Entah karena ingat bahwa mereka masih menjadi sahabat atau karena sudah bosan dengan pacarnya, malam ini Dafa tiba-tiba mengirim pesan pada Caca. Gadis yang baru beristirahat setelah berjam-jam duduk di depan komputer untuk mengerjakan tugas kuliahnya itu melirik ponselnya dengan enggan. "Ngapain nih orang nge-chat segala?" Tanya Caca pada diri sendiri disertai nada sewot. Tanpa repot-repot membaca dia segera beranjak ke kamar mandi, cuci muka, cuci kaki, gosok gigi lalu tidur. Badannya terasa sangat lelah. Bodo amat dengan pesan yang Dafa kirimkan, paling juga tidak penting. *** Pagi harinya Caca menjalani aktivitas seperti biasa, berangkat pagi walau jadwalnya siang. "Tadi malam gue dapat chat dari si sahabat," ujar Caca memberitahu ketiga temannya. Sampai saat ini dia masih belum memberitahu identitas Dafa pada mereka. "Emang masih bisa dianggap sahabat ya, orang nggak tau diri gitu?" celetuk Kiara. "Selain nggak tau diri, kayaknya dia juga nggak punya malu," timpal Fey sambil menyeruput jusnya. Ucapan kedua temannya hanya disambut dengan gelengan kepala oleh Caca, semalam dia tidak membalas pesan Dafa, tidak juga membacanya. Dia masih marah, tapi juga merasa ada yang kosong dihatinya. "Menurut gue jangan di tanggapi dulu, Ca. Kebiasaan soalnya, bikin salah terus minta maaf tapi habis itu pasti diulangi lagi," saran Fey. "Gitu aja terus sampai mampus," timpal Naya. "Gue juga nggak pernah nyariin kok, Kak. Cuma ya ... kadang ngerasa kangen aja," lirih Caca sambil memandangi jus yang ia aduk-aduk. "Wajar kalau itu, kan kalian udah bareng dari kecil. Yang nggak wajar itu sikapnya sama lo, bisa-bisanya sahabat sendiri dipermainkan." Kiara memukulkan kepalan tangannya ke meja. Tidak terlalu keras sih, jadi tidak ada yang memperhatikan kami juga. Caca merasa beruntung karena bisa mendapatkan teman seperti ketiga gadis di depannya ini. Walaupun begitu, dia masih belum bisa percaya sepenuhnya, masih ada rasa takut jika suatu saat mereka akan melakukan hal yang sama seperti Gavin dan yang lainnya. Kejahatan yang dilakukan orang dimasa lalunya masih menimbulkan luka yang membekas dan siap menganga kapan saja. Mungkin kalau Dafa bisa bersikap lebih baik dia bisa kembali percaya pada orang-orang disekitarnya. *** "Ca!" Gadis yang baru saja selesai memarkirkan mobilnya itu menoleh. Saat melihat orang yang memanggilnya, dia segera berjalan ke apartemennya dengan tergesa. "Ca, tunggu dulu." Dafa yang sudah 1 jam menunggu sahabatnya akhirnya berhasil mencekal lengan gadis itu. Namun sedetik kemudian langsung dihempas. Sesaat dia dapat melihat tatapan sinis dari sahabat yang telah disakitinya. "Aku minta maaf," ujarnya, namun gadis di depannya ini hanya memalingkan wajah. "Ca ...." "Gak usah megang-megang dan gak usah ganggu gue lagi, ngerti!" Caca kembali menghempas tangan Dafa yang memegang pipinya. "Aku tau aku salah, aku beneran nyesel. Maaf ...," lirihnya. Dia benar-benar berharap Caca bisa memaafkan kesalahannya. "Berapa kali lo kayak gini? Udah berapa kali lo minta maaf, tapi tetep diulangi lagi kan?!" Dafa masih berusaha membuat gadis itu mau memandangnya. Tapi tetap saja hanya penolakan yang dia dapat. Ada rasa sesal yang menghimpitnya karena tidak bisa mengontrol perasaannya. Lagi-lagi dia melupakan sang sahabat hanya demi wanita yang baru ditemui, dan lagi-lagi dia membuat orang yang sudah bersamanya sejak kecil kembali kecewa. Laki-laki itu maju, mencoba merengkuh Caca, tapi secepat kilat gadis itu menghindar. "Nggak usah nyari gue lagi saat lo butuh tempat berteduh. Saat ini, gue yakin hubungan lo lagi ada masalah, entah itu berantem atau putus makanya lo nyari gue," sinis Caca. Akhirnya Caca menatap netra Dafa, tapi laki-laki itu bisa melihat kalau gadis di depannya ini menyimpan begitu banyak amarah. Tatapannya terlihat sinis dan penuh dendam. "Gue juga punya hati, gue bisa capek, Daf! Mending sekarang lo pergi, gak usah muncul di hadapan gue lagi," kata Caca dengan tajam. "Gue bener-bener benci sama lo. Satu lagi, kalau mau minta maaf ... hadapin dulu Abang gue, bilang dulu sama mereka!" Lanjutnya kemudian langsung melenggang pergi. Laki-laki yang memakai hoodie hitam itu juga tidak menahannya. Benak Caca berkecamuk. Marah, sedih, rindu, dan benci menjadi satu. Apa laki-laki itu tidak pernah berpikir sebelum bertindak? Entah bagaimana persahabatan mereka selanjutnya. Sejak remaja banyak yang ia korbankan untuk Dafa, perasaan, nilai, dia bahkan hampir diperk*sa saat mencari Dafa ke dalam bar. Untung saja saat itu ada Gavin yang tiba-tiba datang dan menolongnya. Setelah masuk ke dalam apartemen, Caca langsung merebahkan dirinya. Dia ingin hidup tenang seperti 2 bulan ini, tapi lagi-lagi Dafa muncul dan mengacaukannya. Ponsel di sampingnya berdering, terpampang nama Kak Fey dilayar yang menyala. "Halo ...." "Apa? Oke-oke gue lihat sekarang." Setelah sambungan terputus, Caca buru-buru membuka akun insta*ram nya. Kesialan apalagi ini, 1 masalah belum selesai sudah muncul masalah lainnya. Tangannya mengepal kuat kala melihat video masa lalunya yang sengaja dipotong, video saat dia dituduh mencuri dompet Jenny dan dimaki oleh teman-temannya sendiri. Rupanya video itu sudah diposting ulang oleh beberapa orang, banyak yang menandai akunnya dan menyebut Caca pencuri. Dengan geram dia segera membuka laptop, mencaritahu siapa yang pertama kali memposting video itu dan mencari masalah dengannya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (91)
Rifaldy Fauzan
good
09/01
0
nafasyalaluna
gile si menarik bangett cerita nyaa, cuman aga kurg sedikitt
good
09/01
0gile si menarik bangett cerita nyaa, cuman aga kurg sedikitt
26/10
0menarik
11/09/2025
0Lihat Semua