logo text

Part 50. Mall dan Alamat Sherly

Hingga Reivan menghilang dari balik ambang pintu, Anin masih terus saja memandangnya dengan hati yang semakin terasa perih.
"Anindya … mengapa masih berdiri? Kamu tidak sarapan?" tegur Nenek padanya.
Anin menolehkan tatapan sayunya pada Nenek. "Eng … iya Nek," jawab Anin serba salah. Dengan wajah yang masih begitu muram, Anin menarik kursi dari depan meja untuk duduk dan ikut sarapan. Kali ini perasaan Anin benar - benar tak nyaman. Ia tak bisa membohongi dirinya, ia tidak ingin sarapan pagi itu. Anin terlihat hanya mengaduk - ngaduk piring nasinya dengan sendok. Tanpa menyuapnya sedikit pun.
"Anin … kenapa nasinya belum juga di makan? Apa kamu sedang tidak enak badan?" geruduk Nyonya dengan banyak pertanyaan. Dan membuat dada Anin semakin sesak.
Anin menggeleng cepat, "Tidak Mah! Anin sehat kok."
"Lalu, kenapa dari tadi kamu hanya memainkan sendok dan nasi? Nanti mubajir," nasihat Nyonya mengingatkan.
Anin terdiam lesu, ia terlihat menunduk.
Nenek Zyl yang sedang asik makan melirik keduanya. Tatapannya lebih tertuju pada Anin, wanita tua itu tahu betul raut wajah Anin saat ini tengah begitu sendu. Ia lalu memutuskan berhenti sejenak menyantap sarapannya. Nenek Zyl tampak melepaskan sendok yang sedari tadi ia pegang. "Sudahlah Nadia, jangan memaksanya untuk makan!" tegur Nenek menghela.
"Tapi Bu, Nadia takut dia jatuh sakit," timpal Nyonya khawatir.
Nenek Zyl tampak menghela nafasnya. Ia memperhatikan Anin yang kini duduk di seberangnya dengan wajah serius. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke kursi yang ada di samping Anin. Beberapa detik kemudian, mengerti apa yang tengah gadis itu rasakan. Nenek Zyl paham betul Anin sedang gundah gulana.
"Anin … Nenek tahu kalau saat ini hati kamu sedang di landa gelisah. Kamu pasti memikirkan Reivan bukan?" tukas Nenek bertanya.
Anin mendongakkan kepalanya. Dan menatap Nenek Zyl dengan raut wajah hambar. Lalu mengangguk jujur. Nenek Zyl tersenyum, "Tenanglah … Reivan saat ini memang tengah sangat sibuk. Kalau dia punya banyak waktu luang, dia pasti akan berkumpul dengan kita seperti biasanya."
"Tapi …" ujar Anin terhenti.
"Tapi apa? Sudahlah, berhenti mencemaskannya. Kamu istrinya dia tidak akan melupakanmu," tukas Nenek meyakinkan.
Anin mengalihkan pandangannya pada Nyonya. Nyonya terlihat tenang, ia mengangguk setuju dengan ucapan Nenek. "Sekarang habiskan sarapanmu," imbuh Nyonya lagi. Anin tersenyum patuh, dan ia pun mulai menyantap sarapannya.
Mereka bertiga melanjutkan sarapan.
"Nenek punya ide," ujar Nenek menjeda mereka yang kini tengah menyantap makanan.
"Ide apa Bu?" sahut Nyonya cepat.
"Bagaimana kalau kita jalan - jalan?" ungkap Nenek melirik keduanya. "Lagi pula aku sudah lama tidak keluar," ucap Nenek lagi.
"Memangnya Ibu mau ke mana?" tanya Nyonya penasaran.
"Kita akan jalan - jalan dan berbelanja di mall saja. Bagaimana? Anin sepertinya butuh hiburan, ia terlihat suntuk karena terus di tinggal Reivan," sentil Nenek menggoda.
Nyonya terkekeh lucu mendengarnya. "Iya, sepertinya kamu kesepian," sahut Nyonya membenarkan.
"Kalau begitu Anin oke Mah. Terserah Nenek dan Mamah saja, Anin ikut," jawabnya menerima.
"Oke, hari ini kita akan jalan - jalan," sahut Nyonya sumringah.
Mereka bertiga sepakat, akan pergi ke mall siang hari.
Reivan baru saja menaiki mobilnya, setelah bertemu dengan Manager cafe tempat Sherly bekerja. Ia sudah berbicara dengan pemilik cafe tersebut. Reivan terpaksa harus bercerita tentang hubungannya dengan Sherly, demi mendapatkan alamat wanita itu. Keinginan Reivan begitu menggebu, untuk segera bertemu dengan wanita yang pernah mengisi hatinya itu. Jauh dalam lubuk hatinya, yang paling dalam. Ia belum sepenuhnya bisa melupakan Sherly. Reivan masih berharap dapat kembali menjalin hubungan dengan wanita itu. Mobil Reivan kini tengah menuju alamat rumah Sherly.
Tetapi tiba - tiba, ponsel yang ada dalam saku celananya berdering nyaring. Reivan tidak menggubriskan bunyi ponselnya. Ia terus saja fokus menyetir. Mobil Reivan melaju cepat. Namun alat komunikasi itu terus saja berdering. Seolah mendesak Reivan untuk segera mengangkatnya. Reivan terpaksa berhenti di sepertiga jalan. Dengan raut wajah emosi, ia melihat layar ponselnya.
"Maya," ucap Reivan ketus. Maya adalah sekertaris Reivan di kantor. Dengan wajah kusut Reivan menerima panggilan di ponselnya.
[ Ada apa Maya? ]
Terperanjat. [ Maaf Pak, hari ini kita ada meeting mendadak. Bapak harus hadir! ]
Reivan menepuk jidat. [ Batalkan saja meetingnya, aku saat ini sedang sibuk ]
[ Maaf Pak, meeting kali ini sangat penting. Saya dapat kabar kalau Bapak kemarin membatalkan meeting di luar. Dan hal ini sudah di ketahui Pak Darma. Jadi Bapak harus segera datang ke kantor! ] tegas Maya.
Mendengar penjelasan Maya Reivan tak bisa berkutik. Ia kaget, kalau Ayahnya sudah mengetahui berita batalnya meeting di cafe malam itu. Ia melenguh.
[ Oke baiklah, aku akan segera ke kantor ] sahut Reivan pasrah seraya menutup teleponnya.
Reivan terlihat begitu kesal. Hingga ia memukul - mukul setir mobilnya berulang kali. "Arrkkgghh!" teriaknya geram.
Siang hari tiba …
Suasana di pasar swalayan saat itu, tengah begitu ramai. Dengan kunjungan banyak orang. Ada yang sekedar jalan - jalan dan nongkrong untuk hiburan. Ada juga yang terlihat berbelanja bulanan. Dan ada juga yang singgah untuk makan siang dan berkumpul bersama teman-teman.
Tampak Anin, Nyonya, serta Nenek Zyl keluar dari salah satu tempat makan. Di pusat perbelanjaan terbesar di kota tersebut. Ketiganya terlihat usai makan siang. Mereka akan lanjut cuci mata dan berbelanja.
Nanti lagi yaa …
Terima kasih sudah membaca.

Komentar Buku (155)

  • avatar
    LimHyeRie

    akhirnya happy ending setelah menanti kelanjutan ceritanya

    09/04/2022

      0
  • avatar
    ANajma

    bagus

    10/11

      0
  • avatar
    Zefanya Putri

    seru ceritanya

    05/09/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru