"It's been a long time since the last time I played basketball." Cuitan Mikha di Twitter tiga puluh menit yang lalu sukses membuat kerutan di kening Kina. Mikha? Basket? Sejak kapan? Pertanyaan bertubi-tubi muncul di hati gadis yang tengah duduk di teras usai menyiangi rumput yang tumbuh di bebatuan serta memotong daun kering pada tanaman hias. Kina sama sekali tidak tahu jika Mikha gemar bermain basket atau mungkin cowok itu malah bergabung di klub basket di luar sekolah. Dan, pada kenyataannya, tidak hanya Kina yang kaget, Dean yang baru bangun dan langsung membuka Twitter untuk melihat mutualnya saling mengejek gara-gara pertandingan bola dini hari tadi pun dibuat terbelalak. Segera ia beralih membuka aplikasi perpesanan guna mengirim pesan kepada Mikha. "Lo basket?" Tak kunjung dibaca, Dean mengirim pesan di grup yang berisi dia, Jevon, Caesar, dan Mikha. "Mikhacu, basket di mana lo? Berani lo nggak ngajak gue, hah?" Mikhacu, begitu Dean dulu suka meledek saat Mikha baru saja pindah ke sekolahnya. Siapa sangka, dari ejekan itu, Mikha yang awalnya selalu merengut perlahan mau tersenyum, kemudian tertawa, dan akhirnya mereka akrab sampai sekarang. "Serius lo?" balas Jevon. "Cek IG story-nya Rio." Ketikan Caesar membuat Dean dan Jevon segera meluncur ke Instagram. "Can't wait to see the loser lose." Status berlatar lapangan basket indoor yang dulu sering mereka sewa itu cukup menjadi petunjuk bagi Dean. "Gue tahu kalian nggak lebih pintar dari gue, tapi gue harap kalian paham korelasi twit-nya Mikha sama statusnya Rio," tulis cowok itu menyelipkan kenarsisan. "Anjing!" Selang beberapa detik balasan Jevon terpampang di layar, sedangkan Caesar hanya mengirim emoji tangan yang mengacungkan jari tengah. Dean mengirim emoji tertawa yang selanjutnya diikuti pesan, "Mau nonton nggak?" "Apa tidak sebaiknya kita taruhan dulu, Kawan?" Caesar yang masih kesal karena klub bola kesayangannya kalah melampiaskannya dengan cara lain. "Punya temen nggak ada yang waras." Jevon masih masih melanjutkan mengetik, "Kasih tahu ceweknya nggak, nih? Kayaknya bakalan tambah seru, deh." "Emang ada?" Dean mendadak lemot. "Kina belum sah juga sampai sekarang?" Agaknya obrolan berubah menjadi acara menggosip. "Dia, mah, calon gue." Secepat kilat Dean membalas pertanyaan Jevon. Dan mungkin, jika Caesar tidak ngegas percakapan itu tidak akan selesai, "Stop, anjir! Buruan ke TKP! Takutnya ada baku hantam juga." "Kina gimana?" Dean kembali membahas sesuatu yang sempat terpotong. "KABARIN, LAH! PAKE NANYA LAGI!" Di kamarnya, Dean tertawa kencang. Tanpa melihat, dia sudah tahu semarah apa Jevon sekarang. "Gue nggak punya nomornya," tulisnya begitu tawanya reda. "Ivanna kayaknya punya. Bentar gue tanyain." *** Kina baru selesai mandi dan mau menonton series ketika ponselnya berdering dan menampilkan nama Ivanna. Ia sempat heran, tumben sekali temannya itu menelepon. "Halo, Kina. Lo ada acara nggak hari ini?" tanya Ivanna begitu sambungan terhubung. "Nggak. Ada apa, Iv?" "Gue nggak tahu, sih, lo udah tahu atau belum, tapi Mikha sama Rio kayaknya mau tanding basket. Gue sama anak-anak mau nonton. Lo mau ikut nggak?" Sontak saja Kina menyeletuk, "Serius? Kok, bisa?" "Gue juga nggak tahu. Intinya lo mau dateng, nggak? Kalau iya, nanti gue sama yang lain nunggu di luar dulu." "Iya, gue ikut. Gue ajak temen-temen gue, ya." Setelah Ivanna mengiakan, sambungan terputus. Kina memegang erat ponselnya. Perasaannya mendadak tidak enak. Rio mantan kapten basket, kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Kalau Mikha? Kina yakin, pertandingan semacam ini pasti ada sesuatu yang melatarbelakangi, tapi apa? Pikirannya mendadak ruwet. Daripada pusing sendirian di rumah, lebih baik ia segera memberitahu teman-temannya untuk ikut pergi menonton. Dan, di sinilah Kina dan yang lainnya sekarang. Duduk di kursi penonton. Kina terlihat sangat cemas, padahal pertandingan belum dimulai karena masih menunggu wasit. "Sasha bingung mau dukung Kak Rio atau Kak Mikha." Suara itu datang dari arah belakang. Mereka sontak menoleh. Tiga orang gadis dengan penampilan modis sedang berjalan menuju kursi yang sekiranya pas untuk menonton. Mereka adalah Rachel, Bianca, dan Sasha. "Wah, nggak sia-sia kita datang. Rio juga bawa cheerleaders," ucap Dean, "Iv, lo nggak bawa pom-pom buat hora-hore?" Ivanna yang duduk di depan Dean menengok ke belakang. "Kina, dong, masa gue." Mendengar namanya disebut, Kina yang sejak tadi fokus ke arah lapangan kontan menoleh ke Ivanna, lalu ke Dean. Cowok itu menaik-turunkan alisnya sambil tersenyum lebar, membuat Kina sedikit merengut. "De?" panggil Kina melirik ke Abel dan Dara yang duduk di sisi kirinya. Ia merasa aman mengetahui keduanya sedang sibuk foto-foto. Celine tidak ikut karena tidak diizinkan oleh papanya. "Apa?" "Sasha itu siapa?" Dean hampir saja meledakkan tawa jika Kina tidak menginjak sepatunya. "Jangan berisik, dong." "Oh, mau main bisik-bisik. Oke." Cowok itu terkikik. "Lo serius nggak tahu siapa Sasha?" "Kalau tahu, gue nggak nanya." "Bener juga, sih. Sasha itu-eh, wasitnya datang." Kina melengos. "Itu Ganesh, kan?" tanya Caesar memastikan kalau yang menjadi wasit adalah kakak kelas mereka yang beda dua tingkat. "Sopan, Dek. Panggil kakak sama yang lebih tua atau mau dihukum lari keliling lapangan 50 kali?" Jevon menirukan suara Ganesh saat MOPD dulu. "Sampai sekarang gue masih kesel sama dia," curhat Caesar. "Kenapa emang?" tanya Ivanna kepo. "Gue dituduh metikin mangga yang masih mentah, padahal itu kelakuannya Nathan. Udah gitu, pas terbukti gue nggak salah, dia nggak minta maaf. Eek banget nggak, tuh!" "Eek dikit," sahut Dean. "Cepirit, dong," timpal Jevon. Yang perempuan bergidik jijik. Untung saja, pertandingan segera dimulai. Di tengah lapangan Mikha dan Rio berdiri berhadapan dan siap memperebutkan si kulit oranye yang sebentar lagi dilambungkan. Lagi dan lagi, Kina memasang wajah tegang saat pertandingan benar-benar dimulai. "Santai aja kali," ledek Dean. "Eh, yang tadi kepotong, ya?" "Hmm ...." Kina menyahut sekenanya, tanpa mengalihkan tatapan dari lapangan. "Sasha itu adiknya Rio. Masa lo nggak tahu? Anak CK juga. Emang baru masuk tahun ini, sih. Dia suka sama Mikha dari zaman SD." "Oh, gitu." "Cemburu, ya? Mikha itu banyak yang naksir. Kalau lo suka sama dia, saingan lo banyak. Tapi, kalau lo suka sama gue, dijamin hati nggak bakal kebakaran." Kina geleng-geleng kepala. Tak habis pikir, bagaimana bisa orang memiliki tingkat percaya diri setinggi itu. Dan, saat ia mencoba kembali fokus ke lapangan, Rio ternyata memimpin. Berkali-kali Kina menahan napas saat Rio hendak memasukkan bola ke ring, kemudian melengos saat skor Mikha mulai tertinggal cukup banyak. "Mikha itu jago main basket. Lo nggak usah khawatir." Lagi, Dean memberi informasi baru pada Kina. "Tahu dari mana?" Kina pura-pura tidak langsung percaya. Jaga image, Sis! "Yeee! Dibilangin gue temennya dari SD." Dean berujar sewot. "Mikha itu kapten basket waktu SMP." Kali ini, Kina tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. "Kenapa pas SMA nggak ikut ekskul basket lagi?" Dean menelan ludah. Sial! Sepertinya dia salah berbicara. "Nggak tahu. Bosen kali. Orang dia aja sekarang lebih milih fotografi timbang musik." Ia tersenyum puas karena begitu pintar mencari alasan. "Kalau masalah Mikha sama Rio lo juga tahu?" "Hah? Masalah?" Gantian Dean yang berpura-pura. "Gue cuma nebak berdasarkan apa yang gue lihat, sih. Mukanya Rio kayak nggak suka banget kalau ketemu atau sekadar papasan sama Mikha. Oh, ya, sorry to say juga, waktu itu gue pernah denger pembicaraan lo sama Mikha pas di gudang." Kalimat Kina meluncur begitu saja. Seperti ia sudah terbiasa curhat ke Dean. Dean merotasi bola matanya ke segala arah. Dia merasa terancam lantaran lupa apa saja yang sudah dikatakannya. Yang dia ingat hanyalah Mikha yang babak belur karena berkelahi dengan Rio. "Apa yang bikin mereka musuhan sampai sekarang?" Tatapan Kina tertuju ke Dean. Dean tampak menahan napas. Matanya memandang bergantian antara Mikha, Rio, dan Kina. "Lo bisa tanya langsung ke orangnya, tapi kalau lo ngerasa nggak enak, lo cuma harus sabar nunggu Mikha cerita. Itupun kalau lo dianggap sebagai orang terdekat dia yang memang pantas untuk tahu hal ini." Sesudahnya, Dean membenarkan duduknya, menghadap ke depan, menonton pertandingan yang sejak tadi ia abaikan. Sementara Kina justru menundukkan kepala. Entah kenapa ada rasa sesak menyadari kalimat terakhir yang Dean ucapkan, meskipun itu benar adanya.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (135)
GantengVanhelen
novel nya bagus dan sangat menyentuh hati.. alur cerita nya juga bagus saya sangat suka.. alur cerita percintaan nya juga seru dan banyak sekali problema-problema yg terus menghalangi dalam setiap percintaan nya dan sangat menyentuh hati dan banyak sekali terjadi kontroversi yg selalu menghadang dan alur ceritanya sangat bagus dan gak bosen-bosen nya saya menyimak trus alur cerita nya pokok nya bagus untuk mengenang masa lalu yg silam yang pernah terjadi dalam kehidupan nyata yang pernah terjadi
novel nya bagus dan sangat menyentuh hati.. alur cerita nya juga bagus saya sangat suka.. alur cerita percintaan nya juga seru dan banyak sekali problema-problema yg terus menghalangi dalam setiap percintaan nya dan sangat menyentuh hati dan banyak sekali terjadi kontroversi yg selalu menghadang dan alur ceritanya sangat bagus dan gak bosen-bosen nya saya menyimak trus alur cerita nya pokok nya bagus untuk mengenang masa lalu yg silam yang pernah terjadi dalam kehidupan nyata yang pernah terjadi
11/06/2023
1bagusss bgtt
14/06/2025
0CERITA NYA BAGUSSS🩷🩷
23/05/2025
0Lihat Semua