Ini weekend, harusnya Rindu bisa bangun lebih siang namun dia tak melakukan hal itu. Kemarin Rindu baru saja menerima gaji pertamanya bekerja di perusahaan Fahri. Semua hutang sudah dia cicil dan untungnya masih tersisa uang yang cukup untuk makan dan ongkos selama satu bulan ke depan. Pagi ini Rindu sengaja bangun pagi-pagi buta karena dia berniat untuk ke pasar. Rindu hendak menyetok bahan-bahan mentah yang bisa diolah untuk makanan satu minggu ke depan. Saat itu Rindu hendak bangun namun tangan Albani malah menariknya kembali ke pelukan. "Mas? Apaan sih?" ucap Rindu sedikit meronta. "Mau kemana? Masih pagi, kamukan libur hari ini. Dingin banget, peluk aku dulu," rengek Albani manja. "Yaudah kalau dingin pakai baju," perintah Rindu dengan nada sewot. Dia hendak bangkit lagi tapi Albani semakin kencang memeluknya. "Maaaasss, aku mau ke pasar," ujar Rindu yang mencoba melepaskan diri. Albani membuka matanya dan mengintip ke arah jam dinding di kamar itu yang menunjukkan pukul setengah lima pagi. "Baru setengah lima," "Ya terus?" Albani tersenyum mesum. Dia hendak mendaratkan ciuman ke bibir istrinya namun Rindu sudah lebih dulu menghalangi dengan menahan dahi Albani. "Kamu mau ngapain?" tanya Rindu sok polos. "Mau mengulang yang semalam," jawab Albani dengan tangannya yang mulai bergerilya ke sana kemari. Membuat Rindu sedikit mendesah. Terlebih dengan keadaan tubuh mereka yang masih sama-sama tak berbusana setelah mereka kelelahan dengan permainan panas mereka semalam. "Ih, nggak! Semalam aja udah berapa ronde kamu garap aku! Cape tau," tolak Rindu dengan wajah kesal. Bagaimana tidak kesal, Albani membuat Rindu mati kutu semalam karena harus melayani suaminya itu berkali-kali. Padahal Rindu sangat lelah dan ingin tidur, tapi Albani terus saja mengganggunya. "Mumpung aku belum kerja, jadi aku mau ngerjain kamu aja," ucap Albani jahil. Dia masih terus mencoba menyerang Rindu dengan bibir serta ke dua tangannya dan sama sekali tak perduli dengan rintihan Rindu yang memintanya untuk berhenti. Dua bulan lebih dirinya menjadi suami Rindu, Albani jelas paham titik-titik erotis yang menjadi kelemahan Rindu setiap kali dirinya mencumbu Rindu. Rindu yang paling tidak tahan jika tangan Albani sudah menyentuh area apitan selangkangannya apalagi jika suaminya itu mulai mengobok-obok ke dalam. "Mas..." desah Rindu dengan suara berat. Mendengar desahan istrinya, gairah Albani semakin terpancing. Hingga dia semakin menjadi. Meski, Albani merasakan sedikit hal aneh ketika tangannya kini masih berada di area sensitif Rindu. Hingga dia pun memastikan kembali dengan melihatnya langsung. Saat itu, Albani melihat bercak darah di tangannya. "Ndu, kamu mens?" tanya Albani seraya menghentikan aktifitasnya. Rindu menggeleng. Mana mungkin dia mens di saat hamil? Tapi saat dia melihat bercak darah di tangan Albani, Rindu jelas terkejut dan dia langsung bangkit dari tempat tidur. Benar saja apa yang dikatakan Albani, karena bercak darah itu bukan hanya ada di tangan suaminya tapi sampai tercecer di selimut yang mereka gunakan untuk menutupi tubuh telanjang mereka. Rindu panik, dia pun langsung hengkang ke kamar mandi. Ini kenapa ya? Kenapa aku jadi kayak orang mens begini? Akukan hamil? Masa sih aku mens? Atau jangan-jangan... Rindu menggeleng cepat. Kelopak matanya tampak berair saat otaknya memikirkan hal terburuk yang mungkin saja terjadi. Sejak dirinya tahu bahwa dia sedang mengandung, bukan hanya tak memberitahukan hal itu pada suaminya, namun Rindu juga tidak kunjung memeriksakan kandungannya itu ke dokter. Dia berpikir, selama dia masih bisa makan, kandungannya pasti akan baik-baik saja. Nyatanya, apa yang dia pikirkan ternyata salah. Pagi itu, setelah bersih-bersih dan memakai pembalut, Rindu pamit ke pasar pada Albani. Awalnya Albani menawarkan diri untuk mengantar tapi Rindu melarang karena dia berniat untuk mampir ke klinik sepulangnya dari pasar nanti. Semoga saja, kandungannya ini baik-baik saja. Harap batin Rindu, cemas. ***** Fahri baru saja menunaikan shalat shubuh setelah semalaman suntuk dia terjaga. Walau shalat yang dia lakukan belum sepenuhnya sempurna dan masih sering tertinggal, namun ada kalanya Fahri tetap berusaha untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim yang baik sebagaimana halnya sang Mamih yang tak pernah lelah menasehati Fahri. Malam ini, lagi-lagi Adel tidak pulang. Itulah sebabnya Fahri tidak bisa memejamkan mata barang sejenak. Bayang-bayang kemesraan yang dilakukan Adel bersama Damar dalam video amatir yang dikirimkan Gunawan padanya cukup membuat Fahri frustasi. Hampir dua minggu Fahri tidak nyenyak tidur dan tidak enak makan. Pikirannya benar-benar kalut. Dan sampai detik ini, Fahri belum tahu hal apa yang seharusnya dia lakukan untuk menyelesaikan masalahnya dengan sang istri dikarenakan waktu mereka untuk bertemu sangat jarang. Adel selalu pulang larut bahkan di saat Fahri sudah terlelap lalu keesokan harinya Adel masih tidur ketika Fahri hendak berangkat ke kantor. Karena hari ini weekend dan Fahri tidak perlu ke kantor, dia berencana untuk menunggu kepulangan sang istri di teras kediamannya sambil membaca koran dan menikmati secangkir teh manis hangat. Cuaca pagi yang sejuk membuat Fahri merasa lebih rileks meski gurat lelah akibat rasa kantuk yang mulai melanda tak bisa dia tutupi dari wajahnya. Jika boleh jujur, Fahri lelah bersandiwara terus. Berpura-pura bodoh dan tidak tahu apa-apa perihal pengkhianatan Adel dibelakangnya. Belum lagi segala kebohongan Adel yang membuat Fahri semakin muak. Fahri sadar dirinya hanya seorang manusia biasa yang memiliki batas sabar. Entah sampai kapan Fahri bisa bertahan dalam situasi ini, Fahri sendiri tidak tahu. Seandainya pun dirinya dan Adel sampai bertengkar hebat, Fahri hanya khawatir hal itu justru akan membuat Adel memutuskan untuk meninggalkannya. Fahri hanya tidak siap menerima kenyataan itu sebab perasaannya yang sudah terlalu dalam untuk Adel. Sebuah mobil tampak memasuki halaman kediaman utama keluarga Hendrawan setelah hampir setengah jam Fahri duduk manis di teras. Ditengoknya saat itu ke arah mobil mewah yang melaju kian mendekat ke arahnya. Fahri sudah tahu persis kalau mobil itu milik Damar. Fahri meletakkan koran yang sedari tadi di baca saat Damar dan Adel tampak keluar dari mobil sambil sesekali bercengkrama. Melihat keberadaan Fahri di teras sepertinya Adel sedikit terkejut. Terlebih lagi saat didapatinya Fahri yang kini mulai melangkah mendekati mereka. "Lembur lagi Del? Kenapa nggak kasih kabar semalam?" tanya Fahri saat itu ketika Adel masih terlibat percakapan serius dengan Damar. Adel berbalik dan tersenyum manja pada sang suami. "Maaf, Beb. Ponselku lowbet, makanya nggak bisa kasih kabar ke kamu," jawab Adel. Tatapan Fahri dan Damar sempat bertemu. Jika Damar memulas senyum, beda halnya dengan Fahri yang menatap dingin ke arah Damar. "Selamat pagi, Pak Fahri. Saya Damar, asisten Adel," Danar mengulurkan tangannya tapi Fahri tak menyambut. Jangankan sudi menyambut uluran tangan itu, bahkan untuk menjawab kalimat Damar saja Fahri enggan. Ekspresi Damar sontak berubah saat sapaannya tak disambut baik oleh Fahri. Lelaki itu pun menarik kembali tangannya seraya tersenyum kecut. "Akhir-akhir ini pekerjaan Adel memang sedang membludak. Itulah sebabnya Adel akan lebih sering pulang telat," ucap Damar kemudian. Fahri tetap diam. Dia memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana pendeknya masih dengan tatapan yang terus tertuju ke Damar. Entah kenapa, tangan Fahri yang telah mengepal keras di balik saku celananya terasa gatal ingin menghantam wajah Damar dengan tinjunya. Sekedar memberi pelajaran pada lelaki itu untuk tidak macam-macam lagi dengan Adel. Sayangnya, niat itu tak kunjung terealisasikan. "Yaudah kalau gitu, gue balik dulu ya, Del, sampai nanti," ucap Damar lagi merasa situasi mulai tidak nyaman. Sepeninggal Damar, Fahri menatap sekilas ke arah Adel dan melepas kasar lengan Adel yang bergelayut manja dilengannya. Lelaki itu masuk ke dalam meninggalkan Adel yang kini berjalan menyusulnya dibelakang. "Kamu kenapa, Beb? Kamu marah gara-gara aku nggak kasih kabar untuk lembur semalam?" ucap Adel ketika mereka masih sama-sama berjalan menuju kamar mereka di lantai dua. Adel berusaha menyamai langkahnya yang tertinggal oleh Fahri. Fahri tak menyahut, dia terus berjalan, masuk ke dalam kamar dan mengganti kaosnya dengan kemeja. Setelah rapi, Fahri langsung meraih kunci mobil di atas meja rias, dia hendak pergi. "Loh, kamu mau kemana, Beb? Bukannya hari ini kamu libur? Inikan weekend," cecar Adel yang kebingungan. Dia kembali mengejar Fahri. "Aku mau ke makam, Bunda," jawab Fahri singkat, padat dan jelas. "Aku ikut," seru Adel. Fahri menghentikan langkahnya dan berbalik. Cukup lama mereka saling bersitatap dalam keterdiaman. "Aku boleh minta sesuatu sama kamu, Del?" pinta Fahri dengan suara super sinis. "Apa?" jawab Adel yang mulai was-was. "Aku minta waktu satu minggu untuk kita nggak ketemu dulu. Aku mau menjernihkan pikiran sejenak dan mencari jalan keluar apa yang harus aku ambil untuk menyikapi sikap kamu terhadap aku beberapa minggu ini," jelas Fahri masih dengan tatapan tajamnya. "Emangnya kenapa sama aku? Apa salah aku sama kamu?" tanya Adel yang masih berusaha menutupi semua kebohongan juga kesalahannya. Fahri tertawa hambar. Dia kembali berjalan cepat menuju garasi mobil dan membuka bagasi dengan gerakan tergesa. Dia mengambil sebuah amplop coklat di dalam sana dan mengeluarkan isinya. "INI!" Fahri melempar foto-foto di dalam amplop coklat itu serta sebuah flashdisk ke arah Adel hingga foto-foto itu berserakan di lantai. "Aku pikir, aku nggak perlu lagi menjelaskan apa-apa sama kamu. Aku pergi dulu. Mungkin untuk seminggu ke depan, aku akan menginap di hotel," ucap Fahri pada Adel sebelum akhirnya lelaki itu melajukan kendaraannya. Meninggalkan Adel yang termangu di garasi dengan tatapan yang terus tertuju ke arah foto-foto di lantai. Foto-foto dirinya saat sedang bermesraan dengan Damar sewaktu dirinya mabuk. Baik di dalam club malam maupun di dalam mobil. ***** Rindu baru saja membeli setengah dari rincian belanjaan yang sudah dia catat dari rumah, tapi kepalanya mendadak pening diikuti rasa nyeri di area perut. Karena sakitnya tidak tertahankan, Rindu pun memilih untuk menyudahi acara belanjanya dan beranjak keluar dari pasar untuk mencari tempat duduk. Untung halte yang tak jauh dari pasar tampak sepi, Rindu pun beristirahat di sana. Dia duduk di bangku besi panjang yang terdapat di halte tersebut. Dengan wajah meringis Rindu meremas perutnya yang semakin lama semakin nyeri. Beberapa menit beristirahat Rindu merasa lebih baik hingga akhirnya dia berniat untuk segera pulang. Naasnya, begitu Rindu berdiri, dia merasakan darah segar mengalir deras di sela-sela pahanya dan turun ke kaki. Rindu panik hingga membuatnya berteriak meminta pertolongan. Hingga setelahnya, seorang lelaki berpakaian rapi tampak keluar dari mobil mewahnya yang kebetulan sedang melintas di area pasar tepatnya di halte tempat Rindu berada. Ketika sepasang netra lelaki itu melihat Rindu sedang dikerumuni banyak orang, jiwa sosialnya mendadak terpanggil. "Rindu? Kamu kenapa?" tanya lelaki itu saat berhasil menerobos orang yang mengerumuni Rindu, hendak menolong. Dari ekpresinya, dia terlihat khawatir. "Pak Fahri? Tolong saya Pak, antarkan saya ke rumah sakit, tolong..." ucap Rindu dengan derai air matanya yang membanjir di pipi. Rindu benar-benar takut.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (86)
saputraIndri
ceritanya baguus bgt kak, kalo baca jadi pengen nangis deh 🥹🥹
sukses selalu untuk cerita²nya yaa kak, semangat untuk cerita terbaru 💪💪
ceritanya baguus bgt kak, kalo baca jadi pengen nangis deh 🥹🥹 sukses selalu untuk cerita²nya yaa kak, semangat untuk cerita terbaru 💪💪
27/07/2022
0bagus, sangat menarik
24/08
0cerita nya bagus banget 👍👍👍👍🥰
26/03
0Lihat Semua