang untuk hidupnya. Ibu lihat kamu itu laki-laki baik dan Ibu percaya, kamu bisa membimbing Naila untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi."
"Tapi ya, itu terserah kalian saja. Keputusan ada di tangan kalian berdua.  Satu hal, Mad, Ibu tidak ingin Naila menjadi bahan omongan orang di lingkungan rumahnya, lingkungan proyek tempat kamu bekerja, bahkan di lingkungan warung ini."
Seketika laki-laki itu terdiam. Dia menundukkan wajah, tak berani memandang wajah ibu Diana yang menatap tajam wajahnya.
Wanita setengah baya itu benar. Bagaimanapun, hubungannya dengan Naila akan memberikan dampak yang kurang baik pada nama baik wanita itu. Apalagi status wanita itu adalah seorang janda beranak satu. Orang-orang akan berpikir, dia adalah seorang wanita nakal yang dengan mudahnya dekat dengan laki-laki yang bukan muhrimnya.
Akan tetapi dia sendiri juga tidak bisa memungkiri bahwa dia tidak mungkin memberikan status yang lebih dari sekadar adik kepada Naila. Dia mengerti benar perasaannya. Hanya saja, dia tidak mungkin menghinakan wanita itu dengan memberikan status sebagai istri siri.
"Andai saja saya seorang laki-laki yang masih sendiri, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini. Saya akan sekuat mungkin untuk memperjuangkan Naila untuk menjadi pendamping hidup saya. Sekarang rasanya itu tidak mungkin. Saya sendiri yang tidak akan rela kalau seandainya Naila harus terhina dengan menjadi istri siri saya selama di sini," ucap Ammad. Bibirnya bergetar saat mengucapkan kata-kata itu.
Wanita setengah baya di hadapannya itu mengangguk pelan. Ia tersenyum simpul.
"Ya, aku tahu, Mad. Itulah kenapa aku menilai, kamu adalah seorang laki-laki yang baik. Seorang laki-laki yang baik akan memuliakan wanita yang di cintainya," ucapnya.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Bu?"
"Jauhi Naila. Memberikan status sebagai seorang adik atau saudara pada Naila tentu saja tidak salah, tapi setidaknya kamu jangan terlalu dekat dengan Naila. Ini untuk menghindari fitnah dan omongan orang yang mungkin akan salah paham dengan kedekatan di antara kalian."
"Iya, Bu. Nanti akan saya bicarakan dulu dengan Naila." ucapnya.
Laki-laki itu mengambil dompet yang berada di saku celananya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Oh ya, Bu. Saya minta tolong untuk diberikan kepada Naila. Bilang saja kalau ini pemberian dari ibu. Soalnya kalau dia tahu bahwa itu pemberian saya, dia tidak akan mau menerimanya.
Wanita setengah tua itu mengangguk.
"Iya, Mad. Tidak apa-apa. Nanti akan aku sampaikan kepada Naila." Dia menerima lembaran uang yang Ammad sodorkan. Kemudian menyimpannya di dalam saku bajunya.
"Terima kasih ya, Bu. Maaf sudah merepotkan."

Komentar Buku (110)

  • avatar
    PurnawanHari

    cerita yg simple tp menarik 👍😊 kisah cinta yg penuh haru 😍

    27/01/2022

      0
  • avatar
    Jumani Ani Katenne

    best👍

    19/07

      0
  • avatar
    FrizkaSyahkila amelia

    seru

    18/07

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru