logo text

10. Rindu yang Membuncah

“Itu ... hmm ...,” ujar Windi terbata.
'Oh Tuhaaann, tolong aku,' teriak Windi dalam hati.
"itu ... tamu bulananku datang,” kata Windi lagi dengan suara semakin hilang.
Ampuunn, malunya. Rasanya Windi pengen jungkir balik lalu menghilang dari hadapan Yoo-man.
“What? Ohh ... I see ... tunggu sebentar,” kata Yoo-man  sambil berlalu.
Sekilas Windi melihat wajah pemuda itu juga memerah. Ya, wajarlah berhadapan dengan masalah bulanan seorang gadis tentu bukanlah hal yang sering dia alami. Terlebih lagi di lembah ini, yang jumlah penduduknya masih bisa dihitung dengan jari.
Windi masih berdiri di pintu kamar mandi dengan perasaan serba tidak menentu menunggu Yoo-man yang tidak lama kemudian datang dengan sebuah bungkusan di tangannya.
“Ini ... lebih baik menggunakan ini dari pada sapu tangan,” ujarnya sambil menyodorkan bungkusan itu ke tangan Windi.
Suaranya serak dan rona wajahnya tidak kalah merahnya dengan Windi. Windi sangat yakin, pemuda tampan di depannya itu sekuat mungkin menahan rasa malunya di hadapan Windi.
Windi menerimanya, kemudian membukanya dengan rasa ingin tahu. Di dalam bungkusan itu ia dapati beberapa pad pembalut yang tersusun rapi. Ia terperangah.
“Dari mana kamu dapatkan ini?” tanya Windi heran.
“Itu ...  ada di dalam tas perlengkapan medis relawan waktu aku berkunjung ke Thailand,” jawab Yoo-man pelan.
“Kamu ke Thailand? Menjadi relawan? Untuk apa?” tanya Windi bertubi-tubi. Semakin penasaran dengan sosok lelaki di hadapannya.
“Ceritanya panjang, kamu pakai dulu deh itu, aku tunggu di depan perapian,” jawabnya sembari berlalu.
Wajah lelaki itu kembali merona saat mengatakan itu. Windi tersadar, lalu kembali masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Windi kembali ke depan perapian, namun tidak ada siapa-siapa di sana. 'Mana Yoo-man?' tanyanya dalam hati.
Udara semakin dingin, karena di luar salju kembali turun. Kondisi ini membuat Windi kembali menarik kain lebar tadi dan duduk di depan perapian.
Tidak lama berselang Yoo-man datang dengan membawa dua tongkol jagung bakar di tangannya.
“Waw ... dapat dari mana tuh ?” sambut Windi antusias.
“Dari paman yang menolongmu kemarin. Tadi waktu kamu tidur dia datang membawakan jagung. Lumayan buat ganjal perut,” jawabnya sambil menyodorkan satu untuk Windi.
“Sepertinya kamu dekat dengan penduduk sini. Kamu sudah berapa lama tinggal di sini?”
“Menetap di sini sih belum seminggu. Cuma aku beberapa kali pernah berkunjung ke sini bersama dengan organisasi kesehatan. Aku memberi penyuluhan tentang kebersihan di sini. Oh ... ya ... apakah kamu dan Paman Lee saling kenal ?”
“Siapa? Aku dan Paman Lee? Tidaklah, bagaimana mungkin. Memangnya kenapa?”
“Entahlah, hanya saja firasatku mengatakan dia mengetahui sesuatu tentangmu. Dia juga sangat peduli tentang keadaanmu, setiap hari pasti menanyakan kondisimu dengan nada cemas. Dan sejak kamu di sini dia juga rajin mengantarkan makanan. Padahal sebelumnya tidak pernah.”
“Tidak mungkin, itu mungkin karena dia merasa kasihan aja. Kan dia juga yang mengantarkan aku ke sini.”
“Iya ya, benar juga. Mungkin aku terlalu berlebihan.”
“Oh iya, dari tadi aku ingin tanya. Aku penasaran karena beberapa kali mendengarmu menyebut relawan, organisasi kesehatan, organisasi kemanusiaan, sebenarnya kamu siapa sih?”
“Aku? Aku hanya warga negara biasa yang menyukai aktifitas kemanusiaan. Jika kamu heran dengan kemampuanku dalam mengobati, itu semua aku dapat dalam pelatihan medis yang aku ikuti sebelum diberangkatkan ke lokasi-lokasi bencana.”
“Ooo ... begitu, tapi kemampuan bahasa Inggrismu sangat bagus lho. Rasanya sangat mustahil jika itu juga kamu dapatkan dari pelatihan.”
“Itu, karena aku sempat kuliah jurusan bisnis beberapa tahun, tapi sekarang tidak lagi.”
“Kenapa ?”
“Aku ... kabur dari rumah.”
“Apa? Kabur? Kenapa?”
Yoo-man tidak langsung menjawab pertanyaan Windi. Hanya matanya yang kembali berkabut. Dia berlutut merapikan kayu-kayu di perapian.
“Yoo-man-ssi, boleh aku tahu alasannya?” tanya Windi hati-hati.

Khawatir kalau-kalau pertanyaannya kembali membuka luka lama yang mungkin saja pria itu sedang berusaha sembuhkan.
“Aku bertengkar hebat dengan ayahku. Dia tidak suka aku menekuni dunia medis. Dia tidak mau tahu dan tidak peduli dengan alasanku, yang dia mau aku harus menekuni bisnis dan segera mengambil alih perusahaan. Aku tidak mau dan tidak suka semua itu. Aku benci duduk di belakang meja, lalu memerintah orang seenaknya.”
“Apakah ayahmu otoriter?”
“Sangat, dia adalah manusia paling tirani yang aku kenal. Jika Hitler masih hidup, aku yakin mereka pasti bersaing menjadi manusia terkejam di muka bumi ini,” sungutnya berapi-api.
Windi bisa melihat dengan jelas ada kobaran amarah yang begitu besar di mata lelaki itu.
“Sshhh, tidak baik berkata buruk tentang orang tuamu,” sela Windi. “Setidaknya itu adalah ajaran yang aku terima sejak kecil,” lanjutnya kemudian.
“Itu orang tuamu, yang lemah lembut, pengertian, dan bijaksana. Bukan ayahku yang egois, kejam dan selalu membabi buta. Tangannya selalu lebih dahulu berbicara dibanding lidahnya. Kata-katanya adalah hukum yang harus kami jalankan. Dia tidak pernah mau mendengarkan alasan apapun yang orang lain berikan. Benar-benar manusia yang miskin simpati dan empati. Aku sangat membencinya karena itu,” sahut Yoo-man kembali dengan nada gusar.
Terdengar tekanan kata yang kuat pada kalimatnya yang terakhir. Dari situ Windi bisa mengerti, betapa besar rasa kecewa yang Yoo-man rasakan kepada ayahnya.
“Tidak, itu bukan kata-kata dari orang tuaku,” desis Windi lirih.
Tatapan Windi mulai berkabut. Terlihat jelas gadis itu sudah menyimpan lara dalam waktu yang lama.
“Sorry, aku tidak mengerti,” sahut Yoo-man. Dia menatap lurus ke manik Windi.
“Kata-kata tadi bukan dari orang tuaku. Sekalipun aku yakin mereka pasti ingin mengatakan itu, tapi ... mereka tidak pernah mampu lagi berkata untuk sekedar memberiku satu kalimat pegangan dalam hidup.”
“Maksud kamu ?” tanya Yoo-man masih tidak paham.
“Kalimat itu keluar dari mulut ibu panti, orang yang merawat dan membesarkanku.”
“Kamu?”
“Ya, aku anak yatim piatu yang tumbuh di panti asuhan. Seorang donatur yang baik hati telah menjamin hidupku hingga bangku kuliah.”
“Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada kedua orang tuamu. Maaf," ucap Yoo-man. Ia menyesal telah membuka luka lama di hati gadis itu.
“Tidak apa-apa. Aku telah terbiasa dalam situasi ini. Karena itu, jika aku diberi kesempatan untuk memilih, aku lebih baik memiliki orang tua yang otoriter dari pada tidak sama sekali. Setidaknya aku memiliki seseorang yang bisa aku panggil ‘ayah’ dan bisa aku panggil ‘ibu’,” jelas Windi dengan mata berkaca-kaca.
Yoo-man terdiam mendengar kata-kata Windi. Dia menatap Windi beberapa saat, kemudian tanpa meminta izin lagi lengannya kembali merengkuh pundak Windi. Kali ini genggamannya lebih kuat. Tubuh Windi terseret sehingga merapat ke tubuhnya. Kepala Windi jatuh di pundak Yoo-man, beriringan dengan air matanya yang jatuh di pipi.
'Ayah, ibu, aku rindu kalian,' bisik Windi dalam hati.

Komentar Buku (85)

  • avatar
    ReinaRainsword

    Bagus banget ini, rekomended dech 😘

    20/12/2021

      1
  • avatar
    publicgoldindonesia0324setiawati

    bagus banget

    11/07

      0
  • avatar
    Tataaaaa

    bagus, cumn sakit hati windi ndk nikah sama pandu

    15/04

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru