Sebulan lebih menjalani masa perkuliahan, sejauh ini Ken merasa semua aman terkendali. Entah nanti sebab orang bilang penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat semester lima. Ken mengedikkan bahu acuh tak acuh. Berjalan keluar kelas, menuju kantin sebelum bertemu teman-temannya untuk mengerjakan tugas. Ken melengos setibanya di sana. Melihat kantin berjubel, rasanya ingin putar balik saja. Namun, cacing-cacing di perut kompak bersuara, menimbulkan bunyi yang akan membuat malu jika didengar orang lain. Jadilah, ia mengantre di belakang seorang gadis. "Double beef steak sama teh botol satu," ucap Ken begitu gilirannya tiba. Membawa nampan berisi makanan, ia kembali diberikan cobaan saat meja penuh. Matanya lantas memindai seluruh ruangan. Siapa tahu ada yang dikenal dan ia diizinkan bergabung di sana. "Ken!" Seruan dibarengi lambaian itu seakan menjadi jawaban. Yang baru saja memangilnya adalah Eve. Ken menghampiri perempuan itu dan mereka duduk berhadapan. "Gue baru tahu lo kuliah di sini juga," ucap Ken terang-terangan. "Disuruh bokap," jawab Eve disusul senyum tipis. Keduanya terlihat menikmati dalam diam. Namun, Eve dan Ken sama-sama menyadari jika mereka sesekali mencuri pandang satu sama lain. "Are you okay?" tanya Ken membuat Eve tersedak. Lelaki berjaket denim itu segera mengangsurkan minumannya yang belum disentuh. Eve menerimanya dengan canggung sebab ini bisa dibilang kali pertama dirinya kembali sedekat ini setelah insiden kecil di toko yang menjual perintilann cewek dua tahun yang lalu. "Hmmm ... thanks." Eve berkata setelah menghabiskan seperempat teh botol milik Ken. "Mata lo bengkak. Abis disengat lebah?" seloroh Ken tidak benar-benar berpikir begitu. Ada gurat ungu kebiruan di bawah mata. Ken tiba-tiba merasa iba. Eve tertawa pelan. Menaruh sendoknya, ia memalingkan muka, menghindari Ken agar lelaki itu tidak melihat matanya yang berkaca-kaca. "I'm good. Don't worry." Ken ingin bertanya lagi, tapi ponselnya yang berbunyi menggagalkan niatannya. Grace memberitahu jika dirinya sudah ditunggu yang lain. Ken pun beranjak, berpamitan kepada Eve. "You can text me if you need someone to talk," katanya sebelum menyampirkan ransel di bahu dan menghilang dari kantin. Eve tertegun beberapa saat. Setitik air matanya jatuh tanpa permisi. Perasaan haru menyeruak melihat ada orang lain yang peduli kepadanya. Teristimewa, orang itu adalah Ken. Lelaki yang hingga detik ini tak pernah bosan ia pandangi potretnya. "Sorry ganggu waktu berduaan lo, Ken. Tapi, anak-anak udah nungguin," celetuk Grace yang sempat melihat Ken duduk berdua dengan perempuan. Lelaki itu duduk di kursi yang terbuat dari balok kayu, di sebelah Valerie yang langsung ikut-ikutan menggoda sama seperti yang lain. Ken balas menatap gadis itu datar dengan sedikit perasaan kesal. "Ajak ke sini, dong, Ken," ujar Jerry seraya melepas headset yang menyumpal telinga kirinya. Lantas, duduk di satu-satunya kursi yang tersisa. Louis dan Aileen yang sejak tadi belum bersuara sudah sibuk dengan MacBook masing-masing. Mengabaikan celotehan temannya, Ken mengeluarkan flashdisk dari saku jaketnya. Menaruhnya di meja bundar di depan mereka, lalu berkata, "Gue udah ngerjain bagian gue. Kalau misal kalian ngerasa kurang atau apa, bilang aja. Nanti gue revisi." Semua terperangah, berdecak kagum, kecuali Valerie yang tak heran lagi dengan kepintaran Ken. Jika ditanya dari mana dia tahu, jawabannya adalah saat ospek. Dia yang merasa kesulitan dibantu Ken dengan segala strategi yang lelaki itu buat, menjadikan tugas yang diberikan terasa ringan saat dikerjakan. "Siapa?" lirih Valerie di tengah kesibukan mengetik materi bagiannya. "Apa?" Ken yang sedang tercenung balik bertanya. "Cewek kamu. Nggak mau dikenalin ke aku?" "Eve, anak SMA kita, tapi dia bukan cewekku. Kebetulan tadi mejanya penuh jadi aku gabung sama dia," jelas Ken merasa Valerie perlu tahu kebenarannya. Perempuan itu mengangguk-angguk, kembali sibuk dengan tugasnya. Sementara Ken merenung lagi, menerka apa yang telah terjadi dengan Eve. Lebam itu, karena apa? Ken bisa saja tidak peduli, tapi dia telanjur tahu. Dan, semua hanya mengingatkannya pada peristiwa sewaktu sekolah di Singapura dulu. Ken punya teman yang pada akhirnya memilih untuk mengakhiri hidup. Tidak jelas apa penyebabnya. Ada yang bilang jatuh di kamar mandi, jatuh di tangga, karena punya penyakit bawaan lahir, dan terakhir abusive parents. Entah mana yang benar sebab keluarganya memilih bungkam. Tapi, perasaan bersalah bercokol di dada setiap Ken mengingatnya. Nama gadis itu Cattleya. Gadis yang selalu membagikan makan siangnya sebab Ken yang bengal enggan membawa. Ken lebih suka membeli junkfood yang jelas-jelas tidak sehat. "Hari ini aku cuma bawa sandwich." Cattleya membuka kotak bekalnya. Diberikannya sepotong untuk Ken, sedang yang satu untuknya. Ken memakan roti lapis itu dengan lahap sambil manggut-manggut. Bekal Cattleya selalu enak. Karena itu, dia menghabiskannya dalam waktu yang singkat. Akan tetapi, tidak dengan gadis di sampingnya. Saat Ken menoleh untuk mengucapkan terima kasih, ia justru mendapati sandwich Cattleya baru digigit ujungnya. Cattleya juga mengunyah makanannya sangat pelan. Ken mengerutkan kening, dan bertanya, "Are you okay?" "I'm okay. Take it easy." Kalimatnya berbeda, tapi artinya sama dengan yang diucapkan Eve, kan? Cattleya bilang dia baik dan Ken tidak perlu risau. Namun, bagaimana Ken bisa tetap tenang saat keesokan paginya dia mendapat kabar bahwa Cattleya ditemukan dalam keadaan sudah tak bernyawa? Ken pergi ke rumah duka untuk melihat Cattleya terakhir kalinya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Cattleya? Kenapa Cattleya pergi untuk selama-lamanya secara mendadak begini? Malamnya, Ken menangis sejadi-jadinya, dan besoknya remaja itu demam tinggi hingga mengigau sambil menangis, membuat keluarga Tante Lisa panik bukan main. "Cattleya." "Hah? Apa, Ken?" tanya Valerie mengejutkan Ken. Pemuda itu geleng-geleng kepala. "Enggak, bukan apa-apa." Valerie menatapnya heran. Untung hanya sebentar karena Aileen mendadak ingat buku yang direkomendasikan dosen mereka, yang menjadi pertanyaan Valerie barusan. Ken selamat. "Udah beres. Udah gue kirim ke grup," ucap Grace. "Sippp!" Jerry mengacungkan ibu jarinya. Lantas, Grace, Louis, dan Aileen merapikan barang masing-masing. "Langsung pada mau balik?" tanya Jerry tercengang. "Pergi ke mana gitu. Yuk?" "Gue, sih, mau nonton sama Louis. Mau join?" ajak Grace terlihat berseri-seri. Sontak saja Jerry menolak. "Ogah banget gue ngintilin orang pacaran." Yang lain kompak tertawa. Kemudian, gantian Aileen menyahut, "Kalau gitu nemenin gue ke salon aja." "Gue mending disuruh nyabutin rumput, daripada nungguin cewek ke salon." Gelak tawa kian tak terkendali. Sesaat setelahnya, Louis dan Grace berpamitan, disusul Aileen yang sudah dijemput sopir tak lama kemudian. Meninggalkan Valerie, Ken, dan Jerry. "Lo berdua nggak pergi?" tanya Jerry menyadari dua orang di depannya belum merespons. "Aku lagi nunggu jemputan," jawab Valerie. "Lo, Ken?" Jerry mengusap wajahnya, kesal. Masa iya tidak ada yang bisa diajak main. "Emang mau ke mana?" Valerie tiba-tiba berdiri. Menyampirkan tote bag di bahu kanan, ia berpamitan karena sopirnya sudah sampai. "Duluan, ya," katanya. Tak ketinggalan segaris senyum turut menghiasi. "Hati-hati." Tatapan Ken mengikuti pergerakan Valerie sampai punggung perempuan itu tak lagi terlihat. Seperti yang dilakukan Ray dulu, Jerry mengamati sambil geleng-geleng kepala dan sesekali berdecak. "Kenapa nggak lo anterin aja, sih? Gue yakin lo nggak ada acara apa-apa hari ini." Ken menoleh, menatap Jerry dengan mata memicing dan kening mengernyit. Jerry terbahak-bahak. Menepuk bahu Ken, ia berusaha meyakinkan, tanpa tahu kebenaran. "Cara lo natap dia beda dengan cara lo natap Grace sama Aileen. Kalau suka, mah, gas aja, Bro. Valerie juga kayaknya nyaman-nyaman aja deket sama lo." Tawa jenaka mengudara. "Ya, kali, ngembat cewek saudara sendiri," ucap Ken tersenyum kecut. Mungkin jika Papi tidak menyekolahkannya di Singapura, dia bisa saja tidak kalah start. Namun, apa mau dikata, memang takdirnya bergini. "Hah? Serius lo?" Saking tidak percayanya, Jerry sampai bangkit dari duduknya. Ken hanya mesem. Dari awal, dia memang hanya bisa melihat, kan? Kendati dekat, Ken secara otomatis juga membuat jarak. Seperti yang Jerry bilang tadi, Ken bisa saja mengantar Valerie pulang atau kalau mau, setiap hari ia mengantar jemput Valerie. Tapi, Ken tidak melakukannya sebab nuraninya mengatakan bahwa itu salah. Rasanya terlalu naif jika dia bilang hanya sekadar teman yang kebetulan satu kampus, tanpa ada rasa lain yang turut menyertai.
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
seru bgt
14/06/2025
0bgus sangat menarik
17/01/2025
0please part II yok bisa yok
19/11/2024
0Lihat Semua