Beranda/Jessica, Luka Yang Terpendam/
Bab 13 Moses Menyatakan Perasaanya
“Suara tawamu terdengar mengerikan. Lihat, bulu kuduk Kakak sampai berdiri.”
Jessica menatap kakaknya dengan wajah berseri-seri. “Tuhan sedang berpihak kepadaku, Kak. Tentu saja takkan kulewatkan kesempatan ini. Suatu saat Kakak akan mengerti apa yang kumaksud. Sekarang sudah malam. Tidur, yuk. Besok pagi aku mesti pergi ke kantor notaris untuk melakukan transaksi sewa-menyewa ruko.”
Jenny mengangguk dan kemudian meninggalkan kamar tidur adiknya dengan berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya. Semoga adikku tidak nekad melakukan hal-hal yang berisiko, batinnya was-was. Kami sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri.
***
Keesokkan paginya tanpa sengaja Jessica bertemu dengan Moses di kantor notaris. “Halo, Cantik. Closing transaksi apa lagi, nih?” tanya laki-laki itu seraya melirik rombongan klien gadis itu.
Jessica menjawab santai, “Transaksi sewa ruko di Surabaya Barat. Buat restoran steak.”
“Wah! Nominalnya gede, dong. Dua ratus juta untuk dua tahun?”
“Mendekati,”jawab gadis itu dengan mata berbinar-binar. “Tiga ratus juta untuk tiga tahun tepatnya.”
“Wow, keren…. Terus ntar siang kamu traktir aku di mana?”
Jessica tertawa geli. “Belum terima komisi udah ditodong duluan.”
“Hehehe…kemarin aku kan udah ajak kamu untuk makan siang hari ini. Saking tadi pagi kamu nggak balas chat WA-ku. Padahal aku nanya nanti siang kita mau lunch di mana.”
“Ups! Sori. Aku nggak sempat baca WA pagi ini. Ya udah, aku selesaikan transaksi dulu, ya. Nanti kita telpon-telponan aja.”
“Ogah. Biar kutunggu aja kamu di sini sampai selesai. Aku sudah nggak ada kerjaan, kok.”
“Lha, terus kamu sendiri ada urusan apa kemari?”
Moses mengerling nakal sambil menyeletuk, “Aku cuma ngasih asisten notaris berkas-berkas untuk transaksi sewa rumah golf view. Nggak mau kalah dong, sama si cantik Jessica Irawan!”
Lawan bicaranya tergelak lalu bertanya, ”Keren deh, transaksi sewa rumah golf view. Siapa penyewanya? Ekspatriat?”
“Yes. Pejabat tinggi di kedutaan Amerika. Budget dari kantornya nggak segede itu sebenarnya, cuma dia bersedia nombokkin dari koceknya sendiri. Tiga ratus tiga puluh juta untuk tiga tahun.”
“Berarti kamu dong, yang harusnya nraktir nanti. Kan komisimu lebih gede.”
“Kan transaksinya masih seminggu lagi, Cantik. Jadi nanti kamu yang traktir, terus minggu depan giliran aku. Ok?”
Jessica tertawa saja mendengarnya. Dia tahu itu cuma alasan laki-laki itu untuk lebih sering bertemu dengan dirinya. Selanjutnya gadis itu pamit masuk ke dalam ruangan notaris untuk menyaksikan transaksi antara klien-kliennya, sementara Moses menunggunya dengan sabar di lobi.
Sekitar empat puluh menit kemudian pintu ruangan notaris itu terbuka dan keluarlah klien-klien Jessica diiringi sang agen dengan wajah berbunga-bunga. Transaksi sudah selesai, batin Moses menyaksikan adegan yang sudah tak asing baginya. Ekspresi kepuasan yang terpancar dari wajah klien atas transaksi properti yang berhasil diperantarai seorang agen dengan baik. Terkadang ada juga raut wajah tidak puas dari klien-klien atas transaksi yang dianggap berat sebelah. Namun hal itu jarang sekali ditemui Moses selama ini.
“Semuanya berjalan dengan lancar, ya? Congratz,” ucapnya sembari menyalami Jessica setelah klien-kliennya meninggalkan tempat itu.
“Thank you.”
“Nah, sekarang kita mau makan di mana?”
“Sebentar, aku ambil komisi dari asisten notaris dulu.”
Moses tergelak mendengar ucapan Jessica. Notaris langganan mereka ini memang selalu menyiapkan sejumlah komisi atas transaksi yang diperantarai agen properti. Meskipun nominalnya tidak begitu besar, tetapi lebih dari cukup untuk dipakai bersantap di restoran ternama atau sekedar membeli bensin selama beberapa hari.
Tak lama kemudian Jessica kembali dan menunjukkan sebuah amplop putih di tangannya. “Sudah. Sekarang mau dipakai untuk makan di mana duit ini, Bapak Moses Yang Terhormat?” guraunya nakal.
“Ehm…, tadi kamu kan transaksi sewa ruko buat restoran steak. Sekarang gimana kalau kita makan steak aja? Ada resto baru buka dekat sini. Kamu ikuti mobilku, ya?”
“Let’s go.”
Pasangan muda-mudi itupun beranjak ke mobil mereka masing-masing. Beberapa saat kemudian Rush hitam Moses meluncur perlahan meninggalkan halaman kantor notaris dan diikuti oleh Sigra putih milik Jessica.
***
“Berapa lama kamu dulu pacaran sama Tommy, Jess?” tanya Moses begitu mereka sudah duduk dan memesan steak di restoran baru dekat kantor notaris.
“Ngomong yang lain aja, yuk,” pinta Jessica tak berani memandang lawan bicaranya. Moses jadi semakin penasaran. Ditutupnya buku menu yang sejak tadi dibuka-buka oleh gadis yang duduk di depannya.
“Apaan sih, kamu? Aku kan masih mau lihat-lihat menu,” protes Jessica seraya menatap pria itu sebal.
“Nah, kalau begini kamu baru mau memandangku,” sindir Moses sambil menatap gadis itu tajam.
Jessica merasa risih melihatnya. “Kok agak gerah, ya?” celetuknya berusaha mengalihkan perhatian. Tangannya berlagak mengipas-ngipasi wajahnya. Secepat kilat laki-laki di depannya menangkap tangan halus itu dan meremasnya penuh cinta.
“Moses, nggak enak dilihat orang.”
“Bodo amat. Aku cuma megang tangan gadis yang kusukai, kok.”
“Apa sih maumu, Ses?”
“Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan berpura-pura kepanasan, Jess. AC di dalam ruangan ini cukup dingin untuk cuaca panas seperti sekarang. Apalagi aku tahu kamu justru tidak tahan kalau hawa telalu dingin.”
Raut wajah Jessica mengeras. Kini giliran dirinya yang menatap Moses tajam. “Bagus,” ujar sahabatnya itu sembari tersenyum simpul. “Lebih baik kamu menatapku dengan emosional seperti ini daripada berpura-pura tidak mengerti apa yang kubicarakan.”
“Apa yang kamu mau?”
“Aku mau tahu berapa lama kamu dan Tommy dulu pacaran? Kapan itu? Pastinya sebelum kita berdua saling kenal, kan?”
Gadis itu mendengus dan menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan diplomatis, “Aku pacaran sama dia sejak umur lima belas tahun. Kami dulu sekelas waktu kelas 1 SMA. Terus hubungan itu putus begitu saja saat dia melanjutkan studi di Australia lima tahun kemudian.”
“Shit! Lima tahun kalian pacaran?”
“Yes.”
“Berarti waktu itu kalian berumur dua puluh tahun. Apakah sejak saat itu kamu nggak pernah pacaran lagi, Jess?”
Yang ditanya menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya tampak muram. Barangkali dia trauma menjalin hubungan cinta lagi dengan orang lain, tebak Moses dalam hati. Diremas-remasnya tangan kanan gadis itu dengan kedua tangannya. Ketika dia mulai menciumi punggung tangan lembut itu, sang gadis menarik tangannya dengan kasar.
“Jangan seperti ini, Ses. Nggak enak. Hubungan kita selama ini kan cuma sebatas teman baik.”
“Aku mau menjalin hubungan lebih serius lagi denganmu, Jess. Kamu tahu kan, aku menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu? Kamu pasti bisa merasakannya.”
Jessica terkekeh geli. “Kamu lho sering berkencan dengan agen-agen properti yang cantik-cantik. Kamu pikir aku nggak tahu?”Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (90)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
keren baget
07/05/2025
0cerita ny bagus utk di baca dan menarik banget
18/03/2025
0saya sangat suka
12/03/2025
0Lihat Semua