Tok! Tok! Tok! “Ya masuk,” seru Diko dari dalam ruangannya yang sudah duduk di sofa dengan di dampingi oleh Dita. “Silakan Pak, saya permisi,” pamit Nia setelah membukakan pintu dan menyelesaikan tugasnya untuk mengantar Adrian. * Dita dan Diko segera berdiri bersamaan dengan masuknya Adrian ke dalam ruangan Diko. “Selamat siang Bapak Diko Argawinata, perkenalkan saya Adrian Alexander dari Xander Corporation,” sapa Adrian seraya mengulurkan tangannya, “Dan kita pernah bertemu sebelumnya, anda ingat?” tanyanya tersenyum ramah. Diko termenung sejenak kemudian ia menjabat tangan Adrian, “Ya tentu saya ingat, pertemuan pertama kita bulan lalu dalam perebutan tender milik Adelard Corporation,” sahut Diko dengan tatapan yang tajam. “Benar sekali, dan tender itu dimenangkan oleh perusahaan kami,” ujar Adrian dengan senyum menyeringai, “Lalu nona manis ini?” Uluran tangannya berpindah pada Dita. Dita melirik Diko yang mengangguk sekilas lalu menerima jabat tangan Adrian, “Saya Dita, sekretaris Pak Diko.” “Wah, anda punya sekretaris yang cantik rupanya. Pantas saja, ide-ide yang anda hasilkan sangat brilliant,” puji Adrian masih enggan melepas jabat tangan dan pandangan yang tak lepas dari Dita. Segera Diko menarik tangan Dita untuk menjauhkannya dari Adrian, “Maaf Bapak Adrian, ada perlu apa sebenarnya sampai anda kemari?” “Ouh.. maaf maaf. Sepertinya anda sangat melindungi sekretaris anda ya,” sahut Adrian yang mengalihkan pertanyaan Diko. “Dia karyawan saya, sudah seharusnya saya melindunginya,” jawab Diko tegas. “Tapi dari yang saya perhatikan, sepertinya kalian memiliki hubungan yang lebih dari itu,” tebak Adrian. “Itu bukan urusan anda, sebaiknya cepat katakan apa mau anda?” tanya Diko dengan sedikit meninggikan nada bicaranya. Dita memberi kode Diko untuk tetap tenang, “Silakan duduk Pak Adrian dan Pak Diko, saya akan ambilkan minuman untuk kalian,” ujar Dita agar suasana di ruangan itu tidak semakin tegang dengan perseteruan Diko dan Adrian. Diko dan Adrian pun duduk di sofa yang berseberangan, tak ada satu pun kata terucap dari mereka sampai Dita kembali membawakan minuman untuk mereka. “Silakan Pak Diko dan Pak Adrian, saya permisi kembali ke ruangan,” pamit Dita setelah meletakkan minuman di meja untuk Diko dan Adrian. “Terima kasih,” sahut Adrian tersenyum ramah. “Tunggu, kamu tetap di sini,” cegah Diko seraya menahan lengan Dita. “Ehem! Tenang saja Pak Diko, sekretaris anda tidak akan pergi jauh. Sepertinya anda takut sekali kehilangan dia,” ledek Adrian. “Ini bukan urusan anda Pak Adrian, jadi jangan ikut campur,” sahut Diko dengan menatap tajam pada Adrian, lalu menyuruh Dita untuk duduk di sampingnya. Dita menuruti perintah Diko untuk duduk di sebelahnya, lalu percakapan serius pun dimulai. “Baik saya minta maaf ya, jangan terlalu tegang Pak Diko santai saja,” ujar Adrian, “Kedatangan saya kemari ingin menawarkan sesuatu yang akan memberi keuntungan untuk perusahaan anda,” lanjutnya. “Apa itu?” tanya Diko tanpa basa basi. “Saya baru mendapat kabar dari rekan rekan media bahwa perusahaan anda di ambang, maaf ehm... pailit. Saya ingin menawarkan untuk akuisisi.” Diko terdiam, menunggu perkataan Adrian selanjutnya. “Ya tentu akan banyak keuntungan yang bisa anda peroleh, di antaranya untuk mencari kesempatan bisnis yang lebih luas, pangsa saham yang lebih besar, meningkatkan sinergi, mengurangi biaya produksi, atau beberapa hal lainnya. Bagaimana menurut anda Pak Diko?” “Saya harus memikirkan dulu penawaran anda, karena ini adalah keputusan besar yang harus dipikirkan dengan benar. Boleh saya tanya sesuatu?” “Ya silakan, Pak.” “Dari mana perusahaan anda mendapat konsep yang hampir sama dengan perusahaan kami, apa kalian membayar orang dalam kami untuk melakukan pekerjaan kotor itu?” tukas Diko. Adrian tertawa, “Anda menuduh perusahaan saya bermain kotor Pak Diko? Apa yang anda tuduhkan ini bisa jadi pencemaran nama baik untuk kami, apa lagi hal itu belum ada buktinya. Jadi sebaiknya anda lebih berhati-hati dalam berbicara,” gertak Adrian. “Memang saat ini saya belum mempunyai bukti yang cukup, tapi saya cukup yakin dengan apa yang saya bicarakan,” jawab Diko tak gentar dengan gertakan Adrian, “Dita tolong antar Pak Adrian keluar, karena sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan.” “Baiklah, saya rasa sudah cukup kunjungan kali ini. Saya harap anda mau menerima penawaran saya, karena waktu yang anda miliki tidak banyak. Saya permisi dulu, selamat siang,” pamit Adrian beranjak pergi dari ruangan Diko. “Biar saya antar Pak,” tawar Dita dan Adrian pun mengangguk setuju. Dita pun mengantar Adrian keluar dari ruangan Diko. * “Kamu betah sekali kerja sama orang pemarah seperti dia,” ujar Adrian saat memasuki lift bersama Dita. Dita hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Adrian. “Sudah lama kerja di sini?” tanya Adrian dan Dita mengangguk. “Saya benar-benar tidak habis pikir kenapa Diko bisa tuduh perusahaan saya main kotor dengan karyawan dia. Apa yang sebenarnya terjadi?” “Ehm..., salah satu karyawan kami tiba-tiba mengundurkan diri di saat bersamaan dengan bocornya data-data perusahaan. Di saat itu pula perusahaan anda mengeluarkan iklan yang konsepnya hampir sama dengan milik kami. Untuk itu Pak Diko mencurigai mantan karyawan kami itu telah menjual datanya kepada perusahaan anda,” ujar Dita menjelaskan. “Tapi perusahaan saya membeli konsep itu melalui jasa periklanan yang resmi, jika ada yang sama atau mirip itu bukan tanggung jawab saya karena jasa iklan yang saya pakai sangat terpercaya dan profesional,” tutur Adrian. Dita mengangguk mengerti, “Saya akan coba jelaskan pada Pak Diko nanti kalau memang perusahaan Bapak tidak terlibat dengan semua ini, silakan Pak,” ujar Dita mempersilakan Adrian keluar lift lebih dulu begitu mereka telah sampai di lantai dasar. “No, ladies first,” kata Adrian tersenyum seraya mempersilakan Dita keluar terlebih dahulu. Akhirnya Dita keluar lebih dahulu diikuti Adrian di belakangnya. Kemudian mereka berjalan beriringan sampai ke lobi kantor, barulah Adrian berpamitan untuk pergi. “Terima kasih sudah mengantar saya sampai kemari, senang bisa berkenalan dengan kamu,” ujar Adrian yang merasa akrab dengan Dita. Namun dengan sesopan mungkin Dita tidak membalas Adrian yang mencoba dekat padanya, “Sama-sama Pak Adrian. Terima kasih atas kunjungan anda ke kantor kami, hati-hati di jalan,” sahut Dita seraya tersenyum dan menundukkan kepalanya sekilas. Dita dan Adrian berjabat tangan sebentar sebelum kemudian Adrian segera masuk ke mobilnya. Di dalam mobil Adrian masih membuka kaca mobilnya untuk melambaikan tangannya pada Dita. Dita hanya membalas dengan melambaikan tangannya sekilas kemudian bergegas kembali ke ruangan Diko. * “Senang ya dapat tamu ganteng, pengusaha muda, sampai lama sekali mengantarnya nggak balik-balik,” sindir Diko begitu Dita memasuki ruangannya. “Maaf tadi kami berbincang sedikit,” sahut Dita sekenanya. * * * Next...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (102)
salmasani
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
19/01/2022
1CERITA BAGUS SANANG BAGUS
16/05/2025
1bagusssss
05/05/2025
0Lihat Semua