Kota Seoul gempar. Berita tentang upaya bunuh diri pewaris Han Group menghiasi semua media. Sejumlah portal berita bahkan menambahkan judul sensasi yang membuat suasana semakin panas. Namun, yang paling mengejutkan dari itu semua, portal media nasional, The National Daily memuat berita perselingkuhan direktur baru Han Enterprise, lengkap dengan foto Windi dan Te Jun yang sedang berciuman di ruang kerja. Sial bagi Windi, karena foto itu memampang wajahnya dengan cukup jelas. Tak ayal, artikel itu pun dipenuhi dengan komentar negatif dari para pembaca. Sementara itu, Windi bersama dengan anggota utama keluarga Han lainnya masih belum mengetahui hal itu karena mereka masih berada di rumah sakit, mendampingi proses pengobatan Yoo Man. "Mengapa Yoo Man sampai berbuat nekat begini, Siomoni? Apa aku terlalu membebaninya?" tanya Windi dengan air mata yang mengucur deras di pipinya. "Tidak, Sayang. Itu tidak benar. Yoo Man hanya merasa bersalah karena menempatkanmu di posisi sulit di perusahaan. Dia merasa dirinya tidak berguna," jawab Ny. Ko menghibur Windi. Tiba-tiba Sekretaris Kim datang tergesa-gesa dengan wajah pucat menghampiri Tn. Han. Ia membisikkan sesuatu, lalu mengeluarkan ponselnya, memperlihatkannya kepada Tn. Han. Lelaki paruh baya itu awalnya mendengar dengan ekspresi datar, tapi begitu melihat ke layar ponsel Sekretaris Kim, wajahnya langsung berubah. Dengan kasar ia merampas ponsel itu dari tangan Sekretaris Kim, kembali mengamati layar ponsel itu dengan detail. Setelah beberapa saat ia mengembalikan ponsel itu kepada Sekretaris Kim sambil menatap Windi dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ia memberi isyarat, yang langsung dipahami oleh Sekretaris Kim. "Maaf, Nona Windi. Mohon ikut dengan saya, ada hal yang harus dibicarakan," bisiknya sopan. Meski bingung, Windi tetap mengangguk. Ia mengikuti Sekretaris Kim, menjauh dari ruang perawatan Yoo Man. Mereka terus berjalan, masuk ke lift, lalu berhenti di lantai tertinggi gedung rumah sakit. Setelah melewati beberapa ruangan, mereka pun sampai di ruangan meeting. Sedikit pun Windi tidak merasa heran melihat Sekretaris Kim yang bisa mengakses ruangan rumah sakit itu dengan bebas, karena rumah sakit itu memang berada di bawah naungan Han Group. "Silakan duduk, Nona," ujar Sekretaris Kim, sambil menarik satu kursi untuk Windi. "Terima kasih," balas Windi seraya duduk dikursi itu. Ia menerima tawaran Sekretaris Kim, lalu duduk dengan tenang. Walaupun hatinya dipenuhi dengan rasa penasaran, tapi ia berusaha untuk tidak menunjukkannya. Beberapa saat kemudian, Tn. Han masuk, lalu duduk di hadapan Windi. "Maaf, membuatmu menunggu," kata Tn. Han setelah duduk. Wajahnya tampak keruh penuh beban, seolah semua permasalahan yang ada di dunia ini dipindahkan ke atas pundaknya. "Tidak apa-apa, Siaboji, aku baik-baik saja," sahut Windi. Tn. Han menghela napas panjang beberapa saat, sebelum akhirnya berkata. "Apakah kamu sudah melihat berita hari ini?" tanya Tn. Han. "Berita? Berita apa?" tanya Windi bingung, sambil mengeluarkan ponsel dari kantongnya. "Tidak perlu," cegah Tn. Han. Dengan sigap ia menahan tangan Windi yang hendak menyalakan ponsel. "Lebih baik tidak melihatnya," kata Tn. Han. "Aku percaya, kamu tidak mungkin senista itu," sambungnya lagi. Mendengar kata-kata Tn. Han, Windi tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Secepat kilat ia menyalakan ponsel, lalu menelusuri berita terpanas hari itu. Bagai disambar petir, Windi kaget hingga ponsel itu terlepas dari tangannya. "I-i-itu fitnah, aku tidak melakukannya. Aku justru menampar Tuan Te Jun saat itu," bantah Windi dengan suara terbata. Wajahnya pucat pasi, tidak menyangka jika namanya sedang menjadi gunjingan orang seisi kota. "Aku tahu kamu tidak mungkin melakukannya. Tim humas kita sedang menanganinya saat ini, kamu tidak usah khawatir," ujar Tn. Han menenangkan Windi. "Tapi berita ini sudah menjadi bola liar, Siaboji. Jika kita tidak klarifikasi secepatnya, aku khawatir bisa berdampak pada perusahaan," sahut Windi khawatir. "Nanti, kita akan berikan klarifikasi secepatnya," ujar Tn. Han. Ia ingin melanjutkan kalimatnya, tapi ponsel di sakunya bergetar. "Ya, ada apa?" jawabnya tanpa basa-basi. Entah apa yang dikabarkan seseorang via sambungan telepon itu, yang jelas wajah Tn. Han terlihat sangat tidak senang mendengarnya. Ia mengakhiri pembicaraan mereka, lalu menggebrak meja dengan kuat. Windi terlonjak. Tubuhnya gemetar karena kaget. "Ada apa, Siaboji?" tanya Windi cemas. Tn. Han tidak menjawab. Ia bangkit dari duduknya, lalu bergegas pergi tanpa memberi penjelasan satu patah kata pun kepada Windi. Sementara itu Sekretaris Kim juga terlihat bingung di tempatnya berdiri. Namun, hanya beberapa saat, karena ia bergegas menghubungi seseorang lewat ponselnya. "Kamu yakin?" tanyanya, setelah sempat terjeda mendengar informasi dari seberang. Pria kepercayaan Tn. Han itu mengangguk beberapa kali, lalu menutup sambungan teleponnya. "Maaf, Nona Windi. Sebaiknya Anda pulang ke rumah lebih awal. Saya yakin, tidak lama lagi gerombolan wartawan akan mendatangi rumah sakit ini," saran Sekretaris Kim setelah menghela napas panjang berkali-kali. "Memangnya kenapa, Pak Kim? Kalau bisa aku ingin di sini dulu, menunggu Yoo Man sadar," sahut Windi. "Saya mengerti, tapi hal ini juga demi kebaikan Anda, Nona. Karena --," Sekretaris Kim tidak melanjutkan kalimatnya. "Karena apa, Pak?" tanya Windi penasaran. Sekretaris Kim kembali menghela napas panjang. Dengan berat hati, akhirnya ia berkata, "Beberapa menit yang lalu, Tn. Han Te Su mengumpulkan dewan direksi, untuk membahas pemecatan Anda."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget ini, rekomended dech 😘
20/12/2021
1bagus banget
11/07
0bagus, cumn sakit hati windi ndk nikah sama pandu
15/04
0Lihat Semua