logo text

Bab 47 Moses Menghilang

Jessica tak mampu berkata-kata. Hatinya tertusuk oleh kata-kata tajam wanita di depannya. Sarah yang melihat gadis yang disukai Moses itu diam saja akhirnya melanjutkan ucapannya dengan nada lebih lunak, “Aku menguatirkan Moses, Jess. Dua hari ini dia tak bisa kuhubungi. Ponselnya tidak aktif. Kutelepon kantornya juga tak ada yang tahu dia berada di mana. Seakan-akan lenyap ditelan bumi. Padahal aku punya klien penting yang ingin melihat beberapa ruko yang dipasarkannya. Apa kamu tahu nomor ponselnya yang lain?”
           
Lawan bicaranya tersentak. Moses menghilang? Sejak dua hari yang lalu? Bukankah itu hari terakhir mereka bertemu di rumah barunya? Rumah baru…. Oh, jangan-jangan….
           
“Setahuku dia tidak punya nomor lain, Sar. Tapi akan kucoba membantumu. Aku akan mencarinya,” jawab Jessica.
           
“Dimana?” tanya Sarah ingin tahu. Lalu wanita itu tersadar dan berkata, “Sori, kurasa aku tak berhak menanyakannya. Baiklah, kutunggu kabarmu saja, ya. Berapa nomor ponselmu?”
           
Teman Moses itu lalu mengeluarkan ponselnya yang berwarna putih berlogo apel. Diketiknya angka-angka yang disebutkan gadis di depannya satu per satu lalu disimpannya dalam memori ponselnya.
           
“Tolong telepon aku,” pinta Jessica. “Supaya bisa kusimpan nomormu juga.”
           
Sarah mengangguk. Beberapa saat kemudian terdengar ponsel Jessica berbunyi dan gadis itu mematikannya. Lalu ia menyimpan nomor itu dalam memori ponselnya. “Kalau sudah kutemukan Moses, akan kuhubungi kamu secepatnya.”
           
“Terima kasih, Jess,” ucap wanita modis itu sambil tersenyum.
           
“Sama-sama.”
           
Keduanya lalu berpisah.
***
 
“Belum nemu gaun yang kamu suka, Sica?” tanya Tommy begitu mereka sampai di tempat persewaan gaun pengantin yang ketiga. Jessica menggeleng. Dalam hati gadis itu mengeluh. Sebenarnya dia sendiri yang tidak konsentrasi mencari-cari gaun pernikahannya. Hatinya tertuju pada Moses. Dia sangat menguatirkan sahabatnya itu. Sewaktu mencoba-coba gaun pengantin di dua tempat sebelumnya, dirinya diam-diam menelepon laki-laki itu di ruang ganti, tapi rupanya benar kata Sarah bahwa ponselnya tidak aktif. Kirim pesan WA dan sms tidak masuk, email tidak dibalas. Kenapa dia tiba-tiba ngilang, ya? batin gadis itu cemas. Hanya satu tempat yang terpikir olehnya untuk mencari sahabat baiknya itu, yakni rumah tempat terakhir kali mereka bertemu. Apakah tak ada seorang pun temannya yang mengetahui tentang rumah itu?
           
“Ini kelihatannya bagus, Sica,” kata Tommy seraya menunjuk gaun yang terpasang pada salah satu manekin. Warnanya putih polos berbentuk kemben yang menutupi bagian dada. Kemben tersebut dilapisi kain brokat berwarna senada yang menutupi separuh lengan atas hingga pergelangan tangan. Bagian bawah gaun berbentuk A-line yang tidak terlalu lebar namun terlihat anggun.
           
“Boleh juga,” komentar Jessica melihat gaun pilihan calon suaminya itu. “Boleh saya coba gaun ini?” tanyanya pada pramuniaga yang menemaninya sejak tadi.
           
“Silakan, Nona,” jawab perempuan muda berambut keriting itu. “Sebentar saya lepaskan dulu dari manekin.”
           
Setelah berhasil melepaskan gaun itu dari patung peraga, sang pramuniaga menemani Jessica menuju ke ruang ganti. Dibantunya sang customer mengenakannya. “Ukurannya pas sekali dengan badan Nona. Sepertinya sudah nggak perlu dipermak lagi. Cuma barangkali ingin diberi tambahan manik-manik supaya kelihatan lebih glamor, Nona?” ucap perempuan itu menawari.
           
Jessica mematut-matut di depan cermin. Dia heran sendiri melihat penampilannya sekarang. Bagaikan seorang putri. Begitu ramping dan elegan. Selera Tommy bagus juga, pujinya dalam hati. Tapi sepertinya benar apa yang dikatakan mbak ini. Gaun ini terlalu polos. Hiasannya cuma kain brokat ini saja. Harus diberi manik-manik agar kelihatan lebih cerah dan glamor.
           
“Mbak betul,” katanya kemudian. “Sepertinya perlu diberi manik-manik kristal ya supaya lebih kelihatan wah. Tapi saya tanya calon suami saya dulu ya, Mbak.”
           
Si mbak mengangguk. Lalu dia berjalan mengikuti customer-nya keluar dari ruang ganti. Tommy terpana menyaksikan keanggunan calon istrinya mengenakan gaun pengantin. Tidak salah pilihanku, batinnya bangga. Dalam diri Sica terdapat aura elegan yang begitu menawan, berbeda dengan gadis-gadis lain yang pernah kutemui. Terima kasih, Tuhan. Akhirnya aku berhasil mendapatkan Jessica Irawan setelah perjuangan yang tiada henti, ucap pemuda itu dalam hati penuh syukur.
           
“Gimana, Tom? Bagus, nggak?” tanya calon istrinya meminta pendapat.
           
Tommy mengangguk setuju. “Aku suka sekali. Anggun, simple, nggak neko-neko. Sesuai dengan kepribadianmu, Sica,” jawabnya tulus. Sorot matanya memandang kagum wanita belahan jiwanya itu.
           
“Tapi aku merasa gaun ini agak sepi. Bolehkah kutambahin manik-manik supaya kelihatan lebih glamor? Nggak banyak, kok,” pinta gadis itu sambil tersenyum manis. Cantik sekali kamu, Sica, batin Tommy takjub. Apapun bersedia kuberikan. Asalkan kau tersenyum seperti ini setiap hari.
           
Pemuda itu mengangguk mengiyakan permintaan perempuan yang tak lama lagi menjadi pendamping hidupnya itu. Selanjutnya mereka diminta menunggu sebentar untuk dipertemukan dengan pemilik showroom yang juga adalah desainer gaun pengantin tersebut. “Nanti Nona Jessica bisa berunding dengan Ibu tentang manik-manik kristal yang bagus dan mau dipasang di bagian mana saja,” jelas sang pramuniaga detil. Sang customer mengangguk.
           
Beberapa saat kemudian desainer yang dimaksud muncul menemui mereka dan mulai membahas tentang manik-manik yang dimaksud. “Oya, jas untuk calon mempelai pria bagaimana?” tanya perempuan berusia sekitar empat puluh tahun itu sopan.
           
“Masih belum nyari, Bu,” aku Tommy jujur. “Rencananya sehabis dari sini kami mau pergi ke showroom jas pengantin.”
           
“Oh, kalau begitu, mungkin bisa mencoba di showroom adik saya. Siapa tahu cocok. Nanti akan saya mintakan harga khusus. Mbak, tolong ambilkan kartu namanya,” pinta sang desainer pada bawahannya. Sang pramuniaga mengangguk. Dia lalu mencari kartu yang dimaksud di meja resepsionis dan memberikannya pada Tommy.
           
Pemuda itu mengucapkan terima kasih. Tak berapa lama kemudian, pasangan yang akan segera menikah itu pun pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari jas pengantin bagi calon mempelai pria.
***
Setelah menemukan jas pengantin yang sesuai keinginannya di showroom yang direkomendasikan desainer tadi, Tommy dan Jessica makan siang di sebuah rumah makan.
           
“Kok makanmu sedikit, Sayang? Nggak enak, ya?” tanya Tommy perhatian. Dilihatnya kekasihnya tidak menghabiskan nasi goreng Hongkong yang dipesannya. Padahal sejak pagi dia belum makan.
           
“Enak, kok. Malah aku mau pesan lagi untuk dibawa pulang,” jawab gadis itu lalu memanggil pelayan untuk membungkus satu porsi nasi goreng Hongkong.
           
Sang kekasih menatapnya heran. “Buat apa? Habis ini aku mau mengajakmu ke rumahku, Sica. Kita bisa ngobrol dan nyantai di sana sampai malam terus kamu kuantar pulang. Jadi kita makan malam di rumahku saja. Kan ada pembantu yang masak.”
           
Gadis di depannya tercenung. Sebenarnya aku ingin mencari Moses, Tom, akunya dalam hati. Nasi goreng Hongkong yang kupesan tadi untuk kuberikan padanya. Takutnya dia kenapa-napa dan belum makan. Soalnya pertemuan kami yang terakhir begitu menyedihkan.

Komentar Buku (90)

  • avatar
    Bang Regar

    keren baget

    07/05/2025

      0
  • avatar
    Meisya

    cerita ny bagus utk di baca dan menarik banget

    18/03/2025

      0
  • avatar
    KohirilFitra

    saya sangat suka

    12/03/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru