Beranda/Kakak Adalah Ibu/
7. Keputusan Bulat
•|•
Nuri duduk termenung di atas kasurnya sendiri, ragu akan pemikirannya. Apakah harus dia menyusul mas Nizar ke tempat kerjanya. Tapi kota adalah tempat yang sangat asing, di mana apapun bisa terjadi.
"Aku harus nyusul mas Nizar nggak ya?"
Dia juga memikirkan bagaimana reaksi Nizar jika dia tiba-tiba datang menemuinya. Status mereka memang suami istri, tapi untuk perihal lain mereka berdua hanya tahu sedikit tentang satu sama lain. Apalagi dirinya yang tidak terlalu berbaur dengan banyak orang, paling-paling tetangga yang cuma mengenalnya. Mereka hanya tahu dari cerita-cerita orang lain.
Nizar adalah laki-laki baik yang banyak diidamkan perempuan, banyak yang iri pada Iyu bagaimana baiknya perlakuan Nizar. Pasangan itu tidak pernah terdapat pertengkaran, setiap hari yang orang tahu keluarga mereka selalu harmonis walaupun kadang-kadang Dina yang mengomel di sepanjang jalan mengatakan Iyu merepotkan dan sangat lemah.
Iyu juga semasa hidupnya adalah perempuan lembut, selain karena anak-anaknya masih kecil, dia tidak banyak keluar rumah. Namun hubungannya dengan orang-orang tidak pernah berselisih, ditambah si kembar yang menarik perhatian orang-orang karena di desa tidak ada yang punya anak kembar seperti pasangan Nizar dan Iyu.
Hanya sebatas itu yang Nuri ketahui, semenjak istrinya meninggal Nizar menjadi orang yang sedikit tertutup. Namun dia tetap menjadi ayah yang baik, untuk keputusan tiba-tiba Nizar yang ingin pergi merantau, Nuri ragu jika hal itu berhubungan dengannya.
Apakah Nizar tidak ingin menjalin hubungan dengannya, maka dari itu dia pergi bahkan tidak kembali berbulan-bulan. Apakah karena dia semua anak-anaknya harus terpaksa hidup tanpa orang tua.
"Tapi kenapa mas Nizar mau menikahi ku?"
Bukankah pasti ada alasan dibaliknya. Tidak mungkin orang sebesar Nizar bisa dipaksa dalam mengambil keputusan, paling tidak setengahnya adalah kehendaknya sendiri. Dia pasti dinikahi masih karena keinginan Nizar.
Nuri menghela napas, lalu pergi tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya, Usi yang sedang duduk menonton tv dengan tenang dan membiarkan Nuri sibuk di dapur sendirian. Lalu ketukan di pintu membuatnya beranjak untuk melihat siapa tamu pagi-pagi yang datang.
"Loh, Nizar! Kenapa datang pagi-pagi?"
Sosok Nizar yang tinggi berdiri menjulang di pintu rumah, bibirnya tertarik dan dengan sopan menyalami tangan Usi.
"Saya mau menjemput Nuri Bu," ujarnya dengan nada lembut, bibirnya masih tertarik senada.
"Usi tersenyum sedikit, "ayo masuk dulu. Ibu panggilkan Nuri dulu."
Nizar duduk di sofa dengan patuh.
Usi langsung mendekati Nuri yang sibuk memasak, dia memegang pundak Nuri dan menepuknya.
"Nuri! Nuri!"
Sedetik kemudian Nuri tersentak bangun, seperti habis jatuh dari ketinggian.
Usi yang berdiri di pintu kamar, wajahnya keheranan. "Kamu bangun kesiangan Nur?"
Nuri mengerjap beberapa kali, merasa nyawanya sudah terkumpul dia duduk dengan pelan. Memandang ibunya dengan linglung.
"Ini udah jam lima lewat loh Nur!"
Mendengar itu, Nuri langsung sadar. "Aduh, maaf Bu. Nggak tahu kenapa Nuri bisa kesiangan."
Usi menggelengkan kepalanya, "kirain kenapa kamu belum keluar kamar jam segini. Ya sudah, sholat dulu sana." Menutup pintu kamar lagi, Usi melangkah pergi ke ruang tengah dan menghidupkan TV.
Setelah membersihkan diri dan sholat shubuh yang telat, dia keluar kamar. Melihat ibunya yang tengah menonton TV dengan linglung. Melangkah ke dapur, tanpa sadar dia berpikir. 'akankah Mas Nizar akan benar-benar datang saat aku tengah memasak nanti?'
Tapi nyatanya hingga hari siang dan dia telah mengurusi kakaknya Doni yang rewel. Kakaknya itu seperti anak bocah dengan alasan sakit dia bermain handphone hampir seharian dan malas keluar rumah.
Nuri berangkat menuju ke rumah mertuanya dengan membawa bakwan yang dia buat tadi pagi.
Kebetulan hari ini hari Minggu jadi semua anak-anak berada di rumah, pasti Saka sekarang tengah sibuk mencuci baju dan memaksa Kaffa untuk menjemurnya sedangkan dia beralih mencuci sepatu. Begitulah yang dia lihat beberapa bulan lalu saat ia masih tinggal di rumah itu.
Dia harus banyak bersyukur saat melihat anak mandiri itu, ada sedikit perasaan malu tapi sekarang dia harus berusaha untuk membuat Saka tidak terlalu segan padanya. Kaffa sebenarnya anak yang terbuka, tapi karena Saka yang terus menahannya dia menjadi terbiasa apa-apa perlu izin Saka. Nuri ingin menangis memikirkan empat anak penurut dan patuh itu.
Jika saja Saka tidak se-mandiri sekarang atau tidak memikirkan jika dirinya hanyalah orang luar yang tiba-tiba menjadi ibunya. Mungkin dia sudah dekat dengan keempat anak itu, dia mungkin sudah tidak merasa bersalah.
'Maafkan aku Saka, kau memang anak yang terlalu cepat dewasa.'
Orang tua pasti tidak terlalu menginginkan anak dibawah umurnya sudah bisa mandiri dan berpikiran dewasa. Tapi ada beberapa keadaan yang membuat hal itu terjadi, kepribadian dari lahir atau karena lingkungan.
Setelah membereskan rumah, Nuri memperhatikan keempat bocah yang sudah selesai dengan semua aktivitas mereka. Tidak banyak melakukan hal atau berpikiran untuk keluar dan bermain. Nuri mendesah di dalam hati, takut jika empat anak ini benar-benar menjadi tertutup dan jauh dari orang-orang.
"Kalian rindu ayah Nizar tidak?"
Semuanya fokus menonton, hanya Nando yang menoleh. Setiap ada kata-kata ayah dia terlihat sangat bersemangat.
"Nando rindu ayah. Kakak tahu kapan ayah pulang?"
Jarang sekali Nando bisa bertanya begini. Bibirnya jadi kering memikirkan apa yang harus dia jawab. Tapi dia harus mengatakan semuanya dengan jujur.
"Kakak tidak tahu kapan ayah kalian pulang ... Tapi, kita bisa menemui ayah kalian jika ayah kalian masih tidak kembali."
Bagai tersiram air dingin, setelah mengatakan itu Nuri membeku. Merasa sangat bodoh karena mengatakan omong kosong pada anak-anak.
Nando langsung semangat, "kita bisa menemui ayah?"
'Habislah aku.'
Nuri tersenyum kaku dan melirik ketiga bocah lainnya yang kini memandangnya dengan mata berbinar penuh harapan.
"A-itu. Kakak hanya berpikir mungkin kita bisa menemui ayah kalian."
Nuri menunduk, 'seharusnya aku tidak mengatakan itu.'
"Nurul juga rindu ayah, ayo kita temuin ayah Kak!"
"Nurul," sentak Saka tiba-tiba. "Ayah pasti pulang."
Nurul menatap Saka dengan bingung, matanya mulai berkaca-kaca.
"Kapan? Kapan ayah akan pulang! Nggak tahu kan!" Kaffa membalas perkataan Saka, dia beralih menatap Nuri. "Kak! Kita bisa kan nemuin ayah?"
Alis Saka yang datar kini mengerut, "ayah jauh di kota. Kita nggak bisa nyusul ayah tanpa izin ayah sendiri." Dia beralih menatap Nuri, ada kemarahan di matanya.
Satu yang mereka tahu, Nizar pergi ke kota yang jaraknya menurut mereka sangat jauh. Apalagi harus menaiki mobil yang tidak pernah mereka tumpangi, hanya sesekali melihat mobil kepala sekolah dan beberapa mobil pickup milik pak Am.
"Maaf. Kalian sangat merindukan ayah kalian, sedangkan kakak adalah ibu tiri kalian. Tapi kita sudah menjadi keluarga, kakak juga ingin bertemu ayah kalian ... Kakak cuma berpikir, jika kita bisa menemui ayah kalian dengan pergi ke kota."
Rasanya saat mengatakan ini Nuri sudah tidak ingat rasa malu lagi. Namun keraguan tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah.
"Benar. Kakak Nuri kan sudah jadi ibu tiri kita, istri sah ayah. Sebagai keluarga, apa kita tidak bisa ingin menemui ayah? ... Nenek tidak pernah mau bilang apa-apa soal ayah, apakah ayah mau pulang atau tidak. Aku tidak ingin seperti ini," ujar Kaffa membuka suara, kata-katanya lambat namun sepertinya ia menyampaikannya langsung dari hati.
Nurul menangis. Rasa rindunya pada ayah semakin membuncah.
Nando yang sejak tadi duduk di lantai bermain dengan mobilnya, ikut mengeluarkan air mata tanpa suara.
Saka tiba-tiba bangkit dan melangkah cepat ke kamar. Dia menutup pintu, "jangan masuk ke kamar," katanya dengan suara sumbang.
Mata Kaffa memerah dan memilih menatap layar TV dengan tajam.
Nuri jadi merasa sangat bersalah. Umurnya hampir seperempat abad, tapi bisa-bisanya ia membuat empat anak tirinya bersedih secara bersamaan.
Dia merengkuh dua bocah kembar yang dengan patuh masuk ke pelukannya. Menangis dalam diam, bahkan takut ayam yang berkokok di luar mendengar. Dihatinya Nuri bertanya-tanya, 'kenapa harus menahan tangis?'
Matanya melirik pintu kamar anak-anak. Sudah pasti di dalam sana Saka menangis dan berjongkok di sudut untuk membuat suara se-segukannya tidak terdengar orang lain. Beralih kearah Kaffa, ternyata anak itu lebih tegar, hanya matanya yang sedikit berair sedikit kemerahan dengan bibirnya yang bergetar sedikit.
Apalagi yang bisa dia lakukan. Ini adalah salah satu nikmat untuknya, rasa syukurnya tidak akan pernah habis sampai di sini.
•
|Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (58)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
sangat bagus
04/12/2024
0sangat bagus
06/10/2024
0Keren banget, aku langsung lanjut baca ke KBM
04/12/2023
0Lihat Semua