logo text

Perjodohan Tak Terduga

Kesendirian dan kesepian mungkin menjadi dua hal yang akan selalu ada di dalam hidup Windi. Terkadang Windi merasa hidup begitu tidak adil padanya. Tidak cukupkah penderitaan yang ia alami saat kecil dulu, mengapa hingga dewasa pun ia belum juga bisa mencicip kebahagiaan. Ia sempat berpikir jika cinta Yoo Man akan membawanya pada kebahagiaan yang ia idamkan, tetapi justru cinta pria itu yang membuatnya semakin jatuh dan terpuruk dalam kubang kesedihan.
Hari ini, untuk kesekian kalinya, Windi pergi menjauh dari semua orang bermarga Han itu.
Di sebuah desa, di pulau Jeju, jauh dari siapa pun, Windi menenggelamkan diri dengan berkerja di sebuah bank daerah. Turun profesi? Turun jabatan? Terserah apa namanya, Windi tidak peduli lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, itu berarti sudah waktunya ia untuk pulang. Sebuah pesan singkat menghentikan aktivitasnya dalam berberes.
"Hm, dari Ny. Baek," gumam Windi.
Ny. Baek adalah salah satu klien penting Windi di Jeju's Bank. Bulan ini, bulan ke lima Windi bertugas menangani klien-klien individual dengan aset di atas dua juta dollar.
Sebenarnya, menangani klien individual tidak seseru menangani klien korporasi di mana selalu heboh dengan berbagai aktivitas seperti merger, akuisisi, penerbitan obligasi, dan lain-lain. Menangani klien individual lebih santai karena aktivitasnya lebih seperti konsultan yang bertugas menemani klien untuk makan dan berbelanja, sambil mendiskusikan produk-produk keuangan yang cocok untuk mereka pilih sebagai sarana investasi.
Dengan melebarkan senyum, Windi pun menekan nomor Ny. Baek.
"Halo, Ny. Baek. Oh, Anda sedang menunggu kiriman uang dari Meksiko? Baik, saya akan kabari Anda begitu uangnya masuk. Jangan khawatir, saya akan segera usulkan produk dengan bond yield terbaik untuk Anda," jawab Windi.
Setelah panggilan terputus, Windi pun membuka portfolio Ny. Baek dari laptopnya. Ia melihat baru saja ada kiriman uang masuk senilai dua ratus ribu dollar di rekening wanita itu. Dari portfolio itu, Windi akan menyusun proposal yang berisi produk untuk dipilih Ny. Baek. Memang itulah tugas utamanya, mengelola keuangan klien itu agar bisa ditempatkan dalam instrumen yang tepat agar menghasilkan return yang sebesar-besarnya.
Selain Ny. Baek, Windi juga memiliki klien lain dengan nilai aset fantastis, yaitu Ny. Kim. Wanita berusia hampir delapan puluh tahun tetapi memiliki ketelitian yang luar biasa.
Menjelaskan produk keuangan pada Ny. Kim butuh kesabaran ekstra, karena dia akan banyak mengajukan pertanyaan sehubungan dengan produk itu. Mulai dari risiko hingga besaran return yang akan didapat. Setelah itu Windi harus menunggu lagi dengan sabar sampai Ny. Kim mengambil keputusan. Dan, saat ia memutuskan untuk membeli produk itu, Windi harus bersiap untuk mendapat telepon setiap saat. Ny. Kim adalah tipe klien yang akan menghubungi di hari Minggu sekedar untuk menanyakan harga closing pada Jumat sebelumnya.
Setelah beberapa kali mendapat telepon yang 'unik' itu, Windi pun segera menyesuaikan diri. Sebelum pulang kerja, Windi akan mencetak daftar portfolio milik Ny. Kim yang datanya sudah diperbaharui, lalu mengirimkannya via fax ke rumah Ny. Kim. Jangan tanya mengapa tidak pakai email, karena tentu saja karena wanita tua itu tidak suka menggunakan gadget. Sejak itu, Ny. Kim tidak pernah lagi menelepon Windi di hari Minggu.
Cuaca sore itu cukup hangat, di kubikelnya Windi sedang menikmati segelas cokelat hangat ketika Ny. Kim menelepon minta penjelasan tentang produk investasi terbaru yang ia dengar.
"Baik, Ny. Kim. Nanti saya akan mampir sebelum pulang," kata Windi mengakhiri panggilan telepon itu.
Tepat pukul enam sore, Windi sampai di rumah Ny. Kim yang bergaya tradisional itu. Beberapa kali datang ke rumah itu membuat para pelayan yang berkerja mengenalinya.
"Silakan masuk, Nn. Windi. Ny. Kim sudah menunggu Anda di halaman belakang," sambut pelayan yang membukakan pintu..
Windi mengangguk dengan senyum ramah, lalu berjalan menuju halaman belakang.
"Oh, Windi sayang. Maaf, nenek tua ini kembali merepotkanmu," ujar Ny. Kim begitu Windi sampai di dekatnya.
"Tidak apa-apa, Ny. Kim. Saya juga kebetulan sudah mau pulang, jadi tidak merepotkan sama sekali," jawab Windi.
"Duduklah, kita minum teh hangat dulu," katanya seraya menuangkan teh untuk Windi.
Windi duduk di hadapan wanita tua itu. Menunggu dengan sabar sampai Ny. Kim selesai menuangkan teh untuk mereka.
"Sebenarnya tadi saya sudah fax-kan semua informasi yang Nyonya minta, apakah fax-nya masuk?" tanya Windi.
"Betulkah? Ah ... pasti kertasnya habis. Tunggu sebentar, biar aku periksa dulu," jawab Ny. Kim sambil berdiri.
"Biar saya saja, Nyonya," cegah Windi, tidak tega melihat wanita tua yang sudah kesulitan berdiri itu harus memeriksa mesin faxnya sendiri.
"Terima kasih, Sayang. Kamu baik sekali," ucap Ny. Kim ramah.
Windi masuk ke rumah Ny. Kim langsung menuju mesin fax yang ada di ruang tengah.
"Lho ... Windi?!"
Tiba-tiba sebuah suara yang sangat familiar terdengar menyebut nama Windi. Windi tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya saat mengenali sosok yang baru saja menyebut namanya itu.
"Kak Pandu? Kenapa Kakak ada di sini?" tanya Windi heran.
"Ini rumah nenekku," jawab Pandu.
"Nenek? Ny. Kim nenek Kak Pandu?" Windi masih bertanya dengan nada tidak percaya.
"Pandu-yah, kamu di sini? Kapan datang?" tanya Ny. Kim yang menyusul masuk ke dalam rumah.
"Baru saja, Nek," jawab Pandu, sambil memeluk Ny. Kim dengan erat.
Windi masih termangu melihat nenek dan cucu itu saling berpelukan.
"Jadi ... Kak Pandu ini cucu yang selalu Ny. Kim banggakan itu?" tanya Windi.
Ny. Kim melepaskan pelukan Pandu dengan tatapan heran.
"Kalian sudah saling kenal?" Ny. Kim balik bertanya.
"Lebih dari pada kenal, Nek. Kami dibesarkan di panti yang sama," jawab Pandu.
Ia mengambil gulungan kertas fax di tangan Windi, lalu memasangkannya ke mesin fax yang masih terbuka.
"Aigoo ... dunia ini sempit sekali. Kalau begitu aku tidak perlu lagi memperkenalkan kalian," cetusnya sambil melenggang menuju sofa.
"Jadi ... Windi ini yang mau Nenek jodohkan denganku?" tebak Pandu.
Wajah Windi langsung merona mendengar kata-kata Pandu yang dia ucapkan dengan sangat santai.
"Kentara sekali, ya?" tanya Ny. Kim dengan seringai lucu.
Pandu tertawa terbahak-bahak, membuat Windi semakin salah tingkah berdiri di tempatnya.
"Kamu tahu gak, Win? Hampir tiap hari Nenek menyuruhku datang karena ingin mengenalkan bankir kesayangannya padaku," ujar Pandu.
"Habis aku gemas, kamu masih juga menjomblo, padahal umurmu sudah tiga puluh tahun lebih," sahut Ny. Kim.
"Aku 'kan fokus berkerja, Nek," jawab Pandu.
"Mengapa kamu sibuk mengurus perusahaan orang lain? Itu SS Electronic mau diserahkan ke orang lain?"
Telinga Windi langsung berdiri mendengar Ny. Kim menyebut nama perusahaan elektronik terbesar itu.
"Itu perusahaan Nenek, bukan perusahaanku," jawab Pandu pelan.
Ny. Kim meradang mendengar jawaban Pandu, ia ingin memukul pundak cucunya itu, tetapi gagal karena tiba-tiba ponselnya berdering.
"Kalian berbincanglah dulu, aku ingin menjawab panggilan ini," katanya seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Duduklah, Win. Mari kita bercerita tentang masa depan. Seandainya saja aku tahu kalau wanita yang selalu nenek puji itu adalah kamu, aku pasti akan pulang lebih awal."

Komentar Buku (85)

  • avatar
    ReinaRainsword

    Bagus banget ini, rekomended dech 😘

    20/12/2021

      1
  • avatar
    publicgoldindonesia0324setiawati

    bagus banget

    11/07

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    bagus, cumn sakit hati windi ndk nikah sama pandu

    15/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru