Bab 34 Berita Duka

Selepas kepergian Bayu dan Alif, Ranti duduk santai di dekat kolam renang yang berada persis bersebelahan dengan tempat produksi usahanya. Bukan untuk berenang, hanya untuk menikmati suasana senja sembari menanti orang yang mengantarkan stok bahan-bahan usahanya.
Sepuluh menit duduk menunggu, beberapa karung terigu, puluhan rak telur, beberapa dus margarin dan berbagai bahan lainnya mulai diturunkan dari sebuah pick up. Bertepatan dengan kepulangan Bu Ayu dan Bu Rina yang telah selesai mengantarkan amanah Ranti kepada para tetangga.
Bu Rina pamit pulang dengan membawa tiga kotak nasi dan sebuah bolu gulung tikar. Ranti sengaja membuat bolu gulung tikar hari ini dalam jumlah yang lebih selain untuk dijual. Beberapa untuk dibagikan pada keluarga Bayu dan orang-orang yang dianggap Ranti banyak membantu mereka selama ini. Bu Ayu dan Bu Rina, salah satu diantaranya. Tak lama kemudian tampak kehadiran Bunga untuk menjemput ibunya itu. 
Gadis itu tampak turun dari motornya dan menyerahkan sebuah amplop dari dalam tas sandang yang dibawanya. Hasil penjualan hari ini dari keempat toko roti disetorkan Bunga pada pemiliknya. Biasanya Ranti akan ke toko menjelang tutup, setelah pagi harinya memastikan semua stok roti telah dikirim ke tokonya itu. Namun sore ini, Ranti tak sempat ke toko lagi.
Azan berkumandang saat Ranti memutuskan masuk ke dalam rumah. Menunaikan tiga rakaat di penghujung senja sendirian. Selalu dengan lafal doa yang sama di akhir ibadahnya. Permohonan dan pinta terbaik untuk kehidupan mereka ke depannya.
Setelah menunaikan salat Magrib, Ranti memutuskan meluruskan punggungnya dengan berbaring di tempat tidur. Tak terasa, matanya terpejam tiba-tiba. Ranti terbangun bersamaan dengan kumandang azan Isya.
Tak lama kemudian terdengar deru mobil Bayu memasuki garasi yang berada di samping rumah. Bergegas Ranti membukakan pintu yang sempat dikuncinya tadi.
"Alif sudah mengantuk tampaknya. Langsung ditidurkan saja. Abang mau salat Isya ke masjid."
Ranti mengikuti langkah Bayu yang menggendong Alif ke arah kamar. Laki-laki itu membaringkan Alif di kasur mereka, lantas bersiap pergi ke masjid yang terletak di ujung jalan. Mengganti pakaian
Gawai Ranti bedering saat Ranti hendak menidurkan putranya. Kontak nama Ibu pada layar pipih itu memanggil. Ranti dengan sigap menekan tombol hijau yang ada di sana.
"Assalamu'alaikum, Bu. Ada apa?"
Bayu urung melangkahkan kakinya keluar kamar. Tak biasanya di jam seperti ini mertuanya itu menelpon. 
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."
Bayu mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan istrinya itu. Siapa yang meninggal?
Tak lama kemudian terdengar isakan dari bibir istrinya itu. Bukan hanya isakan, raungan bahkan terdengar sesaat kemudian.
Bayu dengan cepat menopang tubuh Ranti yang terlihat tiba-tiba lunglai. Masih terdengar suara pada gawai yang tiba-tiba terlepas dari tangan istrinya itu.
"Bu, ada apa?" Bayu memutuskan melanjutkan pembicaraan dengan ibu mertuanya itu. Kondisi Ranti tak memungkinkan untuk melanjutkan panggilan telepon itu.
"Ayah meninggal barusan. Saat baru menyelesaikan salat Isya. Ranti bagaimana keadaannya?" 
Terdengar ucapan bercampur isakan dari sang ibu mertua.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Ranti syok sepertinya, Bu. Biar Bayu yang urus, Ibu tak perlu khawatir. Kami berangkat dengan penerbangan pagi besok."
Bayu langsung mengambil keputusan. Tak ada waktu banyak untuk berpikir. Ibu mertuanya tentu sama dengan kondisi istrinya saat ini. Tiba-tiba kehilangan orang yang dicintai seolah mimpi buruk yang benar terjadi.
"Abang cari tiket langsung ya. Kita ikut penerbangan pagi. Adek kuat jika Abang tinggal sendiri?" tanya Bayu sembari mendudukkan posisi Ranti bersandar pada pintu lemari. Ranti terduduk dengan air mata yang membanjiri pipi. 
"Kuat, Bang. Telpon Bapak dan Ibu, kalau mau berangkat sekalian. Kita belikan tiketnya sekalian," ujar Ranti pada Bayu.
Dalam pikiran Ranti, tentu kedua mertuanya itu akan berniat menemui ayahnya untuk yang terakhir kalinya. Terlepas apa yang terjadi di antara mereka, barangkali saja kedua orang tua Bayu itu ingin ikut melayat, memberikan penghormatan terakhir untuk laki-laki cinta pertamanya itu. Bukankah hal seperti ini akan dilakukan orang secara umum jika besannya meninggal? Kebetulan saat ini ayahnya yang lebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Bayu meraih gawainya yang tergeletak di atas kasur. Menekan kontak dengan nama Ibu pada layar pipihnya itu.
"Assalamu'alaikum, Bu. Ayahnya Ranti baru saja meninggal. Kami akan pergi dengan penerbangan pagi. Bapak dan Ibu mau ikut melayat? Biar Bayu belikan tiketnya sekarang sekalian," ujar Bayu saat hubungan jarak jauh dengan ibunya itu tersambung.
Ranti yang baru saja menegakkan tubuh dengan posisi di samping suaminya itu dapat dengan jelas mendengar jawaban mertuanya.
"Waalaikumsalam. Innalilahi wa inna ilaihi raji'un. Alangkah jauhnya kami pergi melayat, Yu! Sudahlah, kalian saja yang pulang. Lagi pula hubungan kami cuma besan. Sampaikan ucapan duka cita dan Bapak kepada ibu mertuamu, Yu."
Pembicaraan itu berakhir bersamaan dengan mengalirnya air mata deras di pipi Ranti. Niat baik Ranti untuk mengajak kedua mertuanya untuk melayat ayah kandungnya ternyata menimbulkan goresan belati tajam di hatinya. Hatinya seolah tercabik-cabik saat mendengar ucapan mertuanya itu.
Bayu tampak merasa bersalah pada istrinya. Hati Ranti yang terluka karena kepergian ayahnya bak mendapat siraman air garam dari ibu kandungnya. Memang hubungan di antara orang tuanya dengan orang tua istrinya itu hanyalah besan, bukan saudara. Namun, pantaskah kalimat seperti itu diucapkan sebagai sesama umat-Nya? Ya Allah Bu, mengapa lidahmu tak mampu dijaga agar tak selalu berkata yang menyakitkan hati istriku?

Komentar Buku (95)

  • avatar
    RopiMadropi

    skskkskakkzj

    22/01

      0
  • avatar
    Muhammad Tobib

    good

    20/12

      0
  • avatar
    AmaliaNur

    Kren ceritanya

    27/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru