logo text

Bab 26 Perhatian

Dita mengangguk, “Makasih ya, kamu hati-hati di jalan.”
Diko tersenyum, meskipun hanya hal kecil setidaknya Dita masih perhatian terhadapnya dan itu cukup untuk membuatnya senang. Segera ia memakai helmnya dan melajukan motornya menuju ke rumahnya.
*
*
Keesokan paginya di kantor DND Advertising, Diko sedang memeriksa beberapa dokumen di atas meja kerjanya. Namun ia tidak bisa fokus karena beberapa kali ia bersin sehingga mengganggu konsentrasinya.
Hacuh!!
Hacuh!!
Suara bersin Diko terus menggema di ruang kerjanya, di tambah hidungnya terus mengeluarkan lendir tanda bahwa dirinya sedang kurang sehat. Lalu Dita meminta izin masuk ke ruangannya untuk meminta tanda tangan.
Melihat Diko yang terus menerus bersin sambil berusaha mengeluarkan lendir dari hidungnya dengan tisu membuat Dita tak enak hati, karena mengantar dirinya semalam membuat Diko harus terkena hujan hingga flu berat seperti saat ini.
“Maaf ya Pak Diko, karena saya Bapak jadi sakit. Harusnya Bapak istirahat saja kalau sedang flu begini,” saran Dita.
“Nggak apa-apa, saya masih kuat ko...k, Hacuuuh!!” Diko bersin lagi hingga hampir mengenai Dita, “Maaf ya, saya nggak sengaja,” katanya sambil mengusap hidung dengan tisu.
“Saya buatkan minuman hangat ya, tunggu sebentar,” ujar Dita berlari kecil menuju pantry untuk membuat minuman hangat.
Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa minuman hangat serta obat flu untuk Diko.
“Bapak minum ini dulu ya, sama obatnya juga. Tadi sudah sarapan kan?” tanya Dita sambil memberikan minuman dan obat pada Diko.
Diko mengangguk, kemudian mengambil obat dari Dita dan langsung meminumnya dengan minuman hangat yang sudah disiapkan.
“Sebaiknya Bapak istirahat sebentar di sofa, biar dokumen ini saya bantu untuk periksa,” kata Dita menyarankan.
Diko tersenyum lalu mengangguk, “Terima kasih ya sudah perhatian kepada saya,” ujarnya, “Kalau aku sakit kamu seperhatian ini, aku rela sakit terus asal kamu selalu perhatian ke aku,” batin Diko sambil menatap Dita.
“Maaf Pak Diko, silakan istirahat,” kata Dita membuat Diko tersadar dari lamunannya.
“Ehm..., iya. Oke,” sahut Diko lalu beranjak dari kursi kerjanya menuju sofa untuk berbaring sebentar menghilangkan rasa pusing dan flu yang sedang melandanya, “Kamu bisa duduk di kursi saya aja, jadi nggak perlu bawa dokumen ke tempat kamu,” perintah Diko.
“Ehm, baik Pak Diko,” sahut Dita lalu ia duduk di kursi CEO milik Diko untuk menggantikannya memeriksa dokumen perusahaan.
“Sangat cantik dan pantas juga kalau Dita duduk di kursi itu. Apa sebaiknya aku memberikan posisi ini untuknya? Meski untuk menebus kesalahan keluargaku itu tak sebanding dengan penderitaan keluarganya, tapi aku akan bicara sama papa semoga beliau setuju,” batin Diko sambil diam-diam mengambil potret Dita dengan menggunakan ponselnya lalu tak berselang lama ia pun tertidur lelap.
30 menit berlalu Dita telah selesai memeriksa dokumen lalu menatanya kembali dengan rapi untuk di tanda tangani oleh Diko nantinya. Setelah itu ia beranjak dari kursi tempat ia duduk lalu berjalan menghampiri Diko yang sedang tertidur lelap.
Ting...
Muncul notif menandakan ada pesan masuk di ponsel Diko yang ia letakkan di atas meja, tak sengaja Dita melirik sekilas dan melihat walpaper yang digunakan Diko di ponselnya terdapat gambar mereka yang sedang berpose dengan Daniel. Seketika senyum mengembang di bibir Dita, tak bisa dipungkiri bahwa ia masih sangat mencintai pria yang tengah tertidur di hadapannya ini. Namun keadaan mengharuskan mereka berpisah untuk saat ini.
“Seandainya aja hubungan masa lalu orang tua kita nggak seburuk ini, mungkin kita masih bisa bersama sekarang,” batin Dita lalu berjalan keluar dari ruangan Diko.
“Hai...,” sapa Joe yang berdiri di belakang Dita.
“Joe, kamu ini bikin kaget aja tahu nggak,” sahut Dita menepuk pelan lengan Joe.
“Hehe iya maaf, nanti makan siang bareng ya?” ajak Joe antusias.
Dita mengangguk, “Iya, seperti biasa kan.”
“Iya, ehm... aku boleh tanya sesuatu?” tanya Joe hati-hati.
“Tentu aja, mau tanya apa?”
“Ehm..., kamu... Kamu sama Pak Diko apa benar sudah putus?”
Dita mengangguk cepat lalu tersenyum, “Tapi maaf ya aku nggak bisa bahas ini terlalu jauh, aku lanjut kerja dulu,” pamitnya.
“Oke, kamu tetap semangat ya. Ingat kamu punya aku, Cya dan Niko jangan sungkan cerita ke kami kalau ada apa-apa,” ujar Joe mengingatkan.
“Iya makasih Joe, see you,” sahut Dita lalu masuk ke ruangannya.
*
*
Sore hari saat jam pulang kerja, Diko terjebak macet sehingga menghambat perjalanannya untuk sampai di rumah.
“Ada apa di depan sana pak?” tanya Diko pada seseorang yang melewati mobilnya.
“Oh itu ada kecelakaan tabrak lari, kasihan korbannya sudah tua tapi yang nabrak nggak tanggung jawab main kabur aja. Kami sudah panggil ambulance tapi sepertinya akan lama, semoga korban bisa ditangani tepat waktu,” jawab seseorang menjelaskan.
Diko merasa penasaran dengan kondisi bapak tua yang diceritakan, ia pun turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri korban tabrak lari tersebut. Betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa korban tabrak lari tersebut adalah orang yang sangat ia kenal.
“Om Dave!!” seru Diko panik berlari ke arah Dave yang sedang terkapar di pinggir jalan menjadi tontonan orang-orang.
Dave tidak sadarkan diri dan terdapat luka yang lumayan parah, darah terus mengalir dari kakinya sepertinya mengalami patah tulang batin Diko.
“Apa yang kalian lihat!? Cepat bantu saya angkat bapak ini ke dalam mobil! Biar saya yang bawa ke rumah sakit,” perintah Diko dan semua orang membantunya membawa Dave ke dalam mobil Diko.
“Apa masnya kenal bapak ini?” tanya seseorang.
“Ya, beliau mertua saya,” karena panik Diko pun asal menjawab dan ia langsung masuk ke dalam mobil untuk segera membawa Dave ke rumah sakit.
*
Tak lama kemudian, Diko telah sampai di rumah sakit dan para perawat bergegas membantu membawa Dave ke ruang IGD untuk segera mendapat pertolongan dokter.
Diko merasa sangat panik terlebih melihat kondisi Dave yang menyedihkan, ia memutuskan untuk segera menghubungi Dita.
“Ada apa Pak Diko?” sapa Dita setelah ia menjawab panggilan telepon dari Diko.
“Dita, ada hal penting yang kamu harus tahu,” ujar Diko mencoba berhati-hati agar Dita tidak syok saat mengetahui papinya telah kecelakaan.
“Apa itu pak?” tanya Dita lagi, perasaannya mulai tidak enak.
“Papi kamu, beliau... kecelakaan,” kata Diko akhirnya.
“Apa?! Kecelakaan dimana pak? Gimana kondisi papi sekarang? Papi sekarang ada dimana?!” cecar Dita, air mata mulai menetes dari matanya.
“Kamu tenang dulu ya, papi kamu sekarang ada di ruang IGD dan sedang di tangani oleh dokter,” jelas Diko.
*
*
*
Next...

Komentar Buku (102)

  • avatar
    salmasani

    suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁

    19/01/2022

      1
  • avatar
    PonselXiaomi

    CERITA BAGUS SANANG BAGUS

    16/05/2025

      1
  • avatar
    SaebahIneu

    bagusssss

    05/05/2025

      0
  • Lihat Semua

Bab-bab Terkait

Bab Terbaru