Range Rover Evoque keluaran terbaru terhenti di garasi depan rumah Adimas. Mobil kelas premium yang tak pernah bisa dimiliki oleh kalangan menengah ke bawah dapat dengan mudah dibeli oleh mereka yang memiliki segalanya termasuk Adimas. “Mobil siapakah itu?” ucap Tama kepada Liam, Dave, dan Hendri. Kebetulan mereka berempat sedang berkumpul di bangku taman depan halaman. Hendri yang biasanya membuntuti kemana saja Samuel berada, kali ini tak melakukan kegiatannya tersebut. “Yang pasti bukan mobil kita,” jelas Dave dengan tatapan terpesona. Kilau dari badan mobil tersebut membuatnya ingin cepat-cepat menjadi kaya seperti mencuri uang negara atau menjual narkoba. “Kapan ya kita bisa memiliki mobil seperti itu?” “Kalau mau berusaha, pasti kita bisa memilikinya,” kata Hendri. “Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Beberapa tahun kemudian, aku pasti akan memilikinya!” “Jelas, itu sudah terbaca,” jawab Liam. Hendri menoleh kepadanya dengan tatapan tanda tanya. “Kau pasti akan memilikinya beberapa tahun ke depan kalau berhasil menjilat Samuel atau Pak Hasan.” Liam memperjelas ucapannya. Ekspresi Hendri berubah cepat. Ia mengepal tangannya kuat-kuat. Ucapan yang dilontarkan Liam tidak bisa diterimanya begitu saja. Ia bukanlah seorang penjilat. “Jangan mudah memberikan spekulasi terhadap orang lain yang tidak kau kenal.” Muncul seutas senyum di bibir Liam, ia menjawabnya, “Lewat mata, seseorang bisa melihat. Lewat tindakan, seseorang bisa menilai. Keduanya adalah fakta.” Saling tatap tak mampu dihindarkan. Baik Liam maupun Hendri sama-sama memberikan tatapan sejurus tanpa sedikit pun teralihkan. Liam tetap pada pendiriannya, sementara Hendri tidak terima dengan ucapan Liam. “Hei, apa yang kalian lakukan.” Dave berusaha menengahi mereka berdua. “Aku percaya kalian sama-sama telah dewasa. Jangan karena membahas mobil, kalian bertengkar seperti ini.” Pintu pada kemudi mobil itu terbuka. Ternyata Lukman yang mengendarai mobil mewah tersebut. Melihat kedatangan Lukman yang pergi selama lebih dari dua puluh empat jam, membuat Liam bertanya-tanya. “Samuel! Samuel!” panggil Lukman beberapa kali pada lorong garasi berharap Samuel keluar dari kamarnya. “Ada apa, Om?” tanya Samuel dengan keadaan pakaiannya yang belum rapi. “Ini,” telapak Lukman mengusap mobil baru di sampingnya. “Om Adimas membelikannya untuk kamu.” Dengan wajah setengah tidak percaya, Samuel menghampiri mobil yang merupakan pionir SUV di kelas premium dunia permobilan. Telapak tangannya mengusap badan mobil dan mengelilingi seluruh sisinya. “Om Lukman tidak bercanda, kan?” tatap Samuel serius. Kesenangan yang ada pada hatinya dan logika normal di kepalanya saling bertarung. Keduanya ingin menang. Secara logika, tidak mungkin Adimas mau memberikan mobil premium kepadanya. “Kalau kamu tidak percaya, kamu boleh bertanya langsung kepada Om Adimas di ruangannya.” Untuk memastikannya, Samuel segera pergi ke lantai empat, lantai paling atas kediaman ini, juga tak sembarang orang boleh ke sana tanpa didasari rasa percaya lebih dulu dari Adimas. Setibanya di sana, Samuel melihat pintu ruang kerja Adimas tidak tertutup rapat. Masih ada celah baginya untuk melihat ke dalam. Ia menghela nafas sebentar lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintu kayu berbahan eboni tersebut. “Om?” sapa Samuel memulai percakapannya. Adimas sendiri sedang memunggungi Samuel sambil memegang gelas champagne berisi wine favoritnya dengan sudut siku sembilan puluh derajat. Adimas berbalik, menatap Samuel sebentar, lalu memberikan senyum tulusnya. Dari jauh, kening lelaki di hadapan Samuel itu telah menampilkan kerut. “Ada apa, Sam?” “Om Lukman bilang kalau mobil range rover di bawah itu untukku. Apa itu benar?” “Hmm.” Adimas menggangguk. “Itu memang untukmu.” Perasaan senang dalam dirinya mulai bergejolak dan memaksa dirinya untuk berjingkrak-jingkrak sekarang juga. Namun, di hadapan sosok yang sangat diseganinya, Samuel menahan itu dan mengatur nafasnya perlahan. “Kalau saya boleh tahu, kenapa Om melakukannya?” “Apakah memberikan hadiah kepada calon menantu Om memerlukan alasan agar bisa diterima oleh logika?” Samuel tidak mampu menjawab. Kepala dan hatinya bersatu untuk merasa berbunga-bunga sekarang juga. Hal yang paling membuatnya senang adalah ketika mendapatkan lampu hijau dari ayah perempuan yang dicintainya. “Terima kasih, Om. Saya pasti akan menjaga Andini dan tidak akan mengecewakan rasa percaya Om Adimas.” Saat menuruni anak tangga, kesenangan di wajah Samuel tak sengaja terlihat oleh Andini yang kebetulan baru terjaga dari tidurnya. “Kenapa wajahmu senang sekali?” Raut Andini nampak penasaran dengan apa yang terjadi di dalam diri sahabatnya itu.
“Kamu ingin tahu?”
“Hmmm.”
“Ikut aku ke bawah.” ***
Wajah Andini sedikit terkejut ketika melihat mobil yang dibelikan sang ayah untuk Samuel. Kedalaman pada matanya menelisik, kepalanya berpikir cukup dalam untuk menganalisa setiap kemungkinan alasan kenapa sang ayah rela merogoh kocek cukup dalam demi orang yang bukan menjadi bagian dari keluarga mereka.
“Apa yang ayah katakan padamu, Sam?”
“Tentang?”
“Kenapa dia mau membelikan mobil mahal ini kepadamu. Pasti dia memiliki rencana. Tidak mungkin manusia seperti dia peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Dia adalah iblis yang menjelma menjadi manusia.”
“Hei, An. Jangan berburuk sangka seperti itu. Papa kamu adalah orang baik. Dia mencari orang yang tepat sebagai pendampingmu.”
“Oh, jadi dia memintamu untuk menjagaku?”
“Lebih dari itu.” Samuel memberanikan diri untuk menggenggam tangan Andini di muka umum. Dari jauh, beberapa pasang mata mengamati kejadian tersebut. Termasuk Liam yang menaruh bara pada matanya. “Kamu sudah tahu berapa lama aku menyimpan semuanya. Aku tetap pada pendirianku dan tetap mencintaimu.”
“Apa yang dia katakan, Sam?” Suara Andini mulai meninggi. Kebenciannya telah terpupuk sangat lebat sehingga ia tak tahu lagi bagaimana memperbaiki keping-keping dari kehancuran hubungan keluarganya setelah kematian sang ibu.
“Kamu pasti tahu.”
Andini mengajak Samuel untuk berbincang di dalam. Ia tahu, momen ketika Samuel menggenggam tangannya telah diperhatikan oleh banyak orang. Ia tak mungkin melepaskannya dan mempermalukan Samuel di hadapan umum. Setelah berada di ruangan yang di mana hanya ada mereka, Andini menarik kedua tangannya dari genggaman Samuel. Ia tak ingin hubungan persahabatannya hancur karena cinta. Hatinya telah diisi oleh orang lain. Orang yang selama beberapa waktu belakangan selalu ada di pikiran dan hatinya.
“Aku selalu siap menunggumu, An,” kata Samuel sungguh-sungguh. “Tidak ada yang bisa menafikan perasaanku padamu.”
“Maaf, Sam. Aku belum siap,” kata Andini yang kemudian bergegas ke kamarnya dan meninggalkan Samuel yang mematung sendirian.
Di kamarnya, Andini membiarkan tubuhnya terlentang di tengah-tengah ranjangnya. Pikirannya menerawang dan menimbang apa yang terjadi barusan. Secara logika, Samuel memang cocok untuknya. Selain Samuel, ia tak punya teman lain yang bisa diajak untuk berbagi cerita. Namun, ia juga tidak bisa membohongi perasaannya. Ada penghuni lain yang telah mengisi kekosongan hatinya. ***
“Sepertinya Samuel berhasil mendekati Nona Andini,” kata Tama kepada mereka bertiga.
“Memang mereka berdua layak untuk bersatu. Samuel juga bukan berasal dari kalangan biasa seperti kita. Pak Adimas pasti menyetujuinya.” Dave menimpali.
Liam merasakan apa yang sebelumnya belum pernah ia rasakan. Ada api sedang menyala di dadanya. Kobaran itu membuat detak di jantung berdetak lebih kencang dari biasanya.
Harusnya, dari awal, ia tak perlu menatap mata teduh itu. Mata yang membuatnya tertegun hingga berhasil mencuri sebagian kecil perhatiannya dari niat untuk membalaskan dendam.
“Nona Andini sangat beruntung karena dicintai oleh Tuan Samuel. Hidupnya pasti akan bahagia jika bersama dengan Tuan Samuel,” ujar Hendri.
“Tuan?” Tama mengernyitkan dahinya. “Hendri, kau tidak perlu berlebihan memanggil Samuel dengan sebutan Tuan. Dia sama seperti kita di sini.”
“Tidak. Tuan Samuel tidak sama dengan kita. Tuan Samuel adalah pewaris A&B Guard. Kalian harus sadar itu.” Hendri mempertegas ucapannya.
“Tapi kita tidak lagi bekerja di sana. Status kita sama dengan dia. Lagi pula, Samuel tidak gila hormat. Untuk apa kau memperlakukannya sampai seperti itu?”
“Menjilat.” Liam akhirnya membuka suara. Menurutnya, Hendri sangat berlebihan. “Jika kau ingin cepat kaya dan membeli mobil mewah seperti yang ada di hadapan kita saat ini, lebih baik kau menjilat Pak Hasan langsung. Bukan anaknya.”
“Liam, kalau kau tidak paham dengan apa yang kau katakan, sebaiknya diam saja!” Hendri meraih kerah kemeja putih yang dikenakan Liam. “Sekali lagi kau bicara yang macam-macam, akan kurobek mulut sialanmu itu!”
“Lakukan saja. Tak perlu mengancam. Lakukan sekarang jika kau ingin melakukannya,” tantang Liam.
Situasi makin panas. Tama segera memberikan kode kepada Dave untuk memisahkan mereka berdua. Dengan tubuh besarnya, Dave berhasil menarik Hendri ke belakang. Ia menarik kedua tangan Hendri.
“Kita pergi ke sini bersama sejak awal. Dan kau harus tahu, Hendri, apa yang dikatakan Liam memang ada benarnya. Kau jarang menghabiskan waktu bersama kami. Kau sibuk dengan Samuel. Sementara, sedikit pun Samuel tak menganggapmu spesial dari yang lain.”
“Aku tidak butuh kalian!’ Hendri menatap Dave dengan sorot mata yang tajam. Ia menghempaskan tangan Dave yang masih memegang bajunya lalu pergi entah ke mana.
Dari lantai empat, Adimas melihat apa yang terjadi lewat jendela ruang kerjanya. Matanya tetap memperhatikan bagaimana Hendri yang melangkah tegap meninggalkan teman-temannya tanpa ragu. Sosok Hendri yang rela melakukan apa pun demi uang dan jabatan, adalah sosok yang dicarinya selama ini.
Adimas meraih ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya. “Aku punya tugas untukmu, Li.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mntp
04/04/2025
0sangat bagus sekali
26/03/2025
0Bagus kak
18/03/2025
0Lihat Semua