Hanif baru pulang dari kantor, bertemu dengan istri kesayangannya di dalam kamar sambil menonton video senam ibu hamil. Sampai Renjana tidak menoleh sedikit pun waktu ia mengucap salam. Hanif menggeleng pelan, kemudian langkahnya mendekat ke arah istri lalu merangkul Renjana. “Lho tumben nggak ucap salam?” Ia malah tersenyum saat Renjana mengulurkan tangannya lalu bersalaman dan Hanif mencium kening istrinya. “Asyik banget nontonnya. Sampai nggak noleh pas suami masuk kamar.” “Hehehe.” Renjana malah terkekeh waktu ia masuk ke dalam kamar. Istrinya bersandar waktu Hanif ikut duduk. “Bentar lagi kita jadi orangtua, ya.” Penantian yang juga sangat diharapkan oleh Hanif bahwa dia akan menjadi orangtua yang bisa mendidik anaknya dengan baik. Lelahnya yang tadi di kantor hilang seketika saat Renjana membahas mengenai anak padanya. “Tentu saja sayang.” “Aku bahagia sekali waktu aku ngerasain ada kehidupan di perutku.” “Kamu ngerasa kayak gimana sayang?” “Hmm gimana ya. Pokoknya senang banget.” Hanif juga senang kalau Renjana bisa seceria ini. Walaupun belum membuncit perut Renjana, tapi Hanif juga senang kalau istrinya bisa menjaga kandungan dengan baik. “Tadi aku beliin buah buat kamu. Aku mampir di minimarket, aku lihat susu hamil kamu habis. Jadi mampir tadi. Terus aku beli cemilan juga. Kamu tenang aja itu cemilan sehat kok. Biar kamu nggak mual, ya.” “Terima kasih, ya.” Hanif jauh lebih berterima kasih kepada istrinya. Karena Renjana menjaga kandungan dengan baik di rumah. Nafsu makan yang kadang tidak bisa dipaksakan, akan tetapi Renjana memaksakan diri untuk makan. Katanya yang lebih butuh adalah janinnya. Sampai Hanif terharu melihat perjuangan istrinya untuk makan sambil memaksakan diri. “Aku malah lebih berterima kasih sama kamu, Jana.” “Aku terima kasih kalau kamu jaga anakku dengan baik. Yang penting Ibunya juga sehat. Aku senang sekali kalau kamu ceria kayak gini.” “Aku dari tadi gemas lihat video bayi yang dimandikan pertama kali oleh mamanya.” “Kamu pengin?” pertanyaan Hanif malah lucu seperti itu. Jelas saja kalau Renjana juga senang sekali dengan pertanyaan itu. “Iya aku pengin, terus nanti kamu belajar pasang pampers untuk dia.” Kalau soal itu Hanif sudah biasa memasang pampers untuk keponakannya di rumah mama. “Aku bisa kok.” “Ah iyakah?” “Serius bisa. Makanya Mama kan pengin banget aku nikah karena aku suka anak kecil.” “Kamu serius suka anak kecil?” “Serius. Tapi aku malah lebih suka kamu.” Bukan gombal, tapi Hanif sebenarnya memang ingin mengungkapkan istri hati pada sang istri. “Aku serius.” “Hanif.” “Apa Jana?” “Pernikahan kita sempurna nggak?” “Sempurna kalau kita merasa sama-sama saling mencintai dan juga selama kita sama-sama berjuang.” “Kita kan berjuang bareng.” “Nah kalau kamu merasa sempurna. Berarti memang sempurna.” “Kita sering berantem.” “Bumbu pernikahan memang seperti itu. Yang penting kesampingkan ego, jangan ngadu ke orangtua. Kan aku sudah pernah bilang sama kamu. Kalau kita berantem, ya udah kita berantem di dalam kamar. Kalau ada orang lain, mending kita saling diami. Atau pura-pura tidak ada masalah. Nanti pas udah berdua kita berantem lagi.” “Tapi nanti harus sabar ya hadapi anak kita. Jangan mukul anak. Aku nggak suka kekerasan, orangtua aku nggak pernah mukulin soalnya.” Hanif pernah dimarahi orangtua, tapi tidak sampai juga memukul apalagi merusak mental anak. Hanif mana mau juga memarahi anaknya nanti tanpa sebab. “Memangnya selama kita berantem aku pernah mukulin kamu?” “Ya nggak sih.” Hanif melepas rangkulannya. Kemudian dia mencium kening istrinya lalu ke kedua pipi dan terakhir bibir sampai Renjana tersenyum. “Aku mandi dulu. Nanti pacaran lagi kalau aku udah mandi, kasihan kamu nanti mual sama bau aku udah kayak ikan pogot.” Dia membuka kemejanya lalu ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi dia malah menggeleng ketika melihat bak mandi yang sudah terisi penuh. Baru saja dia hendak membuka handuk. “Eh.” Hanif menoleh saat istrinya masuk ke dalam kamar mandi. “Ngapain?” “Aku tadi isi bak mandinya, biar kamu berendam.” “Iya, terima kasih sayang.” Wajah Renjana merah saat Hanif ingin membuka handuk yang menutupi bagian bawahnya. Apa-apaan Renjana? Padahal mereka sudah sering melihat satu sama lain. Bahkan sampai Renjana hamil, Hanif menggeleng ketika Renjana keluar. Tidak berselang lama ia selesai mandi dan sudah berganti pakaian. Memang rasanya cukup segar setelah seharian ini dia bergelut dengan pekerjaan yang teramat banyak. Keluar dari kamar dia sudah melihat ada minuman segar yang ada di atas meja. “Siapa yang buat?” “Istrinya Pak Hanif.” Mana mungkin Hanif bisa menahan senyum karena istrinya. Siapa bilang juga kalau menikah tanpa cinta itu tidak bahagia? Sekarang Hanif malah sepenuhnya cinta pada Renjana. Istri yang sangat manja beberapa waktu ini. Kehadiran calon buah hati yang dinantikan juga pasti dengan sabar mereka tunggu. “Kamu minum es ya?” “Nggak, aku nggak pernah minum es sekarang. Jarang banget lho.” “Kenapa memangnya?” “Perut aku buncit nanti.” “Mitos, Jana.” “Ya beneran tau. Aku dulu nggak pernah ketinggalan sama es. Terus pas udah besar perutku, ah kapok.” “Aku minum es sering tuh. Nggak pernah buncit.” Renjana menunjuk ke arah alat olahraga Hanif yang ada di dekat jendela kamar. “Itu apa, ya?” “Alat olahraga.” “Terus kamu ngaku nggak pernah buncit gitu? Sedangkan kamu olahraga rajin banget.” Hanif tertawa karena diskak oleh istrinya. “Iya deh suami ngalah. Biar istrinya nggak ngomel.” “Diiiih.” Renjana memutas bola matanya lalu meminum air kelapa muda yang dipetik di depan rumah Hanif. “Tapi ya kamu kadang ngeselin.” “Kenapa begitu?” “Ya iya, kamu nyebelin kadang.” “Aku nyebelin kan tapi tetap aja cintanya sama kamu.” “Tuh kan mulai gombal.” “Nggak gombal sayang. Katanya kan masa pacaran kita sekarang.” “Udah lewat tau. Aku kan udah hamil sekarang.” “Kalau gitu nanti malam kita jalan yuk. Hmmm pengin makan soto.” Renjana menoleh kemudian menaruh minumannya. “Ayok.” Renjana malah bangun dari tempat duduk dan menghampiri lemari sepatu. “Kok dikunci?” Siapa lagi yang punya keisengan selain Hanif, mengunci semua sepatu Renjana di dalam lemari kaca, takut kalau Renjana memakai sepatu dengan hak tinggi kemudian jatuh, anaknya keguguran. Pikiran itu sudah liar sekali di dalam pikirannya Hanif. “Nggak ada yang pakai sepatu tinggi-tinggi apalah itu.” “Tapi kan.” “Jatuh nanti, Jana.” Renjana cemberut. “Iya udah deh.” “Maaf, ya. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.” “Iya Hanif.” Renjana kembali lagi duduk ke tempat semula, yang awalnya ingin menyiapkan pakaian untuk nanti malam dan juga sepatu. “Jana. Bisa nggak kamu panggil aku Mas lagi?” Renjana menoleh. “Mau lagi emang dipanggil gitu?” “Ya iya, biar kita kelihatan kayak suami istri beneran.” Renjana menyeringai lalu mendekat ke arah Hanif. “Ya Mas.” Renjana menarik hidung Hanif sampai merah. “Apa sih? Kok sekarang ngeselin?” “Biar adil lah.” “Adilnya di mana coba?” “Mas kan kunci lemariku. Giliran dong bikin Mas kesal.” “Jadi istriku sedang balas dendam?” “Ya nggak gitu juga.” “Itu kan tadi udah bikin aku marah.” “Tapi kan nggak niat ke sana, Mas.” “Tetap aja kamu bikin aku marah.” “Emang Mas marah?” “Nggak.” Renjana bangun dari tempat duduknya. “Dasar Bapak-bapak aneh.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (69)
SajaVeronika
bagus banget bisa buat aku nangis sedih dan terharu
bagus banget bisa buat aku nangis sedih dan terharu
03/09/2025
0ceritanya bagus
20/07/2025
0baguss
06/06/2025
0Lihat Semua