logo text

Nama di Batu Nisan

"Halo, Windi. Sudah lama tidak bertemu. Apa kabar?" tanya sebuah suara yang sangat familiar di telinga Windi.
Windi terpaku. Setengah jiwanya seolah pergi meninggalkan tubuhnya.
"Han Tae Su?!" desis Windi kaget.
'Bagaimana bisa lelaki jahat itu ada di sini? Apakah dia sosok partner yang dimaksud?' tanya Windi di dalam hati.
"Ke-kenapa ka-kamu ada di—"
Kalimat Windi terpotong karena sebuah suara familiar lainnya kembali terdengar.
"Windi?! Ternyata kamu berkerja di sini? Aku sudah mencarimu ke mana-mana."
Han Tae Jun muncul dari ruangan kaca yang ada di belakang Tae Su. Ia tampak kaget, tapi juga bahagia dalam waktu yang bersamaan.
"Han Tae Jun?!" pekik Windi untuk yang kedua kalinya.
'Bagaimana bisa dua bersaudara yang paling ia benci berada di hadapannya saat ini?'
Dalam momen yang singkat itu, otak cerdas Windi langsung menganalisis. Sebuah benang merah terhubung di kepalanya. Akhirnya Windi mengulas senyum. Ya, ia tersenyum pada kebodohannya sendiri. Bukankah dari nama perusahaan saja sudah cukup jelas? JoonSoo Ratings.
'Tunggu dulu. Jika mereka adalah Han bersaudara, jangan-jangan Han Ji Wan adalah ...,' batin Windi. Sepasang matanya membola ke arah Ji Wan.
"Astaga! Betapa bodohnya aku selama ini," seru Windi. "Pantas saja aku merasa mengenalmu saat kita pertama kali bertemu dulu. Ternyata kau adalah putra orang ini," lanjut Windi.
"Saat awal bertemu sebenarnya aku sudah memberimu petunjuk," jawab Ji-Wan.
"Tidak perlu merasa dikhianati begitu, Win. Kita di sini berkerja atas dasar profesionalitas. Aku sendiri tidak pernah menyadari keberadaanmu di perusahaan ini," kata Tae Su. "Ya, setidaknya sampai masalah rating Jisung Mine & Co ini," sambungnya.
"Benar, Win. Jika saja aku tahu kamu ada di perusahaan ini, tidak mungkin aku akan mengikutimu sampai ke apartemen waktu itu," jelas Tae Jun menambahkan.
Windi hanya manggut-manggut setuju, padahal di dalam hatinya ia sudah tidak tertarik lagi untuk mendengarnya. Bagi Windi semua kalimat yang keluar dari mulut para pemilik marga Han yang berada di hadapannya itu tidak lebih dari sampah. Tidak berarti sama sekali.
"Baiklah, saya mengerti. Ji-Wan-ssi, terimakasih atas bantuanmu selama ini. Sebagai bawahanmu, aku sangat menghargainya," sindir Windi. "Jadi, mumpung para petinggi perusahaan ada di ruangan ini, mohon kabulkan permintaan saya," sambungnya.
Windi mengeluarkan surat mutasi yang ia terima dari HRD tadi siang, lalu meletakkannya di atas meja.
"Saya menolak untuk dimutasi dan memilih untuk mengundurkan diri."
Usai berkata itu Windi memutar tubuhnya lalu melangkah cepat meninggalkan ruangan itu. Namun, Tae Jun bergerak lebih cepat. Dengan cekatan ia menghadang langkah Windi.
"Tunggu, Win. Mohon beri saya kesempatan untuk meluruskan beberapa hal yang terjadi di masa lalu," pintanya dengan suara memelas.
Windi tetap mematung dengan wajah dingin. Ia sungguh tidak tertarik sedikitpun untuk membahas masa lalu yang susah payah ia lupakan itu.
"Maaf, Tuan. Saya rasa Anda salah paham. Saya tidak merasa kita memiliki sesuatu yang harus diluruskan di masa lalu," jawab Windi.
Kata-katanya dingin dan tajam menusuk. Han Tae Jun yang selama beberapa tahun terakhir menyimpan kenangan akan sosok Windi yang cerdas dan lemah lembut menjadi kaget sendiri melihat perubahan sikap gadis itu.
Hatinya bertanya-tanya, seberapa besar luka yang tertoreh di hatinya hingga ia menjadi manusia yang berbeda?
"Saya mengerti jika kamu membenci saya, tetapi saya tetap ingin kamu tahu bahwa perasaan yang saya miliki saat itu adalah tulus. Saya benar-benar jatuh cinta padamu, Windi," ujar Tae Jun.
Windi ingin mendebat kata-kata Tae Jun, tetapi suara tepuk tangan tiba-tiba menggema di udara.
Plok! Plok! Plok!
Han Tae Su bertepuk tangan disertai tawa lepasnya yang membahana.
"Wah, Han Tae Jun. Ternyata kau serius dengan perasaanmu waktu itu?" tanya Tae Su dengan nada mengejek.
"Sebaiknya kau diam saja, Hyeong. Semua ini tidak akan terjadi jika kau tidak berulah waktu itu," kecam Tae Jun.
"Cih! Lagakmu seperti orang yang paling suci saja. Memangnya siapa yang menjabat Direktur Han Enterprise setelah perempuan ini dipecat?" jawab Tae Su tidak mau kalah.
'Hah! Memangnya siapa yang menjadi direktur menggantikanku waktu itu?' tanya Windi penasaran.
"Aku bilang diaaam! Kau tidak usah memperkeruh suasana, Hyeong!" sergah Tae Jun.
"Tidak perlu emosi, Tuan. Sepertinya aku sudah bisa menebak apa yang terjadi," kata Windi dingin.
"Tidak, Windi. Jangan menarik kesimpulan terlalu cepat," kata Tae Jun putus asa. "Memang benar, akulah yang menjabat Direktur sesudahmu waktu itu, tapi ... aku lakukan bukan karena keserakahanku. Aku menerima jabatan itu hanya demi Yoo Man. Aku melindungi jabatan itu sampai kondisi Yoo Man pulih. Itu saja," jelas Tae Jun.
Jantung Windi langsung berdebar keras mendengar nama pria yang pernah memenuhi hatinya itu. Pria yang pernah menjanjikan masa depan yang cerah untuk Windi, tetapi pria itu juga yang telah menghempaskannya ke dasar jurang hingga hatinya hancur tak berbentuk.
"Apakah kamu tidak penasaran untuk mengetahui kabar Yoo Man?" tanya Tae Jun saat melihat Windi terdiam.
"Tidak!" sahut Windi cepat. "Di hatiku, nama itu sudah terpatri di atas batu nisan," sambungnya dingin.
Usai berkata itu Windi pun pergi dari ruangan itu. Tae Jun kembali berusaha mencegah, tetapi percuma Windi menepis tangan lelaki itu dengan kuat. Dalam waktu singkat, tubuh langsingnya sudah menghilang di balik pintu lift.

Komentar Buku (85)

  • avatar
    ReinaRainsword

    Bagus banget ini, rekomended dech 😘

    20/12/2021

      1
  • avatar
    publicgoldindonesia0324setiawati

    bagus banget

    11/07

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    bagus, cumn sakit hati windi ndk nikah sama pandu

    15/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru