Cakrawala malam ini sangat hitam. Tak ada gemintang yang menampilkan setitik terang. Adimas dan pasukannya telah siaga di tempat masing-masing. Kali ini, ia yang akan turun tangan langsung untuk menghabisi nyawa orang yang telah berani-beraninya mendekati Andini.
Tempat persembunyian Bara cukup jauh dari permukiman penduduk. Butuh waktu sekitar lima belas menit berjalan kaki untuk tiba di sana. Tak ada jalan bagi kendaraan untuk masuk.
“10 menit lagi kita akan masuk, harap bersiap! Semuanya mesti siaga!” perintah Adimas.
Setelah semuanya siap, penyergapan langsung dilakukan. Mereka berjalan perlahan dengan derap langkah yang nyaris tak terdengar. Adimas memimpin langsung, menjadi garda paling depan dalam penyerangan ini.
Tubuh Adimas telah dikenakan rompi anti peluru. Revolver kesayangannya telah menggantung di ban pinggang.
Suara jangkrik menjadi latar musik perjalanan mereka. Tak ada orang yang lewat, hanya alang-alang dan pohon yang tumbuh secara berantakan. Masing-masing dari mereka telah memakai kacamata night vision.
Sebuah gubuk tua yang terbuat dari kayu mahoni terlihat dari jarak tiga puluh meter. Di sana, ada dua orang penjaga bersenjata lengkap dengan posisi siaga.
“Sardi, lakukan tugasmu sekarang.” Adimas memberikan perintah.
Udara malam yang agak dingin malam ini makin membuat suasana mencekam. Setelah mendapatkan perintah, Sardi pelan-pelan melangkah ke arah gubuk tua itu.
“Jika kau kesulitan untuk melumpuhkan mereka, pasang peredam pada pistolmu.”
“Baik, Pak!”
Dari jarak sepuluh meter, Sardi telah menyusun rencana. Akan sangat sulit jika menghadapi keduanya secara langsung. Mereka harus berpisah. Salah satu dari mereka mesti alihkan dari jangkauan.
Sardi merangkak pelan, langkahnya tak boleh terdengar, hening mesti dijaga hingga ia berada di belakang gubuk itu. Ketika ia telah sampai di belakang gubuk tua tersebut, tangan kanannya menarik pelan geribik reyot yang menjadi dinding gubuk itu hingga memperdengarkan sebuah suara yang mencurigakan bagi dua penjaga itu.
Kedua penjaga itu saling menatap. Salah satu dari mereka menyalakan senter dan mengarahkan cahaya senter itu ke dinding belakang. Tak ada apa-apa di sana. Semuanya nampak sama saja.
“Tidak ada apa-apa,” kata salah satu penjaga yang berjanggut tipis. “Mungkin hewan yang tidak sengaja lewat. Namun, rekannya justru semakin penasaran apa yang ada di belakang dinding gubuk tersebut.
“Sebentar, aku akan kembali,” kata rekan tersebut disusul dengan langkahnya yang semakin menjauh.
Mengetahui bahwa salah satu penjaga masuk dalam perangkapnya, Sardi bersiap. Suara penjaga itu semakin terdengar jelas, tapak kakinya berketak-ketuk menuju sumber suara. Sardi mundur perlahan, memasang ancang-ancang sambil menyembunyikan diri agar tidak ketahuan.
Moncong dari laras panjang sang penjaga mulai muncul, Sardi merapatkan tubuhnya pada geribik reyot tersebut agar tak terkena cahaya senter yang dinyalakan. Saat sang penjaga mulai berbelok ke arahnya, dengan sigap langkahnya menyilang dan kedua tangannya bergerak cepat untuk memukul tengkuk penjaga tersebut sampai pingsan.
“Semuanya bersiap.” Sardi memberikan sinyal. Tak lama kemudian, langkah dipercepat setelah penjaga berjanggut kumis itu merasa ada yang janggal karena rekannya tak juga kembali. Sebelum keberadaannya diketahui, Sardi membiarkan peluru pada pisto yang telah dipasang peredam itu keluar mengenai kepala belakang penjaga tersebut.
Kedua penjaga telah berhasil dilumpuhkan. Adimas dan pasukannya mulai mengendap-endap untuk menguasai wilayah tersebut.
“Semuanya menyebar. Tapi ingat, jangan sampai ada yang sendirian,” perintah Adimas.
Satu persatu, anak buah Bara dilumpuhkan oleh anak buah Adimas yang berjumlah empat puluh orang. Tempat persembunyian mereka yang cukup luas membuat Bara yang tertelap tidak menyadari adanya penyerangan.
Di saat anak buahnya berguguran, Bara malah asyik bercinta dengan kupu-kupu malam yang disewanya malam ini untuk memuaskan hasrat yang telah lama ia rindukan. Sebuah musik klasik diselingi erangan dari sepasang insan tersebut.
Tubuh Bara berkeringat banyak, hasrat yang selama ini ia idamkan akhirnya tersampaikan juga dengan desahan-desahan yang panjang.
Saat keintiman sedang berada di titik paling puncak, Bara mulai mendengar suara perkelahian terjadi di luar kamarnya. Posisinya yang tengah di atas tubuh sang wanita segera berjingkrak dan bergegas mengenakan pakaiannya.
“Ada apa, Bang?” tanya sang wanita malam tersebut.
“Kau di sini saja, aku akan memeriksa ke luar,” jelas Bara sambil menarik resleting celananya ke atas. Ia mengambil revolver dan segera melihat keadaan di luar.
Saat engsel pintu ditarik dan pintu kamarnya terbuka setengah, sebuah tongkat besi tiba-tiba menghantam kepalanya tanpa ia sempat memberikan perlawanan. Ia terjatuh, tak lama kemudian, darah segar mengalir dari kepalanya hingga menetes ke lantai yang dipijakinya. Revolver yang digenggamnya pun terseret beberapa meter hingga masuk ke kolong tempat tidur.
“Keluar.” Adimas memberikan perintah kepada sang wanita malam untuk meninggalkan tempat itu.
Dengan ketakutan, wanita tersebut meninggalkan Bara tanpa memikirkan pembayaran yang belum diterimanya. Ia bergegas mengenakan pakaiannya lengkapnya dan meninggalkan wilayah yang sebentar lagi akan menjadi tempat pertumpahan darah.
Setelah perempuan itu keluar, Adimas melempar tongkat besi yang tadi digunakannya ke lantai. Bara belum kehilangan kesadaran dan sedang berusaha untuk bangkit berdiri.
Adimas mengepalkan tangannya erat-erat. Ia menunggu Bara berdiri tegak agar mereka berdua bisa beradu satu sama lain.
Setelah berhasil untuk bangkit berdiri, Bara menyeka darah yang membasahi bibirnya. Pandangannya sedikit buyar, namun tak jadi masalah jika ia harus berhadapan satu lawan satu.
“Seorang Adimas datang sendiri untuk memberi mendatangiku,” ejeknya sambil menatap Adimas tanpa segan.
“Orang yang sudah menyakiti anakku, akan menanggung akibatnya.”
“Harusnya putrimu itu kumatikan saja dengan tanganku sendiri.” Setelah mengucapkannya, Bara langsung melayangkan pukulan kanan ke arah Adimas.
Dengan tangkas, Adimas menangkisnya. Mereka saling menyerang. Meski kepala Bara terluka, fokusnya tak mudah pecah. Ia tetap bisa mengimbangi perkelahian dengan tangan tersebut.
“Apa kau masih kuat untuk meladeniku, Bang? Tubuhmu sudah terlalu tua untuk ini,” ledek Bara saat serangan sikunya berhasil dihalang kedua tangan Adimas.
“Cecunguk sepertimu sudah mudah untuk ditaklukan,” jawab Adimas seraya mengerahkan tenaga di tubuhnya untuk mendorong Bara ke belakang.
Saat kedua tangan Adimas menahan sikunya, Bara mengambil kesempatan tersebut untuk melayangkan lututnya agar mengenai perut Adimas. Namun, gerakan itu diketahui Adimas sehingga dengan sigap ia menghindar beberapa langkah.
“Kalau begitu, kenapa kau tak bunuh aku sekarang?”
Penghindaran yang dilakukan Adimas agar perutnya tak jadi sasaran empuk bagi lutut Bara menjadi sebuah jeda untuk mengambil nafas. Memang betul, usia Adimas tidak lagi muda. Satu tahun lagi ia akan genap berusia lima puluh tahun. Sebuah angka yang akan membawanya menjadi golongan lanjut usia.
“Akan kulakukan sekarang karena kau sudah mengizinkan.” Adimas menjawab tegas.
Kini, Bara yang menyerang lebih dulu. Darah yang mengucur dari kepalanya mulai menetesi luas seluruh lantai di kamar tersebut. Perkiraan Adimas akan Bara yang sebentar lagi akan kehilangan keseimbangan karena darah di kepalanya terus keluar perlahan mulai terjadi.
Beberapa kali, Adimas melihatnya memfokuskan pandangan seolah-olah sepasang mata Bara berpandangan kabur tiba-tiba.
Tak ingin melewatkan kesempatan itu, Adimas segera melayangkan pukulan terkuatnya. Bara terjerembab. Sekali lagi ia berusaha bangkit, namun tiba-tiba kepalanya terasa sakit dan tubuhnya tak mampu berdiri dengan seimbang.
“Bagaimana jika organ di tubuhmu kubuka saat kau masih hidup?” Tangan Adimas merogoh belati di saku celana.
Adimas menghampiri Bara yang masih berupaya sekuat tenaga untuk bangkit berdiri. Sebuah pukulan lagi-lagi mendarat di wajah Bara. Tangan Adimas berkali-kali mengayunkan pukulan secara bergantian.
“Ini untuk Andini!” Pukulan terakhir yang dilayangkan tangan kanannya menghantam perut Bara. Seketika, sesak yang teramat, yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, datang begitu saja. Mulutnya terbuka lebar, perutnya terhentak ke dalam seolah organ-organ di dalam itu mundur dari tempatnya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mntp
04/04/2025
0sangat bagus sekali
26/03/2025
0Bagus kak
18/03/2025
0Lihat Semua