logo text

Bab. 58 Bulan Madu

Hari ini terlihat cerah, mentari tampak bersinar dengan terang. Sinarnya yang hangat menerobos kabut-kabut hingga membuatnya terurai entah ke mana.
Hari ini Yusuf pertama kali masuk sekolah. Bocah itu terlihat senang sekali akan memasuki dunia pendidikan. Bahkan semua perlengkapan sudah disiapkan dari kemarin.
“Asyik hari ini Yusuf mulai masuk sekolah,” sorak bocah itu ketika berada di meja makan.
“Kamu harus belajar yang rajin agar jadi anak yang pintar,” timpal Al menyemangati.
"Iya Abi," jawab bocah itu sambil mengangguk kecil.
“Yusuf cepat habiskan sarapannya, nanti terlambat!” seru Sari ketika melihat anak itu lama sekali makannya.
Yusuf segera mendorong piringnya dan berkata, "Aku, sudah kenyang Ibu."
“Ya sudah, ayo kita berangkat!” ajak Tuan Adam sambil melirik ke arah arlojinya.
Tidak lama kemudian sebuah mobil meluncur meninggalkan vila dan menuju ke salah satu sekolah swasta islami yang terdekat.
Sari dan Yusuf tampak tertegun ketika mereka sampai di tempat itu. Di mana hanya orang-orang berada saja yang mampu untuk belajar di sekolah itu.
“Abi saja yang mengantar Yusuf, ibu tunggu di sini ya,” ujar Sari setelah melihat penampilan para ibu-ibu yang mengantar anaknya sekolah di tempat itu.
“Kenapa?” tanya Tuan Adam dengan heran.
“Kepala ibu pusing,” jawab Sari berbohong. Padahal ia merasa tidak percaya diri karena penampilannya yang sederhana.
“Ayo Abi, cepat!” ajak Yusuf yang sudah tidak sabar mau masuk sekolah.
Akhirnya Tuan Adam mengantar putra untuk masuk kelas. Tidak lama kemudian ia sudah kembali lagi ke mobil. Kemudian mereka segera meninggalkan sekolah. Di sepanjang perjalanan Sari dan Al tampak terdiam satu sama lain.
“Besok aku sudah mulai masuk kerja, jadi kamu yang akan mengantar Yusuf sama Kang Asep ya!” ujar Tuan Adam memecah kebekuan di antara mereka.
“Iya,” jawab Sari yang terlihat ragu.
Sari masih merasa malu mengantar Yusuf. Ia minder dan tidak percaya diri untuk datang ke sekolah bonafit itu. Wanita itu takut akan jadi bahan cemooh oleh para wali murid yang lain. "Abi, bisa tolong antarkan saya ke pasar?" tanya Sari memberanikan diri.
Tuan Adam tampak mengernyitkan dahinya dan balik bertanya, "Buat apa?"
"Saya mau beli beberapa gamis," jawab Sari yang sambil tertunduk.
Tuan Adam hanya mengangguk kecil. sambil tetap fokus menyetir. Akhirnya mobil itu berbelok ke arah sebuah hotel bintang lima yang ada di kota itu.
“Ayo turun!” ajak Tuan Adam ketika mereka tiba di sebuah hotel.
Sari tampak terkejut ketika suaminya mengajak ke hotel bukan tempat yang ia minta. Tanpa bertanya lagi Sari segera mengikuti Tuan Adam untuk masuk ke tempat itu.
Mereka memasuki sebuah kamar hotel yang megah. Dengan fasilitas mewah tentunya.
"Abi kita mau apa ke sini?" tanya Sari sambil menelisik ke sekeliling ruangan itu.
Tuan Adam tidak menjawab, ia segera membuka jendela kamar itu. Seketika semilir angin pegunungan yang sejuk menerobos masuk. Terlihat nan jauh di bawah sana hamparan perkebunan teh dan perbukitan tampak begitu asri dan menyejukkan dipandang mata.
"Indah bukan?" tanya Tuan Adam sambil menoleh ke arah istrinya.
"Iya," jawab Sari sambil mengangguk.
Lalu Tuan Adam segera menuju ke arah sofa yang berada di sana dan berseru. “Kemari lah!"
Sari segera mendekat dan duduk di sebelah suaminya.
"Sekarang kamu pilih baju gamis yang kamu suka!" seru Tuan Adam sambil menyodorkan ponselnya ke arah Sari.
Sari tampak mengangguk dan segera menerima handpone itu. Ia tampak terkejut ketika suaminya sudah memilih sebuah butik yang terkenal dengan harga yang mahal.
Selain itu Al juga membelikan beberapa pasang sepatu, sendal dan tas. Setelah merasa cukup, Tuan Adam kemudian melakukan transaksi pembayaran. Sari tampak tercengang ketika suaminya membelikan banyak barang untuk dirinya.
“Untuk apa Abi membelikan aku sebanyak itu?” tanya Sari ketika
"Kamu adalah istriku Sari, jadi sudah sepantasnya kamu mendapatkan semua itu," jawab Tuan Adam yang membuat Sari merasa dihargai. "Oh ya, setelah perceraianku dengan Sovia selesai. Aku memutuskan untuk menjadi WNI dan segera mendaftarkan pernikahan kita secara hukum," sambung Al yang membuat Sari terlihat sangat senang mendengarnya.
"Terima kasih," ucap Sari sambil tersenyum bahagia. Bukan karena apa yang telah suaminya berikan, tetapi cintanya telah terbalas setelah sekian lama menanti.
"Kamu tahu kenapa aku ajak ke tempat ini?" tanya Tuan Adam sambil menatap istrinya yang menggeleng. "Aku ingin bulan madu denganmu," jelas Tuan Adam sambil mendaratkan sebuah kecupan di bibir istrinya.
"Kenapa harus di tempat ini, bukankah kita bisa melakukannya di rumah?" tanya Sari yang tidak mengerti.
"Aku ingin kamu melayaniku tanpa rasa takut akan kamar itu," jawab Tuan Adam sambil menatap Sari dengan penuh gairah.
Sari pun tidak dapat mengelak lagi ketika Tuan Adam mencumbunya. Lalu Al menggendong tubuh istrinya dan berjalan menuju ke tempat tidur. Sari segera melingkarkan tangannya ke leher lelaki itu sambil tersipu malu.
Tuan Adam merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan seraya berucap, "Aku sangat mencintaimu Sari."
Sari tampak memejamkan matanya. Entah mengapa rasa takut itu hilang seketika dan mereka pun bersatu dalam lautan asmara. Tuan Adam melakukannya dengan lembut dan penuh cinta. Sehingga Sari bisa melayaninya dengan sepenuh hati dan cinta mereka pun melebur menjadi satu.
"Terima kasih," ucap Tuan Adam ketika telah usai merengkuh puncak beberapa kali. Sari terlihat mengangguk sambil membenamkan kepalanya di dada bidang lelaki itu dengan seulas senyum yang tersungging dari bibirnya.
Sungguh Al merasa puas sekali, ia mengakui memang hanya Sari yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Membuatnya jatuh cinta dan melayani hasratnya dengan baik.
Kini Tuan Adam merasa hidupnya begitu bahagia sekali bersama Sari. Ditambah lagi dengan kehadiran Yusuf yang melengkapinya. Sedikit demi sedikit luka di hati Tuan Adam pun terobati.
Setelah selesai memadu kasih dan membersihkan diri, Sari dan Tuan Adam segera melaksanakan salat zuhur. Kemudian mereka menuju ke restoran untuk mengisi perut. Al memesan sebuah meja khusus untuk dua orang saja yang menghadap ke taman.
Sari tertegun melihat makanan yang lezat sudah tersedia. Di tengah meja terdapat sebuah vas bunga dengan beberapa tangkai mawar merah. Tercium semerbak harum mewangi sehingga membuat makan siang itu terlihat sangat romantis.
"Makanlah!" seru Tuan Adam ketika Sari hanya diam memandangi semuanya.
"Iya," jawab Sari sambil menyuap makanan itu dengan perlahan. Tiba-tiba ia teringat dengan putranya. "sudah jam satu siang kita harus menjemput Yusuf," ujar Sari mengingatkan.
"Yusuf full day school, jadi dia akan pulang jam tiga sore. Kamu tidak usah khawatir di sana ia mendapat makan siang dan jajanan," jelas Al yang membuat Sari terlihat lega.
Kemudian mereka segera melanjutkan makan siang itu kembali.
"Habiskan!" seru Tuan Adam ketika melihat Sari hanya makan sedikit.
"Aku sudah kenyang," sahut Sari sambil menggeleng.
"Aku suapi ya biar cepat habis," ujar Tuan Adam sambil menyuapi istrinya.
Seketika muka Sari bersemu merah. Ia malu sekali mendapat perlakuan seromantis itu dari suaminya. Hati Sari pun jadi berbunga-bunga ketika Tuan Adam memberikan cinta dan kasih sayangnya. Lelaki itu telah berubah dari yang tadinya begitu dingin kini menjadi suami yang baik. Hal itu membuat Sari merasa menjadi seorang istri yang paling bahagia di dunia.
[Ya Allah terima kasih telah memberikan karunia ini. Ternyata dibalik luka dan air mata, Engkau memberikan aku kebahagiaan yang tiada tara. Semoga aku selalu menjadi hamba-Mu yang selalu bersyukur,] ucap Sari di dalam hati dengan harunya.
Sehabis makan siang, mereka kemudian menjemput Yusuf ketika pulang sekolah. Bocah itu terlihat senang karena di jemput oleh kedua orang tuanya.
"Bagaimana Yusuf suka sekolah di tempat itu?" tanya Sari ketika mereka hendak menuju ke rumah.
"Suka Bu, belajar sambil bermain. Terus dapat makan yang enak," jawab Yusuf dengan jujurnya.
Keluarga kecil itu tampak tertawa bahagia. Mereka terlihat riang gembira sampai tiba di rumah.
Terkadang kita selalu mengeluh tidak merasa bahagia dalam kehidupan ini. Namun, tanpa disadari ujian dan cobaan hidup sesungguhnya adalah jalan menuju kebahagiaan itu.
Tuan Adam tampak heran ketika melihat sebuah mobil mewah yang terparkir di depan vilanya. Setelah memarkirkan kendaraannya, lelaki itu segera masuk untuk mengetahui siapa yang telah datang. Al tampak tertegun ketika melihat dua orang tamu yang sangat ia kenal.
BERSAMBUNG

Komentar Buku (196)

  • avatar
    Aniks_yoelee

    Kereenn banget ceritanya kakk 🥰 Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil yang paling utama adalah kesabaran dan hati yg ikhlas Sukses teruss Author

    28/12/2021

      0
  • avatar
    Wulan Ndari

    crita nya seru,,,tpi knpa ad penulisan yg salah "Khusnul khatimah" harus nya Husnul khatimah,,tpi crita nya greget bnget...

    27/12/2021

      0
  • avatar
    Nyamox jrAira

    wow..ceritanya bikin baper..mengandung banyak hikmah pelajaran hidup dan tentang agama..best novel ini👍

    26/12/2021

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru