Cya memeluk Dita sambil mengusap punggungnya, “Aku mengerti perasaanmu sekarang, saranku cobalah kamu relakan Diko. Kamu sendiri kan yang bilang pada keluargamu begitu, kamu harus bangkit jangan terpuruk terus hanya karena Diko. Ingatlah selalu ada Pak Adrian yang selalu ada di samping kamu, membantu kamu untuk kembali bersemangat menjalani kehidupan ini. Hargailah usahanya kamu harus move on, buka hatimu sepenuhnya untuk cinta yang baru dan buang jauh-jauh semua hal tentang Diko. Aku harap dengan begitu kamu bisa menerima Pak Adrian sepenuh hati kamu,” tuturnya. Dita mengangguk pelan lalu mengusap air matanya, mengingat setiap nasihat yang diberikan oleh sahabatnya itu. Hatinya sedikit lega telah mencurahkan perasaan yang selama ini hanya bisa ia pendam sendiri. “Terima kasih ya Cy, kamu mau jadi pendengar dan penasihat yang baik untukku,” ucap Dita tulus. “Itulah gunanya sahabat, udah jangan sedih terus ya. Sekarang kamu temui Pak Adrian dan tunjukkan rasa cinta kamu padanya,” tutur Cya. “Caranya?” “Sini deh.” Cya berbisik di telinga Dita tentang ide yang akan dilakukan sahabatnya itu untuk menunjukkan rasa cinta pada calon tunangannya. * Dita segera mengikuti saran dari Cya. Ia berencana mengajak Adrian makan siang di rooftop kantor yang sudah ia sulap sedemikian rupa dengan bantuan para office boy, rooftop yang tadinya panas karena terik matahari yang langsung menyinari ia ubah menjadi tempat yang sangat sejuk dan romantis untuk bisa digunakan makan siang. Sebuah tenda kecil telah terpasang dengan sangat cantik. Di kelilingi bunga-bunga dan ada meja persegi di dalamnya untuk meletakkan makanan yang telah di pesan oleh Dita dari restoran kakaknya, semua yang terhidang di meja tersebut merupakan makanan favorit Adrian dan juga dirinya. Dita mengirim pesan pada Adrian, memintanya untuk segera ke rooftop karena ada hal yang ingin ia bicarakan dengan calon tunangannya itu. [To Adrian : Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, aku tunggu di rooftop ya mas.] Setelah menekan send dan memastikan pesannya telah terkirim, lalu Dita meletakkan ponselnya dan kembali sibuk menata makanan agar terlihat lebih menarik. * Di sisi lain, Adrian tengah sibuk memeriksa berkas yang membutuhkan tanda tangan darinya hingga tak sempat melihat ponselnya yang ia silent sejak pagi karena ada meeting penting dengan klien. Di tengah kesibukannya, ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Begitu tamu itu memasuki ruangan, Adrian merasa terkejut dengan kedatangan tamu yang akan mengajak perusahaannya untuk bekerja sama itu. Dengan langkah gontai, Adrian beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan untuk menyambut tamu tersebut. “Selamat siang Pak Adrian Alexander, bagaimana kabar anda?” sapa Diko dengan tersenyum tipis sambil mengulurkan tangannya pada Adrian. Adrian termenung sejenak, memastikan bahwa yang sedang berdiri di hadapannya memanglah Diko. Segera ia bersikap formal dan menyambut uluran tangan Diko untuk bersalaman, “Selamat siang Pak Diko, saya... baik. Bagaimana dengan anda?” tanyanya seramah mungkin dengan senyum tipis menghiasi wajah tampannya. “Saya juga baik, semoga kedatangan saya kemari tidak mengganggu anda,” ujar Diko hati-hati. “Tidak... Tidak sama sekali Pak Diko, silakan anda duduk.” Diko dan Adrian pun duduk di sofa. Diko segera mengutarakan niat kedatangannya guna membahas rencana kerja sama yang ia tawarkan kepada perusahaan Adrian untuk merger dengan perusahaannya. “Saya sangat menghargai penawaran anda Pak Diko, tapi saya harus meminta persetujuan dari para pemegang saham dan petinggi perusahaan. Untuk itu tolong beri kami waktu untuk memikirkan penawaran dari anda,” kata Adrian sambil membenarkan posisi duduknya. Diko mengangguk pelan, “Saya mengerti, baiklah tolong pikirkan baik-baik ya Pak Adrian. Karena saya yakin jika perusahaan anda setuju nanti bisnis kita akan berkembang semakin pesat, karena perusahaan kami sudah memiliki relasi yang cukup besar di luar negeri.” “Baik Pak Diko, akan segera kami hubungi jika sudah mencapai kesepakatan bersama. Terima kasih sudah menawarkan untuk merger dengan perusahaan kami.” “Yasudah, karena keperluan saya sudah selesai. Kalau begitu saya permisi,” pamitnya seraya menjabat tangan Adrian. “Ya Pak Diko, terima kasih atas kunjungan anda,” sahut Adrian sambil tersenyum ramah. Setelah selesai mengutarakan keperluannya pada Adrian, Diko segera pamit dan keluar dari ruangan yang dahulu menyimpan banyak kenangan untuknya. Berpura-pura tidak mengetahui hubungan yang telah Dita dan Adrian jalani selepas kepergiannya ke London, membuat dadanya sesak begitu mengingat masa lalunya dengan wanita yang sangat ia cintai itu. Ingin mengurangi rasa sesak di dadanya, ia pergi ke rooftop untuk menghirup udara segar. Tanpa ia tahu, di sana sudah ada Dita yang sedang mempersiapkan kejutan untuk Adrian. Sesampainya di rooftop kantor, Diko merasa heran dengan adanya tenda kecil yang berdiri di tengah rooftop dan telah di hias dengan sangat indah. Merasa penasaran, ia berjalan menghampiri tenda itu dan mendapati seorang wanita tengah duduk membelakangi dirinya. Merasakan ada derap langkah kaki menghampirinya, dengan antusias Dita segera membalikkan badannya mengira yang datang adalah Adrian. Senyumnya memudar seketika, saat melihat sosok yang 1 tahun ini telah meninggalkannya dan masih menyisakan luka yang begitu dalam di hatinya tengah berdiri di hadapannya. Dita dan Diko saling bertatapan untuk beberapa saat, tidak menyangka bahwa keduanya akan di pertemukan kembali di tempat ini. Diko merasa senang bisa bertemu lagi dengan wanita yang selama ini ia rindukan kehadirannya namun tidak dengan Dita, ia merasa sangat kecewa dan berharap tidak akan pernah bertemu lagi dengan lelaki di hadapannya. Tapi takdir berkata lain, mereka di pertemukan kembali di saat Dita telah memiliki seseorang yang sedang membantunya untuk keluar dari masa lalu yang menyakitkan, mengobati luka hati terdalam yang telah di torehkan oleh pria yang kini tengah tersenyum padanya. Diko memberanikan diri menghampiri Dita yang kini menatapnya dengan sendu. Segera ia memeluk wanita di hadapannya, mencurahkan segala rasa rindu yang selama ini dipendamnya. * Adrian melirik jam di pergelangan tangannya, “Sudah jam makan siang, sebaiknya aku mengajak Dita makan bersama,” gumamnya. Sebelum ke ruangan Dita, ia memeriksa ponselnya yang ternyata terdapat beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Dita. Begitu membaca pesannya, segera ia berlari menuju rooftop untuk menemui kekasihnya itu. Begitu sampai di rooftop, Adrian mendapati kekasihnya tengah berada di pelukan sang mantan kekasih. Hatinya mencelos menyaksikan pertemuan mereka kembali, ingin rasanya ia berlari ke sana dan membawa pergi kekasihnya itu. Namun akal sehatnya masih mencoba berpikir tenang dan memberi kesempatan untuk mereka sambil tetap memantau dari kejauhan. Dita mendorong pelan dada Diko agar menjauh darinya, “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyanya sambil menahan air mata yang sudah di pelupuk. “Dita, aku... aku merindukanmu,” kata Diko lirih. * * * Next...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (102)
salmasani
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
19/01/2022
1CERITA BAGUS SANANG BAGUS
16/05/2025
1bagusssss
05/05/2025
0Lihat Semua