“Apa Jessi nggak salah dengar, Kak?” tanya gadis itu meminta penjelasan.
Sang kakak menggeleng. “Mas Yakob ternyata ditipu oleh kekasih gelapnya itu. Janin yang dikandungnya ternyata benih laki-laki lain. Teman baik Mas Yakob pernah tak sengaja melihat perempuan itu keluar dari supermarket bergandengan tangan dengan pria lain. Dia langsung memotret mereka dengan ponsel dan mengirimkannya pada Mas Yakob. Akhirnya Mas Yakob memaksa kekasihnya untuk melakukan tes DNA pada janin yang dikandungnya. Hasilnya sudah keluar dan ditunjukkannya padaku tadi siang sewaktu aku pergi membeli bahan-bahan kue….”
Jessica terbelalak. “Jadi selama ini Kak Jenny diam-diam masih menjalin hubungan dengan orang itu di luar sepengetahuanku?! Hebat sekali!” ucap gadis itu ketus seraya bertepuk tangan.
“Kamu sendiri diam-diam merencanakan apa terhadap keluarga Saputra? Kamu pikir Kakak tidak tahu bahwa kamu cuma memperalat Tommy untuk membalas dendam terhadap ibunya?!” teriak Jenny mulai naik emosinya. Ia tidak suka Jessica mengatur-atur hidupnya. Aku sendiri tak pernah melarangnya melakukan kehendaknya, kok, batinnya tidak terima.
Sang adik mendesah panjang lalu berkata, “Baiklah. Terserah Kakak saja kalau memang mau rujuk kembali dengan Mas Yakob. Semoga bahagia ya, Kak,” ucap Jessica dengan nada merendah untuk menghargai keputusan saudara tuanya.
Jenny tersenyum penuh haru dan memeluk adiknya penuh kasih sayang. Dikecupnya ubun-ubun Jessica dengan lembut. “Kamu juga harus meraih kebahagiaanmu, Jess. Ikhlaskan masa lalu. Menikahlah dengan Moses. Dia akan menjagamu sampai akhir hayatnya….”
Mata sang adik berkaca-kaca mendengar nasihat kakaknya itu. Aku pun sebenarnya ingin demikian…, batinnya menangis. Mengikhlaskan masa lalu dan menempuh hidup baru bersama laki-laki yang kucintai. Tapi pikiran dan hati ini ternyata tak mau diajak kompromi. Luka itu harus disembuhkan terlebih dahulu sebelum memulai cinta yang baru. Kalau tidak, pasangan hidupku yang baru kasihan sekali. Dia akan menjadi pelampiasan luka hatiku yang terpendam sekian tahun…. ***
Keesokkan siangnya, pengacara keluarga Saputra diam-diam menelepon Wanda. “Selamat siang, Bu Wanda. Maaf mengganggu. Ada hal penting yang harus saya beritahukan pada Anda.”
“Silakan, Pak. Saya tidak sibuk, kok,” jawab Wanda yang sedang bersantai menonton televisi di ruang keluarga rumahnya. Wanita bertubuh kurus itu lalu mendengarkan dengan serius ucapan-ucapan sang pengacara di telepon. Seketika kedua matanya terbelalak saking terkejutnya. Ceroboh sekali anak itu sampai mengalihkan rumah ini atas nama Jessica yang belum resmi menjadi istrinya! pikirnya geram.
“Maaf, Pak. Kenapa rumah ini yang dipilih Tommy untuk diberikan pada Jessica? Kan masih ada properti-properti lainnya yang nilainya setara atau bahkan lebih tinggi?” tanyanya penasaran.
“Mengenai hal itu saya tidak begitu paham, Bu Wanda,” jawab suara di seberang sana lugas. “Yang saya tahu, begitu Tommy dan Jessica tadi tiba di kantor saya pagi ini, putra ibu langsung meminta saya membeberkan semua aset keluarga Saputra di depan gadis itu. Tanpa berpikir panjang, Jessica langsung memilih rumah yang Ibu tempati sekarang untuk dialihkan atas namanya.”
“Bagaimana reaksi anak saya, Pak?”
“Tommy tidak berkomentar apa-apa, Bu. Dia malah langsung meminta gadis itu menyerahkan berkas-berkas pribadinya untuk proses balik nama. Saya lalu mengajak Tommy untuk berbicara empat mata dan menanyakan apakah tindakannya itu tidak terlalu gegabah.”
“Lalu?”
“Tommy berkata bahwa dia akan segera menikahi gadis itu. Properti yang dipilih Jessica bisa dibilang mas kawin darinya. Toh, setelah menikah rumah itu akan kembali menjadi milik Tommy separuh karena mereka tidak akan membuat perjanjian pisah harta….”
Kepala Wanda pening seketika. Apa maksud gadis itu sebenarnya? Meminta rumah ini dialihkan kepemilikkannya padanya sebelum menikah. Jangan-jangan dia akan meninggalkan Tommy begitu rumah ini menjadi miliknya, pikirnya kesal.
Tiba-tiba dia tercenung sendiri dengan pemikirannya itu. Gadis tak tahu diri itu bermaksud membuat kami berdua miskin! Hmm…kalau dia langsung meninggalkan Tommy begitu sertifikat rumah ini sah atas namanya bagiku itu justru lebih baik. Anggaplah sebagai penebusan dosaku dulu membuatnya keguguran. Tapi kalau dia masih menggerogoti harta keluarga kami, apa yang harus kulakukan?
“Bu Wanda, apakah Ibu masih mendengarkan di sana?” tanya sang pengacara sopan begitu Wanda terdengar suaranya selama beberapa menit.
“Iya…iya, Pak. Maaf, saya tadi sedang berpikir. Anu, berapa total biaya yang dikeluarkan anak saya untuk membalik-nama rumah ini, Pak?”
“Sekitar dua milyar, Bu. Karena harga properti sekarang kan sedang membubung tinggi dan rumah Ibu itu golf view. Dana itu akan ditransfer seminggu lagi oleh Tommy.”
“Seminggu lagi?”
“Betul, Bu. Karena menunggu proses pengalihan harta keluarga Saputra dari Ibu Wanda ke Tommy selesai, baru istri saya yang notaris bisa melakukan proses balik nama rumah Ibu menjadi milik Jessica.”
Dua milyar! Bodoh sekali kau, Tommy, maki wanita itu geram dalam hati. Kau tidak tahu betapa susah payahnya memperoleh uang sebesar itu sampai kaubuang begitu saja demi mendapatkan hati gadis yang tak layak kau cintai. Bodoh, bodoh, bodoh! Ayah-ibumu akan murka seandainya mereka berdua masih hidup. Aku pun kecewa sekali padamu, Tommy Saputra! Anak yang kubela mati-matian sepanjang hidupku ternyata seorang pemuda yang tak berdaya di hadapan seorang gadis anak narapidana!
Dua milyar…huh, aku harus menyelamatkan uang itu, tekad wanita itu bulat-bulat. Aku punya waktu seminggu untuk menggagalkan proses balik nama itu. Yah, seminggu yang sangat berarti setiap detiknya. Satu minggu….
“Terima kasih atas informasinya, Pak,” ucapnya datar. “Satu lagi pertanyaan saya, apakah Tommy meminta Bapak beserta istri menyembunyikan hal ini dari saya?”
Terdengar suara mendesah panjang dari seberang sana. Wanda merasa sudah tahu jawabannya. Dia lalu berkata lirih, “Saya rasa dia memang meminta kalian merahasiakannya dari saya, kan?”
Sang pengacara akhirnya berkata dengan nada suara prihatin, “Tommy berkata bahwa dia tidak peduli Bu Wanda mengetahui hal ini atau tidak. Sekarang dia adalah kepala keluarga dan pemilik satu-satunya aset-aset keluarga Saputra. Orang lain tak berhak mencegahnya melakukan apapun yang dikehendakinya.”
Orang lain?! pekik tante sekaligus ibu tiri Tommy itu dalam hati. Aku! Aku ini orang lain?! Siapa yang mengasuhnya semenjak dia berusia tiga tahun dan belum lancar berbicara! Siapa yang menemani Tommy kecil bermain, mengajarinya ini-itu, merawatnya waktu sakit, membelanya waktu ayahnya memarahinya, melaporkan pada guru ketika teman-teman sekolahnya mem-bully-nya?!
Dasar anak tak tahu diuntung. Berani-beraninya dia menganggapku orang lain! Luar biasa sekali anak kandungmu itu, Windy! serunya dalam hati seraya menatap foto almarhum kakak kembarnya yang masih terpajang dengan manis di dinding keluarga rumahnya.
Dua puluh empat tahun kubaktikan hidupku untuk suami dan anakmu dan ini yang kudapatkan?! Aku tak rela…benar-benar tak rela! Akan kucari cara untuk menggagalkan rencana busuk Jessica mengambil rumah ini.
Wanda tampak berpikir sebentar. Lalu diraihnya ponselnya dan menelepon seseorang. “Halo, Melani. Apa kabar?” ***
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
keren baget
07/05/2025
0cerita ny bagus utk di baca dan menarik banget
18/03/2025
0saya sangat suka
12/03/2025
0Lihat Semua