Bab 13 Pertemuan tak terduga

Judul: Wanita lain dalam hatiku (Maafkan aku, istriku)
***
POV Resti.
Seminggu sudah aku berada di Amerika. Sengaja kupilih tempat yang jauh dari orang tua.
Namun, di sini aku tak sendiri. Ada Tante Anna yang menemaniku. 
Tante Anna adalah Adik kandung Ayah. Dia sudah lama tinggal di Amerika. Dari kuliah, hingga sekarang sudah menjadi pengusaha sukses di negeri orang ini.
"Res, apa rencanamu selanjutnya?" tanya Tante Anna dengan lembut.
"Resti mau membuka Restoran masakan khas Indonesia di sini, Tante. Kira-kira bisa berjalan tidak?"
"Wah, itu bagus. Tante yakin pasti berjalan lancar, apa lagi masakanmu sangat enak," pujinya dengan tulus.
Aku tersenyum senang. Mulai saat ini aku akan bersemangat menjalani kehidupan baruku.
Demi buah hati yang berada di dalam kandunganku ini, maka aku tidak akan menyerah, dan tidak akan bersikap lemah lagi.
Terlebih lagi usia kandunganku sudah memasuki bulan ketiga. Tubuhku pun terlihat lebih gendutan sekarang.
.
Waktu berjalan ....
Aku diantar oleh suami Tante Anna untuk berbelanja bahan makanan. Selain daging, aku juga membeli sayur-sayuran. Nanti akan aku buat persis seperti makanan orang Indonesia.
"Res, saya tinggal dulu ya. Nanti kalau sudah selesai silakan hubungi saya," ujar Mas Fatih, suami Tanteku.
Mas Fatih juga berasal dari Indonesia. Dia adalah teman kuliah Tante Anna, tak disangka mereka berjodoh.
"Baik, Mas. Maaf merepotkan."
"Tidak perlu sungkan." 
Mas Fatih berlalu. Aku pun melanjutkan belanjaku.
.
Aku berkeliling mencari bumbu-bumbu yang cocok, dan yang berlebel halal. Hingga aku dan seseorang ingin mengambil barang yang sama.
"Eh, sorry!" ucapnya.
Aku menoleh, dan wajah itu seperti tidak asing. 
Aku pernah melihatnya, tapi di mana?
Cukup lama aku mematung menatap laki-laki yang berada di sampingku ini.
"Mbak Resti bukan?" tanya-nya dengan tatapan serius.
Aku mengangguk dengan cepat. 
Berarti tak salah dugaanku. Aku pernah bertemu dengan laki-laki ini, tapi aku masih tak mengingat dengan jelas.
"Kamu siapa?" Aku balik bertanya.
Ia tersenyum dengan begitu lebar. Aku semakin merasa tidak asing dengan orang ini.
"Saya Gilang, Mbak. Adik Kak Ardan."
Degh!
Berdegup jantungku saat nama itu diucapkannya.
Ardan ....
Seorang laki-laki yang dulu teramat aku cinta. Namun, dia pula laki-laki yang paling aku benci akhirnya.
"Tak disangka kita bertemu di hamparan dunia yang seluas ini," ucapku datar.
Aku pergi jauh dari kota kelahiranku untuk melupakan masa lalu yang pahit bersama Mas Ardan. Akan tetapi kenapa harus bertemu Adiknya di sini?
Aku harus segera menjauh. Tak mau aku kalau Gilang sampai memberitahu keberadaanku pada Mas Ardan. 
Kehamilanku tidak mungkin bisa aku tutupi. Perut ini makin hari, akan semakin membesar. 
"Takdir Allah memang tak bisa diduga Mbak," sahutnya dengan ramah.
"Baiklah, saya permisi."
Aku bergegas melangkah menjauhinya. Namun, Gilang malah mengejarku. "Tunggu, Mbak!"
Dengan langkah yang kupercepat, akhirnya aku terpaksa berhenti di meja kasir. 
"Mbak, kenapa seperti tak suka bertemu dengan saya? Apa Mbak juga marah pada saya? Tapi apa salah saya? Ini tidak adil, Mbak."
Gilang ternyata terlalu cerewet. Aku dihujaninya dengan begitu banyak pertanyaan.
"Sudahlah! Tak ada urusan lagi antara saya dengan dirimu, atau pun keluargamu."
Aku mengirim pesan pada Mas Fatih agar segera menjemputku. Setelah selesai membayar belanjaanku, kini aku keluar.
Gilang menatap dengan heran. Ia tak lagi mengejar karena kata-kata pedas dariku tadi.
'Maafkan aku, Gilang. Tapi memang sebaiknya aku tak berurusan lagi pada hal yang bersangkutan dengan keluarga Mas Ardan.'
.
Sampai di kediaman Tante Anna. Aku langsung menyimpan belanjaanku di dalam kulkas.
Kuteguk air putih segelas penuh. Keringatku bercucuran, rasa tak percaya kalau aku harus bertemu dengan Adik dari mantan suamiku.
Semoga tak ada pertemuan lagi untuk ke depannya.
Aku ingin menghilangkan ingatan tentang keluarga itu. Aku tak mau mengenang luka hati yang pernah digoreskan oleh Mas Ardan.
Wajah Gilang juga sangat mirip dengan mantan suamiku. Tak mau aku terbelenggu dalam luka ini.
.
Hari berganti. Aku sudah mulai menjalani usaha kecilku.
Tempat yang aku pilih tak jauh dari kampus ternama di sini. Sengaja aku menyewa di dekat tempat pelajar.
Karena banyak yang berasal dari Indonesia yang kuliah di sini. Tentunya mereka akan suka masakanku. 
Perlahan Restoranku mulai dikunjungi. Aku sangat bersemangat. Hingga terdengar lagi suara yang tak asing itu.
Mbak Resti," lirihnya.
Berdebar-debar dadaku. Perlahan aku menoleh ke arah suara, dan ternyata ....
"Gilang, kamu lagi. Kenapa masih saja mengikuti saya?"
Kening Gilang berkerut dan berkata. "Saya tidak mengikutimu, Mbak. Saya kuliah di sana."
Gilang menunjuk Universitas yang terletak di seberang tempatku berjualan.
"Oh, maaf." Menunduk aku dengan malu.
Terlalu takut aku, hingga menuduh Gilang yang tidak-tidak.
"Mbak tak perlu minta maaf. Saya mengerti kenapa Mbak bersikap demikian," ucapnya sembari menarik kursi duduk di dekatku memasak.
Aku hanya membuka Restoran ini sampai jam dua siang saja. Karena memang tergetku adalah pelajar di sini.
Setelah jam makan siang selesai. Aku mulai berkemas. Gilang bercerita banyak padaku.
Ternyata dirinya ramah dan mudah akrab. Dulu aku hanya bertemu sekali. Itupun saat hari pernikahanku dengan Kakaknya. 
"Boleh saya meminta sesuatu darimu?" tanyaku penuh harap.
"Katakan dulu permintaan apa! Kalau berat, saya mana mungkin sanggup mengabulkan," ujarnya dengan nada bercanda.
"Hem, saya serius."
"Baiklah."
"Tolong jangan beritahu kabar pertemuanmu dengan saya pada keluargamu atau pun Mas Ardan!"
Gilang yang sedang menyantap makanannya, jadi berhenti. Ia menatapku dengan heran.
"Kenapa, Mbak? Padahal saya berniat untuk cerita ke Papa dan Mama. Mereka sangat sedih kehilangan dirimu, Mbak."
Mataku berkaca-kaca mendengar pengakuan Gilang. Aku tahu, mantan mertuaku itu memang sangat menyayangiku. Namun, saat ini aku tidak ingin berkomunikasi dulu.
"Mengertilah, Gilang! Saya berada di sini untuk menenangkan diri dan jauh dari kenangan masa lalu itu," paparku dengan bulir bening yang berhasil lolos dari mataku.
"Maafkan saya, Mbak. Saya berjanji tidak akan memberitahu mereka. Oya, Mbak terlihat lebih gendut sekarang."
Aku salah tingkah. Bagaimana caranya menutupi perutku yang akan membesar nanti.
Gilang tak boleh tahu kalau aku hamil. Tak bisa aku mempercayainya untuk tidak mengadu pada keluarganya. 
"Sudah waktunya saya pulang. Saya akan berkemas dulu," ujarku menghindar.
.
Setelah selesai, aku pun berniat memesan taksi untuk pulang. Tak enak jika harus merepotkan Mas Fatih setiap harinya.
Namun, ternyata Gilang masih berdiri di depan gang.
"Mbak, biar saya antar. Mbak baru kan di sini? Bahaya kalau Mbak pulang sendirian," ujarnya.
"Tapi bukannya kamu masih ada pelajaran?" tanyaku.
"Tidak, Mbak. Saya hanya sekedar hadir saja. Karena tak lama lagi saya akan lulus. Jangan takut, saya bukan orang jahat."
Tersenyum aku melihat ekspresinya yang melucu.
Akhirnya aku dan Gilang pulang bersama. 
.
Di dalam mobil.
"Mbak, saya sudah seperti sopir taksi dong."
"Kenapa begitu?" 
Berkerut keningku mendengar ucapannya.
"Ya, karena Mbak duduk di belakang, dan saya menyetir di depan."
Aku tertawa kecil, dan menggeleng dengan tak berdaya. Gilang sungguh lucu.
"Tidak baik berada dalam satu ruangan dengan yang bukan muhrimnya. Kalau begini kan kita duduk berjauhan," paparku menjelaskan.
"Iya sih, Mbak. Anggap saja saya memang sopir taksi. Jadi setiap hari saya akan mengantar, Mbak pulang."
Terdiam aku. Rasanya tak mau jika terlalu akrab dengan Gilang. Kehamilanku bisa diketahuinya.
Sebelum Anakku lahir, maka aku tak ingin Mas Ardan tahu.
.
Waktu terus berjalan.
Gilang masih bersikap sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia sangat ramah dan sopan. Aku sudah mencoba menghindar, tapi tak bisa. Ia selalu hadir dengan sejuta alasan kebaikan.
Perutku pun semakin terlihat membesar. Gilang mulai bertanya. "Mbak, dirimu terlalu banyak makan? Tapi rasanya tak mungkin sebuncit itu kalau hanya kuat makan."
Ludah yang aku telan terasa begitu pahit. Gugup aku menerima pertanyaan Gilang.
Haruskah aku jujur padanya?
Bersambung.

Komentar Buku (239)

  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus...jadi terharu

    02/03

      0
  • avatar
    Ijah Abdullah

    Cerita nya seru banget tapi kok sedih mala Resti nya Kembali Awal ke sang pencipta tapi apapun cerita nya sngt memuas kan and untuk gilang dan rumi ada cerita ka mbak

    23/11

      0
  • avatar
    AndriantoBoby

    bagussss

    14/06/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru