Pagi itu, rapat darurat di gelar. Dengan di hadiri oleh para pemegang saham dan petinggi perusahaan, mereka akan membahas penawaran dari perusahaan Diko yaitu Arga Corporation yang ingin merger dengan perusahaan DND Advertising. “Kami sangat setuju Pak Adrian, apa lagi perusahaan itu telah membuktikan bahwa mereka bisa bersaing di kancah internasional. Di tambah dengan perusahaan Bapak sebelumnya Xander Corporation, kami yakin jika perusahaan kita setuju untuk merger maka bukan tak mungkin kita akan menjadi perusahaan nomor 1 Pak,” ujar Pak Alvin, mewakili rekan-rekannya dari para pemegang saham. Adrian mengangguk setuju, “Saya tampung masukan dari kalian. Bagaimana dengan petinggi perusahaan?” “Kami juga sangat setuju pak untuk menerima tawaran merger dari perusahaan Pak Diko, apa lagi beliau sudah sangat mengenal perusahaan kita sebelumnya. Jadi kami rasa akan sangat mudah untuk kita bekerja sama lagi dengannya, apa lagi Beliau memiliki dedikasi yang sangat tinggi untuk pekerjaannya dan juga sangat disiplin,” ucap Pak Kevin, mewakili para petinggi perusahaan. Mendengar semua yang hadir dalam rapat ini sangat setuju untuk melakukan merger dengan perusahaan Diko, membuat Dita kembali bersedih. Namun ia tak boleh egois, karena tidak mungkin hanya karena masalah pribadi harus mengorbankan pekerjaannya. Untuk itu ia memilih untuk tetap tegar dan bersiap menghadapi Diko bagaimana pun keadaannya nanti, meski sulit memaafkannya namun ia harus berdamai dengan keadaan jika masih ingin bekerja di tempatnya saat ini. Adrian menatap sekilas pada Dita yang menatapnya dengan sendu, sangat berat mengambil keputusan ini bagi Adrian. Namun ia tetap harus profesional, demi kemajuan perusahaan dan pasar bisnis yang lebih luas akhirnya setelah menimang berbagai konsekuensi yang ada dengan berat hati ia telah mengambil keputusan bahwa dirinya akan menerima penawaran Diko untuk merger perusahaan mereka. “Baiklah karena semua telah menyetujui, saya sebagai CEO sudah memutuskan akan menerima penawaran Arga Corporation untuk merger dengan perusahaan kita. Sekian rapat kali ini, selamat pagi,” ujar Adrian menutup rapat pagi ini, kemudian satu persatu meninggalkan ruangan rapat hingga tersisa dirinya dan Dita. “Kamu kenapa sayang?” tanya Adrian lembut seraya mengelus rambut Dita. Dita menggeleng lemah, “Aku nggak papa mas,” balasnya dengan memaksakan senyumnya. “Aku tahu kamu nggak baik-baik aja, jangan pikirkan masalah Diko ya. Kamu akan tetap jadi sekretaris aku, jadi jangan khawatir akan berhubungan kerja dengannya,” ujar Adrian meyakinkan Dita. Dita hanya mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan, “Entahlah, aku hanya bingung dengan perasaanku,” batinnya. * Sesuai kesepakatan, Diko dan Adrian baru saja selesai menanda tangani kontrak sebagai tanda peresmian hubungan kerja sama antara perusahaan mereka. “Terima kasih atas kepercayaan anda pada perusahaan kami, semoga dengan merger yang kita lakukan akan membawa kesuksesan besar untuk kita semua. Senang bisa bekerja sama dengan anda,” ujar Diko sambil berjabat tangan dengan Adrian. Melihat mantan kekasih dan calon tunangannya saling berjabat tangan menyiratkan sedikit kekhawatiran di hati Dita. Ia senang karena mereka bisa berdamai dan meredam ego masing-masing demi kemajuan perusahaan bersama, namun tetap ada kekhawatiran yang tak bisa dijelaskan tengah menyelimuti hatinya. Akankah ia bisa tetap mempertahankan hubungannya dengan Adrian ataukah ia akan terjerat kembali dengan masa lalunya yang kini datang lagi kepadanya. Di tengah lamunannya, Dita dikejutkan dengan uluran tangan Diko padanya, “Apa kamu tidak mau memberi ucapan selamat padaku?” tanya Diko yang masih menunggu uluran tangannya di sambut Dita. Dita menatap sekilas pada Adrian yang mengangguk setuju padanya, dengan agak ragu ia pun menerima uluran tangan Diko untuk berjabat tangan, “Selamat bergabung dengan perusahaan kami Pak Diko,” ucapnya segera menarik tangannya tanpa menatap wajah Diko. Diko memasukkan tangannya ke saku celana, kemudian beralih mengajak Adrian bicara, “Bagaimana kalau selepas acara ini nanti sore kita pergi bersama, untuk merayakan merger perusahaan kita?” tawarnya seraya melirik Dita yang terlihat berdiri tak nyaman di hadapannya. Adrian sangat paham bahwa kekasihnya sedang tidak nyaman berada di situasi ini, segera ia ingin mengakhiri percakapannya dengan Diko, “Terima kasih sebelumnya untuk penawaran anda Pak Diko. Tapi maaf sekali kami tidak bisa, karena kami akan mempersiapkan acara pertunangan yang akan di gelar besok lusa,” tolaknya sesopan mungkin. “Pertunangan? Kalian akan segera bertunangan?” tanya Diko ingin memastikan kembali, karena kabar itulah yang membuat rencana kepulangannya ke tanah air harus di percepat. “Ya Pak Diko, apakah anda bersedia untuk hadir?” tawar Adrian yang langsung mendapat tatapan tajam dari kekasihnya. Diko terdiam dan tampak berpikir sejenak, “Ehm... Ya tentu, tentu saya akan hadir. Merupakan suatu kehormatan kalian mau mengundang saya, terima kasih banyak atas undangannya,” balas Diko memaksakan senyumnya, seolah hatinya sangat tegar menerima kenyataan wanita yang dicintainya akan segera bertunangan dengan pria lain. Meski dalam hati ia telah hancur bersama dengan hubungannya. Mendengar jawaban Diko, membuat Dita seketika menatap padanya karena tak menyangka Diko bersedia hadir dalam pertunangannya dengan Adrian. Pandangan mereka saling bertemu, seolah mereka bisa berkomunikasi hanya melalui tatapan mata yang saling beradu sebelum Dita mengalihkan pandangannya pada Adrian untuk memutus kontak mata dengan Diko. * Dita tengah disibukkan dengan laptopnya, mengerjakan laporan bulanan yang diminta Adrian. Kemudian suara ketukan di pintu membuatnya berhenti sejenak dari kesibukannya. Tok! Tok! Tok! Dita beranjak dari duduknya, lalu berjalan untuk membuka pintu. “Hai... boleh aku masuk? Hanya sebentar, tolong beri aku kesempatan,” pinta Diko dengan tatapan memohon. Dita memundurkan langkahnya untuk memberi jalan pada Diko masuk ke ruangannya, “Silakan,” ujarnya singkat lalu segera menutup pintu begitu Diko telah melenggang masuk ke ruangannya. Setelah mereka berdua sama-sama telah duduk di sofa yang saling berseberangan, Diko memulai pembicaraan untuk menyampaikan maksud kedatangannya ke ruangan Dita. “Aku tahu kamu pasti sangat bosan mendengar permintaan maaf dariku. Tapi aku tetap nggak akan menyerah sebelum mendapat kata maaf dari kamu, aku tahu aku yang salah dan aku sangat menyesal. Kini aku harus benar-benar bersiap untuk kehilangan kamu selamanya, karena kamu akan segera bertunangan dengan Adrian,” ucap Diko dengan wajah lesunya. “Aku sudah memaafkan kamu,” balas Dita dengan wajah datar tanpa ekspresi. “Benarkah?” tanya Diko memastikan dengan wajah yang berbinar. Dita hanya menjawab dengan anggukan. Diko yang merasa senang karena telah dimaafkan, refleks langsung memeluk Dita, “Terima kasih ya, aku lega mendengar kamu mau memaafkan aku,” ujarnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Dita segera mendorong pelan tubuh Diko untuk menjauh darinya, “Maaf, aku tidak sengaja tadi itu hanya... refleks,” kilah Diko. “Nggak papa, udah selesai kan? Sekarang kamu bisa segera pergi dari sini,” usir Dita dengan menunjuk pintu keluar. “Kamu mengusirku?” “Ya,” sahut Dita singkat. “Aku masih ingin menjelaskan alasanku memutuskan hubungan kita waktu itu,” elak Diko tak ingin meninggalkan ruangan Dita. “Maaf, aku nggak punya waktu. Jadi silakan kamu pergi dari sini sekarang juga,” pinta Dita dengan tegas. “Apa kamu sudah nggak mencintai aku?” tanya Diko tiba-tiba. Dita terdiam, lalu mengalihkan pandangannya dari Diko. “Tolong jawab aku,” pinta Diko memohon. * * * Next...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (102)
salmasani
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
19/01/2022
1CERITA BAGUS SANANG BAGUS
16/05/2025
1bagusssss
05/05/2025
0Lihat Semua