logo text

30. Orang-orangan sawah.

Masyaallahhh!
Setelah menutup telepon dari Heru, Lily melihat ada 24 missed call dari Axel. 21 dari Bang Gultom dan 30 kali dari Om Texas dan Arkan bergantian.
Drtttt... drttt... drttt...
"Ha--halo Bang Gultom-"
"Aih mak jang. Yang lama kalinya kau angkat telepon kau itu Butet. Abang sama kakak kau ini udah pun mau mati jegang di sini kau bikin. Kalok bisa nya Abang nyetir ini kapal terbang kecik punya kakak kau, udah pun ke sana Abang sekarang ini, Butet!"
Lily hanya bisa nyengir mendengar omelan Bang Gultomnya.
"Jadi kekmananya sekarang keadaan kau? Nggak ap-apa 'kan? Aih udah ma-nah... nah ini, kau cakap sendiri lah sama kakak kau. Udah pun macam orang pesong dia kutengok. Bolak balek nelepon mondar mandir, maju mundur, sampek hampir saja ikutan digali sama Excavator proyek. Karena kakak kau itu nggak mau minggir-minggir waktu menggali reruntuhan bebatuan."
Dan sepertinya ponsel pun mulai berpindah tangan saat suara cemas kakaknya mulai terdengar.
"Dek, kamu nggak apa-apa kan? Kakak jantungan sewaktu Om Texas dan Arkan nelepon kalau tempat kost-anmu kebakaran hebat!"
"Lily nggak ap-apa kok, Kak. Tadi pas mereka semua nelpon, Lily dan teman-teman yang terjebak dilantai dua sedang berusaha melompat turun ke bawah menggunakan sprei, cu-"
"Hah? Adek terjebak di lantai dua? Lompat ke bawah pakai sprei? Shittt! Jadi Adek sekarang bagaimana? Ada yang patah? Luka? Atau-"
"Nggak apa-apa, Kak. Cuma lecet-lecet sama sedikit melepuh dan luka bakar kecil aja. Seben-"
"Udah ya, kakak nggak mau tau. Sebentar lagi Om Texas dan Arkan datang. Untuk sementara Adek tinggal dulu di sana. Setelah semua urusan di sini beres, kakak sesegera mungkin pulang. Jaga diri baik-baik ya, Dek. Entah kenapa perasaan kakak nggak enak terus akhir-akhir ini. Kakak tutup dulu teleponnya ya? Ingat, jaga diri baik-baik."
"Bu, luka-lukanya kami obati dulu ya? Nanti infeksi. Kalau Ibu memang mau menelepon, sambil duduk di sini saja, ya Bu?"
Seorang perawat menghampiri Lily dari mobil ambulance. Tiwi dan Riska tampak sedang digips kakinya. Rini, Bertha dan Tanti juga sudah mulai diobati luka-lukanya. Lily baru sadar kalau ternyata kekacauan akibat kebakaran cukup parah. Rumah tempat kost-annya tampak mengerikan dan hanya menyisakan sedikit bagian bangunan lantai dasar. Sisanya hanyalah puing-puing dan kepulan bara yang masih ada sedikit titik-titik api di dalamnya.
"Astaga Lily, Om kaget saat tahu peristiwa kebakaran ini. Kamu baik-baik saja 'kan, sayang?" Lily melihat Om Texas dan Arkan datang menghampiri bersamaan dengan satu mobil pemadam kebakaran lagi, setelah tiga unit sebelumnya tiba lebih dulu.
Om Texas meraup wajah Lily dengan kedua tangan lebarnya, dan memperhatikan dengan detail setiap bagian tubuh Lily. Setelah memastikan kalau Lily baik-baik saja dan hanya menderita luka-luka kecil saja, Texas baru memeluk erat keponakannya.
"Syukurlah masih sempat. Syukurlah!" bisiknya berulang-ulang kali di telinga Lily.
"Papa, itu si Lele Dumbo udah gede. Jangan dipeluk-peluk gitu lagi ah, geli Arkan liatnya."
PLETAKK! 
Arkan meringis merasakan jitakan papanya pada kepalanya. Lily sempat tersenyum di tengah kepanikannya. Memang duo alay ini terkadang bisa menjadi pelipur laranya di saat-saat yang tidak terduga.
"Papa cuma lega, sangattt lega. Lily tidak sempat kenapa-napa."
"Lily, bisa ikut saya sebentar? Ada yang mau saya bicarakan." Lily terdiam sejenak melihat Badai dalam pakaian dinasnya. Saking serunya berbicara, ia sampai tidak menyadari kehadiran Badai. Boss mulut bon cabenya ini tampak serius dan berwibawa. Bahkan air mukanya pun dibuat datar, persis seperti aparat-aparat negara lainnya. Saking ramainya orang yang berlalu lalang dan disertai juga dengan banyaknya petugas pemadam kebakaran serta polisi, Lily memang sampai sekali tidak menyadari bahwa Bossnya ada di antara polisi-polisi itu.
"Ada apa Pak Polisi? Saya pamannya. Apakah saya boleh ikut mendengar pembicaraan kalian berdua." Texas langsung pasang badan untuk melindungi keponakannya.
Badai diam. Dia adalah seorang polisi. Instingnya sudah terlatih untuk melihat hal-hal yang jarang diduga oleh orang-orang awam kebanyakan. Setelah menimbang-nimbang baik buruknya, akhirnya dia pun bersuara.
"Kebakaran ini terjadi bukan karena kecelakan ataupun kealpaan dari orang-orang sekitar. Kecelakaan ini disengaja."
"Apa?! Jadi ada orang yang memang sengaja ingin membakar kost-kost kami? Tapi kenapa? Untuk apa? Ibu kost kami bukan seorang politisi? Kami semua yang kost di sini juga bukan anak pejabat? Tapi kalau anak mafia sih, emang! Jadi apa tujuan mereka sebenarnya?"
Lily begitu emosi saat mengetahui ada oknum yang berada di belakang semua ini. Dia bingung, kenapa ada orang yang begitu kejam dan kurang kerjaan sehingga membakar rumah orang seperti membakar sampah saja.
Tidak berapa lama kemudian, Lily melihat mobil Heru parkir di samping jalan, diiringi bantingan pintu mobil khas Heru. Orangnya yang saat ini terlihat melangkah lebar-lebar kearahnya.
"Kamu nggak apa-apa? Perem-ehm Lily?" Telinga Lily merasa geli mendengar Heru memanggil namanya secara sopan, alih-alih perempuan. Halah, giliran ada polisi aja manggilnya sopan. Coba aja kalo nggak ada orang? Manggilnya pasti Perempuan-Perempuan gitu.
"Saya belum mati, Pak. Jangan khawatir."
Lily melihat Heru menatapnya begitu dalam dan mendetail, dan tiba-tiba sinar matanya tampak seperti marah. Lily sampai merasa ketakutan sendiri, melihat ekspresi tidak senang yang muncul pada mimik wajah Heru.
Heru mendadak melepaskan bomber jacketnya dan memakaikannya pada Lily. Dan Lily dengan bodohnya memasukkan satu persatu lengannya pada jaket yang dipakaikan Heru padanya. Heru bahkan langsung menarik resleting jaket ke atas, hingga nyaris mencekik lehernya.
"Pakai jaket ini. Ditengah kekacauan seperti ini kamu masih sempat-sempatnya memakai pakaian yang bisa mengundang nafsu birahi. Dasar mesum sampai ke ubun-ubun kamu." Heru mulai mengomelinya sambil menghapus sisa-sisa jelaga yang menghiasi wajah pucatnya.
"Eh Pak, di mana-mana orang tidur itu ya pakaiannya lingerine, piyama atau pakai berbahan lembut dan potongan yang enak dibuat gerak. Masa saya tidur pakai baju astronout? Lagian saya juga tidak tahu bakal ada kejadian seperti ini juga kali Pak! Uhukkk... Uhukkk..." 
Lily pun mulai batuk-batuk hebat.
"Saya ambil air mineral dulu di mobil. Kamu tunggu sebentar di sini." Heru pun bergegas berlari menuju tempat mobilnya di parkir.
"Sepertinya ada orang atau oknum yang ingin melenyapkan salah satu atau beberapa atau mungkin semua dari kalian. Saya lihat jejak bensin itu paling banyak di sebarkan dititik-titik pintu keluar. Pintu depan, belakang, samping, bahkan pintu darurat pun diberi bensin yang cukup banyak. Jadi intinya orang ini tidak ingin ada yang selamat dari peristiwa kebakaran ini. Saya juga menemukan pemantik api yang sudah dibuang di tong sampah, tapi masih ada sisa sedikit bensin dan sidik jari di sana.
Hanya saja oknum atau orang ini sama sekali tidak menyangka kalau kalian yang ada ditingkat dua nekad bergelantungan dan melompat ke bawah. Makanya kalian semua bisa selamat. Kalau saja kalian menuruni tangga ke lantai satu dan mencoba keluar dari pintu depan, samping atau pun belakang, saya pastikan kalian semua tidak akan ada yang selamat. Kalau kalian tidak keracunan gas dan asap, pasti kalian akan terpanggang oleh panasnya api di bawah sana.
Salah satu atau semua dari kalian ini sedang dalam bahaya."
Badai mulai menjelaskan panjang lebar sambil memperhatikan air muka setiap orang yang sedang mendengarkan kesimpulannya.
Dia mencurigai seseorang, tetapi itu masih terlalu dini. Dia membutuhkan kepastian yang lebih akurat.
"Saya yakin memang ada seseorang yang kepengen sekali saya mati. Tapi harusnya jangan pakai cara-cara pengecut begini, karena ini merugikan harta dan nyawa orang-orang yang tidak bersalah."
Lily mengatakan hal itu sambil melirik tajam kearah tempat Heru berdiri. Setelah memberi Lily minuman, Heru memang terus berdiri di samping Lily dan ikut mendengarkan semua hasil investigasi singkat Badai. Walaupun hasil investigasinya belum resmi, tapi setidaknya bisa menjadi bahan pertimbangan Lily dan semua penghuni kost an menurut Badai.
"Kalau begitu kamu tinggal di rumah ataupun apartement saya saja, sampai semuanya terungkap."
Heru rasanya ingin menggigit lidahnya sendiri, karena secara tidak langsung dia nampak sekali perduli dan mencemaskan keselamatan Lily. 
Dasar lidah nggak tau diri. Bikin malu saja!
"Dia keponakan saya. Dia ikut sama saya saja. Setelah kakaknya pulang, baru dia akan saya kembalikan pada pengawasan penuh kakaknya."
Texas ngotot tidak setuju menyerahkan keponakan tersayangnya ketangan si tempramen Heru.
"Sebentar lagi juga dia akan menjadi milik saya, Pak Texas," sahut Heru kalem.
"Belum tentu. Bisa saja saya menjadi milik Pak Eldath kalau dia menang minggu depan," sahut Lily kesal.
"Atau milik saya." Badai menyambung kalem. Sontak tiga kepala menatap Badai kaget.
"Mak--maksud pak polisi ini apa ya?" Lily menatap bingung pada senyum malas yang terukir di sudut bibir Badai.
"Maksud saya, saya sudah mendaftar menjadi challenger dari pertarungan antara Pak Heru dengan Eldath minggu depan. Jadi siapa pun di antara mereka berdua yang menang, akan saya tantang. Jelas?
Sebelum saya ke sini tadi pun, saya juga sudah berbincang cukup
lama dengan kakakmu, dan dia setuju. Faham?" Badai menatap Lily tepat pada dua netra hitamnya.
"Saya bingung?"
"Bingung karena jadi bahan rebutan hmmm?" Badai mengedipkan sebelah matanya. Gayanya keren sekali sampai Lily sesak nafas dibuatnya.
"Saya bingung karena pengen milikin dua-duanya!"
"Ohhhh, dasar lele dumbo mesummm!!!" Arkan langsung menoyor kesal kening sepupu gilanya.
"Nggak boleh dong kalau dua-duanya, sayang. Kamu lebih suka siapa? Eldath atau pak polisi ini?" Texas mengelus sayang puncak kepala keponakannya.
"Kalau ditanya begitu, Lily jadi stress, Om. Ibarat kata nih ya, Lily di suruh milih antara Chicco Jerikho sama Iko Uwais, kan berattttt Om? Lily nggak kuattt!!! Macho- macho gimana gitu, mandangnya aja udah eyegarsm!!"
Lily mulai menunjukkan sisi somplaknya yang sedikit hilang akhir-akhirnya gegara terus disiksa si Heru kampret.
"Jadi saya ini ibaratnya si Chicco Jerikho atau Iko Uwais, hmmm?"
Badai menundukkan wajahnya sejajar dengan wajah Lily, hingga hampir saja hidung mancung ala perosotan TK mereka menempel satu sama lain.
"Jangan dekat-dekat, bukan muhrim!" Heru langsung menarik Lily ke sisinya dengan tatapan mau rahasia kamu saya bongkar?
"Eh lele dumbo, kalo pak Pol sama El itu ibarat si Chicco sama si Iko, noh ntu Pak Heru ibarat siapa coba?" Arkan iseng untuk kembali mencoba mengusili kekoplakan sepupunya.
"Orang-orangan sawah!"
"Huahahhahaha..." Terdengar tawa berjamaah antara Texas, Badai dan juga Arkan.
"Dan saya akan pastikan, kamu akan segera dimiliki oleh orang-orangan sawah ini secepatnya. Ingat itu!" rutuk Heru geram.

Komentar Buku (27)

  • avatar
    Mustabsyirah Bintu Rustam Ambal

    Seru banget deh saya suka sama ceritanya

    17/01/2024

      0
  • avatar
    MukhlisohElis

    lanjut nyiptain cerita2 lainnya kak

    15/07/2023

      0
  • avatar
    KuweraHermanto

    bagus

    01/07/2023

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru