Beranda/Wildflower (Bunga Liar)/
44. Dasar Herder Sialan!
"Kita mau makan malam kemana sih ini, Mbak?" Lily bingung mengikuti mbak Clara yang katanya sih ingin makan malam untuk merayakan ulang tahunnya. Tapi ini kok malah masuk ke dalam club malam coba?
"Mbak minta maaf karena membohongi kamu ya, Ly? Tapi kepala Mbak lagi mumet banget ini setelah lihat photo beginian di salah satu IG mantan Bang Anton. Mbak takut mereka ngapa-ngapain di club itu dan Mbak nggak kuat melihatnya. Makanya Mbak ajak kamu. Mengenai hari ulang tahun Mbak, Mbak kan memang ulang tahun hari ini."
Mbak Clara yang biasanya tegas, ceria dan tempat curhat semua umat di kantor, tampak begitu sedih dan galau hari ini. Lily mengerti. Istri mana yang tidak galau kalau suami ketemu mantan pacar di club coba? Mungkin kalau boleh masuk bawa golok ke club, udah bawa golok berikut teman-temannya kali itu si mbak Clara.
Suasana semarak langsung memasuki telinga Lily, saat memasuki salah satu club papan atas itu. Dia melihat wajah pucat Mbak Clara mencari-cari sosok suaminya di antara para penikmat dunia malam yang sedang bergoyang-goyang ataupun cuma sekedar minum-minum di sana.
Mata Lily membelalak seperti hendak keluar dari rongganya saat melihat Heru. Ya, Heru suaminya tengah duduk santai di sofa dengan seseorang yang amat sangat dikenalnya, duduk dalam posisi yang amat sangat vulgar di pangkuannya. Sosok wanita yang seperti tidak berpakaian lagi itu saking seksinya, meraba-raba dan mencium-cium sekujur tubuh suaminya.
Tepat saat si wanita itu ingin melumat bibir suaminya, pandangan mata mereka berdua bertemu. Heru tampak kaget dan seketika berusaha melepaskan tubuh sang wanita seksi yang membelitnya begitu erat bagai seekor ular.
"Lepasin gue, jalang! Tugas lo itu menghibur tamu-tamu gue, bukan gue!"
Heru seolah-olah baru sadar ada seorang wanita yang sedang duduk manjah di pangkuannya, tampak marah dan langsung saja mengangkat tubuh si wanita seperti sekarung beras dan membuangnya begitu saja ke sofa sebelah. Sang wanita seksi itu pun kaget dan terduduk diam seketika. Ia sama sekali tidak menyangka kalau client ganteng-ganteng seremnya itu tiba-tiba marah, setelah tadi si babang anteng-anteng saja dia grepein.
"Li--Lily!!" Sang wanita seksi pun tampak kaget luar biasa, saat matanya bertemu pandang dengan mata sahabat lamanya yang kali ini menatapnya dengan... sedih!
Bila biasanya dia akan menemukan tatapan gembira, marah, usil dan jahil yang keluar dari sorot matanya, tapi kali ini tatap matanya tampak begitu berbeda. Mereka berdua memang tidak saling bicara secara lisan. Tetapi mata mereka sudah berbicara banyak. Tumbuh bersama di sekolah sejak TK, mereka sudah biasa saling berbicara hanya dengan tatapan mata. Ya wanita seksi itu adalah Diana. Diana tahu Lily itu sedih karena melihat keadaannya menjadi jalang di club ini.
Diana pun sebenarnya sangat berat menjalankan profesi murahan seperti ini. Tapi apa mau dikata, ibunya sakit keras dan kedua adiknya butuh biaya hidup dan juga biaya untuk sekolah. Sementara pekerjaan utamanya sebagai admin biasa disalah satu travel tidak bisa menutupi semua kebutuhan hidupnya. Dulu saat dia masih dekat dengan Lily, Lily lah yang membantu semua kebutuhan hidup ibu dan adik-adiknya dan dia tinggal terima beres saja.
Tetapi sejak peristiwa perselingkuhannya dengan Tristan dan Lily meninggalkannya, perekonomian keluarganya carut marut dan ibunya pun mulai sakit-sakitan.
Akhirnya terpaksalah Diana mengambil jalan pintas ini. Sesungguhnya dia malu sekali dipergoki Lily dalam keadaan seperti ini. Apalagi dia melihat perasaan bersalah yang sempat membayangi kedua bola matanya. Lily itu perasaannya sangat halus, pasti dia juga ikut merasa bersalah karena sedikit banyak ikut andil telah menyebabkan dia mengambil jalan seperti ini.
Pandang mata Lily kemudian beralih pada Heru. Dia merasa begitu tidak dihargai sebagai seorang istri. Entah itu istri temporary, istri kontrak, istri terpaksa or whateverlah sebutannya, dia cuma merasa dianggap sebagai tempat pembuangan sperma saja. Statusnya saja yang namanya istri, tetapi perlakuannya terhadap dirinya maupun terhadap jalang-jalang nya tidak ada bedanya bukan? Apalagi dia juga berbuat yang sama dengan mantan sahabat baiknya, Diana. Dan kali ini Lily sudah tidak dapat lagi mentolerir perbuatan Heru. Dia tidak suka barang kongsi an yang memang tidak seharusnya bisa dipakai bersama. Dia jijik!
"Selamat ya, Diana. Akhirnya lo berhasil lagi mengambil laki-laki gue. Setelah Tristan pacar gue yang saat itu lo ajak gotong royong ngeluarin cairan tubuh, sekarang malah lo udah naik ke kelas yang lebih tinggi lho, Dian. Ini sekarang malah laki gue yang lo ajak gotong royong lagi. Sana ngamar kalo udah pada nggak tahan. Jangan main di muka umum dong, kayak orang susah aja!"
Walaupun hatinya awur-awuran seperti nasi uduk yang belum dikaretin, tapi Lily berhasil juga menampilkan sorot dingin dan acuh tak acuh dalam sikapnya.Tetapi Diana tahu, Lily itu sedang berjuang untuk mengendalikan perasaan sedihnya. Tangan kiri Lily tampak mengepal dan bahu kecilnya juga terlihat gemetaran. Diana terlalu hafal tabiat luar dalam mantan sahabatnya itu.
Dia sudah terlalu dalam menyakitinya kali ini! Dan ah rupanya si babang seram yang dingin ini suaminya?semoga saja si babang bisa mendapatkan maaf mantan sahabatnya itu? Walau pun dia tidak yakin!
Sebenarnya Diana sangat kagum pada si babang yang sudah dia panasin sampai maksimal pun tetap dingin-dingin saja. Sementara rekan dan client-client nya sudah pada on semua dan ngamar di atas club. Si Babang malah bengong dengan mata menerawang di sudut sofa. Makanya dia pun berinisiatif untuk menggodanya yang sayangnya gagal total!
"Ly, kita pulang yuk? Rupanya Bang Anton dan Mbak Gina cuma ngerjain Mbak aja sebagai surprise pas di ultah, Mbak. Mbak Gina malah bawa suaminya ke sini dan teman-teman kantornya yang lain.
Kita rayain ultah Mbak di rumah aja yuk? Soalnya Bang Anton dan mertua mbak sudah menyiapkan makanan enak untuk kita-kita semua di sana. Ayuk Ly?"
Clara dengan wajah secerah mentari di pagi hari, meraih pergelangan tangan Lily. Sejenak dia merasa aneh melihat betapa piasnya wajah cantik rekan kerjanya ini. Tangannya pun terasa begitu dingin.
"Oh siap, Mbak!" Lily tersenyum manis dan membuat gerakan hormat ala-ala tentara. Padahal harinya sedang porak poranda seperti habis di serang badai Katrina.
"Ikuti istrimu, Bung. Dia cuma tampak kuat di luarnya. Perasaannya sedang hancur tak bersisa itu. Percayalah saya lebih mengenal sifatnya dibanding dia itu sendiri." Diana berbisik pelan di telinga Heru.
"Saya boleh ikut bergabung tidak, Clara?" Kata-kata Heru sontak menahan langkah Clara. Clara yang sudah bisa mengira-ngira apa yang terjadi di dalam sana tampak kebingungan. Belum sempat dia menjawab, Lily terlihat agak menjauhi kebisingan karena sedang menerima telepon.
"Neng, segera ke rumah sakit Columbia Asia. Bang Gultom gugur dalam tugas dan Erick
sedang koma di rumah sakit. Cepat sedikit ya, Neng? Siaga 1 ini!
Lily menjatuhkan ponselnya karena kaget. Wajahnya yang memang sudah pucat, menjadi makin pias seolah-olah tidak ada darah mengalirinya. Tubuhnya luruh ke lantai dan terduduk sambil melipat kaki dan menenggelamkan wajahnya diantara lututnya. Lily mulai menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan irama konstan sambil terus meracau.
Tidak mungkin... tidak mungkin... tidak mungkin...
Lily pun mulai terus menerus merapalnya seperti mantra. Heru yang kaget melihat keadaan istrinya seketika meraih ponsel yang terjatuh begitu saja dari tangan istrinya.
"Neng, si Eneng teh kenapa diem aja? Mau Mamang jemput atau bagaimana?
"Saya Heru, suaminya. Ada apa Pak? Bapak bilang apa pada istri saya sampai dia shock begitu?"
"Si Eneng teh harus secepatnya ke rumah sakit. Bang Gultom gugur dalam tugasnya melindungi Boss Kecil. Sementara teh si Erick dalam keadaan koma di rumah sakit Columbia Asia. Si Eneng mau Mamang jemput atau bagaimana?
"Tidak usah. Biar saya saja yang mengantarkannya kalau keadaannya sudah memungkinkan." Heru segera memutuskan panggilan telepon dan mencoba meraih tubuh istrinya yang masih terduduk memeluk lutut dilantai.
"Ayo kita ke rumah sakit, Ly. Kita lihat keadaan Bang Gultom." Heru ikut berjongkok berusaha menyeimbangkan wajah mereka. Untuk pertama kalinya Heru melihat wajah istrinya tanpa dilapisi topeng apapun. Dan di sana Heru melihat begitu banyak luka yang coba dia sembunyikan di balik topeng cerianya. Hari ini Heru melihat tatapan itu begitu kosong dan hampa.
===================
Lily merasa perasaannya masih melayang-layang saat menuju ke rumah sakit. Respon tubuhnya bagaikan robot. Bergerak tapi bagai tak bernyawa.
Saat tiba di rumah sakit Lily melihat ada kakaknya, Om Texas, duo Radja yang masih tampak shock dengan mata memerah, juga ada beberapa lagi pengawal kakaknya.
Lily memasuki ruang jenazah dalam diam. Air mukanya tidak terbaca. Setelah menangis sebentar di club dan dimobil tadi, Lily berjanji dia tidak akan menangisi kepergian Bang Gultomnya lagi. Abangnya itu pasti tidak suka melihatnya terus menangis dan bersedih. Satu hal yang Lily fahami, tugasnya untuk menjaga Bang Gultom sudah selesai hari ini.
Lily membuka kain penutup jenazah, dan menatap wajah Bang Gultomnya untuk terakhir kali. Si Abang tampak seperti sedang tertidur saja.
Lebih baik begini, dia akan mengingat bahwa Bang Gultomnya itu seperti sedang tidur saja, dan bukan mati!
Kilasan-kilasan masa lalu bermunculan dalam benak Lily. Ada suatu peristiwa besar dalam hidupnya yang melibatkan Bang Gultom. Waktu itu dia baru saja masuk kelas 7. Sepulang dari sekolah Arkan juga ikut pulang ke rumahnya. Karena kecapekan sehabis memasuki masa penerimaan murid baru, mereka berdua pun tertidur pulas berdua.
Lily terbangun saat merasakan bahwa perutnya sakit dan pinggangnya juga terasa pegal-pegal. Saat Lily beranjak dari ranjangnya, dia shock saat melihat celana pendek putihnya sudah ternoda darah dan menembus hingga ke sprei motif angry birdnya. Lily yang ketakutan langsung menjerit ngeri sehingga membangunkan Arkan yang tadi masih tertidur pulas.
Melihat celana Lily yang belepotan darah dan juga ranjang yang berdarah-darah, Arkan juga ikut berteriak ketakutan dan akhirnya mereka berdua malah nangis kejer berdua.
Bang Gultom lah yang akhirnya menjelaskan bahwa itu adalah tanda Lily sudah gadis dan harus mulai menjaga diri baik-baik. Serta tidak boleh terlalu dekat dengan lawan jenis karena bisa hamil. Arkan langsung protes saat Lily bilang akan mulai menjauhinya besok. Bang Gultom tertawa terbahak-bahak melihat keluguan Lily dan mulai dengan sabar menjelaskan arti kedekatan yang bisa membuatnya hamil tersebut.
Bang Gultom juga lah yang membawanya ke mini market dan membelikan pembalut pertamanya. Hanya saja saat harus mengajari Lily menggunakannya, dia menugaskan Axel sebagai kakaknya yang lebih pantas untuk mengajarinya. Dan kakaknya dengan wajah bingung campur cemas dengan teliti membaca artikel tentang cara menggunakan pembalut yang baik dan benar sambil membantu Lily memasangnya pada pantynya. Kakaknya bahkan memastikan pembalutnya tidak terbalik sebelum menyuruh Lily mengunakannya.
Air mata Lily mulai menetes satu persatu. Bang Gultom dan Axel adalah ayah dan ibunya dalam wujud seorang kakak dan seorang bodyguard.
Setelah puas memandang wajah Bang Gultom, Lily pun mulai berjalan mendekati Axel. Air muka kakaknya tetap seperti biasa, kaku dan tidak terbaca.
Anda saja Lily tahu, betapa selama ini Axel begitu tersiksa karena mengkhawatirkan adiknya. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Tidak sedetikpun Axel tidak mengingat adik kesayangannya. Hanya saja posisinya lah yang tidak memungkinkannya untuk berbuat seenaknya. Dia adalah seorang pimpinan diklan Delacroix ini. Dalam klan mereka ada peraturan tidak tertulis bahwa setiap anggota yang membelot, berkhianat, mencurangi dan tidak setia, maka mereka akan dihukum. Minimal dikeluarkan dari klan. Lily sudah terbukti membelot dan tidak mematuhi keinginannya sebagai seorang pimpinan klan, maka memang sudah seharusnya lah dia dihukum.
Jika Axel tebang pilih, maka para anggota dan staff mereka akan mengganggap Axel tidak tegas dan tidak kompeten untuk menjadi pimpinan mereka. Oleh karena itulah Axel bertindak sampai sejauh ini, demi mematuhi semua peraturan yang telah dibuat oleh kakeknya dulu. Siapa bilang Axel tidak merindukannya? Photo adiknya dikamarnya bahkan nyaris lecek karena bolak balik dipeluk dam diciumnya sesaat sebelum tidur, atau pun saat tiba-tiba dia merindukan adik tengilnya ini. Saat ini melihat adiknya ada di depan mata, rindunya bahkan terasa sampai nyaris mencekik lehernya, dia sampai sesak nafas karena begitu ingin memeluknya.
"Kak, Lily boleh nggak peluk kakak. Li--Lily rindu." Mata Lily mulai berkaca-kaca saat melihat wajah tampan kakaknya. Axel tidak menjawab namun dia langsung membuka lebar kedua lengannya. Lily pun langsung berlari dan memeluk erat kakaknya. Tenggorokannya tercekat oleh banyaknya kata-kata yang ingin diucapkannya tapi tidak bisa terkatakan. Hanya pandangan penuh kerinduan dan air mata yang mengucur bagai keran bocor saja yang sanggup ditampilkannya. Nafasnya tersengal-sengal penuh kelegaan, bahwa ternyata kakaknya sudah tidak marah lagi kepadanya.
"Kalau rindu, pulanglah." Lily terdiam saat satu suara parau menyela. Ya, Om Texas lah yang berbicara rupanya. Syukur alhamdullilah ternyata Om Texasnya pun sudah memaafkannya. Tepat saat Lily ingin memeluk Om nya, satu suara lagi juga ikut menyela diiringi dengan satu tarikan kuat dilengan kanannya.
"Kalau rindu ya bilang rindu saja, tidak usah pakai peluk-peluk segala. Kamu sudah dewasa, kurangi pelukan dengan laki-laki selain suamimu! Ingat itu!"
Dasar herder sialan!Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (27)
Share
Bab-bab Terkait
Bab Terbaru
Seru banget deh saya suka sama ceritanya
17/01/2024
0lanjut nyiptain cerita2 lainnya kak
15/07/2023
0bagus
01/07/2023
0Lihat Semua