Dita mengikuti perintah Aulia untuk duduk, di sebelahnya ada Diko dan Papa Diko di seberang mereka. Sedangkan Aulia masih sibuk di dapur membuatkan minum untuk semuanya, Dita ingin membantu tapi di larang sehingga ia menurut saja menunggu bersama Diko dan papanya. Papa Diko sudah pensiun, namun karena jenuh dan tidak ada kesibukan sehingga beliau masih senang berkeliling kota untuk mengunjungi setiap cabang perusahaannya. Mama Diko pun demikian, di usianya yang sudah menginjak kepala 5 beliau masih aktif mengunjungi setiap yayasan yang didirikan oleh Papa Diko untuk membantu anak-anak terlantar agar mempunyai kehidupan yang lebih baik. “Kamu jangan marah lagi ya sama Diko, dia hanya menuruti permintaan kami saja,” ujar Aulia membuka pembicaraan. Dita mengangguk seraya tersenyum, “Iya bu,” sahutnya. “Jadi tujuan kami memanggil nak Dita kemari karena ingin berterima kasih,” kata David. “Berterima kasih untuk apa ya Pak?” tanya Dita tidak mengerti. “Karena berkat kamu, kami jadi memahami pentingnya kebersamaan keluarga. Meskipun kami sekarang sama-sama sibuk, akan kami usahakan punya waktu luang untuk berkumpul bersama meski sekedar liburan akhir pekan atau makan malam bersama.” Seakan memahami kebingungan Dita, Diko menceritakan bagaimana awal mula hingga keluarganya bisa sangat merasa berterima kasih pada Dita. Flashback On... Malam itu setelah pulang dari makan malam bersama dengan keluarga Dita, Diko masuk ke dalam rumah lalu mendapati papa dan mamanya sedang bertengkar kecil. Merasa kesal, Diko berjalan ke kamarnya tanpa menghiraukan pertengkaran orang tuanya. “Diko, dari mana kamu? Kenapa baru pulang? Kesini sebentar,” panggil David, lalu Diko berjalan menghampiri papa dan mamanya. “Diko capek pa, habis pulang lembur. Kalian lanjutkan saja bertengkar, nggak capek apa tiap malem ribut. Diko capek liatnya,” gerutu Diko. “Diko, jaga bicara kamu nak,” ujar Aulia memperingatkan putranya. Diko mengedikkan bahunya, “Ada apa papa panggil Diko?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. “Besok ada pertemuan dengan klien dari Inggris, kamu jangan lupa datang ya kita akan makan malam bersama,” kata David. “Maaf pa, Diko nggak bisa. Untuk apa makan malam bersama hanya formalitas saja,” bantah Diko. “Diko, kenapa kamu jadi melawan begini?” tanya Aulia. “Aku nggak ada maksud ngelawan papa sama mama. Aku cuma capek dengan semua kepura-puraan ini, aku rindu dengan masa kecil dimana kalian selalu ada untuk aku. Setiap makan selalu bersama, setiap weekend liburan keluarga, aku rindu itu semua pa... ma... Maaf kalau caranya salah, tapi aku beneran lelah kalau harus menutupi semuanya dan bersikap semua baik-baik saja padahal tidak,” ungkap Diko. David dan Aulia termenung mencerna setiap perkataan Diko, putra semata wayang mereka. Mereka menyadari kesalahan, jika selama ini terlalu sibuk dengan dunia masing-masing hingga mengabaikan anak mereka. Meski sudah beranjak dewasa, tetap saja seorang anak akan merindukan kebersamaan dengan orang tua mereka. Akhirnya mereka meminta maaf kepada Diko dan berjanji akan berusaha menebus kesalahan mereka dengan selalu memberikan waktu untuk sekedar liburan atau makan bersama keluarga. Tentu saja semua itu berkat Dita, sekretaris sekaligus wanita yang beberapa bulan terakhir ini telah meluluhkan hati Diko yang keras dan mengubah sikapnya menjadi lebih baik. Untuk itu sebagai rasa terima kasih karena telah mempersatukan keluarga mereka kembali, maka orang tua Diko meminta Diko untuk mengajak Dita berlibur bersama di villa keluarga mereka. Flashback Off... Sekarang Dita mengerti apa alasan keluarga Diko mengajaknya ke villa seindah ini. Sebenarnya Dita merasa keluarga Diko tidak perlu melakukan semua ini, ia cukup senang bisa membuat keluarga mereka bisa bersatu dan rukun kembali. Namun orang tua Diko membuatnya merasa nyaman, mereka memperlakukan Dita layaknya anak mereka sendiri. “Kalian pacaran kan?” tanya Aulia tiba-tiba. “Tidak bu, tentu saja tidak,” bantah Dita cepat, lalu mendapat lirikan tajam dari Diko. “Apa maksud kamu nggak? Kamu nolak aku sekarang juga?” tanya Diko merasa tidak terima dengan jawaban Dita. “Bukan begitu maksud aku Diko, tapi...” “Jadi bagaimana nak, apa yang harus Diko lakukan supaya kamu mau terima cintanya?” tanya David dengan lembut. “Tidak Pak, Diko tidak perlu melakukan apa-apa lagi,” jawab Dita dengan sopan. “Berarti Diko diterima jadi pacar kamu?” tanya Aulia antusias. Dita merasa yakin sekarang jika ia harus memilih Diko daripada Joe, bukan karena kekayaan yang di miliki. Namun sejak awal hatinya memang memilih Diko, dan setelah bertemu dengan orang tuanya membuat Dita semakin yakin bahwa Diko memang pria yang tepat untuknya. Dengan yakin Dita mengangguk, “Iya bu,” jawabnya singkat seraya tersipu malu. Diko kehabisan kata-kata, ia tidak menyangka berkat orang tuanya kini ia dan Dita telah resmi menjadi sepasang kekasih. Karena terlalu senang, dengan refleks Diko menghampiri Dita lalu memeluknya dengan erat meluapkan rasa bahagianya. “Terima kasih ya, kamu udah terima aku,” ujar Diko tidak dapat lagi menahan rasa bahagia lalu ia mencium kening Dita. Dita terdiam sejenak tidak menyangka akan mendapat pelukan dari Diko di depan orang tua Diko, “Ehem...,” David dan Aulia berdehem seraya terkekeh pelan untuk menyadarkan anak mereka yang sedang di mabuk asmara. “Diko lepasin, malu sama papa mama kamu,” bisik Dita yang membuat Diko tersadar lalu melepas pelukannya. “Maaf... Maaf, aku terlalu seneng jadi kelepasan, hehe,” kekeh Diko pelan seraya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Nggak apa-apa ya ma, kami mengerti. Kan kita juga pernah muda ya ma,” ujar David meminta dukungan istrinya. “Iya pa, yasudah sekarang kita makan siang bersama yuk. Sudah mama siapkan semuanya,” ajak Aulia lalu diikuti oleh semuanya ke meja makan untuk makan siang bersama. Semua ini terasa mimpi bagi Diko, bagaimana tidak? Hari ini ia dapat merasakan kembali berkumpul dengan orang tuanya dan tentu saja orang yang sangat ia cintai saat ini yaitu kekasihnya, Dita. Ingin rasanya ia menghentikan waktu jika bisa, agar kebersamaan mereka tidak pernah berakhir. Namun ia harus kembali pada kenyataan karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore dan ia harus mengantar Dita kembali ke rumah jika tidak ingin sampai larut malam nantinya. Sebelum berpamitan untuk pulang, Diko mengajak keluarga dan kekasihnya untuk berfoto bersama dengan latar belakang pemandangan alam di balkon Villa mereka. Mereka berempat terlihat seperti sebuah keluarga yang sangat bahagia, namun sayang waktu lah yang harus mengakhiri kebersamaan mereka kali ini. “Kita harus atur jadwal untuk kumpul lagi seperti ini ya Diko, jangan lupa ajak kekasih kamu yang cantik ini,” goda David seraya mengerlingkan mata kanannya pada Dita. “Ih, papa nih ma masih aja genit sama calon mantu juga,” adu Diko pada mamanya. “Sudah... sudah... kalian ini seperti anak kecil saja, maafkan papanya Diko ya nak Dita. Dia Cuma bercanda, jangan dimasukkan hati ya,” ujar Aulia seraya mengelus rambut Dita dengan sayang seperti anaknya sendiri. “Iya nggak apa-apa bu, saya mengerti,” sahut Dita dengan tersenyum, “Akhirnya, aku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu lagi setelah sekian lama,” batinnya menahan haru. * * * Next...
Unduh Novelah App
Anda dapat membaca lebih banyak bab. Anda akan menemukan cerita-cerita hebat lainnya di Novelah.
Komentar Buku (102)
salmasani
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
suka banget sama cerita roman seperti ini, bikin gemes sama tokohnya. 😁
19/01/2022
1CERITA BAGUS SANANG BAGUS
16/05/2025
1bagusssss
05/05/2025
0Lihat Semua