Michael menghentikan motornya tepat di depan gerbang utama sekolah. Evelyn turun. Agak ragu-ragu, seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi karena Michael terlihat sedang kesal, akhirnya dia tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu berjalan ke dalam area sekolah dengan langkah lambat. Para siswa sebagian besar mengenal Michael. Melihat dia tidak memakai seragam, benar-benar mengundang tatapan penasaran dari mereka. Tak satupun yang melewatinya tanpa menoleh dengan wajah bertanya-tanya. Beberapa siswa perempuan dalam kelompok lewat di depannya sambil berbisik-bisik. Bisikan mereka cukup kencang untuk didengar oleh Michael yang tengah sibuk mencoba menghidupkan motor tuanya. "Ini pertama kalinya aku melihat dia mengantar Evelyn lewat gerbang utama." "Iya juga, ya. Tapi kenapa? Bukankah biasanya tidak?" "Kau tahu apa soal pasangan." "Apa hubungannya mengantar sekolah dengan pasangan?" "Tentu saja ada. Michael dan Evelyn itu kan pasangan. Karena sebelumnya Evelyn memakai makeup tebal yang aneh, dia sebagai pacar tidak perlu khawatir. Tapi sekarang Evelyn pergi kesekolah dengan wajah polos, kecantikannya terlihat. Pacar mana yang tidak khawatir?" "Takut ditikung?" "Tepat sekali." "Haha, ternyata orang tampan seperti Michael juga khawatir pacarnya ditikung orang lain." "Apa gunanya wajah tampan jika miskin? Wajah tampan tidak bisa dimakan!" Kelompok yang bergosip itu semakin menjauh sambil sesekali tertawa. Michael tidak bisa lagi mendengar mereka namun kata-kata mereka terngiang di telinganya. Pacar? Apakah dia dan Evelyn adalah pacar? Sebelumnya dia tidak pernah memikirkan ini karena sejak awal dia mengambil tanggung jawab melindungi Evelyn tidak peduli dengan sentimen seperti itu, murni hanya untuk melindungi teman. Seiring waktu berjalan mereka berdua semakin akrab dan semakin memahami satu sama lain. Tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berniat mengubah pertemanan menjadi pasangan. Mereka bergaul sama seperti masa lalu, sebagai teman. Orang bilang kalau laki-laki dan perempuan berteman akrab maka lambat laun akan timbul perasaan suka. Apakah antara dia dan Evelyn juga begitu? Apakah dia suka kepada Evelyn? Michael tidak menemukan jawabannya bahkan ketika dia tiba di toko Barbekyu Paman Ben. Michael memarkir motornya di bagian samping toko yang agak tersembunyi kemudian masuk memutar lewat pintu belakang. Paman Ben yang kebetulan keluar membuang sampah terkejut melihat Michael datang pagi-pagi. "Michael, mengapa kau datang sepagi ini? Kau tidak sekolah?" Selama Michael bekerja di sini, Michael memang selalu datang di siang hari. Paman Ben berpikir bahwa Michael bekerja di tokonya selepas dia pulang dari sekolah. Tidak tahu kalau Michael tidak pergi kesekolah, melainkan tidur dirumah. Michael tersenyum tapi tidak mengatakan apa-apa. Bukannya tidak ingin menjawab, dia hanya tidak tahu harus mengatakan apa. Bergaul dengan paman Ben selama ini dan dia tahu seperti apa watak paman Ben. Dia pasti akan memarahinya dan menyuruhnya kembali ke sekolah jika dia mengatakan dia sengaja membolos. Pemuda itu mengambil kantong sampah dari tangan paman Ben. "Biar aku saja yang membuangnya." kata Michael, lalu dia berbalik pergi. Paman Ben hanya bisa menatap punggung Michael tanpa daya. Dia masuk ke dapur sambil mendesah. Jeremy yang mencuci daging heran melihat paman Ben. "Paman Ben, ada apa?" "Si bocah Michael itu, datang sepagi ini. Aku khawatir dia membolos." "Michael?" Jeremy berputar melihat sekeliling. "Dimana? Aku tidak melihatnya." "Dia sedang pergi membuang sampah." "Oh." Jeremy tidak begitu tertarik, jadi dia kembali mencuci daging dengan cermat. Paman Ben mengeluarkan sayuran dari kantong plastik dan mencucinya juga. Ketika Michael masuk, inilah yang dilihatnya, dua orang dewasa sedang asyik mencuci daging dan sayuran. Pertama-tama dia menyapa mereka sambil tersenyum. Dia berdoa semoga mereka tidak mencercanya dengan pertanyaan karena dia datang pagi. "Selamat pagi paman Ben, selamat pagi Jeremy." "Oh, kau sudah kembali." Paman Ben menoleh sebentar. Pria paruh baya gemuk itu menunjuk tumpukan serbet bersih tidak jauh darinya. "Pergi lap mejanya. Aku belum sempat melakukannya tadi." Michael bergegas. "Baik." Meskipun sesekali menatapnya sambil diam, Paman Ben tidak menanyainya. Terlebih ketika pelanggan mulai berdatangan satu-persatu hingga memenuhi semua meja. Ketiga orang itu sibuk tanpa ada waktu mengurus hal lain. Toko terus ramai hingga sore hari. Bahkan ketika Leila pulang sekolah, mereka masih kerepotan. Lewat jam 5, barulah toko berangsur-angsur sepi. Semua karyawan termasuk Leila dan bos toko, terduduk lemas di kursi masing-masing karena kelelahan. "Kenapa hari ini toko seramai ini?" keluh Leila. Mendengar keluhan putrinya, Paman Ben agak kesal jadi dia mengomeli putri semata wayangnya itu. "Bukankah bagus jika toko ramai, dagangan akan cepat habis dan uang juga mengalir?" Leila memutar matanya. Dia menyesal telah mengeluh. Jeremy dan Michael tertawa melihat interaksi antara ayah dan anak. Pintu toko terbuka, dan seorang gadis muda dengan seragam sekolah muncul diambang pintu. Jeremy segera berdiri menyambut, "Halo, selamat datang. Silahkan pilih meja mu. Ingin pesan apa? Di sini, selain barbekyu juga menyediakan aneka masakan daging." Evelyn melambaikan kedua tangannya di depan dadanya. "Eh, maaf, aku tidak ingin memesan. Aku datang kesini …." Evelyn berjinjit sedikit, melirik ke arah belakang Jeremy. Kemudian dia menunjuk Michael. "Aku ingin menemui dia." Jeremy menggaruk belakang kepalanya karena canggung. Dia berbalik dan memelototi Michael. "Hei, kemarilah. Dia mencarimu." Michael mendekat dengan enggan. Di berjalan keluar toko dan Evelyn mengikuti di belakangnya. Jeremy tahu kalau Michael tampan dan cukup banyak pengagum, buktinya setiap ada pelanggan gadis muda selalu meminta untuk Michael yang melayani. Namun, ini adalah pertama kalinya dia melihat gadis yang mencari Michael. Jeremy yang gampang penasaran pun mengintip dari balik kaca toko. Jaraknya cukup jauh jadi Jeremy tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Michael dan gadis itu. Dia hanya mengira-ngira. Merasakan sesuatu mendekat padanya, Jeremy menoleh kesamping. Dia terkejut melihat wajah Leila tepat disampingnya. "Apa yang kau lakukan? Kau mengintip?" Leila melirik Jeremy dengan aneh. "Kau juga mengintip, mengapa memarahiku?" "Aku tidak memarahimu. Aku hanya bertanya mengapa kau ikut mengintip." Leila tidak peduli untuk menjawab Jeremy. Dia kembali memusatkan perhatian kepada kedua orang yang berbincang disana. "Apakah mereka bertengkar?" Leila bergumam. Kerna Jeremy tepat disampingnya, dia mendengar apa yang Leila katakan. "Aku tidak tahu, tapi sepertinya Michael sedang marah dengan gadis itu." Ada secercah kilau harapan melintas di mata Leila yang tadinya redup. Sebelumnya, meskipun tidak ada yang mengatakan apakah gadis itu pacar Michael atau bukan, namun instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu diantara mereka. Dia merasa rendah diri ketika melihat gadis itu begitu cantik. Namun saat melihat interaksi mereka kurang baik, Leila mendapatkan kembali semangatnya. Dia berpikir, mungkin masih ada kesempatan untuknya. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (210)
Istianah01*Siti
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya 😘😚😘😗
sangat baguss,,sukses selalu untuk penulisnya 😘😚😘😗
04/06/2022
3bagus banget kak
13/06/2025
0bagus bnget novel nyaa KA hhuu🥲
02/06/2025
0Lihat Semua