Misteri Terungkap

BPS (Bidan Praktek Swasta) Indri
Part 25
***
Aku menarik napas panjang setelah Mbak Mulyani selesai bercerita. Saat mendengarkan dia bercerita tadi, aku menahan napas karena ikut terbawa suasana. Sungguh tegang dan sangat mencekam.
"Apa Mbak kenal sama yang namanya Sintia, anak Bu Isah?" tanyaku.
"Ya bukan kenal lagi. Dulu kan aku juga tinggal di sini. Kadang suka tidur bareng sama dia."
"Ohh .. jadi Sintia itu tinggal di sini juga? Aku kira dia tinggal di rumahnya." Aku bertanya seraya manggut-manggut.
"Iya, suami Bu Isah kan sudah meninggal. Jadi dia sama Sintia tinggal di sini sejak saat itu. Sintia sama kayak aku, kerja di sini."
"Jadi, perempuan yang beberapa kali kulihat di sini itu berarti Sintia ya, Mbak?"
Mbak Mulyani mengangguk. "Iya. Itu Sintia."
"Tapi kok kemarin-kemarin aku tanya Mbak Mulyani bilang nggak tahu?"
Mbak Mulyani lalu mengungkapkan, kenapa dia berbohong. Semua dia lakukan agar aku tak merasa takut. Selain itu juga dia ingin melupakan peristiwa menyeramkan yang pernah dia lihat dengan cara menghindari obrolan seputar perempuan yang selalu terlihat di BPS Indri.
"Kalau menurutku, Mbak Mulyani sebaiknya cerita saja terus terang ke Bu Indri, apa yang sudah Mbak lihat malam itu. Biar Mbak nggak terus dihantui rasa bersalah dan biar Bu Indri bisa cepat selesai urusannya."
"Aku bingung, Mbak. Antara takut sama kasihan," kata Mbak Mulyani dengan mimik muka sedih.
Aku mengernyitkan kening, tak paham dengan ucapan Mbak Mulyani barusan.
"Memangnya takut sama kasihan kenapa, Mbak?" tanyaku heran, seraya memandang Mbak Mulyani tak mengerti.
Mbak Mulyani bilang, kalau dia bercerita terus terang pada Bu Indri, tentang apa yang sudah dilihatnya pada malam itu, dia takut sama Bu Isah. Tapi dia juga merasa kasihan pada perempuan tua itu. Karena Bu Isah hanya tinggal sendirian di sini, tak ada satu pun sanak saudara. Semua keluarga besarnya ada di Kalimantan.
Aku termenung. Dalam hati aku sedikit membenarkan apa yang dikatakan oleh Mbak Mulyani. Kasihan juga perempuan tua itu kalau harus masuk dan tinggal di dalam penjara. Siapa nanti yang akan mengurusnya di sana. Lagipula Bu Isah melakukan semua itu karena faktor balas dendam. Wajar saja sebagai ibu dia merasa sakit hati atas meninggalnya Sintia, anak semata wayang yang sangat dia sayang. Biar saja Mas Radit menerima semua resiko atas apa yang sudah dilakukannya, meskipun bukan dia pembunuh Amel sebenarnya.
"Mbak Nita janji ya, nggak akan cerita ke siapa pun semua apa yang sudah aku ceritakan. Aku menyimpan rahasia ini hampir selama setahun. Cuma ke Mbak Nita aku berani cerita. Sebab aku percaya Mbak Nita bisa nyimpan rahasia, nggak ember mulutnya. Karena banyak hal yang jadi pertimbangan," kata Mbak Mulyani sambil memegang kedua tanganku. Matanya lurus menatapku. Terlihat sekali kalau dia sedang sangat memohon padaku.
Aku mengangguk. "Ya, Mbak. Aku janji, nggak akan cerita ke siapa pun apa yang sudah aku dengar dari Mbak Mulyani," kataku, sembari membalas pegangan tangan Mbak Mulyani. Kami kemudian tersenyum bersama.
Mbak Mulyani menarik napas panjang, tampak lega kulihat. Dia lalu melepaskan pegangan tangannya dari tanganku.
"Aku cuma cerita ke Mbak Nita soal ini, karena aku percaya sama Mbak Nita," kata Mbak Mulyani sekali lagi, mungkin sebagai penegasan bahwa hanya aku orang yang dia percaya bisa menyimpan rahasia besar ini.
Mbak Mulyani mengatakan, dia tak menceritakan pada siapa pun rahasia ini karena dia tahu, teman yang lain tak akan bisa menjaga rahasia. Termasuk juga pada Mbak Siwi.
Biar bagaimana pun, dia merasa kasihan pada Bu Isah, karena sejak dari kecil Mbak Mulyani tinggal di BPS Indri. Secara otomatis dia tahu seperti apa Bu Isah yang sebetulnya.
Bu Isah sering memberi Mbak Mulyani makanan, juga untuk ibu-nya Mbak Mulyani. Saat Mbak Mulyani masih kecil dulu, Bu Isah yang selalu membantu pekerjaannya. Memperlakukan Mbak Mulyani dengan sangat baik, penuh dengan kasih sayang. Bu Isah menganggap Mbak Mulyani seperti anaknya sendiri, tak pernah membedakan antara dia dengan Sintia, anak kandung Bu Isah.
Meskipun terkesan judes dan galak, Bu Isah tak pernah memarahi Mbak Mulyani. Dia akan dengan segera datang membantu, jika Mbak Mulyani kecil kesulitan dalam melakukan pekerjaannya. Bu Isah juga yang selalu menghibur Mbak Mulyani, saat dia menangis karena rasa rindu pada ibunya. Intinya, Mbak Mulyani sudah menganggap Bu Isah juga seperti ibu kandungnya sendiri.
"Makasih ya, Mbak. Mbak sudah percaya sama aku, sampai mau cerita sebuah rahasia besar yang Mbak simpan selama ini," kataku penuh haru.
Kami bercerita sampai terdengar suara azan zuhur berkumandang. Aku segera masuk ke kamar untuk mengambil air wudu dan mengerjakan salat.
"Mbak, makan yuk," ajak Mbak Mulyani sambil mengetuk pintu kamar. Aku segera berganti pakaian lalu makan siang.
***
Sejak hari itu, aku tak lagi merasa begitu takut pada hal ganjil yang terjadi di BPS Indri, seperti suara-suara yang terdengar mengetuk pintu sambil memanggil-manggil nama, sekelebat bayangan di pohon asam, sosok perempuan yang sedang mengepel lantai atau gadis cantik yang selalu duduk di ruang tengah.
Aku sudah tahu semua itu. Pantas saja semua karyawan yang bekerja di BPS Indri tak lagi merasa takut, mungkin karena mereka memang sudah terbiasa mengalami hal seperti itu
Aku juga tak lagi merasa takut jika harus berdekatan dengan Bu Isah, bahkan jika berada di dapur hanya berdua. Bu Isah tak begitu menyeramkan seperti yang ada dalam pikiranku sebelum mendengar cerita dari Mbak Mulyani. Aku bahkan merasa kasihan padanya. Di usia senjanya, dia tak bisa bersama dengan keluarganya.
Saat sedang duduk berdua, aku mulai mengajak Bu Isah mengobrol. Meskipun pada awalnya terkesan kaku, karena Bu Isah hanya menjawab sebatas apa yang kutanyakan. Namun, lama kelamaan kami mulai akrab. Bu Isah mulai mau bercerita lucu yang mengundang tawa. Tak ada lagi perasaan takut pada Bu Isah. Aku betah jika harus berlama-lama mengobrol dengannya sambil menunggu pasien yang datang berkunjung.
Menurutku memang pantas Mas Radit menerima semua hukuman atas apa yang telah diperbuatnya selama ini. Baik kepada Sintia ataupun Amel, juga Bu Isah tentu saja. Dia telah menyakiti hati perempuan tua itu, dengan membatalkan rencana pernikahan secara sepihak bersama Sintia, anak perempuan semata wayang Bu Isah.
Jika malam hari, aku selalu tidur di kamar, tak lagi tidur dengan karyawan BPS yang piket malam. Meskipun masih merasa takut saat mendengar suara ketukan di jendela kamar, namun semuanya bisa kukendalikan.
***
Sepuluh hari kemudian Bu Indri pulang. Bu Isah bilang karena masalah Bu Indri telah selesai. Aku sengaja tak menanyakan lebih lanjut masalah apa yang dimaksud, karena aku sudah bisa mengetahuinya. Aku pura-pura tak ambil peduli, agar Bu Isah tetap merasa nyaman tanpa ada yang bertanya.
Sedikit aku mendengar tentang kelanjutan kasus Mas Radit, saat Bu Indri dan suaminya membahasnya di meja makan. Karena aku memang makan bersama dengan keluarga mereka, tak lagi di dapur dengan karyawan yang lain.
Aku mendengar saat Bu Indri bercerita, kalau Mas Radit divonis bersalah karena telah membunuh Amel. Dia dituntut dengan hukuman penjara selama 15 tahun.
Sama dengan karyawan yang lain, aku pun tutup mulut tentang kematian Sintia dan Amel. Tak bercerita pada siapa pun tentang misteri yang terjadi di BPS Indri. Saat ada pasien yang bertanya tentang hal itu, aku hanya menjawabnya dengan senyuman, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Biarlah semua yang telah terjadi di BPS Indri tetap menjadi rahasia bagi mereka.
Pelajaran yang bisa kuambil dari kisah ini adalah, sebagai seorang perempuan kita harus dan wajib menjaga kehormatan diri sendiri. Jangan menganut pergaulan bebas yang akan menyengsarakan diri kita sendiri sebagai perempuan. Zina adalah sebuah dosa besar. Jika kita masih diberi kesempatan hidup, kita masih bisa untuk bertaubat. Namun, jika ternyata nasib kita seperti Amel, yang sudah meninggal sebelum melakukan taubat, tentu akan sangat menyesal dan merugi.
***
Tamat

Komentar Buku (275)

  • avatar
    Sweetypie

    cerita nya bener² menarik, setiap bab nya selalu di buat penasaran terus gaya bahasa dan cara penulisan pun enak untuk di baca dan di pahami

    25/12/2021

      2
  • avatar
    Elviera

    Best banget cerita ini penuh dengan misteri dan teka teki... Tidak terlalu serem tapi kalau dibikin film mungkin serem sihhh hahha😂kalau kalian semua penasaran boleh start reading yaaa😍😍😍

    21/12/2021

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus ceritanya mendebarkan...

    02/05

      0
  • Lihat Semua

Selesai

Rekomendasi untuk Anda