Tidak terasa satu purnama telah berlalu, Adam meninggalkan Sari seorang diri. Wanita itu menatap nanar malam yang tampak gelap tanpa bulan dan bintang yang menerangi, sekalam kehidupannya saat ini. Kini mata itu tidak lagi terlihat indah, hanya memancarkan kesedihan dan kehilangan yang begitu dalam. Sari menjalani hari dengan sangat berat, tanpa kehadiran orang-orang yang dicintainya. Wanita itu mencoba untuk bangkit dengan memegang segumpal hati yang masih selalu menyimpan asa. Berusaha dengan ikhlas menerima takdir yang telah merenggut kebahagiaan dari hidupnya. Namun, Sari selalu jatuh dan terjatuh lagi dalam kesedihan yang tiada bertepi. Ia pun rapuh dan terpuruk dalam nestapa yang entah kapan berakhirnya. Sari berdoa dan berzikir di setiap malam, tanpa lelah wanita itu terus menyebut Asma Allah. Hanya dengan melakukan itu ia mampu bertahan hingga kini. Sari yakin pasti ada hikmah di balik semua cobaan dan ujian di dalam hidupnya. Bagaikan air yang mengikuti arus, begitu pun dengan Sari. Pasrah menjalani garis hidup yang telah ditakdirkan oleh Sang Khalik. Ia telah kehilangan semangat hidupnya, apalagi sampai sekarang Yusuf belum ditemukan keberadaannya. Entah Adam memindahkan putranya ke mana. Padahal semua pesantren di Jawa Tengah sudah Bayu dan Jaka telepon, tetapi tidak ada santri yang bernama Yusuf. Semakin hari kondisi Sari kian memprihatinkan. Wanita itu terlihat pucat dan hanya terbaring lemah di atas tempat tidur. Kini Jaka dan istrinya yang merawat Sari, sedangkan Ningsih hanya sesekali datang karena sedang hamil muda. Sehingga membuat Jaka jadi khawatir akan kesehatan kakaknya. Sebenarnya Sari tidak mau menjadi beban buat adik-adiknya, ia sudah berusaha untuk makan. Namun, entah mengapa setiap makanan yang masuk ke perutnya selalu keluar kembali. Sehingga tubuh Sari kian melemah karena sisa tenaganya terkuras habis. “Bagaimana kondisi, Teteh?” tanya Bayu ketika datang untuk menengok kakak iparnya itu. “Semakin memburuk, Teteh selalu muntah setiap makan. Saya khawatir sekali bagaimana kalau kita bawa ke rumah sakit. Biar dapat infus agar kondisinya membaik,” jawab Jaka sambil menyarankan. “Aku setuju,” sahut Bayu yang sependapat dengan Jaka, “ayo segera kita bawa Teteh!” ajaknya kemudian. Tanpa membuang waktu lagi, Jaka dan Bayu segera membawa Sari ke rumah sakit terdekat. Sari langsung mendapatkan perawatan, tampak selang infus menancap di lengannya. Tidak lama kemudian seorang dokter datang untuk memeriksa kondisi wanita itu. “Kakak saya sakit apa Dok?” tanya Jaka dengan cemasnya ketika melihat dokter keluar dari kamar inap Sari. “Menurut hasil pemeriksaan awal saya, kakak Anda sedang hamil,” ujar dokter itu memberitahu. Bayu dan Jaka tampak tercengang mendengarnya dan berucap bersamaan, “Alhamdulillah ….” “Bapak tenang saja! Saya akan kasih vitamin dan obat mual supaya ibu Sari bisa makan agar kondisinya membaik,” ujar dokter itu kembali. “Baik Dok,” sahut Jaka dengan senang, “Semoga anak itu bisa membuat Teteh tidak sedih lagi,” sambungnya kepada Bayu yang tampak mengangguk. Perlahan-lahan Sari merasakan bertenaga kembali dan tidak selemah kemarin. Mungkin karena cairan infus yang masuk ke tubuhnya. Tidak lama kemudian ia melihat Jaka dan Bayu datang dengan seulas senyum yang mengembang. “Ada kabar baik, Teteh ternyata sedang hamil,” ujar Jaka memberitahu. Sari tampak terkejut mendengarnya, ia merasa haru dan senang sekali. Ternyata Allah telah memberikan anugerah terindah yang begitu besar di tengah kesedihannya. “Alhamdulillah, Allahu Akbar," ucap wanita itu sambil menyebut asma Allah. “Untuk sementara waktu, Teteh di sini dulu ya! Sampai lebih kuat baru kita pulang,” saran Bayu yang disambut anggukkan oleh Sari. Tiba-tiba Sari seolah mendapatkan semangat baru. Ia langsung minum obat dan berusaha untuk makan. Tekadnya untuk bangkit dari rasa terpuruk semakin besar, meskipun jauh di lubuk hatinya masih terselip kesedihan yang mendalam. *** Seminggu kemudian akhirnya Sari diperbolehkan untuk pulang. Wanita itu terlihat sudah mulai tersenyum. Ia juga sudah bisa menjalani hari-harinya dengan mandiri. Sama dengan dahulu, Bayu masih memberikan perhatiannya. Kebetulan istrinya juga sedang mengandung. Jadi ia membeli dua setiap kebutuhan wanita hamil. Selain itu Ningsih juga tidak keberatan dan ikhlas untuk berbagi dengan kakaknya. “Kamu tidak usah repot-repot Kang, aku bisa menyuruh Kang Asep untuk membelikannya,” ujar Sari ketika Bayu datang membawakannya rujak dan buah-buahan. “Tidak apa-apa Teh, saya beli sekalian buat Ningsih juga,” ujar Bayu sambil tersenyum. “Terima kasih ya Kang, kamu selalu baik sama aku,” ucap Sari yang merasa tidak enak hati. “Iya, sama-sama,” balas Bayu sambil menahan sesuatu yang mulai bergetar hebat, “Saya pulang dulu ya Teh, Assalamualaikum …,” pamit Bayu yang tidak mau larut dalam perasaannya lebih jauh lagi. “Waalaikumsalam ...,” sahut Sari sambil memandangi kepergian Bayu. Sari kemudian mulai mencicipi rujak itu, terasa segar dan enak sekali. Ia jadi ingat ketika pertama kali makan buah mangga muda ketika hamil Yusuf dahulu. “Ibu tahu kamu berada di tempat yang aman Nak. Semoga Allah selalu melindungi di mana pun dirimu berada. Mungkin lebih baik kamu di sana sampai tiba waktunya kita bertemu lagi,” lirih Sari sambil mengingat putranya itu dalam kerinduan. Sari kemudian mengusap perutnya dengan perlahan ada keharuan dan kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya. Kemudian wanita itu berkata, “Abi, lihatlah buah cinta kita telah tumbuh dan berkembang di rahimku. Kamu yang tenang di sana ya! Aku janji akan menjaganya dengan segenap jiwa raga.” Sari tampak menyeka air matanya yang hendak tumpah. Ia bertekad untuk bangkit dan berusaha tegar untuk menjalani hidup ini. Lembayung terlihat jingga di ufuk barat. Ada keindahan yang sebentar lagi akan sirna. Terganti oleh malam yang gelap, tetapi Sari akan tetap semangat dengan setitik asa yang mulai membara. Wanita itu yakin Allah sedang mempersiapkan kebahagiaan untuknya kelak. Entah kapan dan dengan siapa biar lah waktu yang akan menjawabnya. *** Sementara itu di vila, Tuan Ibrahim tengah berdiri sambil menghisap sebatang rokok mahal. Terlihat kecemasan yang terpancar dari sorot matanya. Ia mulai merasakan kegundahan karena keluarga Al Razi sudah mendengar berita kecelakaan yang terjadi terhadap Adam. “Apa sudah ada kabar di mana Yusuf berada Saba?” tanya Tuan Ibrahim dengan serius. “Belum Tuan, keluarganya pun tidak bisa menemukan anak itu,” jawab Saba memberikan laporannya. “Rupanya Adam sudah memperhitungkan tindakanku dengan cepat. Pintar juga anak itu,” ujar Tuan Ibrahim yang tidak menyangka jika rencananya bisa dengan mudah dibaca oleh Adam. “Akan tetapi, istri Tuan Adam sekarang sedang hamil muda, “ ujar Saba memberitahu. Tiba-tiba Tuan Ibrahim tampak tersenyum senang mendengarnya, lalu ia berkata, “Bagus kalau begitu, “Pantau terus wanita itu Saba! Semoga ia mengandung anak laki- laki. Sampai waktunya tiba kita akan bertindak,” serunya kemudian. “Baik Tuan,” sahut Saba sambil pamit undur diri. Tuan Ibrahim berharap anak yang sedang dikandung oleh Sari berjenis kelamin laki-laki. Agar ia bisa merebutnya untuk mempertahankan pewaris keluarga Al Razi. BERSAMBUNG
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (196)
Aniks_yoelee
Kereenn banget ceritanya kakk 🥰
Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil
yang paling utama adalah kesabaran dan hati yg ikhlas
Sukses teruss Author
28/12/2021
0
Wulan Ndari
crita nya seru,,,tpi knpa ad penulisan yg salah "Khusnul khatimah" harus nya Husnul khatimah,,tpi crita nya greget bnget...
27/12/2021
0
Nyamox jrAira
wow..ceritanya bikin baper..mengandung banyak hikmah pelajaran hidup dan tentang agama..best novel ini👍
Kereenn banget ceritanya kakk 🥰 Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil yang paling utama adalah kesabaran dan hati yg ikhlas Sukses teruss Author
28/12/2021
0crita nya seru,,,tpi knpa ad penulisan yg salah "Khusnul khatimah" harus nya Husnul khatimah,,tpi crita nya greget bnget...
27/12/2021
0wow..ceritanya bikin baper..mengandung banyak hikmah pelajaran hidup dan tentang agama..best novel ini👍
26/12/2021
0Lihat Semua