Beranda/BPS (Bidan Praktek Swasta) Indri/
Siapa Pelakunya?
BPS (Bidan Praktek Swasta) Indri
Part 22
***
"Maksudnya gimana ya, Mbak? Jangan bikin teka-teki dong. Ngomong aja langsung biar aku nggak bingung," kataku tak paham, mendengar perkataan Mbak Mulyani barusan.
Mbak Mulyani menjauhkan wajahnya dari wajahku. Dia duduk kembali seperti sedia kala.
"Ya … seperti yang Mbak Nita dengar barusan. Mbak pasti nggak akan percaya kalau aku bilang yang sebenarnya," kata Mbak Mulyani, masih dengan suara yang sangat pelan. Dia juga sesekali melihat ke arah pintu saat sedang berbicara.
Aku garuk-garuk kepala yang tak gatal. Sungguh aku tak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Mbak Mulyani.
"Ngomong saja langsung, Mbak. Jangan bikin aku bingung. Apa maksud dari ucapan Mbak Mulyani tadi," kataku.
Mbak Mulyani beranjak dari tempat duduknya. Dia lalu berjalan keluar kamar periksa, membuatku semakin bingung dengan apa yang dilakukannya. Aku mengikuti ke arah mana Mbak Mulyani menuju.
Rupanya Mbak Mulyani menuju ke belakang, untuk memastikan kalau tak ada seorang pun yang akan mendengar apa yang nanti mau dia katakan.
"Bukan Mas Radit yang membunuh Amel, Mbak," kata Mbak Mulyani, seraya berbisik di telingaku. Tentu saja membuatku sangat terkejut mendengarnya. Mulut ini sampai melongo saking merasa kaget. Untuk beberapa saat aku menatap Mbak Mulyani tak percaya dengan ucapannya.
"Kalau bukan Mas Radit yang bunuh Amel, lalu siapa, Mbak?" tanyaku semakin penasaran. Terus terang aku tak bisa menebak siapa pembunuh Amel.
Mbak Mulyani menaruh jari telunjuk di mulutnya, agar aku bicara pelan. Dia lalu menarik tanganku menuju keluar. Kami kemudian duduk di bangku luar.
"Yang bunuh Amel itu Bu Isah," kata Mbak Mulyani.
Mulutku kembali melongo dan mataku melotot sangat lebar, saking kaget dan tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Kupandang wajah Mbak Mulyani dan kutatap lekat-lekat matanya. Aku mencari kejujuran di sana. Barangkali saja dia hanya bergurau, sedang mengajakku bercanda.
"Yang bener, Mbak? Mbak nggak sedang bercanda kan? Mbak nggak bohong?" tanyaku, memastikan, sebab tak kutemukan kebohongan di sorot mata Mbak Mulyani.
Mbak Mulyani mengangguk. "Iya bener, Mbak. Aku nggak bohong. Sumpah. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, gimana Bu Isah membunuh Amel malam itu," jawab Mbak Mulyani seraya bergidik. Mungkin dia masih teringat peristiwa menyeramkan itu.
Aku ikut bergidik. Tak bisa membayangkan ketika Bu Isah menghabisi nyawa Amel. Pantas saja selama ini Mbak Mulyani tutup mulut mengenai hal itu. Mungkin dia juga bingung untuk menceritakannya pada siapa.
Memang selama aku tinggal di BPS, Bu Isah kulihat agak ketus dan judes, tapi aku tak pernah berpikir kalau dia juga seorang pembunuh berdarah dingin.
"Ya Allah … aku nggak nyangka sama sekali, Mbak," kataku sambil menutup mulut. Jantungku tiba-tiba berdetak tak beraturan.
Mba Mulyani mengangguk. "Sama, Mbak. Aku juga nggak nyangka, kalau Bu Isah bisa berbuat sadis seperti itu, tega menghabisi nyawa Amel."
Mbak Mulyani lalu menceritakan bagaimana Amel dibunuh secara kejam oleh Bu Isah, yang dia lihat dengan mata kepalanya sendiri pada malam naas kejadian.
Ketika Mas Radit selesai mengikat Amel di pohon asam, dia langsung masuk lagi ke ruang dalam. Saat itu Bu Isah datang mengendap-endap mendekati Amel. Mbak Mulyani yang semula akan membangunkan Mbak Siwi, mengurungkan niatnya.
"Aku ngintip dari sini, apa yang dilakukan Bu Isah selanjutnya. Ternyata dia menusuk Amel dengan pisau. Dia lalu cepat-cepat pergi dan membiarkan pisau itu masih menancap di badan Amel," kata Mbak Mulyani seraya menutupi mukanya dengan kedua telapak tangannya. Mungkin dia masih teringat saat kejadian itu terjadi.
"Mbak Mulyani sudah bilang Bu Indri belum, apa yang Mbak lihat pada malam itu?" tanyaku dengan suara pelan.
Mbak Mulyani menggelengkan kepalanya. "Belum, aku takut. Selama ini aku nggak pernah cerita soal kejadian itu pada siapa pun. Baru sama Mbak Nita aku cerita. Itu juga karena Mbak terus saja mendesakku untuk cerita. Jadi aku terpaksa membocorkan rahasia yang selama ini aku simpan."
Aku tersenyum. "Iya, maaf. Soalnya aku penasaran banget. Tapi kan sekarang Mbak jadi agak lega, udah bisa keluarkan unek unek yang selama ini Mbak pendam."
Mbak Mulyani tersenyum. "Iya juga sih, aku ngerasa sedikit plong."
"Mbak harus ngomong ke Bu Indri apa sudah Mbak lihat. Biar masalahnya cepat selesai dan Bu Indri bisa cepat pulang ke sini. Lagian kasihan Mas Radit, dia dituduh membunuh padahal bukan dia yang melakukan."
"Aku nggak berani, Mbak. Tiap kali aku ketemu sama Bu Isah, sudah seperti orang yang jantungan, takutnya minta ampun."
"Tapi daripada Bu Isah masih di sini, lebih ngeri lagi, Mbak. Karena tiap saat bisa saja dia melakukan hal yang sama ke kita seperti apa yang dia lakukan ke Amel."
"Iya juga sih, tapi Bu Isah melakukan semua itu juga ada alasannya, Mbak," kata Mbak Mulyani.
Aku tertegun mendengar apa yang baru saja dikatakan Mbak Mulyani. Bu Isah membunuh Amel karena suatu alasan? Duh … makin rumit saja masalah ini. Ternyata tak sesederhana yang kupikirkan. Kukira dengan mengetahui siapa sosok perempuan yang sering kulihat, itulah keseluruhan rahasia yang ada di BPS ini. Ternyata di BPS ini masih banyak menyimpan misteri.
"Jadi …,"
Belum selesai aku bertanya, apa alasan Bu Isah membunuh Amel, tiba-tiba Bu Isah sudah muncul di depan pintu ruang periksa. Membuat aku dan Mbak Mulyani sangat terkejut tentu saja, karena tak menduga akan kedatangannya.
"Kenapa pada kaget gitu lihat saya datang, kayak yang lihat hantu saja," kata Bu Isah dengan nada curiga. Dia menatap kami secara bergantian. Membuat kami menjadi salah tingkah.
"He … he … nggak apa-apa, Bu. Mbak Mulyani sedang cerita pacarnya," kataku berbohong, sambil berusaha menutupi keterkejutanku. Disambut Mbak Mulyani dengan anggukan dan senyuman kaku.
"Mbak Nita, saya minta obat sakit kepala," kata Bu Isah. Dia lalu masuk dan duduk di kursi sebelah Mbak Mulyani.
"Nggak ditensi dulu, Bu? Siapa tahu tensinya tinggi," tanyaku.
"Boleh," jawab Bu Isah.
Aku lalu mengukur tekanan darahnya. Hasilnya 170/100 mmHg, tergolong tinggi untuk ukuran seusia Bu Isah.
"Sakit kepalanya karena tensinya tinggi, Bu. Saya kasih obat darah tinggi saja ya," kataku.
"Terserah Mbak Nita saja. Yang tahu obat-obatan kan Mbak Nita," kata Bu Isah.
Aku tersenyum. "Mbak, tolong ambilkan captopril sama CTM," kataku pada Mbak Mulyani.
"Ini Bu obatnya. Langsung diminum ya, sehari tiga kali. Kurangi makan makanan yang mengandung garam," kataku pada Bu Isah, sambil memberikan obat yang sudah diambil oleh Mbak Mulyani dari lemari obat.
Aku baru memperhatikan, ternyata Mbak Mulyani terlihat sekali kalau gugup dan salah tingkah di dekat Bu Isah. Dia berusaha untuk tak bertatap muka. Tampak sekali kalau dia gelisah. Selama ini aku tak pernah memperhatikan hal itu.
"Obatnya cuma dua macam ini, Mbak?" tanya Bu Isah.
Aku mengangguk. "Iya, Bu. Kalau nanti siang sudah agak mendingan, nggak usah diminum lagi. Habis makan siang nanti, Ibu ke sini lagi saja, nanti saya cek lagi tensinya"
"Ya sudah, mau langsung saya minum sekarang. Makasih ya," kata Bu Isah. Dia lalu beranjak dari duduk dan keluar dari kamar periksa. Aku bernapas dengan lega. Karena jujur saja, setelah mendengar cerita Mbak Mulyani tentang pembunuhan Amel, aku jadi merasa takut berada dekat dengan Bu Isah.
"Ya ampun, Mbak … aku kaget banget tadi," kata Mbak Mulyani sembari mengelus dada.
"Sama, Mbak. Aku juga. Kita sedang serius banget soalnya tadi."
"Kira-kira Bu Isah dengar nggak ya, apa yang tadi aku ceritakan," kata Mbak Mulyani. Ada nada khawatir dalam suaranya.
"Kayaknya nggak sih. Kita kan pelan banget ngomongnya tadi. Lagipula kita langsung lihat dia ada di pintu."
"Bisa gawat aku, kalau Bu Isah sampai dengar apa yang kuceritakan tadi."
Aku mengangguk, tanda setuju dengan apa yang Mbak Mulyani katakan.
"Sudah ya, Mbak. Ceritanya lain kali saja lagi. Aku takut. Lihat nih, jantungku masih deg-degan nggak karuan," kata Mbak Mulyani seraya meraih tanganku dan menaruh di dadanya.
Aku mengangguk. Tak mungkin juga aku memaksa Mbak Mulyani untuk melanjutkan ceritanya yang tadi sempat terputus. Meskipun aku merasa sangat penasaran, ingin mengetahui secepatnya cerita Mbak Mulyani sampai selesai.
***
BersambungUnduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (275)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
cerita nya bener² menarik, setiap bab nya selalu di buat penasaran terus gaya bahasa dan cara penulisan pun enak untuk di baca dan di pahami
25/12/2021
2Best banget cerita ini penuh dengan misteri dan teka teki... Tidak terlalu serem tapi kalau dibikin film mungkin serem sihhh hahha😂kalau kalian semua penasaran boleh start reading yaaa😍😍😍
21/12/2021
0bagus ceritanya mendebarkan...
02/05
0Lihat Semua