Lelaki di depannya termenung sesaat. Kemudian keluar pertanyaan penting dari mulutnya, “Lalu bagaimana dengan Tommy? Seharusnya dia juga tidak boleh menghubungimu selama dua bulan ke depan,” selorohnya meminta keadilan.
Gadis di depannya mengangguk. “Aku juga akan memberlakukan hal yang sama untuk Tommy. Dua bulan tanpa telepon, sms, chat WA, email, apalagi ketemuan. Dia pasti tidak keberatan.”
“Bagaimana kau tahu?” tanya Moses penasaran.
“Karena Tommy sering menuruti apa yang kukatakan.”
“Dia takut padamu ya, Jess?” ejek laki-laki itu mencibir. “Tidak seperti aku yang bandel ini.”
Jessica tak menanggapi sindiran sahabatnya. Sebaliknya didekatkannya wajahnya kembali pada wajah tampan di depannya. Moses senang sekali gadis itu berinisiatif menciumnya duluan. Permainan bibir dan lidah keduanya begitu panas dan bergelora. Hingga akhirnya Jessica yang kali ini menghentikannya.
“Kalau kau kangen padaku, ingat-ingat saja ciumanku barusan untuk melipur lara. Ayo, kita pergi sekarang. Sebelum kebablasan terjadi adegan tujuh belas tahun keatas,” seloroh gadis itu seraya melepaskan diri dari pelukan laki-laki don juan itu.
Moses menyeringai geli. Beginilah sikap cool Jessica yang berbeda dari gadis-gadis lainnya, batinnya memuji. Harga dirinya begitu tinggi. Sok jual mahal, padahal begitu mendamba. Aku yakin dia akan memilihku dibanding Tommy. Si Cantik ini membutuhkan laki-laki yang banyak makan asam garam kehidupan daripada pemuda yang hanya mengandalkan kekayaan orang tuanya saja, pikirnya penuh percaya diri. Senyuman lebar terkembang di wajahnya yang tampan.
Dia lalu mengikuti langkah gadis pujaan hatinya meninggalkan rumah itu. Rumah yang diimpikan untuk dihuninya kelak bersama Jessica Irawan…. *** “Apa? Dua bulan, Sica?” tanya Tommy dengan suara bergetar. Ia sedang menelepon Jessica untuk mengajaknya makan berdua malam ini. Namun gadis itu menolaknya dan justru memberitahukan kabar yang tak menggembirakan.
“Ya, Tom. Aku butuh waktu untuk menyendiri dulu. Supaya dapat mengambil keputusan yang tepat tentang masa depan hubungan kita. Kamu mengerti, kan?” jelas si gadis lugas.
“Tapi bukankah kau sudah berjanji akan menikah denganku, Sica? Kau mengatakannya di kamar tidurku setelah memergokiku…bersama Melani. Juga mengangguk di depan Mama sewaktu beliau menjelang ajal. Apalagi yang perlu dipertimbangkan, Sayang?” tanya pemuda itu bertubi-tubi. Dirinya merasa agak tidak terima gadis itu masih terombang-ambing dengan perasaannya sendiri.
Jessica mendesah panjang. Wanita mana yang sampai hati menolak cinta pria yang berlutut di hadapannya? Pria yang sudah merendahkan harga dirinya sendiri! Dan manusia mana yang tega tidak mengabulkan permintaan orang yang tengah dijemput malaikat maut? batinnya getir. Janji-janji itu kubuat bukan atas kehendak hatiku sendiri! protesnya dalam hati. Semuanya karena terpaksa. Ya, terpaksa!
“Sica…,” tanya Tommy dengan hati-hati. “Kenapa diam saja? Apakah kamu…marah?” tebaknya ragu-ragu. Masih tak terdengar reaksi dari lawan bicaranya. Akhirnya pemuda itu mengambil keputusan untuk mengalah. “Ya sudahlah, kalau memang itu keinginanmu. Aku ikut saja. Jaga dirimu baik-baik selama dua bulan ke depan ya, Sica. Bekerja jangan terlalu diforsir. Tekanan darahmu kan rendah. Nanti kepalamu pening dan badanmu pegal-pegal kalau terlalu lelah….”
Sang pemuda terkekeh dan menjawab santai, “Aku selalu ingat segala sesuatu tentang Jessica Irawan. Makanan kesukaannya, binatang yang tak disukainya, kondisi bawaan yang dimilikinya, dan lain-lain.”
“Oya?” balas Jessica sinis. “Apa makanan kesukaanku?”
“Apapun asalkan pedas.”
“Lalu binatang apa yang tak kusukai?”
“Kucing.”
“Oya? Kenapa memangnya?”
“Kamu selalu merasa kucing itu bagaikan seekor anak harimau. Terutama di malam hari, bola matanya berkilat-kilat mengerikan dan kalau menyeringai giginya tajam sekali.”
Terdengar suara Tommy tertawa terbahak-bahak di seberang sana. “Terima kasih, Sica,” ucap pemuda itu setulus hati.
“Untuk apa?” tanya si gadis keheranan.
“Sudah membuatku tertawa lagi. Terima kasih banyak….”
Jessica tercenung mendengarnya. Sebenarnya kasihan juga Tommy. Dia sekarang hidup seorang diri tanpa seorang pun yang mendukungnya, batin gadis itu berempati. Aku sendiri masih punya Kak Jenny yang menemaniku dalam suka dan duka.
“Bersemangatlah, Tom. Mamamu di surga pasti nggak suka melihatmu putus asa menjalani hidup. Jadilah seorang laki-laki sejati yang tegar menghadapi pahit-manisnya kehidupan.”
“Siap, Nona Jessica Irawan! Hahaha….”
Entah kenapa suara tawa Tommy kali ini terdengar merdu sekali di telinga Jessica. Semoga dia benar-benar dapat bertahan tidak kontak aku sama sekali selama dua bulan ke depan, harap gadis itu dalam hati. *** Satu setengah bulan pertama tanpa kontak dengan Moses dan Tommy membuat Jessica hidup dalam ketenangan. Dia masih bekerja sebagai agen properti seperti biasa. Dua orang pria yang menanti cintanya benar-benar menepati janji untuk tidak mengontaknya. Sementara itu Jenny sudah rujuk kembali dengan Yakob, suaminya. Mereka kembali tinggal bersama di kota Mojokerto. Tinggalah Jessica seorang diri di dalam rumahnya.
“Kalau kau merasa rumah ini terlalu besar untuk ditempati sendiri, silakan kau jual atau sewakan saja, Jess,” kata kakaknya di malam terakhir menempati rumah itu. “Barangkali kamu merasa lebih praktis tinggal di apartemen atau rumah yang lebih kecil.”
“Jessi belum bisa memutuskannya sekarang, Kak. Biar masalahku beres dulu, baru kupikirkan rumah ini mau diapakan,” jawab sang adik terus terang. Tiba-tiba wajahnya tampak muram.
“Masalah apa?” tanya Jenny penasaran.
Adik semata wayangnya itu lalu menceritakan tentang masa tenggang dua bulan yang dimintanya untuk menjatuhkan pilihan antara Moses atau Tommy. Kakaknya menghela napas panjang. “Hati nuranimu sendiri bilang gimana?” tanyanya penasaran. Sang adik hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu.
“Kamu sudah dewasa, Jess. Pengalaman hidupmu juga tidak sedikit. Sudah jatuh bangun mengalami kejadian traumatis yang membuatmu mampu berdiri tegar seperti sekarang. Kamu dari dulu juga tahu Kakak lebih suka kamu memilih Moses. Tapi kalau kamu memilih yang lain, Kakak tidak bisa apa-apa. Hanya bisa tetap mendukungmu sepenuhnya….”
“Terima kasih banyak, Kak,” sahut Jessica seraya memeluk saudara tuanya itu dengan penuh perasaan. “Besok Kakak akan dijemput Mas Yakob. Jessi akan sendirian di sini,” ucapnya manja.
“Surabaya-Mojokerto kan nggak jauh, Jess. Nanti kita sama-sama saling mengunjungi, ya? Harapan Kakak, saat itu kau sudah menentukan pilihan hatimu. Sudah berdoa minta petunjuk Tuhan, belum?” gurau Jenny seraya mencubit hidung adiknya gemas.
Jessica mengangguk mengiyakan. “Tapi belum ada jawaban,” keluhnya berpura-pura merajuk. Sang kakak tertawa geli. “Sabar aja, Dik. Jawaban Tuhan sering muncul dengan cara tak terduga. Mintalah hikmat agar dirimu memahaminya saat jawaban itu muncul di depan mata.”
“Jawaban muncul di depan mata?” tanya Jessica tak mengerti.
“Betul. Seringkali Tuhan memberikan jawaban persis di hadapan manusia. Tapi biasanya manusianya sendiri yang tak mampu memahami. Bagaikan pepatah gajah di depan pelupuk mata tak tampak tapi semut di ujung lautan kelihatan jelas. Ya seperti itulah…. Paham maksud Kakak?”
“I think so….”
Jenny manggut-manggut senang. Dia yakin tak lama lagi sang adik tercinta akan mendapatkan jawaban persis di depan matanya. ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren baget
07/05/2025
0cerita ny bagus utk di baca dan menarik banget
18/03/2025
0saya sangat suka
12/03/2025
0Lihat Semua