Lembaran Baru

Acara sungkeman kami lewati, dengan diwarnai oleh isak tangis bahagia. Kak Fitri berkali-kali mengusap air matanya yang meleleh. Bu Marni terisak saat mencium dan memeluk Tyas, putri satu-satunya. Saat aku bersimpuh di pangkuan Pak Wira, ia mengusap kepala dan pundakku.
“Mas Dani, jagalah putri kami sebaik mungkin. Perlakukan ia dengan lembut. Jangan pernah sakiti hati dan badannya. Jika kau sudah tak berkenan menjaganya, kembalikan ia dengan baik-baik kepadaku,” bisik Pak Wira.
Aku mengangguk pelan, lalu mencium tangannya. “Insya Allah, Pak. Insya Allah, akan saya jaga ia dengan segenap jiwa dan raga. Melebihi Bapak dan Ibu menjaga serta mencintainya sejak kecil,” janjiku dengan suara parau.
Tak lama kemudian, kami semua sudah duduk di pelaminan. Bang Tamrin, Kak Fitri dan Adel di deretan kursi sebelah kiri, sementara pasangan mertuaku di deretan sebelah kanan. Tamu undangan nampak memenuhi tenda yang disediakan. Rasanya tak ada lagi yang aku inginkan. Kebahagiaan hari ini bagaikan obat yang menghapus semua luka yang pernah tertoreh di hati. Aku dan Tyas tak bisa berhenti tersenyum. Aura kecantikan sang pengantin wanita, sungguh terpancar. Para tamu bergiliran mengucapkan selamat. Ada pula yang meminta untuk berfoto bersama sebagai kenang-kenangan. Banyak dari mereka yang mengatakan pangling melihat wajah Tyas yang jarang berdandan. Ia benar-benar menjelma menjadi ratu hari ini.
Sesekali sentuhan tanganku singgah di pinggang ataupun tangan Tyas, membuat wajah cantiknya memerah. Saat tangannya balas menggenggam dengan lembut, aku seperti merasa tersengat listrik. Kerlingan matanya seperti mengisyaratkan sesuatu, menyampaikan sebuah rahasia yang menggelitik. Perasaan membuncah, tak sabar untuk segera berduaan dengannya, kekasih halalku. Namun sepertinya, masih harus menunggu beberapa jam lagi.
*
Halaman mulai tampak kosong. Para tamu satu persatu meninggalkan tenda. Aku dan Tyas baru saja akan turun dari pelaminan, saat terdengar sedikit keributan di depan. Terdengar suara tangisan memohon sambil menyebut namaku. Kami yang masih berada di atas panggung, merasa heran. Sepertinya aku mengenal suara itu.
“Ada apa?” tanya Pak Wira kepada panitia yang masih berjaga.
“Anu, Pak. Itu ada ibu-ibu, maksa mau ketemu sama Mas Dani! Tapi sepertinya bukan tamu undangan, soalnya dia gak punya kartu undangannya!” ucap salah satu pemuda berbaju batik seragam panitia.
“Siapa? Coba suruh ke sini!” titah Bapak mertuaku.
Aku dan Tyas saling pandang. Kami akhirnya memutuskan untuk duduk lagi di kursi pengantin. Tak lama kemudian, pemuda tadi kembali dengan diikuti oleh … mantan mertuaku, Mama. Mau apa dia ke sini?
Melihatku yang duduk di atas panggung pelaminan, wanita tua itu langsung berlari naik. Kami semua sungguh terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba. Takut kalau ia akan bertindak nekat, aku langsung berdiri menutupi tubuh Tyas. Namun, apa yang dilakukan wanita tua itu selanjutnya malah lebih mengejutkan lagi. Ia langsung memeluk kedua kakiku sambil bersimpuh.
“Dan, Dani! Tolong Vania dan Roby, Dan! Tolong cabut laporannya! Mama mohon, Dan. Mama gak mau mereka berdua dipenjara! Huhuhuhu!” teriaknya sambil terisak. Aku beradu pandang dengan Pak Wira.
“Apa maksud Mama?” tanyaku, pura-pura tak tahu.
“Tadi pagi Vania dijemput paksa oleh polisi! Roby pun sama, ia ditangkap lebih dulu. Sekarang mereka berdua sudah berada di sel tahanan! Mama mohon, Dan, tolong jangan biarkan mereka dihukum!” Wanita tua di hadapanku merintih dan mengiba.
Aku melepaskan tangannya yang memegangi kakiku. “Bangun Ma, jangan begini.” Kutegakkan tubuhnya.
“Mama tau, apa yang sudah dilakukan Vania dan Bang Roby? Mereka melakukan tindakan kriminal, Ma! Maaf, bukan Dani yang melaporkan, tapi Pak Wira!” tandasku sambil memandang Bapak mertuaku yang sedari tadi terdiam.
“Siapa? Mertuamu yang baru, Dan? Apakah Bapak yang telah melaporkan putra dan putri saya, Pak? Tolong Pak, tolong. Cabut laporannya. Kasihani saya, Pak!” Mama memandangi Pak Wira sambil menangkupkan kedua tangan di dadanya, memohon. Air mata berderai membasahi kedua belah pipinya yang tampak mulai keriput.
“Saya sudah memaafkan perbuatan putra dan putri ibu,” kata Pak Wira dengan nada datar.
“Be-benarkan, Pak? Bapak baik sekali, terima kasih! Jadi sekarang Bapak akan mencabut laporannya kan, Pak?” desak Mama dengan mata yang seketika berbinar terang.
“Saya memang memaafkan. Tapi … proses hukum tetap berlanjut. Saya tidak akan pernah mencabut laporan. Jadi, Ibu silakan angkat kaki dari sini!” titah lelaki itu dengan tegas.
Mama tiba-tiba meraung dan tersungkur di atas panggung. Kami yang menyaksikan perbuatannya, tak bisa berkata-kata.
“Ya Tuhan, kenapa manusia-manusia ini kejam sekali? Kenapa, Tuhan? Kamu … kamu, Dani, kamu tidak kasihan pada Mama? Vania dan Roby ditangkap, sedangkan papa mereka tergolek lemah di rumah sakit! Kalian manusia kejam!” tudingnya sambil terus meraung dengan suara parau.
Aku tersentak. Keringat dingin terasa mulai bercucuran di punggungku. Sejak kapan Papa masuk rumah sakit? Apa penyakit diabetesnya kambuh?
“Maaf, Ma. Tapi, itu semua bukan salah kami. Justru Vania dan Mas Roby lah yang membuat masalah!” Meski aku merasa kasihan, tapi kedua orang itu harus diberi pelajaran agar jera.
“Kejam kalian! Kejam! Tega! Manusia tak punya hati!” raung Mama sambil menunjuk-nunjuk ke sembarang arah.
Pak Wira memberi kode kepada panitia untuk mendekat.
“Tolong antar ibu ini untuk pergi!” perintahnya. Dua orang pemuda menganggukkan kepala, kemudian mulai memegangi tangan mama.
“Mau apa kalian, hah? Lepas, lepas! Lepaskan!” jeritnya sambil menggeliat, berusaha melepaskan diri. Namun, tenaga kedua pemuda itu tampaknya terlalu kuat.
“Tolong pergi dari sini dengan baik-baik, Bu! Kalau tidak, saya akan panggil polisi juga untuk mengusir Ibu dari sini!” Suara Pak Wira terdengar serius. Mama membalasnya dengan tatapan tajam.
“Lihat saja kalian, akan saya doakan kalian semua terkenal sial! Saya tidak terima atas perlakuan kalian ini! Awas kalian, awas!” racaunya, lantas berlalu dengan isakan yang tak berhenti.
Kami semua mengucapkan istighfar. Aku kemudian terduduk lemas, mengusap wajah dengan kasar. Tangan Tyas terasa mengelus lenganku.
“Maaf, maaf. Mas minta maaf. Bahkan hari ini pun, masih ada gangguan dari keluarga mereka,” sesalku lirih sambil menatap wajah Tyas yang teduh.
“Bukan salahmu, Mas. Sudah, sekarang ayo kita turun. Waktunya istirahat dan menunaikan salat ashar. Biarkan para pekerja yang membereskan semuanya!” ajak Tyas sambil berdiri.
Semua yang berada di atas panggung pelaminan, akhirnya turun beriringan menuju ke dalam rumah.
*
“Pak Wira, Bu Marni, kami pamit pulang dulu, ya! Terima kasih untuk semuanya hari ini,” ucap Kak Fitri yang sudah bersiap-siap dengan Bang Tamrin dan Adel. “Dek Tyas, Kakak titip Dani sama kamu, ya. Kalau dia macam-macam, kasih tau Kakak!” sambungnya kemudian. Lesung pipi Tyas seketika muncul.
“Tidak sekalian nginap di sini saja, Mbak?” tawar Tyas.
“Kapan-kapan saja. Gak enak meninggalkan rumah kosong dalam keadaan sedikit berantakan,” ujar Kak Fitri.
“Ya sudah, hati-hati di jalan, kalian ya!” Pak Wira angkat bicara. Bu Marni kemudian menyerahkan sebuah bungkusan plastik besar yang disambut Kak Fitri dengan suka cita. Pasti masakan enak Ibu mertuaku itu membuat Kak Fitri senang bukan kepalang.
Aku dan Tyas mengantar mereka keluar.
“Dan, Abang pamit dulu, ya. Nanti kalau mau pindah ke rumah lama, kabari aja. Biar dibantu-bantu. Oh ya, nanti malam jangan lupa baca doa dulu!” bisik Bang Tamrin sambil mengedipkan mata kirinya. Wajahku seketika terasa panas. Untung saja Tyas sedang mengobrol dengan Kak Fitri yang sedang bersiap naik ke mobil.
“Apaan sih, Bang! Nanti malam paling juga langsung tidur. Capek!” balasku sambil tersipu.
Bang Tamrin malah tersenyum menggoda. “Emangnya Abang ngomong apa? Maksud Abang, sebelum makan, baca doa dulu!” sambungnya lagi. Huasem tenan!
“Ck, udah sana, Abang pulang! Kak Fitri sudah nunggu, tuh!” Aku mendorong tubuhnya. Kakak iparku itu hanya tertawa saja.
Perlahan mobil yang ditumpangi Kak Fitri, Bang Tamrin dan Adel menjauh. Aku masih terpaku di depan gerbang memandangi kepergian mereka. Entah berapa lama aku berdiri di situ.
“Mas … ayo, masuk!” ajak Tyas sambil menggandeng lenganku.
“E-eh, maaf. Mas ngelamun. Ayo, kita masuk!”
“Mas … mau mandi dulu?” tanya istriku.
“Boleh. Gerah rasanya. Lagian sudah hampir magrib. Mau bareng?” bisikku ke dekat telinganya.
Wajah Tyas tampak memerah. Seperti tomat yang sedang ranum-ranumnya.
***

Komentar Buku (195)

  • avatar
    Riski Jack

    cerita sangat sangat bagus bagi saya terimakasih telah menulis cerita ini...

    20/12/2021

      0
  • avatar
    Sri Sunarti

    bagus banget aku udah baca semua karya kakak kutunggu karya selanjutnya 👍👍👍

    28/06

      0
  • avatar
    RamadaniAnssya

    emng mantap

    25/07/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru