Dita mendorong pelan dada Diko agar menjauh darinya, “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya sambil menahan air mata yang sudah di pelupuk. “Dita, aku... aku merindukanmu,” kata Diko lirih. * * Dita tersenyum getir mendengar perkataan Diko, “Apa masih pantas kamu berkata seperti itu? Apa kamu lupa dengan surat yang kamu tulis sendiri? 1 tahun Diko, 1 tahun! Kamu tinggalkan aku hanya melalui sebuah surat, kamu minta aku melupakanmu. Dan sekarang kamu kembali tanpa merasa bersalah, lalu kamu bilang merindukanku? Apa pantas kamu berkata seperti itu hah!?” bentaknya seraya mendorong Diko sedikit keras. Diko hanya bisa menunduk, ia sangat tahu dirinya telah bersalah karena telah memutuskan hubungan mereka namun rasa cintanya yang begitu besar telah menyingkirkan egonya untuk tetap kembali mengharap cinta dari Dita. “Maafkan aku,” lirih Diko, lidahnya terasa kelu dan hanya kata itu yang dapat keluar dari mulutnya. “Lebih baik kamu pergi Diko, jangan pernah temui aku lagi,” ujar Dita lalu membalikkan badannya memunggungi Diko. Diko memberanikan diri memeluk Dita dari belakang, air mata yang sedari tadi di tahan Dita jatuh begitu saja tanpa dapat ia bendung lagi begitu pun dengan Diko. Keduanya menangis, Diko ikut menangis karena menyesal telah meninggalkan Dita. Sedangkan Dita menyesal karena harus bertemu kembali dengan Diko. Adrian masih menahan dirinya, menyaksikan semua itu dari kejauhan. Dita semakin menangis tersedu, Diko mendekap erat tubuh Dita yang terguncang hebat untuk memberinya ketenangan. “Maafkan aku, aku bodoh karena telah meninggalkanmu selama ini. Aku terlalu berambisi pada bisnisku hingga mengorbankan hubungan kita, maafkan aku yang sudah menjadi pengecut untuk kedua kalinya. Aku akan terima apa pun hukuman dari kamu, tapi tolong maafkan aku,” pinta Diko. Segera Dita melepaskan diri dari dekapan Diko, “Semua sudah terlambat. Aku benci kamu Diko, aku nggak mau bertemu kamu lagi. Jadi aku mohon kamu pergi dari sini sekarang juga!” bentak Dita sambil mengusap kasar air mata di pipinya. “Tapi aku..., hanya ingin meminta maaf,” ujar Diko seraya ingin menggapai Dita, namun Dita semakin berjalan mundur untuk menjauhinya. “Aku bilang pergi! Pergi dari hadapanku Diko, pergi!” bentak Dita, namun Diko tak bergeming dari tempatnya. Merasa kekasihnya membutuhkan bantuan, Adrian segera menghampiri Dita dan Diko, “Apa anda tidak dengar yang dikatakan kekasih saya, Bapak Diko Argawinata? Tolong segera pergi dari sini atau saya akan memanggil security untuk mengusir anda,” perintah Adrian tegas. Diko mengusap air matanya, “Tolong maafkan aku, aku akan terus menemuimu sampai kamu memaafkan aku,” ujarnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Dita bersama Adrian. Selepas kepergian Diko, Dita kembali meneteskan air matanya dan hampir saja menghempaskan tubuhnya namun dengan sigap Adrian menangkap lalu mendekap erat kekasihnya itu. “Tenanglah sayang, ada aku di sini. Dia nggak akan berani ganggu kamu lagi ya,” hibur Adrian sambil mengecup puncak kepala Dita. “Apa salahku padanya mas, kenapa di saat kita akan memulai hidup baru dia malah datang dan merusak semuanya,” keluh Dita seraya memeluk erat lengan Adrian yang mendekapnya. “Kamu tenang ya, nggak akan ada yang merusak hubungan kita,” ujar Adrian sambil mengusap punggung Dita lalu mengusap air mata di pipi kekasihnya itu, “Sekarang kamu jangan menangis lagi, karena aku sudah sangat lapar,” ujarnya sambil memegang perutnya yang sedari tadi sudah berbunyi karena lapar. Dita tersenyum tipis, “Maaf ya mas, karena hal tadi kejutan makan siangku untuk kamu jadi gagal,” katanya sambil mencebik. “Uuh.. lucu banget kalau cemberut gitu jadi gemes hehe, nggak papa lah sayang yang penting kan sekarang kita masih bisa makan siang bersama,” hibur Adrian sambil mengusap sayang rambut Dita. “Makasih ya mas, selalu jadi obat di saat hatiku sakit,” ujar Dita tulus dengan senyum tipis yang kembali menghiasi wajahnya. “Nggak perlu ada kata terima kasih untuk orang yang kita cintai, kamu tahu betapa aku sangat mencintai kamu. Dengan tetap berada di sisiku sudah lebih dari cukup di banding kata terima kasih.” “Tapi mas, terima kasih itu perlu sebagai rasa syukur kita atas kebaikan yang di lakukan pasangan,” kilah Dita. “Yasudah kalau memang begitu mau kamu, aku terima makasihnya. Bolehkah kita makan sekarang?” tanya Adrian yang sudah tidak sabar menyantap makanan di hadapannya. “Maaf sampai lupa, hehe. Aku suapin ya mas,” tawar Dita dengan mengambil sesendok makanan dan bersiap menyuapi Adrian. “Dengan senang hati aku terima.” Adrian segera melahap suapan dari Dita, menikmati setiap makanan yang telah Dita sajikan untuknya, “Sayang, ada apa itu?” tanya Adrian sambil menunjuk pipi Dita. “Memang ada apa sih mas?” tanya Dita merasa bingung seraya mengusap pipinya. Cup... Adrian mengecup pipi kekasihnya itu. “Mas Adriaaaan iiih!” kesal Dita lalu memukul pelan lengan Adrian dan mereka pun tertawa bersama. Kesedihan karena pertemuan kembali dengan Diko terasa sirna berganti dengan kebahagiaan yang diberikan oleh Adrian. Tanpa mereka sadari, sepasang mata telah memperhatikan mereka sedari tadi dari kejauhan. “Semudah itu kamu melupakan aku, tidak adakah lagi artinya aku untuk kamu? Apakah aku harus benar-benar melepasmu untuk pria lain?” batin Diko seraya menatap sendu pada Dita dan Adrian. * “Sayang, ada hal penting yang ingin aku bicarakan,” ujar Adrian membuka pembicaraan. Saat ini Dita dan Adrian tengah menikmati suasana malam di balkon rumah Adrian, Adrian mengundang Dita untuk makan malam bersamanya. Setelah makan malam selesai, Adrian mengajak calon tunangannya itu untuk menghirup udara segar di balkon rumahnya. Dita yang sedang menikmati pemandangan taman dari atas balkon, lalu menoleh pada Adrian, “Apa itu?” tanyanya menunggu jawaban. Adrian agak ragu menyampaikan pernyataan Diko tadi siang padanya, “Ehm... tadi sebelum bertemu kamu, Diko terlebih dulu menemui aku dan dia mengatakan kalau ingin merger dengan perusahaan kita.” “Lalu apa jawaban kamu mas?” “Aku masih minta waktu, karena kita harus membicarakannya dulu dengan para pemegang saham dan petinggi perusahaan.” Dita mengalihkan pandangannya, lalu menatap kembali ke taman dengan pandangan sendu, “Aku nggak bisa bayangin kalau harus ketemu sama dia terus, apa lagi bekerja sama kembali,” ujarnya lirih. Adrian memutar tubuh Dita untuk menghadapnya, “Kamu jangan khawatir ya. Kalau pun kita harus terima tawaran kerja sama dengan dia lagi nantinya, akan aku pastikan dia nggak akan berani dekati kamu lagi. Kamu percaya aku kan?” tanya Adrian seraya menatap dalam kekasihnya. Dita mengangguk, “Aku percaya sama mas, tetaplah berada di sampingku ya mas,” pinta Dita. “Pasti sayangku, udah jangan sedih lagi,” balas Adrian seraya mengecup kening Dita dan membawanya ke dalam pelukan hangat. * * * Next...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (102)
salmasani
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
19/01/2022
1CERITA BAGUS SANANG BAGUS
16/05/2025
1bagusssss
05/05/2025
0Lihat Semua