Bara menatap aneh dengan kening mengerut ke arah dua curut peliharaan itu. Yang satu mengkerdilkan ketakutan dan satunya lagi memasang raut wajah masam seperti bau ketiak yang sangat kecut sekali. "Lo berdua pada kenapa, sih? Cuma disuruh beli susu sampe jadi kayak orang gila gitu. Coba apa ngomong sama gue, enggak usah main-main pakai bahasa isyarat," cibir Bara pedas dengan bibir keritingnya. "Alah ... Kalau lo cuma tinggal ngomong doang enak banget, Bar. Lah kita yang sudah muter-muter ke enam IndoMei, tapi hasilnya tetap sama. Nihil banget, enggak ada sama sekali, sialan!" umpat Galuh ngegas dengan dada bidangnya yang naik turun akibat emosinya yang kembali tersulut. "Heh, berani amat lo sama gue! Ingat, saham lo berdua masih sama gue, ya!" ancam Bara yang mengingatkan untuk kesekian kalinya. "Pokoknya gue sama Galuh enggak mau tahu, lo harus kasih kita upah lima belas juta buat menghilangkan lelah kita berdua ini," ucap Satya tegas menekan kuat di setiap katanya untuk Bara. "Oke, gue sih enggak mempersalahkan itu. Yang terpenting gue tinggal potong saham kalian berdua. Langsung kelar, deh," balas Bara seenaknya sambil mengendikkan kedua bahunya acuh. "Bagaimana, lo berdua mau atau enggak, nih?" tanya Bara mengangkat sebelah alisnya tinggi. Galuh merespon dengan memutarkan kedua bola matanya malas. Berbeda dengan Satya yang masih menggigil ketakutan dan juga tatapan matanya yang sangat kosong. "Heh, anak curut! Lo kenapa 'sih dari tadi kayak orang ketakutan batu ketemu sama dedemit!" sentak Bara yang sudah berdiri tepat di hadapan Satya. "Eh, ayam, ayam, ayam!" latah Satya yang sangat kelewat estetik. Ya meski di akhirnya mengeluarkan nama ayam dengan suara yang sangat kencang sekali. Bara sudah sangat jengah sekali menghadapi setiap waktu bersama Galuh dan juga Satya. Sungguh sangat menyiksa batin sekali. "Sudah lah, mending lo berdua pergi saja dari sini sekarang!" usir Bara dengan ketus tidak merasa iba sedikit pun oleh perjuangan dua curut itu yang sudah berjuang mencari pesanan darinya. "Enak banget lo!" teriak Galuh dan Satya bersama sambil menggeram marah. Kedua tangan Satya bertengger di kedua sisi tubuhnya. Matanya melotot tajam hampir keluar dari lubangnya. Dengan berani, Satya menunjuk langsung ke arah Bara tanpa takut sedikit pun. Entah dari mana lelaki muda itu mendapatkan keberanian sebesar itu. "Heh, Bara api neraka! Asal lo tahu, ya. Kita berdua sudah capek fisik dan finansial juga. Apalagi gue capek batin gara-gara ketemu dedemit di IndoMei!" cerocos Satya yang menggebu-gebu mengeluarkan semua unek-uneknya yang penuh dengan kekesalan. "Untung saja dedemitnya geulis banget," gumam Satya selanjutnya dengan suara pelan, tetapi Bara masih mendengarnya jelas. "Ya elah, gitu doang ngeluh terus lo. Apalagi gue yang selalu membuat saham lo semakin berkembang. Emang lo mau saham lo gue cabut mulai dari sekarang, hah!" balas Bara yang ternyata tidak terima atas ungkapan unek-unek Satya. "Alah, begitu saja lo terus," cibir Satya sinis. Lalu, Satya menarik lengan Galuh yang masih terdiam lelah tanpa berkata-kata. "Ayo, Gal. Kita pergi saja dari sini. Orang waras mah harus ngalah sama orang setres!" ucap Satya sinis selanjutnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan Bara. Sepeninggalan Satya bersama Galuh. Sosok balita mungil yang memakai seragam dokter lengkap berjalan dengan bokong yang sengaja diangkat seperti bebek berjalan. "Om, beli baju kecil yang kayak gini di mana, sih? Kok, bisa ketemu saja, sih," tanya Ratna balita yang masih terfokus mengintip pakaian bikini yang terlapisi di balik pakaian seragam dokter. "Astaga naga makan kecoa!" latah Bara terkejut bukan main. Sampai-sampai dirinya berlompat-lompat kecil. Ratna memutar kedua bola matanya jengah. "Duit boleh banyak. Tapi sayang, kagetnya enggak estetik banget, sih," cibir Ratna balita yang diakhiri dengusan sebal. Sontak Bara langsung melotot garang. "Masih kecil mulutnya bikin orang kena mental break dance, ya. Suka-suka gue, dong. Yang banyak duit gue, kenapa lo yang sirik, sih?" balas Bara sinis yang tidak mau kalah dengan Ratna. Ratna balita menggembungkan kedua pipinya karena gemas dan sudah tidak bisa membalas Bara. Lantas Ratna balita langsung berjalan ke arah sofa yang sangat lebar. Namun, sayang. Ternyata tinggi tubuhnya yang minimalis kecil tidak sampai. Sungguh sangat merepotkan sekali. "Bantuin naik dong, Om Bara. Jangan dilihat doang," pinta Ratna dengan bibir cemberut kesal. Bukannya membantu Ratna, Bara malah mengacuhkan permintaan Ratna balita itu. "Salah sendiri siapa yang punya kaki kecil kayak gitu," sahut Bara dengan ketus. "Iihhh ... Om Bara jelek ngeselin banget, sih! Awas lo kalau minta susu dan stoberi aku nanti!" pekik Ratna kencang dengan suara cemprengnya. "Bodo amat. Gue enggak butuh susu sama stroberi punya lo itu. Lagian belinya juga pakai duit gue, wey." Bara terkekeh geli mengejek Ratna. "Ini juga semua gara-gara kamu, Om Bara jelek! Kalau aku enggak jadi balita, pasti aku bisa cari duit. Sebelum hari itu tiba, kamu juga yang bikin tubuh aku jadi kayak bantal guling" cerocos Ratna bersungut-sungut. "Heh, mana ada begitu!" bantah Bara dengan mentah-mentah. "Loh, beneran kok. Meski jiwa aku yang berpindah tempat, tapi otak aku enggak akan pernah pindah!" kekeh Ratna yang tidak mau kalah juga dari Bara. Dengan gerakan cepat Ratna langsung menerjang Bara dengan cara menyeruduk seperti kambing yang sedang ngamuk. "Aahhk ... Sakit banget, bocil!" pekik Bara kesakitan sambil memegang perutnya yang terasa nyeri sekali. Ratna balita melipat kedua tangannya di depan dadanya. Senyuman meremehkan Bara tercetak jelas di bibirnya. "Makanya, jangan main-main sama anak kecil. Kayak gini juga pernah koleksi para buaya darat," ucap Ratna yang kelewat sombong. Bara menghiraukannya ucapan dari Ratna. Ia memilih menjatuhkan dirinya di kursi kebesarannya. Sesekali keluar ringisan kesakitan yang ditimbulkan dari perutnya. "Om Bara, mau aku bantu kamu biar cepat mati enggak?" tawar Ratna mengerlingkan sebelah matanya genit. Bara mendengus kesal. Melotot ke arah Ratna. "Mau apa kamu, bocil! Enggak usah yang aneh-aneh, ya!" ancam Bara tegas. "Enggak yang aneh-aneh, kok. Paling cuma yang iya-iya saja," balas Ratna yang terkekeh geli sambil menggelengkan kepalanya. Dalam hati Ratna yang kecil. Ternyata balita itu sudah menghitung mundur. Tiga ... Dua ... "Pokoknya kali ini harus berhasil juga," bisik Ratna dalam hatinya. Tiga ... Braakkh ...! "AAHHK ... BUAYA! MASA DEPAN GUE KEJEPIT, SIALAN!!" teriak Bara histeris sampai bergema seisi ruangan, akibat Ratna yang melompat hingga terjatuh di atas pangkuannya Bara. "Hahaha ... Rasain itu, Om Bara jelek!" Ratna tertawa terpingkal-pingkal. "Awas lo, nanti gue balas lebih parah dari ini!" ancam Bara sambil berdesis kesakitan. *** Halo para pembaca Permen Kaki CEO. Terima kasih sudah membaca bab terbaru dari Permen Kaki CEO. Dan jangan lupa untuk memberikan review, star vote, dan hadiah untuk penulis. Pembalasan apa yang akan dilakukan oleh Bara pada Ratna? See you next bab guys ...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mobile legen diamond
22/08
0bagus
06/08
0bagus
10/07
0Lihat Semua