logo text

Bab 18 Rumah Produksi Mebel

Perjalanan mereka cukup jauh. Lebih kurang memakan waktu tiga jam hanya untuk mencapai sebuah rumah produksi mebel. Saat tiba di sana langit juga sudah mulai berubah jingga, memperlihatkan para pekerja yang bersiap-siap untuk menyelesaikan urusannya.
"Apa Kau yakin mereka membawa Hillary ke tempat ini?" tanya Serina.
Mateo memperhatikan sekeliling tanpa menjawab pertanyaan yang menurutnya hanya akan membuang-buang waktu jika diladeni. Lagi pula, tujuannya hanya untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang mungkin sekarang berada dalam bahaya karena dirinya, bukan menjalin tali pertemanan atau sebagainya.
"Oh, Kalian mencari siapa?" tanya salah seorang pekerja. "Di sini bukan tempat yang bisa disinggahi dengan leluasa. Kalian bisa lihat, ada banyak pekerjaan yang membutuhkan alat pertukangan. Paku juga berserakan di mana-mana. Semua dapat melukai jika Kalian tidak berhati-hati saat melangkah."
Seorang pekerja lainnya tiba-tiba datang menghampiri. "Apa Kalian datang untuk menginap?"
"Menginap?" Serina tampak heran.
"Ya. Kami datang untuk menginap," jawab Mateo. "Bisa Anda tunjukkan ke mana arahnya? Tempat ini memiliki rute yang cukup sulit untuk ditelusuri."
"Ah, ya! Biarkan saya menunjukkan jalannya!"
Mereka akhirnya mengikuti seorang pekerja yang berbaik hati menjadi pemandu. Serina tidak melihat tanda-tanda keberadaan tempat seperti penginapan setelah keberadaan mereka berjarak jauh dari rumah produksi mebel. Pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di benaknya ketika mengikuti langkah dua orang pria yang cukup asing untuknya.
"Apa Kalian sepasang kekasih?"
Betapa Serina ingin menolak perkataan itu, tetapi tangannya yang disentuh Mateo dan juga ekspresi yang terpampang di wajah itu kini mengatakan bahwa dia tidak perlu berkomentar apa-apa. Cukup ikuti saja jalan rencana yang dirancang oleh Mateo.
"Wilayah di sini cukup asri karena berada di tempat yang jauh dari pusat kota. Kami juga tidak memerlukan peralatan yang dapat mencemari udara. Pemilik usaha mulanya membuat banyak kamar agar bisa kami tempati. Hanya saja, siapa yang betah berlama-lama tinggal di tempat kerja? Kami juga merindukan keluarga dan ingin pulang. Kami pikir itu bisa dikatakan beristirahat dibandingkan menikmati kamar dengan fasilitas bagus yang sudah disiapkan untuk kami di sini. Dan sekarang pemilik usaha mengubahnya untuk pengunjung.
Penginapan ini letaknya berada di belakang rumah produksi. Jadi, memang agak sulit menemukannya karena tempat ini lebih banyak didominasi oleh tumbuhan dan pepohonan. Sejujurnya, saya juga tidak tahu kenapa ada yang berminat menyewa kamar di tempat yang cukup jauh dari pusat kota ini. Terlebih kemarin orang penting juga ... ah, sekarang Kalian tinggal lurus ke depan sekitar beberapa puluh meter lagi dan akan menemukan tempatnya. Saya tidak bisa menemani lebih jauh."
"Terima kasih," ucap Serina dengan cepat.
"Ya! Selamat menikmati hari liburan!" Hanya itu kata-kata terakhir yang dapat mereka dengar dari sang pekerja.
Serina sedikit mendekat pada pria yang tersisa satu-satunya, lalu berbisik, "Apa Kau berpikir sama? Bukankah orang penting yang akan dikatakannya tadi adalah Hillary? Aku rasa penculiknya benar-benar orang yang berkuasa. Pasti dia orangnya, bukan?"
Mateo menolehkan kepala pada wanita setinggi bahunya itu. "Tidak perlu berbisik karena hanya ada kita berdua di sini. Aku juga perlu memperingatkanmu kalau setelah temanmu selamat, maka tidak ada lagi urusan yang perlu membuat kita bertemu."
Serina mengerjapkan mata berulang kali saat melihat Mateo berjalan lebih dulu. Dia mengikuti di belakang sambil mencebik. Pria itu sungguh keras kepala dan sulit untuk diubah pola pikirnya.
Mateo menyewa satu kamar untuk mereka berdua. Tidak adanya barang bawaan membuat resepsionis sedikit bingung. Namun, Mateo menepis semua itu dengan mengatakan bahwa ban mobil yang mereka bawa bocor sehingga mengharuskan untuk mencari penginapan sebelum gelap. Wanita resepsionis tampaknya juga percaya saja dan memberikan kunci kamar.
Ada banyak kamar di tempat penginapan tersebut, tetapi tidak sebanyak apa yang diperkirakan. Mereka tidak perlu kesulitan mencari kamar yang akan dipakai. Tidak tahu ada di kamar mana Hillary sekarang, yang jelas mereka beruntung karena tidak perlu bersusah-payah dalam keadaan kamar yang sedikit.
Saat mencapai pintu kamar mereka, bukannya masuk ke dalam sana, justru Mateo mencegah wanita yang bertolak belakang niatnya. "Kau tidak benar-benar berpikir bahwa kita akan menginap, bukan?"
Serina berpikir sejenak. "Apa maksudmu? Bukankah tadi Kau mendapatkan kunci kamar ini?"
"Aku hanya mencari cara agar kita bisa masuk ke dalam penginapan. Kau bisa memegang kuncinya."
Serina yang melihat niat untuk pergi segera berkata, "Lalu, bagaimana denganku?"
"Masing-masing kita akan mencari, dengan begitu akan lebih cepat. Penginapan ini juga tidak memiliki banyak kamar. Kita bertemu di lantai bawah dan kembali ke pusat kota secepatnya."
"Tapi—" Serina harus berhenti bicara karena pria yang ada di hadapan tadinya sudah beranjak pergi.
Mateo mengamati pintu demi pintu dengan saksama. Pada dasarnya semua terlihat sama persis dan desainnya juga menarik. Tidak heran karena pemilik penginapan adalah seorang pengusaha mebel.
Suara derit lantai kayu membuat Mateo segera menyembunyikan diri. Dia berjongkok di salah satu lemari rendah sambil sesekali melihat situasi. Di ujung sana tampak seorang pelayan datang memasuki sebuah kamar.
Mateo tidak tahu siapa yang menyewa kamar kalau tidak melihatnya secara langsung. Jika bukan Hillary, maka dia akan berpura-pura lewat atau mengeluarkan alasan yang sudah dipersiapkannya di dalam kepala.
"Oh, Anda harus makan, Nona." Semakin Mateo mendekat, suara di dalam kamar yang sedikit terbuka pintunya semakin jelas.
"Nona? Anda baik-baik saja?" Sejurus kemudian, suara itu terdengar panik. "Nona, sadarlah!"
Langkah kaki yang suaranya seperti berlari tidak dihindari. Mateo tetap berdiri di depan pintu tanpa menghiraukan pelayan yang terkejut saat hendak keluar dari dalam kamar. Hanya dibatasi oleh garis pintu, mereka sama-sama berpandangan.
"A—anda siapa?" Pelayan itu tampak sangat terkejut.
Pelayan yang mencoba untuk menutup pintu langsung ditahan. Sayangnya, Mateo sudah melihat apa yang ingin ditutupi. "Saya mendengar suara panik Anda dan berpikir bahwa saya dapat membantu."
"Memangnya siapa Anda?"
"Kebetulan saya seorang penyewa di sini." Mateo mengalihkan tatapannya ke dalam sana, seseorang tengah terbaring sekarat. "Apa wanita itu baik-baik saja? Sebaiknya kita membawa dia berobat sekarang sebelum bertambah parah."
"Sepertinya hanya tidur biasa saja. Mungkin nanti saya akan memeriksanya kembali." Senyuman yang tampak seperti dipaksakan.
"Apa Anda serius dengan itu? Saya tidak yakin jika dibiarkan akan membaik. Penginapan ini cukup angker jika dilihat-lihat. Tidak tahu harus seangker apa lagi jika wanita itu benar-benar—"
"Berhenti! M—maksud saya, bisakah Tuan tidak mengatakan sesuatu yang begitu menakutkan? Hanya saya pelayan di jam seperti ini dan saya harus menyusuri koridor yang redup setiap hari."
"Maafkan saya. Kalau begitu, bukankah kita harus membawanya berobat?"
Raut keraguan muncul di wajah pelayan sebelum anggukan kepala terlihat. "Bisakah Tuan membantu saya untuk membawanya? Ada pusat kesehatan tidak jauh dari sini."

Komentar Buku (56)

  • avatar
    FirdariniRirin

    waw sih

    26/08/2025

      0
  • avatar
    Andri Pratama

    seru

    17/07/2025

      0
  • avatar
    26Putra Muhamad Sahrinn

    suruh sekali

    10/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru