logo text

8. Lembah Rahasia

Suara kokok ayam membangunkan Windi dari tidurnya, perlahan ia membuka mata, berusaha mengenali ruang dimana dia berada.
Ingatannya melayang kepada kejadian saat ia terguling-guling di tebing, melewati lorong yang lembab, kemudian terhempas di tempat yang keras. Hal itu tidak urung membangkitkan rasa nyeri yang semula sempat terlupakan saat tidur. Tidak ayal suara rintihan keluar dari mulut Windi.
Tiba-tiba Windi teringat dengan Fina, sahabat yang mengajaknya ikut serta dengan event ini, Fina pasti tengah cemas karena keberadaan Windi yang tidak jelas.
Windi mengeluarkan ponsel dari tas pinggang yang masih ia kenakan. Ekspresinya terlihat kecewa. "Sial, tidak ada sinyal lagi," makinya dalam hati.
Namun, beberapa saat kemudian ia berseru kaget.
“Ya, Tuhan!”
Dia kaget mendapati angka di layar ponselnya yang menunjukkan tanggal 27, dan itu berarti dia telah menghilang selama 3 hari.
Gubrak!
Sebuah suara menyerupai benda jatuh terdengar dari balik lemari yang membatasi ruangan yang di tempati Windi dengan ruangan sebelah.
Windi terkejut dan refleks bangkit dari pembaringan. Suara alas kaki diseret terdengar mendekat. Windi memiringkan kepala mencoba memastikan pendengarannya.
Tiba-tiba di hadapannya Yoo-Man muncul dengan rambut kusut masai, dan mata bengkak seperti orang habis begadang semalaman. Dia mengucek-ngucek matanya sambil menguap lebar.
Windi tertawa geli. Tampang Yoo-Man yang begitu mengingatkannya pada sosok Nobita yang selalu ngantuk ketika disuruh membuat PR oleh Doraemon. Yoo-Man terlihat sangat lucu di mata Windi.
"Bagaimana lukamu, masih sakit ?" tanyanya seraya mendekat.
"Oh ... its okay ... aku merasa lebih baik," jawab Windi dengan senyum cerah.
Memang luka itu tidak lagi senyeri kemarin. Sepertinya Yoo-Man berhasil memberikan obat yang tepat untuk luka Windi. Yoo-Man tampak senang mendengar jawaban Windi.
"Oh ya, Yoo-Man-ssi, sekarang tanggal berapa?”
“Sekarang? Tanggal dua puluh tujuh. Emang kenapa?”
“Aku pingsan ya kemarin?”
“Tidak. Kamu tidak pingsan, cuma tidur nyenyak aja semalam. Memangnya kenapa, sih?” tanya Yoo-Man penasaran.
“Kalau sekarang tanggal dua puluh tujuh, kemarin tanggal dua puluh enam, kan?”
“Ya, memang. Kemarin memang tanggal dua puluh enam. Ada apa sih?” tanya Yoo-Man semakin penasaran.
“Ga, aneh aja. Seingatku aku mengikuti Tour Bike itu tanggal dua puluh lima lho, kalo semalam aku hanya tidur, mengapa hari ini tanggal dua puluh tujuh?”
“Berarti kamu sempat pingsan satu hari sebelum ditemukan Paman Lee.”
Oo, begitu rupanya. Kalau begitu wajarlah sekarang tanggal dua puluh tujuh. Berarti benar dia telah menghilang selama tiga hari.
“Oh ya ... apakah di sini tidak bisa menggunakan ponsel? Aku tidak melihat ada sinyal di layar ponselku,” tanya Windi sambil menyodorkan ponsel kearah Yoo-Man.
Dia melihat ponsel itu, lalu menggeleng.
"Tidak, di sini tidak ada sinyal. Masyarakat di sini tidak satu pun memiliki ponsel,” jawabnya sambil berlalu. "Lagi pula memang tidak ada gunanya ponsel itu di sini,” samar-samar Windi mendengar gumamannya yang menyiratkan rasa pesimis.
Windi menyipitkan mata. Mencoba menganalisa maksud dari gumaman Yoo-Man barusan.
“Memangnya kenapa? Aku tidak mengerti, setahuku Korea adalah negara yang sangat maju, jadi rasanya tidak masuk akal jika masih ada daerah yang tidak terjangkau oleh sinyal di sini," kata Windi.
“Mengapa tidak? Negara ini sama dengan tubuh manusia, pasti memiliki satu tempat yang tidak ingin diketahui atau pun disentuh oleh orang lain,” jawabnya dengan mimik misterius.
Windi semakin tidak mengerti. Tempat yang tidak ingin diketahui ataupun disentuh oleh orang lain? Ia mengulang-ulang kalimat itu dalam hati. Ada dua kata yang mungkin mendekati gambaran kalimat itu yaitu rahasia dan penyakit.
Manusia tidak menginginkan rahasianya diketahui oleh orang lain, dan manusia juga tidak menginginkan penyakitnya disentuh oleh orang lain.
Tunggu, apakah desa ini adalah lembah rahasia yang di dalamnya terdapat orang-orang dengan penyakit? Semacam tempat karantina gitu? Hiiyyy.. Windi bergidik ngeri membayangkan jika itu memang benar. Terjebak di antara orang-orang yang terkontaminasi virus mematikan sungguh bukan sebuah acara liburan yang ia inginkan.
“Kenapa? Wajahmu tiba-tiba pucat. Kamu merasa sakit?” You-Man menghampiri Windi dengan cemas melihat keringat yang bercucuran di keningnya.
“Katakan padaku, apakah ... apakah aku berada di sebuah lembah yang berisi orang-orang dengan penyakit mematikan?” tanya Windi dengan nada khawatir.
Pupil matanya membesar mendengar pertanyaan Windi, sementara mulutnya bergetar seakan sedang menahan sesuatu.
“Hahahaha ... apa? Lembah penyakit? Hahaha,” Yoo-Man tertawa lebar mendengar pertanyaan Windi barusan.
Dia tertawa lama, sampai-sampai air matanya keluar. Windi yang kebingungan semakin bingung melihat dia tertawa begitu lepas.
“No ... Windi, no .... Kamu salah paham dengan kalimatku tadi. Hihi ...,” ujarnya masih sambil menahan tawa. “Di sini memang tidak ada sinyal dan masyarakat di sini juga tidak memerlukan sinyal, karena sembilan puluh sembilan persen masyarakat di sini adalah penduduk asli yang tidak merantau ke manapun. Jika boleh aku analogikan, desa ini kurang lebih sama dengan desa suku Asmat di Papua, kamu tahu kan bagaimana mereka?” jelasnya kemudian.
Sejenak pikiran Windi melayang ke daerah pedalaman Papua yang masih sangat sulit menerima warga asing itu.
“Kamu bisa perhatikan suasana desa ini, di sini masyarakatnya masih tergolong primitif, mereka nyaman hidup dengan cara tradisional warisan leluhur mereka,” tambahnya lagi, masih geli dengan pertanyaan konyolnya.
'Ah ... konyol sekali aku menanyakan hal seperti itu,' sesal Windi dalam hati. Mulutnya mengerucut karena malu.
“Lalu ... apakah kamu sama dengan mereka? Sepertinya kamu tidak se”tradisional” mereka yang kamu bilang tadi,” tanya Windi lagi.
Meskipun hidup dengan sangat sederhana, tetapi Windi bisa melihat Yoo-Man tidaklah sama dengan mereka. Dia mengenakan pakaian biasa seperti lelaki di luar sana, memakai celana jeans dan juga kemeja.
Berbeda dengan laki-laki paruh baya yang menolong Windi kemarin. Dia mengenakan pakaian yang bahannya menyerupai goni bekas. Sepatunya pun sepatu jerami. Sepatu tradisional yang pernah ia lihat di film-film kolosal Korea.
Sepertinya pertanyaan Windi barusan mengenai tepat kesasaran. Paras Yoo-Man langsung berubah.
“Aku ... tidak penting siapa aku, yang pasti aku adalah bagian dari mereka sekarang,” jawabnya, kemudian bangkit meninggalkan Windi.
Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakannya. Karena setiap kali pertanyaan Windi menyentuh ‘sesuatu’ Yoo-Man selalu menghindar.
Namun, Windi tidak mau ambil pusing mengenai itu, masalahnya jauh lebih rumit.
'Jika daerah ini tidak dijangkau oleh sinyal, bagaimana caranya mereka akan menemukanku? Dan aku juga tidak bisa menghubungi mereka. Masa iya? Aku harus terjebak di sini? Hiyy ...,' Windi bergidik di dalam hati.
Ia idak sanggup membayangkan tubuhnya yang lama kelamaan akan berubah mengenakan pakaian seperti yang penduduk desa ini kenakan.
Kkkkrriiuuk ....
Tiba-tiba sebuah suara terdengar cukup nyaring, bahkan mungkin cukup nyaring untuk di dengar dari ruang sebelah.
Suara itu berasal dari perut Windi yang keroncongan. Hal itu menyadarkannya bahwa ia belum makan apapun sejak semalam. Ia beringsut turun dari dipan, menjejakkan kaki di lantai papan yang lembab itu mencoba untuk berdiri.
Namun, ternyata luka di pergelangan kakinya masih menyisakan perih yang teramat sangat. Membuat tubuhnya tidak seimbang, dan nyaris jatuh terjerembab.
Untungnya sebelah tangannya masih berpegang pada pinggiran dipan, sehingga selamat dari kerasnya lantai papan yang lembab itu. Yoo-Man mendengar suara gaduh yang ia ciptakan. Dia pun muncul dan langsung memapah Windi untuk bangkit.
“Kamu mau kemana?”

Komentar Buku (85)

  • avatar
    ReinaRainsword

    Bagus banget ini, rekomended dech 😘

    20/12/2021

      1
  • avatar
    publicgoldindonesia0324setiawati

    bagus banget

    11/07

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    bagus, cumn sakit hati windi ndk nikah sama pandu

    15/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru