Beberapa waktu kemudian, di kediaman Tn. Han, Yoo Man sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Wajahnya tampannya memerah, sementara rahangnya bergerak-gerak menahan emosi. "Baiklah, terimakasih sudah memberitahuku," ujarnya, lalu mengakhiri sambungan telepon itu. Tangannya terulur, meraba ke arah depan untuk menemukan nakas. Namun, ternyata nakas yang ia maksud masih jauh dari jangkauannya. Ia pun memutar tubuh dengan niat untuk duduk kembali di tempat tidur, tapi sayang perhitungannya tidak tepat. Yoo Man gagal, tanpa ada yang menghalangi tubuhnya terjatuh ke lantai. "Aaarrggh!" teriaknya putus asa. Dengan penuh amarah ia melemparkan ponsel yang ada di genggamannya ke lantai. Benda pipih itu pun hancur seketika. "Bagaimana aku bisa melindungi Windi jika mengurus diri sendiri pun aku gagal?" erangnya dengan putus asa. Kedua tangannya memukuli kepalanya berkali-kali. Saat ini, untuk pertama kalinya Yoo Man membenci ketidakberdayaannya. "Han Yoo Man?! Kamu kenapa, sayang?" Ny. Ko yang ingin menemui Yoo Man terperanjat ketika mendapati putra kesayangannya itu tengah duduk di lantai sambil memukuli kepalanya sendiri. Ia pun bergegas menahan kedua tangan Yoo Man lalu memeluknya dengan erat. "Eomma ... aku ingin mati saja, tidak ada gunanya aku hidup begini," ujar Yoo Man di sela-sela isak tangisnya. "Apa maksudmu? Kamu putraku satu-satunya. Bagaimana bisa kamu menyebut mati di hadapanku?" protes Ny. Ko yang bersusah payah menahan air matanya ikut jatuh. "Eomma lihat sendiri, kan? Aku tidak bisa berbuat apa pun sekarang. Bahkan ... hiks ... Windi ... hiks ...." Yoo Man terus menangis, tidak mampu lagi melanjutkan kalimatnya. Ny. Ko terenyuh melihat keadaan putra yang sangat ia sayangi itu. Hatinya terasa teriris melihat putra satu-satunya itu terpuruk dalam ketidakberdayaan. "Bersabar, Nak. Eomma yakin tidak akan lama lagi, kita pasti menemukan donor mata untukmu," ujar Ny. Ko menghibur Yooan. Satu tangannya mengelus kepala sang putra memberi ketenangan dan kehangatan di hati Yoo Man. "Windi pun sangat mencintai kamu. Saat ini dia tengah berjuang menggantikan posisimu di perusahaan. Jadi apa yang membuatmu menjadi rendah diri begini?" tanyanya. "Justru itu. Eomma tidak tahu, kan, apa yang Windi alami hari ini di kantor?" jawab Yoo Man dengan nada sedih. "Memangnya apa yang terjadi?" tanya Ny. Ko heran. "Windi dilecehkan oleh Paman Te Su." "Apa maksud kamu? Tidak mungkin Te Su akan melakukan itu. Dia masih memandang ayahmu," sanggah Ny. Ko. "Berarti Eomma masih belum paham sepenuhnya bagaimana karakter adik ayah yang satu itu. Dia akan melakukan apa saja untuk mengambil posisi itu dari Windi. Eomma ... haruskah kita mengorbankan gadis itu demi posisiku di Han Enterprise?" tanya Yoo Man getir. "Ssst ... jangan bicara begitu. Kita tidak mengorbankan siapapun, Nak. Windi juga tidak keberatan, kan?" sahut Ny. Ko. Sebenarnya ia juga cukup was-was dengan pertanyaan Yoo Man, tetapi saat ini mereka tidak memiliki pilihan lain untuk menjaga jabatan strategis itu. "Namun, tetap saja. Aku merasa semua ini tidak adil untuk Windi. Aku tidak ingin menyiksanya lebih lama lagi. Windi harus lepaskan posisi itu secepatnya," jawab Yoo Man tegas. "Tidak mungkin, Nak. Windi menjadi direktur karena permintaan ayahmu. Dewan direksi pun sudah menyetujuinya." "Lalu ... haruskah aku diam saja saat Windi direndahkan begitu? Eomma tahu sendiri bagaimana karakter Paman Te Su. Dia pasti tidak akan berhenti sebelum Windi turun dari jabatan itu. Hari ini dia dilecehkan, besok apa lagi?" sergah Yoo Man emosi. Bulir-bulir bening kembali meluncur dari sudut matanya. "Eomma yakin Windi pasti memiliki cara untuk menghadapi Te Su. Dia wanita yang cerdas," jawab Ny. Ko, masih berusaha menghibur Yoo Man. "Dia memang cerdas, tapi tidak cukup cerdas untuk menghadapi kelicikan paman. Aku tidak mau kehormatan dan harga diri Windi hancur karena mempertahankan posisi itu. Windi sudah cukup menderita selama hidupnya, aku tidak ingin menambah penderitaannya lagi. Asal Eomma tahu saja, saat ini sudah beredar gosip panas tentang hubungan Windi dan Paman Te Jun." "Te Jun juga melecehkan Windi?!" pekik Ny. Ko kaget. Dia tidak menyangka jika adik iparnya akan berbuat sejauh itu. "Tidak, dia tidak melakukan itu. Namun, dia menyatakan perasaannya kepada Windi," jawab Yoo Man pelan. Ada getaran halus merambat di suaranya. Siapa saja yang mendengar kalimat Yoo Man tadi pasti bisa merasakan ada kecemburuan dalam kata-katanya. "Apa dia sudah gila? Bagaimana bisa dia menyatakan perasaan pada tunangan keponakannya sendiri?" teriak Ny. Ko tidak percaya. "Aku ... memahami bagaimana perasaan paman Te Jun. Bukankah sebuah keajaiban dia bisa merasakan cinta lagi?" kata Yoo Man. "Ya, kamu benar. Tetapi, haruskah wanita itu Windi? Dia bisa temukan wanita lain di luar sana, pasti ada jika dia mau membuka hati," jawab Ny. Ko pula. "Eomma, cinta itu tidak bisa diprediksi, kan. Kita tidak akan pernah bisa mencegah hati kita menyintai seseorang. Apalagi bagi paman Te Jun yang mengalami trauma," jelas Yoo Man, mencoba untuk tetap bijaksana dan berpikir jernih. "Lantas, apa kamu akan menyerah begitu saja?" Yoo Man menghela napas panjang. Tidak mudah baginya mengambil keputusan. Namun, keadaan yang tidak mendukung saat ini membuat Yoo Man bersikap skeptis. Dia merasa dirinya egois jika mempertahankan Windi untuk tetap di sisinya. Windi berhak mendapatkan pria yang lebih baik dan lebih sempurna dari pada dirinya. "Tidak ada cara lain, Eomma. Aku ... harus mengakhiri hubungan ini."
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Bagus banget ini, rekomended dech 😘
20/12/2021
1bagus banget
11/07
0bagus, cumn sakit hati windi ndk nikah sama pandu
15/04
0Lihat Semua