Portal berhasil terbuka setelah perkelahian yang cukup panjang Bertarung sengit di dunia nyata bukanlah seperti film yang memperlihatkan bagaimana tokoh utama berhasil mengalahkan musuhnya yang berjumlah puluhan dalam waktu sekian menit. Ini dunia nyata. Untuk sampai ke titik itu, seseorang mesti ditempa setiap hari bahkan tahunan. Mereka berhasil melarikan diri sebelum musuh yang berada di kapal tunda itu mendarat. “Kamu tidak apa-apa, Liam?” tanya Sardi sambil matanya menatap fokus ke depan. Di wajah Sardi, terdapat beberapa lebam sebagai kenang-kenangan perkelahian tadi. “Tidak apa-apa, Pak.” “Jangan panggil saya Pak. Panggil saja Abang. Usia kita sepertinya tidak terpaut jauh. Saya 35 tahun. Usiamu berapa?” “27 tahun, Pak. Eh, Bang,” Liam meralat ucapannya. “Rencana kita berantakan. Kita pulang tanpa bisa menangkap Bara dan membunuhnya. Di antara kita, pasti ada yang membocorkan rencana ini, atau–– terdapat pengkhianat yang berusaha menghancurkan dari dalam.” Liam tak menjawab. Soal rencana untuk menangkap Bara, memang ia memberitahu Pak Leo sebelum bertindak. Namun, Pak Leo tidak ada hubungannya dengan Bara. Kenal pun tidak. Jadi, tidak mungkin Pak Leo membocorkan rencana ini. “Oh ya, terima kasih tadi sudah menyelamatkan saya. Kalau tidak ada kamu, mungkin saya sudah––“ “Tidak masalah, Bang. Lagi pula, memang sudah sepatutnya sekuriti tadi menjadi lawan saya sejak awal. Kami sama-sama anak silat. Gerakannya, keluwesannya, kuda-kudanya, dan emosinya, merupakan satu kesatuan utuh dari pencak silat.” “Wah, ternyata kamu anak silat. Saya juga punya kawan anak silat yang mendunia. Sekarang dia sudah pensiun pertandingan dan sibuk berkutat dengan membuat unit latihan baru yang dipayungi perguruan asalnya.” Selama perbincangan tadi, beberapa kali Liam memegangi tubuh di samping kirinya. Ia merasakan sakit bahkan sempat kesulitan bernapas karena tubuhnya tak bisa bergerak leluasa bahkan sekedar menarik dan membuang napas. Diam-diam, dari kemudinya, Sardi memperhatikan gerakan tangan Liam yang memegangi tubuhnya saat kesakitan Rombongan mobil Lukman melewati jalan ke arah pusat kota. Mereka berniat mencari hotel berbintang tiga agar musuh atau siapa pun segan untuk menyerang di hadapan umum. Jalanan meliuk-liuk yang menanjak namun cukup landai mereka lewati. Di sebelah kiri, terdapat hotel berlantai dua puluh yang paling mewah di kota tersebut. “Kita menginap di sini saja, ya,” Lukman memberikan perintah kepada tiga mobil pengiringnya. Sebelum memasuki hotel tersebut, dua petugas mencegat mereka di pintu utama dan meletakkan alat pendeteksi senjata. Untungnya, Lukman telah memperhitungkan hal tersebut sebelumnya. Ia meletakkan revolver yang dia bawa ke dalam sebuah koper hitam anti deteksi. Empat mobil mereka lolos dari pemeriksaan. Di kamar mandi, Liam menyingkapkan setengah bajunya dan melihat dengan jelas lebam yang berada di rusuk kirinya itu. “Ahhh!!” desahnya saat berupaya melepaskan pakaian. Untuk menekan rasa sakit, tubuhnya sampai membungkuk-bungkuk agar tubuhnya yang lebam itu tak perlu bergerak lebih. Ia berdiri di hadapan cermin. Lebam sebesar kepalan tangan menghiasi tubuhnya yang mulai sedikit lebih berisi ketimbang beberapa waktu yang lalu. Malam ini, ia memutuskan untuk tidur tanpa mengenakan baju. *** “Tidak ada korban jiwa, kan?” tanya Adimas pada sambungan telepon. “Tidak ada, Bang. Semuanya aman. Tapi, kurasa, ada yang membocorkan rencana sehingga Bara tidak menunjukkan batang hidungnya,” jelas Lukman. “Pengawal baru itu.” Adimas tak menahan lagi rasa curiganya. Sedari awal, mestinya Liam tak perlu ikut pada misi tersebut. “Tidak, Bang. Justru anak itu yang menyelamatkan Sardi. Kalau tidak ada dia, mungkin Sardi sudah tidak ada saat ini.” “Tidak, seandainya dia tidak ikut, pasti kita berhasil menangkap Bara.” Adimas yang biasanya rasional dan penuh dengan logika baik di dalam pikiran maupun tindakan, kali ini pernyataannya seolah tak dikenali oleh Lukman. Ia tetap bersikukuh kalau kegagalan yang dialami Lukman, orang kepercayaannya, disebabkan oleh ikut sertanya Liam dalam misi tersebut. “Besok siang kami akan berangkat dari sini, Bang,” kata Lukman mengalihkan karena tak tahu harus memberikan komentar seperti apa tentang pendapat Adimas. “Oke. Nikmati istirahat kalian malam ini. Gunakan saja kartu yang kuberikan untuk mendapatkan fasilitas lebih,” tutupnya. Setelah sambungan telepon itu terputus, Lukman membuka tirai jendela pada kamar suitenya. Pandangannya menatap nanar laut yang berpendar. Hotel terbaik yang ditempatinya memang terkenal karena pemandangan laut yang disuguhkan. Karena pemandangan itulah, harga yang digelontorkan dua kali lebih banyak ketimbang hotel-hotel lain yang hanya menyuguhkan pemandangan perkotaan. “Apa yang membuat Bang Dimas benci sekali dengan Liam?” gumamnya. *** Waktu semakin malam. Mata Liam tidak mampu terpejam. Nyeri masih terasa pada tubuhnya. Namun, rasa nyeri itu mulai mereda perlahan-lahan setelah Liam menelepon layanan kamar untuk dibawakan beberapa es batu ke kamarnya. Di sampingnya, Sardi telah tertidur pulas. Sementara itu, matanya sulit sekali untuk terpejam. Rasa kantuk seolah lari dari padanya. Tak ada rasa tenang dalam batinnya. Sepanjang malam, dirinya terjaga dan memikirkan kenangan yang pernah dilaluinya bersama Ando. Betapa menyenangkannya saat itu. Ando adalah kakak yang usianya hanya terpaut kurang dari dua tahun. Karena itu, mereka sangat dekat. “Kita harus sama-sama terus ya, Ndy. Bahkan kalau bisa sampai kita menikah, tetap utamakan hubungan saudara.” Liam mengenang ucapan saudaranya itu. Air matanya mengalir, membahasi bantal berwarna putih itu. Tangisnya berlangsung dalam diam. Matanya terus menatap laut yang berpendar indah di bawah sana. Ponsel dalam sakunya bergetar. Momen menyedihkan tersebut segera berakhir saat Pak Leo mengirimkan pesan. Untuk meninggalkan jejak, Liam buru-buru masuk ke kamar mandi dan melakukan panggilan telepon dengan kaptennya itu. “Jadi, Bara tidak berhasil ditangkap?” tanya Pak Leo. “Hmm. Sepertinya salah satu dari anak buah Adimas ada yang berperan sebagai mata-mata Bara.” “Perlukah saya menyelidikinya?” “Tidak perlu, Kapten. Tidak ada untungnya juga bagi kita. Semakin cepat Adimas hancur, maka akan semakin cepat misi ini terselesaikan.” “Oya, apa kamu sudah mengetahui di mana letak pabrik sabu Adimas?” “Belum, Kapten. Selama saya di sini, baru inilah saya diberikan tugas keluar dari kediaman Adimas. Sangat sulit untuk mendapatkan informasi. “Oh, begitu. Bagaimana perkelahian tadi? Apa kamu terluka? “Tidak juga, hanya terkena pukulan melingkar dari salah satu penyerang tadi. Sakitnya sudah mulai berkurang.” “Kapan kamu akan kembali?” “Besok siang, Kapten.” “Oke, akan kusiapkan obat penahan rasa sakit untukmu.” “Terima kasih, Kapten.” “Kau boleh beristirahat hari ini. Tidurlah yang nyenyak. Besok, kita tidak tahu apa yang terjadi. Kalau memang ada yang menjadi mata-mata di antara kalian, mungkin saja besok akan ada yang menyerang saat perjalanan pulang.”
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
mntp
04/04/2025
0sangat bagus sekali
26/03/2025
0Bagus kak
18/03/2025
0Lihat Semua