logo text

Bertemu dengan Mbak Siwi

BPS (Bidan Praktek Swasta) Indri
Part 18
***
Tiga minggu sudah aku bekerja di BPS Indri, dan selama itu aku belum pernah pulang ke rumah. Karena Bu Indri juga belum pulang dari yang katanya sedang mengurus Mas Radit. Entah masalah apa yang diurus Bu Indri dan suaminya, hingga sampai beberapa minggu lamanya belum juga selesai.
Pada minggu kedua, ayah dan ibu datang berkunjung ke BPS Indri. Mereka mengkhawatirkan keadaanku. Karena sebelumnya aku pernah mengatakan kepada mereka, kalau Bu Indri memberiku libur setiap hari Minggu.
"Kamu sehat saja kan, Nit?" tanya ibu, beliau langsung memelukku dengan erat, begitu kami bertemu.
"Alhamdulillah Nita sehat kok, Yah, Bu," jawabku membalas erat pelukan ibu dan mencium tangan mereka.
"Kami mengkhawatirkanmu, Nit. Kamu kan sebelumnya bilang akan pulang setiap hari Minggu. Ini sudah dua minggu kok kamu nggak pulang," timpal ayah.
Aku lalu menceritakan kepada ayah dan ibu apa sebabnya aku tak bisa pulang selama dua minggu ini.
"Jadi sampai sekarang Bu Indri belum pulang, Nit?" tanya ayah.
Aku menggeleng. "Belum, Yah."
"Memangnya ada urusan apa Bu Indri sampai lama nggak pulang-pulang, Nit?" tanya ibu.
Aku tersenyum. "Nita juga nggak tahu, Bu. Tapi pasti ada hal yang sangat penting yang sedang diurus oleh Bu Indri dan suaminya. Makanya sampai lama beliau nggak pulang," jawabku berbohong.
Tak mungkin juga aku menceritakan hal yang sebenarnya telah terjadi kepada ayah dan ibu. Bisa-bisa mereka akan merasa cemas memikirkan diriku dan bahkan mungkin akan menyuruhku untuk secepat mungkin mengundurkan diri dari bekerja di BPS Indri.
Lagipula, aku belum mengetahui secara pasti, apa sebetulnya yang sedang diselesaikan oleh Bu Indri dan suaminya. Apa memang betul sedang mengurus kasus Mas Radit seperti yang selalu aku dengar dari Bu Isah atau ada masalah yang lain lagi.
Kasus Mas Radit yang seperti apa dan bagaimana pun aku tak tahu. Mas Radit yang mana pun aku belum pernah bertemu dengan dia.
"Jadi kapan Bu Indri akan pulang, Nit?" tanya ibu.
"Nita juga nggak tahu, Bu. Tapi nanti, begitu Bu Indri pulang, Nita akan langsung minta izin untuk pulang ke rumah, Bu," kataku, berusaha membuat agar kedua orang tuaku tak terlalu cemas mengkhawatirkan keadaanku.
"Kami kangen sama kamu, Nit. Rumah rasanya sepi sekali nggak ada kamu," kata ibu sambil menatapku.
Aku lalu memeluk erat beliau. "Iya, Bu. Nita tahu. Nita juga kangen sama Ayah sama Ibu."
Kami lalu berbincang hingga menjelang zuhur, melepas kangen karena selama dua minggu lamanya tak saling bertemu dan berkomunikasi.
"Ya sudah, sekarang kami pulang dulu, Nit. Salam untuk Bu Indri kalau beliau sudah pulang," kata ibu.
"Iya, Bu. Nanti Nita sampaikan."
Kami lalu beranjak dari duduk dan menuju ke halaman dimana sepeda motor ayah diparkir. Perlahan sepeda motor yang dikendarai ayah dan ibu meninggalkan halaman BPS Indri. Aku melihat kepergian mereka sambil melambaikan tangan sampai bayangan sepeda motor yang dikendarai hilang dari pandangan.
"Itu Bapak sama Ibu-nya Mbak Nita?" tanya Bu Muji, yang kebetulan bertemu dengan ayah dan ibu karena sedang piket pagi.
"Iya, Bu. Mereka kangen sama saya. Makanya disempatkan datang ke sini," jawabku.
"Masih muda sekali ya. Wajarlah namanya juga orang tua, pasti kangen karena lama nggak ketemu sama anaknya," kata Bu Muji.
Aku tersenyum. "Iya, Bu."
***
Selama tiga minggu itu aku masih saja mengalami hal-hal yang menyeramkan. Meski sangat penasaran, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, karena semua karyawan di BPS Indri tak ada yang mau bercerita padaku. Mereka semuanya tutup mulut, seakan takut jika bercerita kepadaku.
Aku juga sudah tiga kali ke rumah Mbak Siwi, bermaksud ingin menanyakan tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi di BPS Indri, tapi tak pernah ketemu dengan dia. Setiap kali aku ke rumahnya, Mbak Siwi kebetulan sedang tak ada di tempat. Ingin aku menunggu sampai Mbak Siwi pulang, tapi aku khawatir jika meninggalkan BPS terlalu lama. Kasihan jika ada pasien yang menunggu.
***
Suatu hari aku nekat pergi ke rumah Mbak Siwi. Rasa penasaranku sudah sampai ke ubun-ubun. Mbak Mulyani yang sedang dinas sore. Aku bilang padanya akan ke warung membeli alat mandi.
"Mbak pakai motorku nih biar cepet," kata Mbak Mulyani sambil memberikan kunci motornya padaku. Dia sedang mengepel lantai teras depan.
"Nggak usah, Mbak. Aku jalan saja. Itung-itung olah raga," kataku, tentu saja itu hanya sebuah alasan.
Kalau aku naik motor, secara otomatis Mbak Mulyani bisa mengira-ngira berapa lama waktu yang kuperlukan untuk sampai lagi ke BPS. Sedangkan jika jalan kaki tentu sesuai kemampuanku berjalan.
Awalnya aku akan lewat depan gang di BPS, tapi Mbak Mulyani belum selesai mengepel lantai teras depan, dia pasti akan melihatku. Akhirnya aku berjalan ke arah warung, dari sana ada gang yang menuju ke arah rumah Mbak Siwi.
Lumayan jauh ternyata rumah Mbak Siwi, jika ditempuh lewat gang dekat warung. Membuatku betul-betul berolah raga.
Setelah bertanya beberapa kali pada orang yang kutemui, yang mana rumah Mbak Siwi, akhirnya aku sampai di depan pintu pagar rumahnya.
Perlahan kubuka pintu pagar bercat warna hitam itu dan aku menuju ke depan pintu. Tak terlihat ada orang di depan rumah Mbak Siwi. Mungkin sedang berada di dalam karena panas matahari yang sangat menyengat.
Aku duduk sebentar di teras depan rumah Mbak Siwi, melepaskan lelah karena baru berjalan dengan jarak yang lumayan jauh. Sambil mengatur napas yang tersengal.
Lalu, aku mencari bel, barangkali saja ada terpasang di sekitar pintu. Tapi rupanya rumah Mbak Siwi tak dipasangi bel.
"Assalaamu'alaikum."
Aku mengucapkan salam seraya mengetuk pintu. Tak ada yang menyahut. Aku mengulangi sampai tiga kali. Tetap tak ada yang menyahut. Mungkin penghuni rumahnya sedang tidak ada atau sedang beristirahat siang, pikirku.
Dengan agak kecewa aku bermaksud pulang. Namun, baru saja aku melangkahkan kaki menuju pintu gerbang, terdengar suara orang memanggilku.
"Mbak … cari siapa?" tanya suara itu.
Aku menoleh ke arah sumber suara. Ada seorang ibu berdiri di depan pintu. Aku menghampirinya. Tiga kali aku ke rumah Mbak Siwi sebelumnya, tak pernah bertemu dengan ibu itu.
"Saya Nita, Bu. Perawat di rumah Bu Indri. Saya ingin ketemu sama Mbak Siwi. Apa Mbak Siwi-nya ada?" tanyaku sambil tersenyum.
"Oh … mau ketemu Siwi, sebentar Ibu panggilkan. Ayo masuk dulu," kata ibu itu yang ternyata adalah ibu-nya Mbak Siwi.
"Ayo duduk. Ibu ke belakang dulu ya manggil Siwi."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Aku lalu duduk di ruang tamu rumah Mbak Siwi. Sementara ibu-nya Mbak Siwi menuju ke belakang. Aku bernapas dengan lega. Akhirnya bisa bertemu dengan Mbak Siwi dan sebentar lagi aku akan mendengar cerita tentang BPS Indri. Ada peristiwa apa sebetulnya di sana.
Sekitar lima menit, muncul dari dalam rumah seorang perempuan. Berusia sekitar 23 tahun. Dia tersenyum ke arahku.
"Siwi," katanya sambil mengulurkan tangan.
"Nita," kataku menyambut uluran tangannya.
"Aku dengar kamu sudah beberapa kali ke sini ya?" tanya Mbak Siwi.
"Hehe … iya, Mbak. Tapi nggak pernah ketemu Mbak Siwi."
Kami lalu berbincang sebentar. Aku kemudian mengutarakan maksud kedatanganku.
***
Bersambung

Komentar Buku (275)

  • avatar
    Sweetypie

    cerita nya bener² menarik, setiap bab nya selalu di buat penasaran terus gaya bahasa dan cara penulisan pun enak untuk di baca dan di pahami

    25/12/2021

      2
  • avatar
    Elviera

    Best banget cerita ini penuh dengan misteri dan teka teki... Tidak terlalu serem tapi kalau dibikin film mungkin serem sihhh hahha😂kalau kalian semua penasaran boleh start reading yaaa😍😍😍

    21/12/2021

      0
  • avatar
    Gondo KusumaYuliawati

    bagus ceritanya mendebarkan...

    02/05

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru